Home / Ibadah / Cara Wudhu sesuai Rasulullah (Bagian II)

Cara Wudhu sesuai Rasulullah (Bagian II)

Pada tulisan terdahulu yang berjudul Cara Wudhu sesuai Rasulullah SAW (Bagian I)” kita telah membahas tatacara wudhu yang paling minimal, yaitu dengan menjalankan hanya rukun wudhu. Cara wudhu seperti ini sudah sah. Namun demikian kurang sempurna. Cara wudhu secara minimal ini sebaiknya dilakukan hanya ketika ada kondisi yang memang tidak memungkinkan atau ada halangan tertentu untuk melakukan wudhu secara sempurna.

Sebab pada banyak kesempatan, cara wudhu Rasulullah lebih dari sekedar menjalankan rukun wudhu sebagaimana yang disebutkan dalam surat al Maidah ayat 6. 

Secara lengkap, wudhu Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

Mengenai tata cara berwudhu diterangkan dalam hadits berikut:

حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ – رضى الله عنه – دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا

Humran pembantu Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pernah meminta air untuk wudhu kemudian dia ingin berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur diiringi memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya 3 kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai ke siku tiga kali, kemudian mencuci tangan yang kiri seperti itu juga, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki yang kiri seperti itu juga. Kemudian Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu seperti wudhuku ini. (HR. Bukhari dan Muslim).

Anggota wudhu yang dibasuh/diusap sesuai dengan hadis ini (ditambah dengan niat dan tartib yang merupakan salah satu sarah sah wudhu) adalah:

  1. Niat berwudhu karena Allah dengan membaca basmalah.
  2. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
  3. Berkumur dan menghirup air ke hidung.
  4. Membasuh muka tiga kali.
  5. Membasuh kedua tangan sampai siku tiga kali.
  6. Mengusap kepala atau sebagian kepala.
  7. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki tiga kali.
  8. Tartib.

Jika dibandingkan dengan rukun wudhu sebagaimana terdapat dalam surat al Maidah ayat 6 pada pembahasan yang lalu di sini menambahkan dua anggota, yaitu: (1) membasuh kedua telapak tangan tiga kali, (2) berkumur dan menghirup air ke hidung.

Penjelasan secara detail cara wudhu Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

1. Niat

Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan “Cara Wudhu sesuai Rasulullah (Bagian I)”, wudhu harus dimulai dengan niat karena Allah dengan membaca basmalah. Niat tempatnya dalam hati. Kapan? Di awal pekerjaan, pada saat memulai wudhu. Karena wudhu Rasulullah SAW diawali dengan membasuh kedua telapak tangan, maka niat dilakukan sebelum membasuh kedua telapak tangan, atau berbarengan dengan membasuh telapak tangan. Rasulullah SAW tidak membaca niat dilafadzkan sebagaimana biasa dilakukan banyak orang: “Nawaitul wudhua lirraf’il hadatsil asghari lillahi ta’ala”. (Pembahasan lengkap tentang hal ini klik: DI SINI).

2. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali

Cara membasuh telapan tangan yang sempurna adalah dengan cara menyela-nyela jari-jemari, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: اذا توضأت فخلل اصابع يديك و رجليك

Artinya: “Bahwa Nabi SAW bersabda: jika kau berwudhu…maka sela-selalah antara jari-jari kedua tanganmu dan kedua kakimu” (HR. Turmudzi, Ahmad, Ibnu Majah).

3. Berkumur dan menghirup air ke hidung

Pada bagian ini dalam hadits di atas tidak disebutkan berapa kali. Untuk itu kita perlu mencari pada hadits lain, berapa kali Rasulullah berkumur dan menghirup air ke hidung ini. Rasulullah SAW bersabda:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ -فِي صِفَةِ اَلْوُضُوءِ- { ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abdullah Ibnu Zaid Radliyallaahu ‘anhu tentang cara berwudlu: Kemudian beliau memasukkan tangannya, lalu berkumur, dan mengisap air melalui hidung dengan satu tangan. Beliau melakukannya tiga kali. (Muttafaq Alaihi).

Kalau melihat hadis di atas maka menjadi jelas. Cara berkumur dan menghirup air ke hidung adalah tiga kali juga, sama seperti anggota yang lain.

Sebentar, di sini ada sedikit perbedaan pendapat, apakah antara berkumur dan menggirup air ke hidung dilakukan bersama-sama (artinya semuanya tiga kali ambil air untuk kumur sekalian menghirup air ke hidung) atau dipisah (maksudnya semuanya berarti enam kali ambil air: tiga kali pertama khusus kumur-kumur kemudian tiga kali berikutnya khusus menghirup air ke hidung)?

Kalau kita menganalisa teks hadis, baik yang dari Humron maupun dari Abdillah bin Zaed, di situ dilakukan bersama-sama (artinya semuanya tiga kali ambil air untuk kumur sekalian menghirup air ke hidung).

Perhatikan di situ antara kalimat “madhmadha” (kumur) dan “istintsara” (menghirup air ke hidung yang dalam hadis Abdillah bin Zaed menggunakan kata “istinsyaq”) ada kalimat penghubung “waw (dan)”.

Dalam bahasa Arab, “waw (dan)“ mempunyai fungsi makna: muthalqul jam’i (mengumpulkan secara bersama-sama). Jadi kalau ada kalimat: “Ja-a zaidun wa umar ( Zaid dan Umar datang)” ini artinya Zaid dan Umar datang bersamaan dalam satu waktu.

Berbeda dengan kalimat “tsuma (kemudian)”. Tsuma juga kata penghubung seperti “waw”. Tapi tsuma ini mempunyai makna berjeda. Misal contoh: Ja-a zaidun tsuma umar (Zaid datang kemudian Umar)” ini mengandung arti datangnya tidak bersamaan. Jadi Zaid duluan, kemudian baru Umar.

Nah, sekarang coba perhatikan di hadis. Hampir semua kalimat penghubungnya menggunakan tsuma. Hanya antara kalimat “madhmadha” (kumur) dan “istintsara” saja yang secara spesifik menggunakan “waw”. Artinya berkumur dan menghirup air ke hidung  dilakukan bersamaan, dalam satu pengambilan air (total tiga kali ambil air untuk keduanya).

Selain analisis struktur bahasa ini, hal ini juga didasarkan pada hadits Abdullah bin Zaed di atas, kita ulang lagi hadisnya:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ -فِي صِفَةِ اَلْوُضُوءِ- { ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abdullah Ibnu Zaid Radliyallaahu ‘anhu tentang cara berwudlu: Kemudian beliau memasukkan tangannya, lalu berkumur, dan mengisap air melalui hidung dengan satu tangan. Beliau melakukannya tiga kali. Muttafaq Alaihi.

Pada hadis ini disebutkan مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ

Artinya “satu tepalak tangan” (satu kali ambil air untuk kumur dan hidung). Mushthafa Dib al-Bugha dalam At-Tahdzib Fi Adillati Matn Al-Ghayah Wa At-Taqrib mengatakan bahwa berdasarkan hadis ini disunahkan untuk mengumpulkan berkumur dan istinsyaq dengan tiga cidukan air, yaitu berkumur dari setiap cidukan kemudian istinsyaq, adalah sesuatu yang lebih utama daripada memisah di antara keduanya.

Pendapat ini juga yang dipilih oleh kalangan Syafi’iyyah (lihat As-Syaikh Abdul Qadir Ar Rahbawi, “Shalat Empat Mazhab: Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali”, (Akbarmedia: Jakarta, 2017), cet.2, hlm. 68)

Memang ada hadis yang menyebutkan bahwa antara berkumur dan menghirup air ke hidung dipisah. Hadits Thalhah bin Musharrif dari ayahnya, dari kakeknya, beliau berkata,

    دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ وَالْمَاءُ يَسِيْلُ مِنْ وَجْهِهِ وَلِحْيَتِهِ عَلَى صَدْرِهِ فَرَأَيْتُهُ يَفْصِلُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالْإِسْتِنْشَاقِ

“Saya masuk menemui Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam dan beliau sedang berwudhu.  Air mengucur dari wajah dan jenggot beliau di atas dadanya. Saya melihat beliau memisahkan antara kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung.”Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan -nya no. 139, Al-Baihaqy dalam Sunan -nya 1/51, dan Ath-Thabarany jilid 19 no. 409-410.

Semuanya dari jalan Al-Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya, dari kakeknya. Lalu dalam salah satu riwayat Ath-Thabarany dengan lafazh,

    إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَتَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا يَأْخُذُ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مَاءً جَدِيْدًا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam berwudhu lalu berkumur-kumur tiga kali dan menghirup air tiga kali. Beliau mengambil air baru (baca: tersendiri) untuk setiap anggota ….”

Namun menurut penelitian ahli hadis, hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hatim dalam Al-‘Ilal 1/53 karya anaknya. Dalam hadits tersebut terdapat rawi yang bernama Al-Laits bin Abi Sulaim dan ia telah dilemahkan oleh Ibnu Mahdy, Yahya Al-Qaththan, Ibnu ‘Uyyainah, Ibnu Ma’in, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ya’qub Al-Fasawy, An-Nasa`i dan lain-lainnya, bahkan Imam An-Nawawy, dalam Tahdzib Al-Asma` Wa Al-Lughat 1/2/75, menukil kesepakatan para ulama atas lemah dan goncangnya hadits Al-Laits bin Abi Sulaim.

Kemudian ayah Thalhah bin Musharrif adalah rawi yang majhul atau tidak dikenal (Baca Tahdzibut Tahdzib , Al-Badrul Munir 3/277-286, At-Talkhish Al-Habir 1/133-134, dan Nashbur Rayah 1/17).

Baik, sampai di sini jelas ya, cara berkumur dan menghirup air ke hidung? Ringkasnya, dilakukan bersama-sama dan dilakukan sebanyak 3 kali.

Nah, sekarang tinggal satu lagi, bagaimana cara mengusap kepala sesuai yang Rasulullah SAW lakukan? Karena tulisan ini sudah agal panjang, kita lanjutkan di tulisan berikutnya yang berjudul: “Cara Wudhu sesuai Rasulullah (Bagian III)”. Wallahu a’lam bishawwab.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Pengertian Nishab

Seorang muslim dianjurkan untuk berbagi. Itulah prinsip dasarnya. Pada saat kita mendata rezeki, berapa pun …

Tinggalkan Balasan