Filantropi dan Teknik Fundraising

Pengantar

Setelah kita menemukan kaum dhu’afa yang tepat, yang nantinya akan kita bantu, maka selanjutnya adalah memberikan bantuan tersebut kepada mereka, terutama jika bantuan itu berasal dari harta kita sendiri. Inilah cara menyantuni kaum dhu’afa pada tingkat yang paling sederhana. Inilah yang langsung dipraktikkan pertama kalinya oleh para santi Kiai Ahmad Dahlan dalam mengamalkan surat al’Ma’un.  

Pertanyaannya adalah bagaimana jika kita tidak memunyai harta untuk membantu? Atau mungkin kita ingin membantu lebih banyak dari apa yang kita mampu. Karena itulah kita perlu mengajak orang lain.

Mengajak orang lain untuk membantu sesama sangat penting untuk menviralkan kebaikan. Tidak semua orang, meskipun punya harta, mempunyai kesadaran untuk membantu orang lain. Di sinilah pentingnya kita mengajak mereka. Inilah salah satu wujud dari dakwah pencerahan.

Hal inilah yang sama-sama akan kita pelajari pada bagian ini. Kita akan mengajak orang lain untuk membantu sesama. Kegiatan mengumpulkan dana, mengajak orang lain untuk membantu sesama inilah yang disebut dengan kegiatan fundraising.

Sedikit saya ulang, pada pembahasan terdahulu kita telah merumuskan program yang relevan dengan kaum dhu’afa tersebut. Nah, pada bagian ini kita akan mengemas program itu ke dalam berbagai media yang akan kita gunakan untuk mengajak orang lain untuk membantu kaum dhu’afa. Kita akan mempelajari bagaimana membuat media tersebut dan bagaimana cara mengkomunikasikannya kepada orang lain.

Lalu karena harta yang kita berikan ini bukan hanya harta kita, maka di situlah kita harus membuat laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Laporan ini juga menjadi sarana untuk menjaga kepercayaan (trust) publik sehingga memungkinkan adanya program yang berkelanjutan.

Kemampuan untuk membuat media fundraising, mengkomunikasikan, dan membuat laporan dewasa ini sangat penting mengingat banyaknya orang/oknum yang kurang elegan dalam melakukan fundraising, bahkan dalam banyak hal tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai contoh di jalan-jalan sering kita melihat orang yang membawa kotak amal, kardus, atau keliling ke rumah-rumah dengan membawa proposal yang tidak layak.Kegiatan ini dalam beberapa hal terasa kurang elok, kurang elegan dan bahkan terkadang cenderung memalukan umat Islam. Di samping itu yang lebih berbahaya lagi bantuan-bantuan itu dapat dengan mudah untuk diselewengkan. Tidak ada mekanisme transparansi sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Islam dan Ajaran Filantropi

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang teknik dalam melakukan pengumpulan dana sosial (fundraising), terlebih dahulu kita akan membahas alasan kenapa kita  harus membantu sesama dan kenapa penting bagi kita untuk mengajak orang lain untuk membantu sesama.

Hal ini penting untuk dipahami agar dalam melakukan kegiatan pengumpulan dana tersebut kita mempunyai niat yang lurus dan landasan yang kokoh. Melalui pemahaman ini nantinya tak ada lagi alasan bahwa semua kegiatan ini semata-mata tugas perkuliahan Kemuhammadiyahan, atau motif-motif lain yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Sebab tidak semua orang yang suka memberi dan membantu orang lain itu berniat baik. Ada saja diantara mereka yang justru hanya sekedar memanfaatkan keadaan dan punya motif tertentu untuk kepentingan mereka.

Ada saja oknum yang pura-pura mengurus anak yatim dan dhu’afa yang sebenarnya hanya sebagai kedok untuk mengumpulkan dana untuk kepentingan pribadi. Ada juga yang punya pamrih misalnya agar dipilih menjadi kepala daerah, anggota dewan dan seterusnya.

Oke, kita lanjut, ya. Kebiasaan untuk membantu sesama, dalam istilah modern disebut dengan filantropi. Secara etimologis istilah filantropi (philanthropy) berasal dari bahasa Yunani, philos (berarti cinta), dan anthropos (berarti manusia), sehingga secara harfiah filantropi adalah konseptualisasi dari praktek memberi (giving), pelayanan (services) dan asosiasi (association) secara sukarela untuk membantu pihak lain yang membutuhkan sebagai ekspresi rasa cinta. Istilah ini juga merujuk kepada pengalaman Barat pada abad XVIII ketika negara dan individu mulai merasa bertanggung jawab untuk peduli terhadap kaum lemah. (https://chub.fisipol.ugm.ac.id/2020/02/03/mengenal-filantropi-sosial/)

Dalam bahasa Indonesia, filantropi dimaknai sebagai “kedermawanan” dan “cinta kasih” terhadap sesama (Latief, 2013). Menurut Latief, konsep filantropi berhubungan erat dengan rasa kepedulian, solidaritas dan relasi sosial antara orang miskin dan orang kaya, antara yang “kuat‟ dan yang “lemah”, antara yang “beruntung” dan “tidak beruntung” serta antara yang “kuasa” dan “tuna-kuasa”. Dalam perkembangannya, konsep filantropi dimaknai secara lebih luas yakni tidak hanya berhubungan dengan kegiatan berderma itu sendiri melainkan pada bagaimana keefektifan sebuah kegiatan “memberi‟, baik material maupun non-material, dapat mendorong perubahan kolektif di masyarakat.

Jika kita melihat ke dalam ajaran Islam, filantropi sudah diajarkan sejak lama, sebelum konsep filantropi ini berkembang di Barat. Filantropi merupakan salah satu pilar utama ajaran Islam. Di dalam al-Quran maupun Sunah, sumber utama ajaran Islam, banyak sekali kita jumpai perintah dan motivasi untuk membantu sesama. Surat al-Ma’un misalnya, yang telah kita ulas dalam bagian awal pembahasan kita, menjadi salah satu dasar dalam kegiatan filantropi.

Allah SWT juga berfirman:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanyam, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (2) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (3) – (Q.S Al-Baqarah: 2-3)

Menginfakkan sebagaian rezeki menempati posisi kedua setelah shalat, ritual utama dalam ajaran Islam. Dalam konteks tertentu, membantu sesama bahkan tidak hanya sekedar anjuran, tapi diharuskan, diwajibkan bagi umat Islam. Pemberian wajib inilah yang disebut dengan zakat, yang menjadi salah satu dari ajaran utama agama Islam (rukun Islam). Allah SWT berfirman:


وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. – (Q.S Al-Baqarah [2]: 110).

Rasululullah SAW bersabda:

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال : سمعت النبي صلَّى الله عليه وسلَّم يقول : بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ .رواه البخاري و مسلم

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma-, katanya, “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan’”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam surat al-Maidah Allah menyuruh kita agar tolong-menolong dengan sesama. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. – (Q.S Al-Maidah: 2)

Pemberian kepada orang lain yang diwajibkan, sebagaimana telah disebutkan di atas, dalam ajaran Islam disebut dengan zakat. Secara rinci, ada berbagai macam jenis zakat yang harus dikeluarkan oleh seorang muslim yang tentunya tidak pada tempatnya jika dijelaskan panjang lebar di sini. Penjelasan mengenai hal ini diulas secara jelas dalam al-Quran, Sunah, maupun kitab-kita fikih. Kemudian pemberian secara sukarela disebut dengan infaq.

Jadi jelas sekali, bagi seorang muslim, membantu sesama bukanlah sekedar basa-basi untuk pergaulan sosial, agar dipuja orang, atau hanya gara-gara didatangi oleh tim fundraising. Tapi semua itu merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus ditunaikan oleh siapapun yang mengaku beragama Islam.

Oleh karena itu, mengajak orang lain untuk membantu sesama adalah tugas mulia. Selain panggilan kemanusiaan ia juga merupakan tugas dakwah untuk menyeru manusia untuk menunaikan ajaran Allah.

Teknik Melakukan Penggalangan Dana (Fundraising)

Kata fundraising berasal dari bahasa Inggris yang artinya penghimpunan atau penggalangan dana. Orang yang mengumpulkan dana disebut fundraiser (Salim, 2000: 607). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penggalangan memiliki makna proses, cara perbuatan mengumpulkan, penghimpunan dan pengarahan. (Departemen Pendidikan Nasional, 2002: 612). Dalam konteks pembahasan kita, fundraising adalah kegiatan mengumpulkan dana/ bantuan untuk kepentingan sosial.

Selanjutnya dalam konteks Islam, kegiatan fundraising merupakan salah satu perintah Allah. Allah secara tegas memerintahkan hal ini:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah: 103)

Dengan demikian, kegiatan mengumpulkan dana/bantuan sosial (fundraising) merupakan tugas mulia dalam mengamalkan ayat di atas. Kegiatan ini adalah dakwah pencerahan, suatu upaya maksimal untuk mewujudkan ajaran Islam dalam praksis sosial. Inilah menurut Mitsuo Nakamura yang menjadi ciri utama dakwah Muhammadiyah. (Tim Penulis Dosen AIKA, 2018: 87).  

Selanjutnya, kegiatan untuk mengajak orang lain untuk berderma dan membantu sesama ini tentunya harus dilakukan dengan cara-cara yang baik, elegan, dan profesional. Oleh karena itu, semua kegiatan ini harus dirancang dengan baik mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan.

Sehubungan dengan hal tersebut, melalui kegiatan observasi sebagaimana telah kita bahas pada bagian sebelumnya kita telah mendapatkan kaum dhu’afa yang akan kita bantu dan telah merancang program untuk membantu mereka. Selanjutnya program-program tersebut akan kita kemas ke dalam beberapa media yang relevan untuk melakukan fundraising.

Program-program tersebut dapat kita kemas ke dalam beberapa media sebagai berikut:

  1. Proposal

Cocok untuk melakukan fundraising untuk kalangan profesional, lembaga/instansi resmi, dan donatur lain yang membutuhkan penjelasan secara utuh dan bersifat resmi mengenai program yang kita tawarkan.

Format proposal secara umum meliputi:

  • Cover
  • Halam pengesahan
  • Latar belakang
  • Profil dhuafa
  • Tujuan dan target
  • Program bantuan
  • Anggaran biaya
  • Jadwal pelaksanaan
  • Daftar Pustaka
  • Lampiran

Contoh proposal klik DI SINI

  1. Brosur/leaflet

Cocok untuk fundraising yang bersifat instan dan tidak terlalu formal, misalnya kita pasang di media sosial, kita bagikan ke orang-orang yang sudah kita kenal, dan lain-lain.

Contoh

  1. Caption

Cocok untuk fundraising melalui media sosial seperti instagram, twitter, facebook, dan lain-lain yang menyajikan informasi pendek dan instant.

Contoh (caption LKSFI di instagram)

  1. Kupon infak

Cocok untuk fundraising yang nominalnya tidak terlalu besar, bersifat instan dan tidak terlalu formal. Kupon ini biasanya dibagikan secara langsung (bertemu langsung) dengan orang-orang yang kita ajak berdonasi, terutama orang-orang yang sudah kita kenal.

Contoh

Beberapa media di atas hanya sekedar contoh yang secara umum biasa dilakukan. Selain 4 (empat) media di atas tentu masih banyak lagi. Kemudian format dari masing-masing media disesuaikan dengan tempat kita menaruh media fundraising itu.

Namun apapun medianya, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Jelaskan siapa Anda, dalam rangka apa mengapa Anda menggalang bantuan?

Ini dimaksudkan agar orang percaya kepada Anda sehingga ia mau menyalurkan bantuan kepada Anda.

  1. Menjelaskan yang dibantu siapa? Tinggal di mana?

Ini dimaksudkan agar orang percaya bahwa memang yang mau dibantu itu jelas orangnya, bukan fiktif.

  1. Masalah yang dihadapi/kondisi orang yang mau dibantu bagaimana? (sehingga orang terketuk untuk membantu).

Di sini seputar informasi kondisi yang mau dibantu seberapa memperihatinkan, seberapa butuh atas bantuan, sehingga orang terpanggil untuk membantu. Buat narasi kalau bisa tampilkan foto-foto yang mengundang simpatik. 

  1. Untuk menyalurkan bantuan dikirim ke mana?

Ini untuk menjamin bahwa bantuan itu tidak akan diselewengkan. Hal ini menjadi lebih penting lagi ketika orang yang kita minta bantuan tidak kenal sama kita. Cantumkan misalnya nomor rekening resmi lembaga, misalnya kalau di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMA bisa memakai rekening LKSFI-LAZISMU UHAMKA.

  1. Buat simpel, mudah dipahami, dan menarik.

Agar orang cepat paham dengan maksud dari media yang kita kirimkan dan segera tertarik untuk turut memberikan kontribusi.

Kelima hal di atas kalau mau disederhanakan lagi bisa diringkas dalam 3 (tiga) prinsip utama: dapat dipercaya, mudah dipahami, dan mengundang simpatik.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penulis Dosen AIKA, Kemuhammadiyahan, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018)

Tim Penulis Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Yogyakarta: Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, 2016).

Haedar Nashir, Kuliah Kemuhammadiyahan 2, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018).

Salim, Peter ‟Collegiate Indonesia-English Dictionary”, (Jakarta: Modern Eglish Press, 2000), cet. ke-1.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Edisi ke-3.

Ibrahim, Barbara, From Charity to Social Change: Trends in Arab Philanthropy (Kairo: American University in Cairo Press, 2008).  

Latief, Hilman, “Agama dan Pelayanan Sosial: Interpretasi dan Aksi Filantropi dalam Tradisi Muslim dan Kristen di Indonesia”Religi, Vol. IX, No. 2, Juli 2013: 174-189.

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Mengenal Muhammadiyah

Saya adalah orang yang awalnya tidak punya latar belakang Muhammadiyah. Dulu, sebelum saya masuk Muhammadiyah, …

Leave a Reply