Home / Ibadah / Wudhu sesuai Rasulullah (Bagian III)

Wudhu sesuai Rasulullah (Bagian III)

Pada bagian terdahulu, pada tulisan yang berjudul: “Cara Wudhu sesuai Rasulullah SAW (Bagian II)” kita telah membahas tatacara wudhu Rasulullah SAW yang disandarkan pada hadits-hadits shahih. Pembahasan kita telah sampai pada butir ke 3, yaitu: berkumur dan menghirup air ke hidung. Yuk, kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.

4. membasuh muka dan menyela-nyela jenggot sebanyak 3 kali.

Bagian muka wajib dibasuh semua mulai dari tempat tumbuh rambut di bagian ubun-ubun hingga janggut, dan mulai dari tempat tumbuh rambut dan kuping bagian kanan hingga kiri. Kemudian mengucek bagian dalam kedua ujung mata dan menyela-nyela jenggot (bagi yang berjenggot), sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

وَعَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ فِي الْوُضُوءِ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة

Artinya: Dari Utsman Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyela-nyelai jenggotnya dalam berwudlu. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah).

Berkenaan dengan hal ini tidak ada perbedaan pendapat.

5. membasuh kedua tangan hingga siku, kanan dulu kemudian kiri sebanyak 3 kali

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Di sini ada sedikit perbedaan. Ada yang berpendapat harus dimulai dari ujung jari hingga siku, tidak boleh sebaliknya.

Namun banyak ulama yang berpendapat tidak harus demikian. Yang terpenting adalah seluruh bagian yang harus dibasuh semuanya dibasuh.

Perintah ayat intinya hanya menunjukkan batas yang mempertegas semua area yang harus dibasuh. Tentu tidak mungkin jika disebut: batasnya ujung jari (lantas dari mana mulanya?).

Menurut saya akan lebih baik jika kita mengikuti pendapat pertama: dimulai dari ujung jari hingga siku. Supaya persis seperti kemauan ayat secara struktur bahasa. Tapi itu bukan suatu keharusan.

6. mengusap kepala

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Namun ada 3 pertanyaan tambahan yang sekaligus menjadi tolak pangkal perbedaan pendapat.

Pertanyaan itu adalah:

Apakah seluruh kepala atau cukup sebagian saja?

Apakah kuping termasuk kepala atau tidak?

Berapa bilangan dalam mengusap kepala?

Mari kita mulai dari yang pertama.

Apakah seluruh kepala atau cukup sebagian saja?

Perbedaan pendapat tentang hal ini bermula dari penafsiran ayat tentang wudhu, yaitu QS. Al-Maidah [5]: 6, pada kalimat:

وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ

Artinya: “…. usaplah kepalamu.”

Mengusap kepala ini ada yang mengartikan “sebagian” ada yang mengartikan “seluruh” kepala.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena dalam strukur bahasa Arab, huruf “ba” yang terdapat pada kalimat:  بِرُءُوسِكُمۡ memang memungkinkan dua arti itu.

Nah, untuk menentukan mana yang tepat maka kita harus melihat bagaimana Rasulullah SAW mempraktikkan mengusap kepala.

Namun ternyata Rasulullah SAW juga pernah mempraktikkan kedua-duanya.

Rasulullah SAW pernah mengusap keseluruhan kepala. Hal ini terdapat dalam hadits berikut:

Amr bin Yahya al-Maziniy, menceritakan tentang Abdullah bin Zaid yang memperagakan cara berwudlunya Rasulullah SAW sebagai berikut:

ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَ أَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلىَ قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّ هُمَا حَتىَّ رَجَعَ إِلىَ اْلمـَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ

Artinya: “Lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang mulai dari depan kepalanya kemudian menggerakkannya sampai ketengkuknya, lalu mengembalikannya ketempat semula.” [HR Abu Dawud: 118, an-Nasa’iy: I/ 70-71,71, Ibnu Majah: 434 dan at-Turmudziy: 32. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengusap seluruh kepala dengan diawali dari depan sampai ke belakang, kemudian kembali ke depan lagi.

Namun Rasulullah SAW juga pernah mengusap sebagian kepala, tepatnya bagian depan (ubun-ubun). Hal ini terdapat dalam hadits berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ، فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ ، وَعَلَى الْعِمَامَةِ ، وَعَلَى الْخُفَّيْنِ

Artinya: “Nabi SAW berwudhu dengan mengusap bagian depan kepala dan ‘imamahnya (serbannya), beliau juga mengusap khuf (sepatunya).” (HR. Bukhari, no. 182 dan Muslim, no. 274).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memakai sorban, sehingga beliau hanya mengusap bagian depan kepalanya. Namun demikian sisanya beliau mencukupkan dengan mengusap soban.

Berdasarkan pembahasan di atas karena kedua hadits shahih tampaknya yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala. Kemudian jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.

Yuk kita lanjut ke pertanyaan kedua?

Apakah kuping termasuk kepala atau tidak?

Ada yang berpendapat bahwa cara membasuh kepala diteruskan sampai ke telinga, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ، قَالَ : تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ، وَيَدَيْهِ ثَلاَثًا ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ، وَقَالَ : الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

Artinya: “Dari Abu Umamah Ra. beliau berkata: Nabi Saw. berwudhu (dengan cara) membasuh wajah sebanyak tiga kali, tangan sebanyak tiga kali, dan mengusap kepala. Nabi Saw. berkata: kedua telinga adalah bagian dari kepala.”

Bagi yang mendasarkan hadits ini mengusap kuping dilakukan sekaligus sebagai bagian dari kepala. Meskipun tidak wajib juga mengusap kepala harus sampai kuping.

Ada juga yang berpendapat bahwa mengusap kepala dan kuping dipisah. Artinya mengusap kuping bukan bagian kepala. Hal ini didasarkan atas hadits berikut:

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abdullah bin Zayd Ra. tentang cara berwudhu Nabi:

مَسَحَ أُذُنَيْهِ بِغَيْرِ الْمَاءِ الَّذِي مَسَحَ بِهِ رَأْسَهُ

Artinnya: “Beliau berwudhu, kemudian membasuh kedua telinga dengan air yang bukan (digunakan) untuk membasuh kepala.”

Imam Nawawi menyimpulkan, “Mengusap telinga adalah bagian dari sunnah wudhu sebagaimana hadits yang telah lewat.” (Al-Majmu’, 1:228).

Imam Tirmidzi juga meragukan kalimat yang terdapat pada hadits bahwa “kuping bagian dari kepala” itu dari Nabi atau bukan. Katanya: “Saya tidak tahu, apakah kalimat ini (kedua telinga adalah bagian dari kepala) adalah pernyataan Nabi Saw atau pendapat Abu Umamah.”

Imam Asy-Syaukani juga menyanggah bahwa hadits tersebut tidak bisa dibawa ke maksud semacam itu. Tetap yang lebih meyakinkan adalah hukum mengusap telinga adalah sunnah (bukan wajib).

Karena keraguan ini pula dalam kitab al-Tamhid fi Adillati al-Taqrib karya Dr. Mustafa Dhieb al-Bigha, menyebutkan bahwa membasuh sebagian kepala dan telinga tidak diperbolehkan dengan air yang sama.

Artinya, setelah membasuh sebagian kepala – atau seluruhnya sebagian praktik yang disunnahkan – tidak boleh langsung membasuh kedua telinga.

Hal ini diperkuat dengan hadits yang terdapat dalam kitab Bulughul Maram pada hadits no. 42 tentang tata cara wudhu disebutkan hadits berikut:

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ { رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْخُذُ لِأُذُنَيْهِ مَاءً غَيْرَ الْمَاءِ الَّذِي أَخَذَهُ لِرَأْسِهِ } .أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ ، وَهُوَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ بِلَفْظِ : { وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدَيْهِ } ، وَهُوَ الْمَحْفُوظُ

Artinya: Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil air untuk kedua telingannya dengan air yang berbeda dengan yang diusap pada kepalanya. (HR. Baihaqi).

Banyak ahli hadits yang menyatakan hadits di atas perawinya tsiqah, berarti hadis ini shahih atau setidaknya hasan.

Ok, sampai di ini saya tidak mau berpanjang-panjang lagi. Intinya begini, setelah saya membaca banyak pendapat, kedua pihak mempunyai banyak argumen yang kuat untuk mendukung pendapat masing-masing.

Mana yang paling tepat?

Mentok.

Kedua argumentasi cukup kuat. Jadi kesimpulannya boleh kedua-duanya. Mengusap kepala dilanjutkan sampai kuping atau dipisahkan.

Mari kita lanjutkan pertanyaan terakhir.

Mengusap kepala cukup sekali atau tiga kali?

Pertama saya ingin mengatakan bahwa mengusap sekali itu jelas sudah cukup. Tapi pada anggota yang lain Rasul membasuh tiga kali. Mana yang lebih utama sesuai Rasul?

Jika melihat hadis utama, yaitu Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas memang untuk “mengusap kepala” tidak disebutkan bilangannya. Sedangkan untuk yang lain disebutkan tiga kali.

Di sini terkesan bahwa Rasul hanya mengusap sekali. Ternyata ini bukan hanya kesan penafsiran, tapi memang didukung oleh hadits:

وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً

Artinya: “Dan mengusap kepalanya sekali.”

(HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dwud: 111. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih).

Namun Rasulullah pernah juga membasuh 3 (tiga) kali:

رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ الْمَضْمَضَةَ وَالِاسْتِنْشَاقَ وَقَالَ فِيهِ وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ هَكَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ دُونَ هَذَا كَفَاهُ وَلَمْ يَذْكُرْ أَمْرَ الصَّلَاةِ

Artinya: Aku melihat Utsman bin Affan  berwudhu. Kemudian dia menceritakan sebagaimana hadits sebelum ini, namun di dalamnya dia tidak menceritakan berkumur-kumur dan istinsyaq. Dan di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Humran mengatakan: Dia -Utsman- mengusap rambut kepalanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya tiga kali. Lalu Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu demikian. Dan beliau bersabda, ‘Barang siapa yang berwudhu kurang dari ini maka hal itu pun mencukupi baginya.’ Dan dia tidak menyebutkan tentang perkara sholat (sebagaimana yang ada pada riwayat Muslim di atas, pent).” (HR. Abu Dawud, dinyatakan oleh al-Albani hasan sahih di dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [1/185] as-Syamilah).

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa mengusap kepala tiga kali termasuk Sunnah (ajaran Nabi) adalah pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnul Mundzir dari Anas, Atha’ dan yang lainnya.

Abu Dawud pun meriwayatkan keterangan itu -mengusap kepala tiga kali- melalui dua jalur yang salah satunya dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan ulama yang lain.

Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Utsman mengusap kepalanya sebanyak tiga kali, sedangkan tambahan keterangan dari perawi yang terpercaya/tsiqah adalah informasi yang harus diterima (ziyadatu tsiqah maqbulah, istilah dalam ilmu hadits, pen), demikian papar al-Hafizh (silakan periksa Fath al-Bari [1/313], lihat juga keterangan Syaikh Dr. Abdul ‘Azhim Badawi hafizhahullah dalam kitabnya al-Wajiz, hal. 35)

Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-’Azhim Abadi rahimahullah mengatakan, “Kesimpulan hasil penelitian dalam masalah ini menunjukkan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan sekali usapan adalah lebih banyak dan lebih sahih, dan ia lebih terjaga keabsahannya daripada hadits yang menyebutkan tiga kali usapan.

Meskipun hadits-hadits tiga kali usapan tersebut juga berderajat sahih melalui sebagian jalannya, akan tetapi ia tidak bisa mengimbangi kekuatan hadits-hadits tersebut. Maka yang semestinya dipilih adalah mengusap sekali saja, walaupun mengusap tiga kali juga tidak mengapa.” (‘Aun al-Ma’bud [1/132] as-Syamilah)

Berdasarkan pembahasan di atas saya menyimpulkan:

Yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala dengan meneruskan sampai telinga atau pun memisahnya.

Jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.

Bilangan dalam mengusap kepala yang paling kuat argumentasinya adalah 1 kali. Meskipun demikian sangat bisa dimaklumi jika ada yang melakukan 3 kali mengingat argumentasinya juga kuat.

7. membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, kaki kanan terlebih dahulu kemudian kaki kiri

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Hanya tambahan cara membasuh yang baik adalah dengan menyela-nyela jari kaki.

8. bacaan setelah wudhu

Bacaan setelah wudhu tidak ada dalam hadits Umron. Tapi ada pada hadits lain. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Artinya: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” (HR. Muslim no. 234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470).

Berdasarkan hadits di atas, bacaan/doa setelah wudhu adalah:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Namun umunya di masyarakat ada tambahan lagi doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini ada yang menyatakan sebagai hadits hasan. Tapi lebih banyak yang menyatakan hadis dhaif. Karena itu banyak pula yang memilih meninggalkan bacaan ini.

9. Tartib

Semua tatacara tersebut wajib dilakukan sesuai urutan, tidak boleh dibolak-baik antara satu dan yang lainnya.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Pengertian Nishab

Seorang muslim dianjurkan untuk berbagi. Itulah prinsip dasarnya. Pada saat kita mendata rezeki, berapa pun …

Tinggalkan Balasan