Home / Kisah Inspiratif / Ketika Anak Saya Belajar Konsep Ihsan

Ketika Anak Saya Belajar Konsep Ihsan

Puisi Sabda Langit, anak pertama saya saat itu berusia sekitar 3,5 tahun. Saya senang ia mulai memahami konsep-konsep hidup. Kulihat dia sudah memahami konsep hak dan kewajiban serta konsep bersikap adil. Saya menjadi mengerti, ternyata konsep hak dan kewajiban, serta keadilan itu sangat sederhana. Bahkan anak kecil seusia anak saya punsudah mampu memahaminya.

Ini terlihat dari rasa memiliki yang tinggi atas mainan-mainan yang ia punya. Mainan itu adalah miliknya yang harus ia pertahankan sedemikian rupa. Boleh orang lain memakainya. Tapi itu harus dengan cara ijin yang baik darinya. Bahkan untuk beberapa mainan ia sama sekali tak mau untuk meminjamkannya pada orang lain. Semua itu adalah haknya, hak asasi atas kepemilikan permainan. Termasuk tidak mau meminjamkan itu juga hak asasi dia sebagai pemilik sah mainan-mainan itu.

Agak terkesan egois memang. Tapi dalam konsep hak ini tentunya bisa dibenarkan. Memang begitulah orang-orang yang mengedepankan hak. Dia menjadi orang yang terkesan egois. Sebab hak adalah konsep yang mengacu pada kepentingan diri.

Namun demikian saya senang juga. Sebab seusia itu ia juga telah memahami konsep kewajiban untuk menghargai orang lain. Anak saya tak pernah merebut mainan orang lain. Dari sini saya menyimpulkan, tampaknya ia telah memahami bahwa ia juga tak boleh melakukan hal-hal buruk pada orang lain sebagaimana ia juga tak mau jika orang lain melanggar haknya. Jangankan merebutnya. Ia bahkan tak pernah memakai mainan orang lain kecuali dengan ijin.  Ia telah memahami konsep keadilan.

Karena itulah dia terlihat sangat marah dan benci kepada temannya yang suka main pakai mainannya tanpa ijin. Apalagi bagi teman yang merebut mainannya secara paksa. Ia terlihat benar-benar tidak suka dengan tindakan macam itu. Sekali lagi saya mencatat betul bahwa konsep memahami hak dan menghargai hak orang lain ternyata bisa dipahami dengan baik bahkan oleh anak yang berusia 3,5 tahun.

Suatu saat ada anak yang lebih kecil dari dia yang merebut mainannya. Spontan dia sangat marah. Itu adalah tindakan amoral tentu saja menurutnya. Tapi apa yang terjadi, istri saya menasihatinya,”Nak, biar saja pinjam, dia kan masih kecil.”

Mendengar nasihat ibunya ia makin marah dan menangis histeris. Saya bisa memaknai tangisannya bukan sekedar kemarahan anak kecil. Tapi ia berontak dan tak habis pikir kenapa tindakan amoral seperti itu bahkan bisa dibenarkan oleh ibunya.

Mainan itu jelas miliknya yang wajib ia jaga dan pertahankan. Anak kecil itu merebutnya dengan paksa. Itu jelas kesalahan yang sangat fatal. Tapi yang membuat dia tak habis pikir dan lebih marah lagi adalah mengapa ibunya tidak membelanya. Justru membela si anak kecil itu. Ibu telah bersekongkol dalam kesalahan besar!

Istri saya tentu tidak salah. Ia sedang mengajarkan satu konsep lagi, yaitu konsep berkorban. Konsep berbuat baik yang melampau timbangan hak dan kewajiban. Konsep berbuat baik yang melampau konsep keadilan. Yang sedang istri saya ajarkan adalah konsep yang oleh al-Quran disebut “ihsan”.

Nah, sekarang saya paham. Betapa anak ini sulit untuk menerimanya. Berkorban, berbuat ihsan adalah menahan sakit untuk diri sendiri demi orang lain. Memberikan diri ini untuk orang lain. Ini adalah konsep yang amat tinggi. Pantas saja anak saya yang berusia 3,5 tahun itu tidak paham. Sedangkan orang-orang dewasa saja banyak yang tak paham dan tidak bisa menjalankan konsep ini.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Raja dan Kota Megahnya

Alkisah, hiduplah seorang raja yang kaya raya. Pada suatu hari ia memabnggil seluruh pakar bangunan, …

Tinggalkan Balasan