Home / Pendidikan Agama / Manusia dan Tujuan Akhir Kehidupannya

Manusia dan Tujuan Akhir Kehidupannya

Subyek sekaligus obyek dari agama adalah manusia. Oleh karenanya, sebelum kita membahas agama maka terlebih dulu kita harus memahami konsep manusia, sehingga nantinya kita dapat memahami dengan baik hubungan antara manusia dan agama. Apakah manusia perlu beragama? Jika perlu apa konsekuensinya? Apa gunanya agama bagi manusia, dan seterusnya. Untuk itulah sekali lagi kita mesti memahami dengan baik konsep manusia menurut ajaran Islam. Sebab berbeda konsep akan membawa konsekuensi yang berbeda. Misalnya begini, orang yang mempunyai konsep bahwa manusia itu hanya terdiri dari materi dan hanya hidup di dunia saja, maka perencanaan hidupnya hanya sebatas kehidupan dunia. Hal ini akan berdampak pula pada perilakunya sehari-hari. Namun orang yang percaya dengan konsep bahwa manusia terdiri dari materi/jasad dan ruh, dimana ruh itu akan terus hidup hingga alam akhirat, maka dia akan merencanakan hidupnya hingga sampai alam akhirat. Hal ini juga akan membawa pengaruh yang berbeda pada perilakunya sehari-hari.

Penciptaan Manusia Pertama

Asal-muasal manusia menurut Charles Robert Darwin (lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, 12 Desember 1809 – meninggal di Downe, Kent, Inggris, 19 April 1882 pada umur 72 tahun) berasal dari makhluk sejenis kera. Kera inilah nenek moyang manusia. Proses kejadiannya melalui proses yang disebut evolusi. Kera kuno itu menjalani proses seleksi alam dari waktu ke waktu hingga mengalami perubahan dan menjadi manusia. Jadi manusia tidak diciptakan dari ketiadaan. Tapi merupakan penjelmaan lanjut dari makhluk lain yaitu kera. Lalau kera sendiri tercipta dari apa? Hingga saat ini para ilmuwan belum ada yang bisa menjawabnya, termasuk Charles Robert Darwin.

Sekarang nenek moyang dan sanak famili manusia ini masih banyak berkeliaran di hutan-hutan dan di kebun binatang. Tapi tak terlihat tanda-tanda diantara mereka mulai berubah menjadi manusia. Entah kera yang mana yang dulu ditemukan Charles Darwin. Ironisnya,  manusia sebagai anak cucunya ini terlihat sama sekali tidak memuliakan nenek moyang dan saudara-saudaranya ini. Ibarat pepatah: “Kacang lupa kulitnya”. Seperti Malin Kundang yang setelah merantau dan sukses lalu lupa pada orangtuanya.

Manusia telah berubah begitu jauh, sangat berbeda seratus prosen dengan nenek moyangnya. Begitu banyak dan mencoloknya perbedaan ini sehingga sampai acuh dan merasa tak ada persambungan persaudaraan lagi dengan kera-kera itu. Saat main ke kebun binatang manusia ini melihat kera-kera itu sebagai tontonan penghibur dan lelucon saja. Tak sedikitpun terpaut rasa empatik dan kesadaran bahwa kera-kera itu secara genetik adalah saudara, bahkan nenek moyangnya.

Tega benar manusai ini! Ah, jangan-jangan memang kera bukan nenek moyang manusia, ya? Memang benar. Kera bukanlah nenek moyang manusia. Demikian kata Allah, dzat yang membuat manusia. Saudaraku, dalam hidup ini kita ada 2 pedoman: kitab suci dan teori-teori ilmu pengetahuan. Kitab suci kebenarannya bersifat mutlak, sedangkan teori ilmu pengetahuan bersifat relatif, belum tentu benar. Bukan sembarang kitab suci, bukan pula mentang-mentang kaum beriman sehingga apa-apa percaya begitu saja pada kitab suci. Kitab suci ini dapat dipercaya karena dia mempunyai bukti-bukti keotentikan.

Kitab suci ini adalah al-Quran, satu-satunya kitab suci yang masih ditulis dalam bahasa asli saat diturunkan dimana bahasa itu saat juga masih hidup dipakai manusia. Kitab suci yang sejak turun hingga sekarang senantiasa dihafal oleh ratusan, bahkan jutaan umatnya. Bukan hanya orang dewasa yang menghafalnya. Bahkan anak kecil pun terlampau banyak yang menghafalnya. Dan masih banyak lagi bukti keluarbiasaan al-Quran ini sehingga menjadi satu-satunya kitab suci yang bisa dipercaya. Di sini bukan tempatnya untuk membahas semua itu.

Di dalam kitab suci yang luar biasa inilah Allah SWT menyebutkan dengan jelas asal-muasal manusia. Allah sendiri yang membuat manusia dengan kehendak dan kuasanya. Dan manusia itu tidak diciptakan dari seekor kera. Bahan baku manusia itu adalah tanah. Teori Darwin bertentangan dengan firman Allah SWT berikut:

ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَٰنِ مِن طِينٍ

Dialah Dzat yang telah membuat segala sesuatu dengan sebaik-baik ciptaan, dan Dialah yang telah memulai penciptaan manusia dari dari tanah (QS. As-Sajdah [32] : 7).

Manusia pertama itu adalah Adam AS., oleh karena itu manusia berikutnya disebut sebagai anak keturunan Adam, sebagaimana dalam firmanNya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS. Al-‘Isra’ [17] : 70).

Allah juga menegaskan bahwa penciptaan manusia ini sangat spesial. Dia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna. Makhluk spesial yang mempunyai perbedaan mendasar dengan makhluk-makhluk lain, termasuk berbeda sama sekali dengan kera. Mengenai hal ini Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tin Ayat 4).

Manusia memang benar-benar hebat. Ukuran tubuhnya tak seberapa besar jika dibandingkan gajarh misalnya. Tapi dia bisa mengalahkan gajah. Giginya tidak bertaring sebagaimana harimau, tapi dia mampu mengalahkan harimau. Manusia tidak mempunyai sirip dan insang, tapi dia dapat mengarungi lautan. Manusia tidak mempunyai sayap, tapi dia bisa mengarungi ruang angkasa.

            Tapi semua kehebatan ini jika tidak digunakan sesuai aturan Allah akan membawa malapetaka besar bagi manusia. Jika manusia aktivitas manusia hanya makan, minum, kawin, dan berhubungan seksual, lalu apa bedanya dengan hewan? Bahkan dia lebih rendah derajatnya daripada hewan. Seburuk-buruk hewan dagingnya masih bermanfaat untuk dikonsumsi. Sejahat-jahat hewan dia tidak akan mengambil rumput tetangga kecuali sekedar kebutuhan perutnya. Tapi manusia kalau sudah jahat apanya yang bisa diambil manfaat? Lebih baik memelihara kambing daripada hidup bersama orang jahat. Manusia sekalinya berbuat jahat maka akan melampiaskan kerakusannya dan akan mengambil dan menjarah sebanyak mungkin yang dia bisa.

            Mengenai gambaran ini Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 179).

Mengapa mereka tak ada bedanya dengan binatang ternak? Sebab mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Allah menegaskan: “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi”.

Tujuan Penciptaan Manusia

Manusia diciptakan dengan tujuan tertentu. Kehadirannya di muka bumi mempunyai kedudukan, tugas dan fungsi tersendiri yang dibebankan oleh Allah Sang Pembuat Manusia ini. Tidak seperti manusia keturunan kera di atas yang makna kehadiran dan tujuan hidupnya tidak jelas. Entah apa yang diwariskan dan entah tugas apa yang diberikan oleh kera nenek moyangnya itu kecuali aktivitas dan orientasi hidup seekor hewan sebagaimana yang disindir dalam surat al-A’raf ayat 179 di atas. Begitu rendahnya derajat manusia jika hanya begini.

Tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah, khalifah adalah wakil. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi (khalifatullah fil ardh). “Wakil Allah”. Betapa hebatnya kedudukan manusia ini. Bukan wakil kera. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Sebagai wakil Allah tentunya dalam segala hal dia harus mengikuti petunjuk-petunjuk Allah. Tidak boleh semau-maunya sendiri. Bagaimana mungkin wakil Allah ini berbuat nista dan melakukan hal-hal buruk. Jika itu yang ia lakukan maka ia sesungguhnya telah mengkhianati kepercayaan Allah yang diberikan kepadanya. Untuk itulah dia harus tunduk pada Allah dan senantiasa minta bimbingannya melalui ibadah. Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Karena itulah kehidupan ini adalah ujian bagi manusia apakah ia dapat menjalankan amanah Allah yang diberikan kepadanya ataukah tidak. Menjalankan amanah Allah berarti tunduk dan patuh kepada Allah, senantiasa konsultasi kepadanya dengan beribadah serta melakukan hal-hal baik sesuai petunjuk Allah. Allah SWT berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 2).


Kehidupan Manusia setalah Dunia

Manusia itu terdiri dari ruh dan jasad. Oleh karena itu manusia harus memperhatikan kedua-duanya. Manusia dalam bahasa Arab adalah “basyar” yang artinya adalah kulit, wujud yang terindera. Basar inilah wujud manusia dalam bentuk jasad/fisik/materi. Selain itu juga ada kata “insan”. Kata insan mewakili manusia dalam keseluruhan kesempurnaannya, termasuk kualitas ruhani. Karena itulah dalam surat At-Tin Ayat 4 ketika menyebut manusia sebagai makhluk dengan penciptaan terbaik sebagaimana disebutkan di atas menggunakan kata “al-insan”.

Jasad manusia akan rusak dan mati pada saatnya. Tapi ruh manusia tetap hidup. Ruh inilah sejatinya eksistensi manusia yang sesungguhnya. Pemeliharaan jasad pada hakikatnya adalah upaya untuk memperpanjang waktu agar ruh ini dapat memenuhi tugas-tugasnya sebagai khalifatullah, agar ruhani manusia cukup bekal untuk mengarungi perjalanan berikutnya.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah: 197)

Kehidupan di dunia baru sepenggal kecil dari perjalanan manusia menuju menuju rumah keabadiannya. Hidup dunia menurut Rasulullah SAW bagaikan seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju kampung halamannya. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].” (HR. Bukhari, no. 6416).

Kemudian dalam hadis lain beliau bersabda:

مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya. (HR. Ahmad).

Rumah sejati dan tempat keabadian manusia adalah akhirat. Inilah terminal terakhir perjalanan manusia. Allah berfirman:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. al-Mukmin/40:39)

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. al-Ankabut: 64).


Masalahnya adalah di akhirat itu ada dua jenis tempat: surga dan neraka. Surga adalah tempat bagi orang-orang beriman, orang-orang yang mempergunakan hidupnya untuk menjalankan amanah sebagai khalifatullah dengan beribadah dan mengelola kehidupan sesuai aturan Allah. Orang inilah orang yang cukup bekal untuk mengarungi perjalanannya menuju akhirat hingga mencapai kehidupan abadinya di surga. Sedangkan neraka adalah tempat manusia yang tidak meyakini akan firman Allah, termasuk orang-orang yang meyakini bahwa manusia berasal dari kera itu. Mereka adalah manusia yang mengkhianati kepercayaan Allah sehingga kehidupannya jauh dari aturan-aturan Allah. Mereka adalah orang yang tidak mempunyai cukup bekal untuk mengarungi perjalanan panjang menuju akhirat sehingga dia mengalami berbagai kesulitan sepanjang jalan. Pada akhirnya sampailah ia ke tempat abadi yang penuh dengan penderitaan yaitu beraka. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga onta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. al-A’râf [7]:40-42).

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan