Home / Muamalah / Proses Pernikahan

Proses Pernikahan

Image result for IJAB KABUL

PENDAHULUAN

Aturan pernikahan merupakan salah hal pentingdalam ajaran Islam. Allah telah mengatur tatacara pernikahan mulai dari persiapan menikah hingga jika sewaktu-waktu terjadi perceraian. Nikah bukan hanya sekedar penghalalan hubungan seksual yang merupakan tabiat manusia. Tapi di dalamnya terdapat tujuan tinggi berkenaan dengan peradaban manusia. Karenanya, aturan-aturan pernikahan harus kita pahami dengan baik sehingga nantinya kita dapat membangun keluarga sesuai dengan ajaran Islam.

SEJARAH PERNIKAHAN PRA ISLAM

Sebelum datangnya Islam, di Arab sudah ada berbagai macam aturan pernikahan. Lebih tepatnya mungkin bukan pernikahan sebagaimana yang kita pahami. Tapi sekedar aturan bagaimana seorang laki-laki berhubungan badan dengan perempuan.

Mereka mengarang sendiri aturan hubungan seksual menurut sekehendak mereka. Dalam riwayat Imam al-Bukhari dan periwayatan lainya meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa hubungan (hubungan badan) antara laki-laki dan perempuan pada masa jahiliyah terdapat beberapa macam:

Pertama,  istibdha’, yaitu hubungan laki-laki perempuan untuk mencari bibit unggul. Seorang laki-laki yang sudah menikah menyuruh istrinya untuk berhubungan dengan laki-laki lain yang dipandang mempunyai kelebihan tertentu untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik.

Keduaal-Maqthu’ yaitu perkawinan warisan. Jika seorang ayah meninggal maka secara paksa anak mewarisi istri mendia ayahnya,dan apabila masih kecil ,maka keluarga yang lain menahan istri tersebut hingga anak laki-laki itu dewasa.

Ketigaal-rahtun, yaitu sekelompok laki laki yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya. Jika wanita itu hamil dan melahirkan serta telah berlalu beberapa malam setelah kelahiran,dia mengutus seseorang kepada mereka,maka tidak ada satupun laki-laki yang dapat mengelak dan disuruhnya berkumpul,kemudian wanita memilih seorang bapak dari laki-laki yang disenanginya,dari beberapa laki-laki yang telah menggaulinya.

Keempatkhaddan, yaitu perkawinan antara seorang perempuan dan laki-laki secara sembunyi-sembunyi tanpa akad yang sah,dan hal ini diperbolehkan oleh arab jahiliyah selama dilakukan sembunyi-sembunyi. Selain itu masih terdapat dua bentuk perkawinan lagi yaitu perkawinan

Kelimabadal yaitu tukar-menukar istri. Hal ini dilakukan berdasarkan kesepakatan para suami yang saling menghendaki.

Keenamal-syigar, yaitu perkawinan paksa dengan cara tukar menukar saudara atau anak perempuan.

Di sinilah peran Islam yang menghapus segala bentuk perkawinan dalam bentuk tersebut,dan hanya membolehkan perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan dengan syarat bukan mahram dan prosesnya pun didahului dengan adanya khitbah kemudian penyerahan mahar sebagai bentuk dari peghargaan terhadap wanita dan kemudian adanya ijab dan qobul.

PENGERTIAN PERNIKAHAN

Nikah adalah akad yang menghalalkan pergaulan suami istri antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram yang memenuhi persyaratan tertentu yang berimplikasi pada timbulnya hak dan kewajiban bagi masing-masing demi terwujudnya keluarga yang sehat lahir dan batin. (M. Bagir al-Habsyi, 2002: 3).

Selanjutnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan: perkawinan menurut hukun Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Ada dua hal penting yang harus digarisbawahi dalam pengertian ini yaitu: ibadah, dan mitsaqan ghalizan. Kata ibadah di sini mengandung pengertian bahwa pernikahan dalam Islam bukan hanya ikatan perjanjian antara manusia.

Tapi sebuah janji suci di hadapan Allah SWT. Pernikahan, disamping disaksikan oleh wali, saksi, dan orang-orang yang hadir, juga yang terpenting disaksikan Allah. Karena itulah pernikahan disebut dengan mitsaqan ghalizan (janji yang amat kuat, janji yang sakral).

Pernikahan adalah “transaksi” hukum yang bersifat luar biasa. Masyarakat sering membedakan antara “perkawinan” dan “pernikahan”. Namun dalam bahasa hukum keduanya tidak dibedakan. Baik perkawinan maupun pernikahan dipakai untuk menyebutkan proses perjodohan dengan syarat dan rukun tertentu yang ditetapkan Islam.

HUKUM PERNIKAHAN

Hukum pernikahan adalah sunah mustahab (sangat dianjurkan Nabi). Artinya, manusia sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menikah. Meninggalkannya, tanpa alasan yang dibenarkan agama tidak disukai Nabi.

Bahkan bagi orang yang membenci pernikahan tidak diakui sebagai umat Nabi. Allah SWT menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling berpasangan, bukan hidup sendiri-sendiri, sebagaimana firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. ar-Rum [30]: 21).

Allah juga memerintahkan pernikahan dalam firaman-Nya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. an-Nur [24]: 32).

Bagi yang belum memunyai kemampuan untuk menikah, Allah memerintahkan untuk menjaga diri tergelincir ke dalam kemaksiatan. Allah berfirman: “Dan mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk menikah hendaknya menjaga kesucian sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. an-Nur [24]: 33).

Beberapa ulama banyak yang memberikan beberapa hukum pada nikah, tergantung kondisinya. Nikah hukumnya wajib bagi orang yang mempu dan khawatir tergelincir ke dalam kemaksiatan. Sunah bagi orang yang mampu tapi tidak mengkhawatirkan dirinya tergelincir dalam kemaksiatan. Makruh bagi laki-laki yang tak mampu member nafkah, dan haram bagi laki-laki yang mengalami disungsi ereksi.

Hukum yang bermacam-macam ini sebenarnya bukan hukum asal nikah sebagaimana ketentuan Islam. Tapi sekedar fatwa kasuistik yang dimaksudkan untuk memberikan bimbingan bagi orang yang mau menikah sesuai dengan kondisi orang yang bersangkutan.

TUJUAN PERNIKAHAN

Tujuan pernikahan adalah untuk meraih ketenteraman hidup (QS. ar-Rum [30]: 21), yaitu membina rumah tangga SAMARA (sakinah, mawaddah, warahmah)/BMW (barokah, mawaddah, warrahmah) dalam rangka meraih ridha Allah dan mengikuti Sunah Rasul.

KHI Bab II Pasal 3 menyebutkan: Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

SYARAT NIKAH

Syarat adalah sesuatu yang harus dipenuhi sebelum melakukan satu pekerjaan yang disyaratkan. Syarat utama yang disebutkan nabi adalah al-ba’ah (mampu untuk menikah), sebagaimana dalam sabdanya: Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu/siap untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim).

Yang dimaksud mampu dan siap di sini adalah orang yang bersangkutan merasa mampu untuk memenuhi hak dan kewajiban yang timbul setelah menikah. Syarat berikutnya adalah cukup umur. Mengenai umur minimal bagi calon suami istri adalah 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan (KHI, pasal 15 Ayat 1). Dengan demikian, nikah di bawah umur tidak sah hukumnya.

Penting untuk saya tambahkan di sini bahwa banyak para ustadz dan kiai kita yang menfatwakan sah menikah dengan anak di bawah umur yang ditetapkan Undang-Undang. Alasan mereka adalah masalah umur ini tidak disebutkan dalam al-Quran maupun al-Hadis.

Jawaban saya adalah: memang benar tidak disebutkan dalam al-Quran dan al-Hadis. Mengapa? Karena Islam itu untuk seluruh umat manusia, sedangkan kedewasaan seseorang antara satu tempat dan tempat lain berbeda-beda.

Jadi batasan umur adalah persoalan teknis yang tak harus ditentukan secara tertulis dalam al-Quran dan al-Hadis. Di sinilah tugas para ulama untuk berijtihad menentukan hukum yang membawa kebaikan, sesuai dengan daerahnya masing-masing.

Batasan umur ini adalah ijitihad ulama Indonesia yang bahkan sudah disahkan sebagai aturan negara. Jadi hukum ini mengikat umat Islam. Untuk konteks Indonesia, batasan umur nikah harus mengikuti apa yang telah ditegaskan dalam KHI, satu-satunya rujukan formal tentang pernikahan dalam Islam.

Secara logika kita juga bisa memahami bahwa ketentuan umur ini jelas dimaksudkan untuk kebaikan dan menikah di bawah umur jelas membawa banyak kemadharatan. Jadi secara logika tak mungkin Islam membiarkan sesuatu yang membawa kemadharatan.

Beberapa buku atau pun ustadz ada yang menyebutkan syarat menikah lebih banyak dari yang saya sebutkan, misalnya: antara calon suami istri itu bukan mahram, perempuannya tida dalam masa iddah, bukan suami/istri orang lain, dan masih banyak lagi.

Penambahan ini tidak jadi soal dan tidak bertentangan dengan yang saya sebutkan di atas. Bedanya, saya hanya mengambil syarat yang paling prinsipil saja, karena beberapa hal yang ditambahkan ini sebenarnya tanpa disebutkan sebagai syarat nikah juga sudah dipahami bahwa dalam kondisi tertentu dilarang untuk menikah.

Makanya beberapa pembahasan memasukkan penambahan ini dalam larangan menikah. Atau dimasukkan pembahasannya dalam masing-masing kasus, misalnya pada masalah iddah, di situ nanti dibahas hal-hal yang dilarang bagi perempuann yang beridah.

Jadi sekali lagi saya menbeutkan syarat yang pokok saja agar mudah dipahami dan tidak tumpang tindih, karena penambahan ini akan dibahas pada bagian tersendiri.

RUKUN NIKAH

Rukun nikah adalah sesuatu yang harus ada atau harus dilakukan pada saat pelaksanaan pernikahan. Rukun nikah ada 6, yaitu:

  • Ada calon kedua calon pengantin.

Syarat bagi kedua calon pengantin ini disamping syarat yang telah ditentukan dalam syarat nikah adalah keduanya bukan mahram, yaitu orang yang menurut hukum Islam dilarang untuk dinikahi.

Perempuan-perempuan yang haram dinikahi semuanya ada 14 orang sebagaimana dijelaskan dalam surat an-Nisa ayat 22-23, yaitu:

  1. Ibu ke atas.
  2. Anak-anak perempuan.
  3. Saudara perempuan.
  4. Bibi dari pihak ayah.
  5. Bibi dari pihak ibu.
  6. Keponakan perempuan dari saudara laki-laki.
  7. Keponakan perempuan dari saudara perempuan.
  8. Ibu susuan.
  9. Saudara perempuan sepersusuan.
  10. Ibu mertua.
  11. Anak tiri yang ibunya telah digauli.
  12. Memadu saudara perempuan.
  13. Ibu tiri.
  14. Wali.

Syarat wali adalah laki-laki dan muslim. Wali terdiri dari empat tingkatan yang satu sama lain tak boleh mendahului (jika masih ada tingkatan pertama, maka tingkatan berikutnya tidak berhak menjadi wali), yaitu:

Pertama, kelompok kerabat laki-laki garis lurus ke atas, yakkni ayah, kakek dari pihak ayah dan setersunya ke atas.

Kedua, kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah, dan keturunan laki-laki mereka.

Ketiga, kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan keturunan laki-laki mereka.

Keempat, kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki seayah dan keturunan laki-laki mereka.

  • Dua orang saksi

Syarat saksi adalah laki-laki dan muslim. Saksi harus paham dengan bahasa yang digunakan dalam ijab kabul. Jika ijab Kabul dilaksanakan dengan bahasa Arab misalnya, maka saksi tersebut juga harus paham bahasa Arab, dan setersunya.

  • Ijab Kabul.

Ijab adalah ucapan dari wali atau yang mewakilinya. Sedangkan kabul adalah ucapan penerimaan dari pihak mempelai laki-laki. Secara detail, kalimat ijab Kabul adalah sebagai berikut:

Ijab :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ – اَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمِ –  اَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّالله ُ- وَ اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(Istighfar dibaca 3 kali)

SAUDARA/ANANDA _________________ BIN________________

SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN _____________________YANG BERNAMA :_______________________

DENGAN MASKAWIN BERUPA : ______________________, TUNAI.

Qobul :

SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA

_______________ BINTI _______________

DENGAN MASKAWIN YANG TERSEBUT TUNAI.

  • Mahar

Mahar adalah pemberian pengantin laki-laki untuk pengantin perempuan. Filosofi mahar adalah simbol kemampuan seorang pria untuk menafkahi istri dan keluarganya. Namun demikian, prinsip utama mahar adalah tidak memberatkan mempelai pria dan diterima oleh pengantin perempuan.

  • Pencatatan.

Dalam konteks sekarang ini, pencatatan adalah bagian penting dari pernikahan. Pernikahan yang tak dicatat tidak mempunyai kekuatan hukum, illegal, dan tidak sah.

RESEPSI PERNIKAHAN

Resepsi pernikahan hukumnya sunah, sebagaimana sabda Nabi:  Selenggarakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing. Dari Aisyah, dari Nabi SAW, bersabda: umumkanlah pernikahan, langsungkanlah di masjid-masjid dan meriahkanlah dengan memukul rebana (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Prinsip dalam menyelenggarakan walimatul ursy adalah:

  1. Tidak mendatangkan madharat (sesuatu yang tercela/kemaksiatan).
  2. Tidak melakukan pemborosan.
  3. Tidak menghidangkan makanan haram.
  4. Hendaknya mengundang fakir miskin untuk turut pesta.

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Hukum Nikah dengan Non Muslim

PENDAHULUAN Dunia modern telah membuat manusia dapat berinteraksi satu sama lain tanpa sekat ruang dan …

Tinggalkan Balasan