Dakwah Pencerahan untuk Keluarga Dhu’afa

Pengantar

Sumber: komunita.id

Sebelum kita bicara banyak mengenai tema ini, agar terlihat jelas hubungan antara pembahasan ini dengan pembahasan sebelumnya, penting untuk saya kutip sedikit kesimpulan penting yang ada pada pembahasan sebelumnya yang berjudul, “Kiai Dahlan dan Pemberdayaan Kaum Dhuafa”.

Poin penting pada pembahasan terdahulu adalah sedang memahami apa visi utama dan ciri khas Muhammadiyah dalam mengamalkan agama. Inilah kesimpulan utamanya: Kiai Dahlan hendak menghadirkan ajaran Islam sebagai penggerak perubahan sosial. Sebuah ajaran yang dapat mentransformasikan kehidupan ke arah yang lebih baik.

Nah, untuk mewujudkan visi ini maka ditempuhlah satu model dakwah yang disebut dengan “dakwah pencerahan”. Dakwah pencerahan adalah konsep dakwah yang selaras dengan visi di atas. Dakwah pencerahan adalah sebuah istilah khusus yang membedakan diri dengan model dakwah lain.

Memangnya ada dakwah yang tidak mencerahkan? Baik, mari saya jelaskan secara sederhana kenapa muncul istilah ini dan apa ciri khas serta bedanya dengan yang lain, ya.

Kalau kita lihat di masyarakat banyak sekali cara berdakwah. Masing-masing mempunyai titik tekan tertentu. Kita dapat melihat ada yang beragama, termasuk dakwahnya menekankan pada hal-hal yang bersifat keakhiratan. Beragama seolah-olah hanya untuk kepentingan akhirat. Yang terpenting adalah rajin ibadah. Sederhananya barangkali biar saja miskin yang penting masuk surga.

Ajaran agama seolah-oleh tidak nyambung dengan kehidupan sehari-hari. Umat barangkali sangat tekun beribadah. Tapi kehidupannya sangat memperihatinkan. Sudah tau umat miskin semua, tapi selalu saja isi ceramahnya adalah untuk terus menerus bersedekah.

Nah, dakwah yang seperti ini dalam perspektif Muhammadiyah tidak mencerahkan. Dakwah seperti ini mengalienasi/mengasingkan manusia dari kehidupan nyata. Bahkan dalam banyak hal terkadang menimbulkan permasalahan baru.  Cara ini tidak bisa  menghadirkan ajaran Islam sebagai penggerak perubahan sosial sebagaimana disebutkan di atas.

Karena itulah demi mewujudkan ajara islam sebagai ajaran yang dapat mentransformasikan kehidupan ke arah yang lebih baik, maka harus ada corak lain dalam berdakwah. Sebuah dakwah yang erat dan berhubungan dengan realitas dan problematika umat. Dakwah yang mampu menggugah umat untuk bangkit merubah keadaan. Dakwah yang disamping meningkatkan semangat keimanan juga menghadirkan solusi hidup. Inilah dakwah pencerahan yang akan kita bahas lebih detail pada pembahasan selanjutnya.

Lalu kenapa mesti bicara keluarga dhu’afa? Karena sasaran utama dakwah adalah kaum dhu’afa, selaras dengan pesan moral surat al-Ma’un yang telah kita bahas sebelumnya. Surat yang menjadi spirit dasar untuk visi dan corak gerakan Muhammadiyah.

Bicara kaum dhu’afa  sebenarnya tidak selalu keluarga. Keluarga dijadikan sasaran utama karena ia merupakan institusi sosial terkecil. Keluargalah tempat penyemaian pertama kehidupan manusia. Dengan kata lain, berbagai fenomena termasuk kemiskinan indung semangnya adalah keluarga. Dengan demikian, perubahan yang terjadi pada ranah keluarga akan menjadi jembatan utama pada perubahan masyarakat yang lebih luas.

Karena itulah keluarga dijadikan sasaran utama dalam dakwah pencerahan, terutama pada mata kuliah ini. Secara teknis, nantinya para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan ini akan melakukan aksi nyata untuk menolong sesama dengan sasaran keluarga dhu’afa.

Muhammadiyah dan Konsep Dakwah Pencerahan

Pencerahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya proses, cara, atau perbuatan mencerahkan. Kata pencerahan mengandung arti menjadikan atau menyebabkan cerah (tidak suram). Kata cerah semakna dengan kata terang, sinar, dan jernih, sebagai lawan dari gelap, keruh, dan suram. (Nashir, 2018: 267).  Dalam bahasa Arab sepadan dengan kata “an-nuur (cahaya)” dan “at-tanwiir (mencerahkan)” yang merujuk pada surat al-Baqarah ayat 257:

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

Artinya: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. (QS. Al-Baqarah [2]: 257).

Secara konseptual, dakwah pencerahan terdapat dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua hasil Muktamar ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta. Pada aline kedua disebutakan,”Gerakan pencerahan adalah praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yang bersifat structural dan kultural. Gerakan pencerahan menampilkan Islam yang menjawab kekeringan rohani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.” (Nashir, 2018: 269).  

Terus terang alinea di atas cukup panjang. Jika tidak cermat dalam memahaminya bisa-bisa malah gagal paham dan tidak mengerti identitas utama gerakan pencerahan. Semua hal baik dimasukkan di situ. Lalu orang bertanya, jika demikian apa bedanya dengan yang lain? Padahal “gerakan pencerahan” dimaksudkan sebagai istilah khas model dakwah Muhammadiyah yang tentunya mempunya titik beda dengan yang lain.

Kerana itu saya ingin jelaskan pada bagian intinya. Bagian inti ini terdapat pada kalimat awal: ”Gerakan pencerahan adalah praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan…” Inilah titik sentral dari dakwah pencerahan. Yaitu dakwah yang menghadirkan praksis Islam, Islam yang aktual, Islam yang dekat dan menyapa realitas kehidupan, Islam yang tidak hanya bicara soal kehidupan alam akhirat, tapi Islam yang dapat memajukan kehidupan.

Gerakan pencerahan ingin mengajarkan iman yang disinari dengan ilmu pengetahuan. Bukan iman yang dipenuhi dengan mitos-mitos dan hal-hal tahayul lain yang irasional. Ketika iman bertemu ilmu maka di situlah ada jalan pencerahan. Di situlah kemudian akan berdampak pula pada kehidupan yang berkemajuan.

Prof. Dr. Abdul Mu’thi, salah seorang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam sebuah pelatihan dai yang penulis menjadi salah satu pesertanya pernah menyatakan bahwa dakwah pencerahan mempunyai tiga prinsip utama yang disingkat menjadi 3E, yaitu: enlaighting (mencerahkan), empowering (memberdayakan), dan entertaining (menggembirakan).

Maksud enlaighting (mencerahkan) adalah mengeluarkan manusia dari tahayul kepada iman yang diterangi ilmu pengatahuan. Selanjutnya empowering (memberdayakan) maksudnya membuat manusia berdaya, dapat bangkit kemudian mampu mengubah keadaan secara mandiri. Kemudian entertaining (menggembirakan) adalah menghadirkan solusi-solusi hidup sehingga menyenangkan karena kompatibel dengan realitas kehidupan dan problematika yang dihadapi manusia.

Nah, karena itulah gaya dan pendekatan dakwah pencerahan berbeda dengan “dakwah tradisional”. Diantara beberapa perbedaan mendasar antara keduanya dapat dilihat pada tabel berikut:

  NO  ASPEK DAKWAH  DAKWAH TRADISIONAL  DAKWAH PENCERAHAN
1Hubungan antara dai dan mad’uSatu arah, ada jarak antara dai dan mad’u. Dakwah didominasi oleh dai, sedangkan mad’u biasanya diposisikan sebagai pendengar pasif.Interaktif dan egaliter. Ada kedekatan antara dai dan mad’u. Mad’u adalah peserta aktif
2Pengemasan dan pilihan materi dakwahTop down, pilihan materi ataupun program dakwah didikte oleh dai sesuai dengan pandangan dan pilihan daiBottom up, pilihan materi dan program dakwah dirancang dari bawah dengan terlebih dahulu melihat kondisi dan kebutuhan mad’u
3Bentuk dakwahLebih banyak dakwah dengan ceramah (dakwah bi al-lisaan)Lebih banyak dakwah dengan aksi nyata melalui program pemberdayaan (dakwa bi al-haal)
4Tumpuan keberlangsungan dakwahBertumpu pada kapasitas dan kharisma daiBertumpu pada sistem yang dibangun
5Orientasi materi/program dakwahLebih cenderung pada ranah eskatologis, hal-hal yang berkenaan dengan ritual peribadatan dan kehidupan di alam akhiratMempertemukan spirit keimanan dan ibadah dengan problematika kehidupan sehari-hari

Konsep Keluarga Ideal menurut Islam

Sasaran strategis dakwah pencerahan adalah keluarga, tepatnya keluarga dhuafa. Karena itulah kita harus memahami terlebih dahulu apa itu keluarga. Sebelum membahas keluarga dhuafa, penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu bagaimana keluarga yang ideal atau keluarga harmonis menurut Islam.

Keluarga yang harmonis dalam Islam disebut dengan istilah keluarga sakinah. Inilah sasaran utama dibentuknya keluarga. Atau lengkapnya adalah keluarga sakinah, mawaddahwarahmah (SAMARA). Konsep ini berdasarkan atas firman Allah SWT:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum/30:21).

Sakinah artinya tenang. Mawaddah artinya cinta. Rahmah artinya kasih sayang. Dengan demikian keluarga sakinah bisa diartikan sebagai keluarga yang tenang dan bahagi yang diliputi dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Mawaddah dan rahmah sebenarnya satu paket yang artinya mirip yaitu cinta kasih. Seperti kasih-sayang, sopan santun. Tapi kalau mau dibeda-bedakan, rahmah itu lebih dalam dari mawaddah.

Mawaddah cinta yang didasarkan atas naluri biologis, cinta yang punya pamrih. Kalau menurut Fromm disebut cinta erotik. Orang sekarang menyebut jatuh cinta (falling in love).

Rahmah itu cinta sejati. Dia mencintai dengan segenap penghayatan. Bukan hanya karena tertarik secara fisik, bukan hanya tuntutan biologis. Tapi ada rasa cinta yang melampaui semua itu. Dapat menerima satu paket antara kekuarangan dan kelebihannya. Cinta yang mampu bertahan dalam derita dan ujian. Fromm menyebutnya cinta yang stabil (standing in love).

Hal ini selaras dengan penjelasan pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab. Menurutnya untuk menuju kemantapan cinta ini menurut M. Quraish Shihab, sepasang suami istri akan melewati beberapa tahap (catatan: penjelasan masing-masing tahap adalah kesimpulan pemahaman saya sendiri):

  1. Tahap bulan madu

Inilah tahap awal dimana sepasang suami istri baru saja menikah. Mereka sedang dilanda mabuk kepayang satu sama lain. Namun pada tahap ini cinta mereka sebenarnya masih banyak didominasi oleh syahwat, cinta erotik.

  1. Tahap gejolak

Pada tahap ini satu sama lain mulai mulai marasa bosan. Ada rasa ketidakpuasan satu sama lain. Beberapa hal yang tidak disukai yang awalnya tidak diketahui di sini mulai muncul. Maka timbullah konflik.

  1. Tahap negosiasi

Inilah tahap dimana masing-masing diuji bagaimana menyelesaikan persoalan yang ada. Inilah ujian pertama untuk rumah tangga mereka. Di sini pula niat awal menikah dan prinsip-prinsip agama menjadi sangat penting. Orang yang menikah hanya karena tuntutan hawa nafsu, hanya karena cinta yang erotik tadi cenderung tak bisa menghadapi masalah. Namun orang yang niat nikahnya karena Allah maka dia dapat mengantisipasi persoalan itu dengan baik.

  1. Tahap penyesuaian

Pada tahap ini masing-masing saling introspeksi. Masing-masing kemudian melakukan pembenahan atas diri mereka masing-masing. Mereka telah keluar dari ujian pertama. Kini keduanya telah menemukan arah hidup yang stabil.

  1. Tahap peningkatan kasih sayang

Di sinilah mulai timbul rasa kasih sayang yang baru. Cinta dan kasih sayang yang tidak lagi hanya didasarkan pada syahwat biologis. Tapi cinta yang stabil. Cinta yang dilandasi atas komitmen dan tanggungjawab untuk terus bersama mengarungi bahtera rumah tangga.

  1. Tahap kemantapan (inilah tahap cinta yang mantap/rahmah)

Inilah tahap dimana keduanya telah sampai pada cinta yang benar-benar mapan. Ini adalah tahap klimaks dari tahapan kelima di atas. Cinta yang bersandar pada komitmen di hadapan Allah. Cinta yang kemudian merajut komitmen hidup bersama untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Cinta yang mengarahkan keduanya tidak hanya pada visi hidup di dunia. Tapi juga akhirat.

Penjelasan di atas adalah penjelasan definisi keluarga sakinah dari aspek bahasa (etimologi). Selanjutnya yuk kita bahas definisi keluarga sakinah secara istilah (terminologi):

Kita dapat menjumai beberapa definisi sebagai berikut:

Keluarga sakinah adalah keluarga yang tenang dan tentram, rukun dan damai. Dalam keluarga itu terjalin hubungan mesra dan harmonis, diantara semua anggota keluarga dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. (Hasan Basri, Membina Keluarga Sakinah, cet. IV, (Jakarta: Pustaka Antara, 1996), h. 16.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak. (Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Nomor: D/7/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3).

Kalau kita perhatikan, definisi kedua ini lebih lengkap dan memadai. Tapi dari definis kedua ini, kalau terasa kepanjangan, esensinya sebenarnya dapat disingkat lagi:

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya.

Definisi ini sudah selaras dengan ajaran Islam dan dapat diturunkan menjadi indikator yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi untuk memudahkan, tanpa mengurangi esensi definis di atas, saya akan menyingkat kembali menjadi:

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual, material, dan sosial secara layak dan seimbang.

Definisi ini telah menggambarkan indikator yang mengarah pada terwujudnya keluarga sakinah yaitu meliputi beberapa aspek: (1) aspek hukum/legalitas pernikahan, (2) aspek spiritual, (3) aspek material, (4) aspek sosial.

Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut:

Aspek-Aspek Keluarga Sakinah

Saya ulangi lagi sedikit, ya. Keluarga sakinah adalah keluarga yang tenang, keluarga yang harmonis, keluarga bahagia atau apapun istilah yang Anda pakai. Sekarang pertanyaan pentingnya adalah apa syarat keluarga sakinah? Unsur-unsur/aspek apa saja yang harus dipenuhi agar keluarga sakinah terwujud?

Agar lebih clear, sekarang saya mau tanyakan sebaliknya: apa saja masalah-masalah yang sering terjadi dalam rumah tangga, coba?

Perselingkuhan karena pasangan merasa tak cinta lagi atau hal-hal lain yang menyangkut komitmen hidup bersama. Betul, ya? Kemiskinan, tidak bisa mencukupi kebutuhan papan, sandang, pangan. Betul? Berantem sama tetangga. Betul, ya?

Nah, oleh karena itu definisi di atas memuat 4 aspek dasar yang merupakan antisipasi dari masalah-masalah pokok tersebut sehingga definisi keluarga sakinah menjadi agak panjang, yaitu: Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual, material, dan sosial secara layak dan seimbang.

Sekali lagi diulang, 4 aspek tersebut adalah:

  1. Pernikahan yang sah.
  2. Dapat memenuhi kebutuhan spiritual.
  3. Dapat memenuhi kebutuhan material.
  4. Dapat memenuhi kebutuhan sosial.

Inilah keempat aspek yang harus dipenuhi. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu per satu.

Pertama, pernikahan yang sah.

Keluarga sakinah harus dibangun melalui pernikahan yang sah menurut hukum Islam. Jadi tidak ada istilah keluarga kumpul kebo disebut sakinah. Meskipun mungkin secara materi berkecukupan. Sah nya pernikahan sesuai dengan hukum Islam ini sebenarnya bukan semata-mata pemenuhan aspek hukum/legal yang bersifat formal.

Tapi merupakan langkah awal untuk memulai pernikahan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Allah. Menikah bukan hanya mengambil tanggungjawab antara kedua pasangan dan keluarganya. Tapi berikrar di hadapan Allah SWT. Lurusnya niat inilah yang akan menjadi titik awal terbentuknya keluarga sakinah.

Kedua, dapat memenuhi kebutuhan spiritual.

Keluarga sakinah pertama-tama harus mempunyai komitmen yang kuat terhadap ajaran agama. Hal ini ditunjukkan dengan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama. Kalau mau disingkat keluarga ini menjalankan rukun Islam dengan baik.

Inilah fondasi utama keluarga sakinah. Melalui hal ini sebuah keluarga telah menyiapkan fondasi yang kokoh dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Masalah boleh berdatangan. Tapi dengan kekuatan spiritual keluarga ini mampu menangkalnya sehingga ketenangan dan keharmonisan keluarga tetap terjaga.

Ketiga, dapat memenuhi kebutuhan material.

Berkeluarga, bahkan hidup ini tentunya membutuhkan materi. Suami dibantu istri harus berusaha bersama-sama untuk terpenuhinya kebutuhan ini. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Mencari nafkah adalah kewajiban yang bernilai ibadah.

Keempat, dapat memenuhi kebutuhan sosial.

Keluarga adalah institusi masyarakat terkecil. Karena itulah keluarga muslim tidak boleh hidup individualis. Kita tidak bisa hidup sendiri.Keluarga muslim harus membangun pergaulan yang baik dengan tetangga sekitar dan masyarakat secara umum.

Berdasarkan aspek-aspek di atas, maka tingkatan keluarga sakinah dapat diperinci sebagai berikut:

Keluarga Sakinah Tingkat Pertama

  1. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
  2. Mampu memenuhi kebutuhan dasar ekonomi

Keluarga Sakinah Tingkat Kedua

  1. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
  2. Mampu memenuhi kebutuhan dasar ekonomi.
  3. Aktif berinteraksi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Keluarga Sakinah Tingkat Tiga

  1. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
  2. Mampu memenuhi kebutuhan dasar ekonomi.
  3. Aktif berinteraksi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
  4. Menjadi penggerak/teladan sosial.

Keluarga Dhu’afa dan Cirinya

Sekarang sampailah kita pada keluarga dhu’afa. Keluarga yang akan menjadi sasaran utama dalam mengamalkan surat al-Ma’un sebagai wujud dari dakwah pencerahan. Jika kita melihat pembahasan tentang keluarga sakinah di situ ada bebarapa aspek yang menjadi syarat terwujudnya keluarga sakinah. Salah satu aspeknya adalah ketercukupan ekonomi.

Nah, pada bagian ini kita akan membahas terutama pada aspek ini. Bicara keluarga dhu’afa dalam pembahasan kita di sini adalah bicara tentang keluarga yang mengalami kekurangan dalam aspek ekonomi.

Dalam literatur Islam keluarga orang yang masuk kriteria du’afa terdiri dari dua jenis: fakir dan miskin (QS. At Taubah: 60). Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanafiyah fakir itu lebih parah dari miskin. Alasan mereka karena dalam ayat ini Allah menyebut fakir lebih dulu dahulu setelah itu menyebut miskin.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan gambaran perbedaan antara fakir dan miskin bahwa ketika sesorang mempunyai pendapatan yang tidak mampu untuk memenuhi setidaknya setengah dari kebutuhan pokoknya maka itu disebut fakir. Dalam hal ini termasuk orang yang tidak punya pekerjaan. Kalau seseorang mempunyai pendapatan setidaknya mencukupi setengah dari kebutuhan pokoknya maka itu disebut miskin. (www.muslim.or.id).

Keluarga dhu’afa adalah keluarga yang masuk kategori keluarga fakir atau keluarga miskin. Namun dalam pengertian yang kita pakai sehari hari di negara kita biasanya hanya mengenal istilah miskin yang dalam pengertiannya bisa mencakup keduanya.

Untuk mengukur suatu keluarga apakah termasuk keluarga miskin atau tidak, Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan 14 kriteria keluarga miskin yaitu:

  1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang.
  2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
  3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
  4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.
  5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
  6. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan.
  7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah.
  8. Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu.
  9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
  10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari.
  11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik.
  12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.
  13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.
  14. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.[]

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penulis Dosen AIKA, Kemuhammadiyahan, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018),

Tim Penulis Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Yogyakarta: Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, 2016).

Haedar Nashir, Kuliah Kemuhammadiyahan 2, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018).

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Mengenal Muhammadiyah

Saya adalah orang yang awalnya tidak punya latar belakang Muhammadiyah. Dulu, sebelum saya masuk Muhammadiyah, …

Leave a Reply