Home / Islam Otodidak / Makna Islam sebagai Agama 

Makna Islam sebagai Agama 

Pada pembahasan sebelumnya kita telah memahami arti kata “Islam”. Bukan hanya arti terjemahannya, tapi spirit dan hakikat yang terkandung di dalamnya. Nama “Islam” ternyata mengandung arti yang sangat mendalam. Islam adalah sikap dasar dan kekuatan dasar manusia dalam menghadapi kehidupan.

Baiklah sekarang mari kita lanjutkan pemahaman kita tentang Islam. Kali ini bukan hanya arti kata dan spiritnya, tapi Islam sebagai sebuah agama. Agama Islam.

Islam adalah agama Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pelanjut dan penyempurna agama-agama sebelumnya yang berisi petunjuk dan aturan-aturan tertentu untuk meraih kebahagian hidup dunia dan akhirat.

Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini tidak dibiarkan begitu saja semau-maunya. Tapi Allah telah membuat petunjuk dan aturan-aturan tertentu yang dengan petunjuk dan aturan ini manusia dapat menjalani hidup ini dengan baik. Allah kemudian mengutus para rasul untuk membimbing manusia agar hidup sesuai aturan Allah.

Nah, petunjuk dan aturan-aturan inilah yang disebut agama, disebut ad-din, atau millah. Para rasul pembawa ajaran Allah ini berganti dari waktu ke waktu. Mereka hadir membawa suatu ajaran yang relevan dengan zamannya.

Para rasul ini satu sama lain saling melanjutkan dan menyempurnakan hingga sampailah pada rasul terakhir, Muhammad  SAW. Jadi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW bukanlah ajaran baru. Tapi pelangsung dan penyempurna agama-agama sebelumnya.

Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Maa-idah [5]: 3).

وَ أَنْزَلْنا إليكَ الكتابَ بالحَقِّ مُصَدِّقًا لما بين يديه مِن الكِتابِ و مُهَيْمِنًا عليهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al qur’an dengan haq, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian (pengoreksi) terhadap kitab-kitab yang lain itu”. (QS. Al Maidah [5]: 48)

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286).

Adalah Jibril, malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul dari zaman Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Wahyu terakhir ini kemudian dihafal dan dibukukan ke dalam sebuah mushaf yang disebut kitab al-Quran.

Ajaran Islam yang terdapat dalam sumber utama kitab suci al-Quran ini merupakan ajaran terakhir yang diturunkan Allah berlaku universal untuk seluruh manusia hingga akhir zaman.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui. (QS. Saba’ [34]: 28).

Rasulullah SAW juga menegaskan hal ini dalam sabdanya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku diberi (oleh Allah) lima perkara yang itu semua tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku: (1) Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedatanganku) sejauh perjalanan sebulan; (2) Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk tayammum). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) shalat menemuinya, hendaklah dia shalat; (3) Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorangpun sebelumku; (4) Aku diberi syafa’at (oleh Allah); (5) Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya. (HR. Bukhori, no. 335).

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan