Home / Artikel / Agama dan Komitmen Kemanusiaan

Agama dan Komitmen Kemanusiaan

Agama telah ada semenjak manusia ada di muka bumi ini. Adam, yang dipercaya sebagai manusia pertama di muka bumi, telah hadir dengan membawa agama dalam bentuknya yang masih sederhana. Kemudian agama terus berkembang seiring dengan perkembangan sejarah dan kematangan akal manusia. Sampai pada agama terakhir, Islam, yang diyakini sebagai agama pamungkas dan diperuntukkan bagi seluruh umat manusia.

Apa sesungguhnya agama itu? Ia tak lain adalah aturan Tuhan (rule of God) yang diperuntukkan bagi manusia di muka bumi. Agama adalah petunjuk dan jalan hidup (way of life) bagi manusia, terutama dalam mengatur urusannya di dunia sini. Bukannya jalan kematian (way of death) yang melulu mengurusi kehidupan di alam baka.

Penyebutan agama sebagai way of life ini mengandung konsekuensi bahwa agama harus berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sehari-hari. Agama adalah aturan hidup (rule of life) yang harus mempunyai efek nyata dalam kehidupan nyata. Agama dapat disebut sebagai “benar-benar agama” jika ia memerankan diri sebagai jembatan harmonisasi kehidupan. Bukannya menambah beban dan memperkeruh keadaan.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa benturan antar agama dan paham keagamaan serta keruhnya hubungan sosial yang disebabkan oleh keduanya menandakan bahwa agama telah mangkir dari rel yang seharusnya. Agama telah tereduksi menjadi pengobar rasa sentimen, saling mencurigai, bahkan saling mendiskreditkan satu sama lain.

Agama menjadi bara panas yang membuat satu sama lain merasa gerah untuk hidup berdampingan. Bertetangga dengan orang yang beda aliran ataupun berbeda agama sama dengan berdampingan dengan musuh yang setiap saat mengintai nyawa orang yang bersangkutan. Apalagi jika yang bersangkutan termasuk kelompok minoritas. Bisa dipastikan, ia akan selalu merasa was-was dan ketakutan jika berada di tengah mayoritas yang beda agama ataupun berbeda paham keagamaan.

Bukan berita isapan jempol lagi bahwa mayoritas sering menjarah hak-hak minoritas, memaksa mereka, dan memperlakukan mereka secara tidak adil. Bukan hanya hak kebebasan beragama yang sangat asasi yang mereka jarah. Namun hak-hak sosial yang semestinya tak membeda-bedakan perbedaan agama dan paham keagamaan juga ikut dijarah.

Mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabnya adalah karena agama sudah tidak lagi dipahami sebagai jalan hidup (way of life), namun telah berubah menjadi jalan kematian (way of death). Agama terasing dari persoalan kehidupan sehari-hari demi mengejar kepentingan hidup di alam sana (baca: akhirat).

Agama identik dengan alam kubur, surga, neraka, dan setumpuk pahala. Seakan-akan agama akan menemukan artinya hanya jika seseorang telah meninggal dunia. Orang berbondong-bondong memburu kehidupan di luar sana kendati ia harus bertaruh nyawa dengan cara bunuh diri. Mereka begitu bersemangat untuk hidup damai di alam sana kendati di dunia sini mereka harus berseteru satu sama lain.

Sadar ataupun tidak, pemahaman semacam ini jelas menandakan adanya penyimpangan dalam memahami substansi agama. Sebab, jika dicermati, sesungguhnya seluruh konsep yang berkaitan dengan alam akhirat disebutkan sebagai “balasan” (jazâ). Apa artinya “balasan” (jazâ) ini? Ia adalah efek dari perbuatan. Ia adalah asap dari api yang kita nyalakan.

Orang salah memahami bahwa asap itulah yang mesti dikepulkan agar apinya menyala sehingga pikiran mereka terkonsentrasi memikirkan bagaimana asap terjadi sedangkan mereka tak pernah menyalakan api. Padahal, sesungguhnya yang harus dilakukan adalah bagaimana menyalakan api itu sendiri. Asap, sebagai akibat dari api yang kita nyalakan, tentu saja dengan sendirinya akan mengepul ke udara begitu api kita nyalakan. Dus, tanpa dipikirkan sekalipun.

Yang harus dilakukan adalah bagaimana agama benar-benar mengejawantah di dunia ini sebagai rahmat bagi seluruh manusia (rahmatan lil âlamîn). Yang terpenting adalah bagaimana agama benar-benar hadir dalam kehidupan nyata dan menjadi tali kasih antar sesama manusia. Agama yang seperti inilah yang akan mengepulkan asap terbaik berupa surga.

Lantas bagaimana dengan doktrin agama yang mengajarkan kepada kita untuk menyerahkan semua kehidupan duniawi ini kepada Tuhan? Bukankah seluruh aktifitas kita, salat kita, ibadah kita, mati kita, dan hidup kita harus diserahkan untuk Tuhan? Benar, semua aktifitas kita harus dijalankan semata-mata karena Tuhan (lillâhi ta’âlâ). Allah-lah muara dan motif seluruh aktifitas kita sehari-hari. Allah menegaskan berulangkali melalui para rasul-Nya bahwa kehidupan ini tak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Namun, di sisi lain Allah juga menegaskan bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Mandiri (Qiyâmuhu binafsihi). Dia sejatinya tidak membutuhkan semua pengabdian dan penyembahan hamba-Nya. Dia akan tetap menjadi Tuhan kendati tak seorang pun manusia di muka bumi ini menyembah-Nya. Sifat ketuhanan-Nya sama sekali tidak tergantung pada pihak lain. Apalagi sekedar penyembahan manusia.

Bagaimana mungkin  di satu sisi Dia menekankan bahwa semua makhluk harus beribadah kepada-Nya yang seolah-olah Dia hadir sebagai Tuhan yang sangat butuh penyembahan, tapi di sisi lain Dia menyatakan bahwa Dia sama sekali tak butuh penyembahan-penyembahan itu? Di sinilah kita harus mencari makna yang sesungguhnya di balik doktrin lillâhi ta’âlâ itu.

Manusia, di balik perbuatan-perbuatannya, senantiasa menyimpan motif, baik maupun buruk. Bahkan kalau dituruti, manusia lebih sering dikendalikan oleh motif-motif buruk demi meraup kepentingan-kepentingan pribadinya. Orang bilang “ada udang di balik batu”. Jika demikian keadaannya, maka persoalannya bukan ada dan tidaknya motif dari perbuatan manusia. Tapi motif apa yang dapat menyelamatkan manusia dari motif-motif jahat yang membahayakan pihak lain. Motif itu tak lain adalah “motif karena Allah” (lillâhi ta’âlâ).

Allah-lah satu-satunya motif perbuatan yang tak akan merugikan manusia. Sebab, Dia-lah Dzat yang paling independen. Sementara makhluk-Nya menyerahkan segala hal kepada-Nya. Namun Dia sendiri adalah Dzat yang tak butuh dengan semua milik hamba-Nya itu. Dia adalah saudagar kaya yang tak butuh sama sekali terhadap uang recehan para pedagang kecil yang dititipkan kepada-Nya. Dia adalah jaminan keamanan untuk semua urusan yang dititipkan hamba-Nya kepada-Nya.

Dengan demikian, lillâhi ta’âlâ tak lain adalah ekspresi kepedulian Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Tuhan hendak menyelamatkan manusia dari motif-motiof jahat yang dapat merugikan orang lain. Tuhan telah mempertaruhkan nama baiknya demi kedamaian manusia.

Seolah-oleh Dia berkata: “Sudahlah, kalian bilang saja semua itu karena-Ku, daripada kalian berbuat karena pihak lain yang seringkali punya kepetingan terselubung dan membahayakan pihak lain.” Tuhan telah mempertaruhkan diri-Nya untuk manusia. Jadi, untuk kemanusiaanlah Tuhan mempersembahkan agama-Nya di muka bumi ini.

Jika kita tengok ke belakang, keberhasilan dakwah Nabi Muhammad jelas bukan semata-mata agama yang diajarkannya merupakan paham yang memonopoli kebenaran. Tapi Islam, agama yang dibawanya, mampu membuktikan peran aktifnya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Islam menjadi bendera perdamaian yang menyatukan segala bentuk perbedaan pada waktu itu. (Catatan: tulisan ini telah dipublikasikan di Media Indonesia).

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan