Home / Muamalah / Persiapan Pernikahan

Persiapan Pernikahan

Image result for persiapan menikah dalam islam

PENDAHULUAN

Pernikahan adalah urusan yang amat penting. Orang sering menyebut pernikahan dengan “membuka lembaran baru kehidupan”. Lembar baru ini tentunya harus dipersiapakan sedemikian rupa sehingga nantinya dapat beradaptasi dengan baik dengan lembar kehidupan baru tersebut. Pernikahan harus direncanakan sedemikian rupa, mulai dari menata niat dan berbagai persiaoan lain termasuk pemiliha jodoh.

MENATA NIAT

Inilah hal pertama yang harus diperbaiki. Niat, selain akan menentukan nilai kita di hadapan Allah SWT juga akan menjadi titik awal perjalanan rumah tangga nantinya. Niat yang baik akan menjadi landasan yang kokoh bagi terbangunnya rumah tangga yang sakinah. Semikian juga sebaliknya, niat yang buruk akan menjadi titik awal hancurnya bahtera rumah tangga. Niatkan nikah sebagai abadah, menunaikan sunah Rasul dan menjalankan perintah Allah SWT dan niat-niat baik lain yang mengiringinya.

MEMPERBAIKI DIRI

Perbaiki dirimu. Itulah hal kedua yang harus kau siapkan. Perbaiki agama, akhlak, dan hal-hal lain yang menjadi kekuranganmu sejauh engkau mampu. Ubahlah dirimu ke arah yang lebih baik. Evaluasi ibadahmu, akhlakmu, dan kesiapanmu dalam mengarungi hidup berumah tangga. Buatlah dirimu menjadi pantas untuk menikah, pantas menjadi seorang suami/istri, pantas di hadapan Allah, dan tentu saja pantas di hadapan calon suami/istrimu. Orang baik insya Allah akan mendapatkan jodoh yang baik, semikian juga sebaliknya.

MEMBEKALI DIRI DENGAN ILMU

Pelajari terlebih dahulu apa syarat rukun dan tujuan pernikahan. Pelajari juga apa hak dan kewajiban suami/istri, tatacara mengurus anak, dan lain-lain yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga. Jangan sekali-kali kau menikah tanpa memahami ilmunya. Apalagi jika engkau calon suami. Sebab suami dalam Islam adalah pemimpin rumah tangga. Suami adalah teladan dan berkewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya nanti. Karena itulah tentu saja harus berilmu dan berakhlak mulia.

MENCARI JODOH

Sebelum menikah, biasanya didahului dengan mencari jodoh. Mencari jodoh adalah upaya mencari calon pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria yang diajarkan Islam. Apa yang harus dilakukan dalam mencari jodoh ini? Secara singkat yang harus dipenuhi ada dua hal: ikhtiar lahir, dan ikhtiar batin.

Pertama, ikhtiar lahir. Ikhtiar lahir adalah mencari pasangan yang secara lahiriah memenuhi kriteria yang disyaratkan Islam. Apa kriterianya? Nabi Muhammd SAW bersabda: Wanita itu dinikahi karena empat perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Kriteria ini tentunya juga berlaku bagi laki-laki. Jadi kriteria utama dalam memilih jodoh adalah agama. Calon suami istri wajib seiman, sama-sama beragama Islam. Pilihlah laki-laki yang saleh dan perempuan yang salehah. Laki-laki/perempuan yang taat beragama, yang rajin ibadah, yang mempunyai moral yang baik.

Harta dan ketampanan/kecantikan dalam Islam tidak dijadikan standar utama. Demikian juga cinta. Menikah tidak boleh didasarkan terutama karena alasan cinta yang didasarkan pada hawa nafsu. Jadi menikah bukan komitmen pada cinta birahi, tapi komitmen pada aturan Allah.

Kedua, ikhitar batin. Ikhtiar batin adalah memohon kepada Allah. Termasuk memohon agardiberikan jodoh terbaik menuruNya. Ikhtiar ini bisa dilakukan dengan melaksanakan shalat istikharah.

MENGENAL CALON (TAARUF)

Ta’aruf berasal dari kata ta’arrofa-yata’arrofu-ta’arrufan yang artinya berkenalan. Secara terminologi, taaruf adalah perkenalan ke arah terjadinya pernikahan.

Secara teknis, ta’aruf biasanya seorang pria datang ke tempat seorang perempuan, kemudian minta izin kepada walinya untuk berkenalan dengan perempuan yang dimaksud.

Dalam berta’aruf ini satu sama lain saling mengenal sekaligus saling menilai apakah laki-laki/perempuan yang di hadapannya dirasa cocok sebagai pendamping hidup.

Selain dengan cara tatap muka atas izin walinya ini, untuk mengenal lebih jauh calonnya, masing-masing juga boleh mencari informasi mengenai calonnya itu misalnya dari saudara, teman, atau yang lainnya.

Selanjutnya, hal tak boleh ditinggalkan adalah memohon petunjuk Allah dengan cara melakukan shalat istikharah. Lakukan shalat istikharah minimal tiga kali. Setelah dirasa cocok  dan mendapat kemantapan hati, maka sebaiknya segera dilanjutkan ke arah peminangan.

MEMINANG (KHITBAH)

Peminangan ialah kegiatan kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita. (KHI Bab I Pasal 1). Pada praktiknya, calon pengantin pria datang ke tempat calon mempelai perempuan bersama dengan orangtua mereka untuk menemui wali calon pengantin perempuan.

Calon pengantin pria atau perwakilannya menyampaikan maksudnya bahwa ia bermaksud meminang anak perempuannya untuk membangun rumah tangga. Untuk memutuskan diterima dan tidaknya suatu lamaran, seorang wali harus menanyakan kepada anak perempuannya apakah ia bersedia untuk menerima lamaran itu. Wali dan anaknya bermusyawarah untuk memberikan jawaban kepada calon mempelai pria.

Peminangan belum mempunyai kekuatan hukum. Artinya status antara kedua calon mempelai masih orang lain. Namun demikian, peminangan membatasi orang lain untuk melamar pperempuan yang sama. Nabi bersabda: Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lain. Maka tidaklah halal baginya membeli sesuatu yang hendak dibeli saudaranya hingga ia membatalkan transaksi. Dan tidak halal baginya memingan seorang perempuan yang telah dipinang saudaranya hingga ia melepaskan pinangan itu. (HR Muslim dan Ahmad).

Berapa lama jarak antara peminangan dan pernikahan? Secara hukum tak ada batasan. Namun sebaiknya tidak berselang lama. Prinsipnya lebih cepat lebih baik. Rasulullah SAW bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad).[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Hukum Nikah dengan Non Muslim

PENDAHULUAN Dunia modern telah membuat manusia dapat berinteraksi satu sama lain tanpa sekat ruang dan …

Tinggalkan Balasan