Home / Akidah / Ragam Keyakinan Dan Sikap Seorang Muslim (Materi Revisi)

Ragam Keyakinan Dan Sikap Seorang Muslim (Materi Revisi)

Pendahuluan

Sebagai seorang muslim kita telah mendapati satu keimanan yang tiada keraguan sedikitpun di dalamnya. Namun demikian, pada kenyataannya kita dihadapkan pada keberagaman, termasuk dalam hal keimanan.

Pilihan seseorang terhadap suatu keyakinan ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk, masyarakat yang heterogen. Terlebih di era modern dewasa ini dimana mobilitas kehidupan dan pertukaran informasi demikian masif.

Menghadapi situasi semacam ini kita dapat terjebak pada dua hal buruk: pertama, mengalami krisis keimanan karena terpengaruh oleh orang lain. Kedua, bersifat ekslusif dan sentimen terhadap orang lain lantaran ingin menjaga keimanan.

Oleh karenanya, kita harus menyadari situasi ini dan mempunyai sikap yang tepat dalam menghadapi keragaman, termasuk dalam soal akidah/keimanan.

Sifat Dasar Keimanan

Keimanan pada dasarnya bersifat ekslusif. Keimanan mensyaratkan keyakinan yang amat kuat dan tak ada sedikitpun keraguan. Pilihan kita terhadap Islam sebagai agama kita, Allah Tuhan kita, dan Muhammad SAW panutan kita adalah kebenaran mutlak. Kebenaran yang kemudian dapat melihat agama lain sebagai jalan yang salah.

Menganggap semua agama benar sama artinya kita meragukan agama kita sendiri dan menandakan bahwa pilihan kita atas suatu agama hanyalah suatu kebetulan dan bersifat pragmatis belaka.

Kebetulan orangtua kita muslim sehingga kita beragama Islam, kebetulan lingkungan kita muslim sehingga kita memilih agama Islam. Atau saya beragama Islam karena untuk memudahkan administrasi kependudukan, atau saya memilih Islam karena lebih menguntungkan secara ekonomi, dan seterusnya.

Alasan-alasan pragmatis semacam itu jelas tidak bisa diterima dalam hal keimanan. Bagaimana mungkin memilih agama hanya didasarkan suatu kebetulan dan alasan pragmatis, sedangkan memilih pasangan hidup saja harus diperhitungkan dengan matang, memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal dan seterusnya.

Semua pilihan hidup harus diperhitungkan dan didasarkan pada alasan yang matang. Lalu apa artinya jika soal akidah, soal keimanan hanya didasarkan suatu kebetulan dan alasan pragmatis? Padahal keimanan adalah dasar utama dari kehidupan kita.

Orang-orang yang seperti ini tanpa sadar sebenarnya telah mengesampingkan agama. Agama hanyalah sebatas formalitas. Mungkin pandai juga dia bercerita tentang agama. Tapi pada hakikatnya dia tak punya keimanan.

Jadi sekali lagi saya garisbawahi bawahi bahwa keimanan harus bersifat mutlak (truth claim), meyakini bahwa hanya inilah satu-satunya jalan kebenaran. Tidak boleh kita mengaku beriman hanya didasarkan karena ikut-ikutan orang lain, hanya karena nenek moyang kita beragama Islam. Allah menyinggung hal ini dalam firmanNya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Untuk mencapai keimanan yang kuat kita dapat menempuh dua cara:

 Pertama, mengumpulkan alasan-alasan yang ilmiah atau logis. Misalnya, saya memilih Islam karena ia adalah agama terakhir sehingga inilah pilihan terakhir satu-satunya, atau karena kitabnya terbukti paling valid terbukti kitab al-Quran terjaga dalam hafalam kaum muslim hingga hari ini.

Terbukti bahwa al-Quran tersusun dalam kalimat-kalimat asli bahasa Arab yang unik sehingga tampak jelas bukan hasil karangan manusia. Terbukti bahwa Nabi Muhammad SAW sejarahnya tertulis begitu melimpah sehingga mudah bagi kita untuk mengenalnya, dan seterusnya.   

Kedua, melakukan amalan-amalan spiritual yang telah ditentukan dalam ajaran Islam. Shalat, puasa, shadaqah, dan perbuatan baik lain adalah terapi keimanan yang akan memperkaya dan memperkuat keimanan kita.

Oleh karena itu, keimanan tidak cukup hanya sekedar ucapan di bibir belaka. Atau kepercayaan kebetulan dan pragmatis. Keimanan harus memenuhi tiga syarat:   

 تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.

“Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.”

Toleransi dan Batasannya

Akidah adalah keyakinan mendalam. Keyakinan yang tak sedikit pun ada keraguan di  dalamnya. Keyakinan yang bisa membedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang sesat. Disebabkan oleh hal inilah di dalam keyakinan biasanya tumbuh fanatisme.

Fanatisme inilah yang harus dijaga agar tetap dalam batas-batas yang semestinya. Jangan sampai kemudian fanatisme ini memunculkan kedengkian, bahkan perseteruan dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

Terkadang ada orang yanga begitu alim. Tapi tidak peduli dengan pergaulan sosial. Ia menjauhi orang yang tidak sepaham dengannya. Apalagi yang berbeda agama. Pergaulannya sangat eksklusif, terbatas dengan orang-orang yang sepaham dengannya.

Ia menanggap bergaul dengan orang lain menjadi ancaman bagi keimanannya. Ia merasa paling suci dan untuk menjaga kesuciannya mesti menjaga pergaulan sosial dengan orang yang beda paham dan keyakinan/agama.

Ada yang bersikap sebailknya. Ia merasa imannya masih lemah, belum bisa mendakwahi orang lain, sehingga memilih mengisolir diri agar tidak terpengaruh dengan keburukan orang lain. Yang terakhir ini kedengarannya rendah hati. Tapi sebenarnya sama saja. Ia menganggap orang lain banyak dosa sehingga ia takut bergaul orang tersebut.

Akidah yang dimiliki tidak mempunyai dapak pada perilaku sosial, bahkan menjadi penghalang pergaulan sosial. Akidahnya hanya berhenti pada keyakinan normatif, membuat orang tersebut mengisolir diri dari pergaulan sosial. Akidah yang melahirkan sikap merendahkan, meremehkan, bahkan sikap arogan kepada orang lain.

Oleh karenanya, keimanan yang sangat kuat sebagaimana dijelaskan di atas mensyaratkan adanya sikap toleransi, sikap ramah, dan perilaku yang baik terhadap orang lain. Orang yang tauhidnya baik secara otomatis biasanya menampilkan sikap dan perilaku yang baik pula terhadap orang lain.

Dia akan baik kepada semua orang. Bahkan dengan orang yang berbeda agama sekalipun. Kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW juga bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir).

Jangan karena berbeda keimanan kemudian kita membenci atau menjauhi seseorang. Selama orang tersebut berperilaku baik maka kita harus mempperlakukan mereka dengan baik. Bahkan sudah selayaknya kita harus menunjukkan sikap teladan sebagai seorang muslim. Allah SWT berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka.

Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 14: 81.

Bagi yang mempunyai orangtua juga sanak famili yang berbeda keyakinan juga harus tetap menghomrati dan memelihara hubungan baik, selama mereka tidak menghalangi kita untuk meleksanakan perintah Allah. Allah SWT berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya (kedua orangtua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Namun demikian, toleransi antar umat beragama juga ada batas-batasnya. Kita dilarang untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, ikut serta dalam utusan akidah dan peribadatan atau mencampuradukan ajaran agama.

Dari Abdullah bin Amru radhiallahu’anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Dikisahkan bahwa suatu hari Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan pada beliau untuk tukar menukar agama. Katanya:

يا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا ، كنا قد شاركناك فيه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al Qurthubi, 14: 425)

Tawaran ini ditolak dengan tegas oleh Nabi. Bahkan kemudian Allah menurunkan ayat:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Kedua, mengakui/meyakini bahwa semua agama adalah benar. Padahal Islam telah hadir untuk mengoreksi dan menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan kini hanya Islam satu-satunya jalan kebenaran.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

Setelah datangnya agama yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka agama lainnya seperti Nashrani dan Yahudi, seluruhnya adalah agama yang batil yang tidak diridhoi oleh Allah. Dalam ayat lain disebutkan,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85).

Ketiga, berkawan/berkomplot dengan orang yang memusuhi agama kita.  

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28).

Dakwah di Tengah Keberagaman

Berdakwah adalah tugas setiap muslim. Kita wajib mengajak orang lain ke dalam kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengajak agar beriman kepada Allah.

Allah berfirman:

          كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran : 110).

Nabi Muhammad SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Artinya: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana cara berdakwah. Apalagi di  era modern ini dimana orang sudah semakin terdidik. Dakwah kini tak cukup dengan berorasi dengan mengeluarkan dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran Islam.

Beberapa cara dakwah efektif yang dapat kita lakukan adalah:

Pertama, dakwah dengan aksi nyata (dakwah bi alhal). Sekarang ini dakwah harus menunjukkan aksi dan bukti. Berikanlah teladan kepada masyarakat. Dampingi masyarakat dan berikan solusi. Hadirkan islam sebagai solusi hidup. Terjemahkan Islam dalam sistem kehidupan.

Kedua, dakwah dengan mengimbangi aktivitas orang lain dengan solusi nyata (dakwah bil al mu’aradhah). Cara ini akan menjadi sarana yang efektif dalam berdakwah. “Fastabiqul Khairat”(berloma dalam kebaikan).Itulah prinsip utama dakwah masa kini. Dengan menampilkan teladan terbaik, kita bukan saja mengamalkan hakikat Islam, tapi maka orang akan simpatik terhadap Islam. Tegas, tapi tetap bersikap cerdas, jangan emosional dan gampang terpancing oleh profokasi.

Jangan suka mecela, apalagi menjelek-jelekkan Tuhan mereka. Ajaklah mereka ke dalam Islam dengan baik. Bahkan jika terpaksa mesti berdebat pun, maka tetap harus dengan cara yang baik. Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS. Al ‘Ankabut: 46).

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut:

  1. Akidah harus diyakini secara kuat, lepas dari segalamacam keraguan. Dalam urusan akidah, kita tidak ada toleransi. Mengakui bahwa akidah/agama lain benar adalah sebuah kesalahan.
  2. Akidah yang benar harus melahirkan perilaku yang baik dalam kehidupan sosial. Seorang muslim harus aktif, menjadi teladan dan memberikan manfaat terbanyak dalam kehidupan sosial.
  3. Berdakwah adalah tugas semua muslim. Inti dakwah adalah mengajak berbuat baik, mengegah keburukan, dan mengajak beriman kepada Allah.
  4. Berdakwah harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Jangan mencela dan mendiskreditkan orang lain. Islam harus tampil sebagai agama yang mempunyai manfaat praksis dalam kehidupan. Berlomba dalam kebaikan adalah inti strategi dakwah masa kini.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Kontrak Belajar dan Orientasi Materi Akidah

Halo teman-teman… perkenalkan nama saya Tohirin, S.H.I., M.Pd.I. Dikenal juga dengan nama UTS (Ust. Tohirin …

Tinggalkan Balasan