Home / Kisah Inspiratif / Pagi Ini Aku Melihat Kupu-kupu

Pagi Ini Aku Melihat Kupu-kupu

Pagi ini aku melihat kupu-kupu. Mereka mengerumuni kuncup bunga di seberang ruang kerjaku. Beberapa ekor diantaranya beterbangan ke arah kaca di mana aku mengintip mereka. Kebetulan ruang kantor tempat aku bekerja di sisi kanannya memang dipasang kaca transparan sehingga aku bisa menikmati pemandangan flyover di seberang kantorku.

Biasanya aku hanya menatap laju kendaraan yang hilir mudik di atas flyover. Itu tidak indah. Sama sekali tidak indah. Itu serupa wajah buram dunia modern yang padat dengan rutinitas. Pagi buta berangkat kerja, malam baru kembali ke rumah. Saking padatnya sampai kehilangan harmoni kehidupan. Bahkan lepas pula Tuhan dari pikiran.

Tak ada hari libur. Hari Minggu hanyalah nama. Tapi tugas dan rutinitas terus berjalan mendikte manusia. Sepanjang waktu terus bekarja. Saat sampai rumah pun sebenarnya masih bekerja. Bukan pekerjaan fisik, tapi beban emosional, beban psikologis, yang tak mudah untuk ditanggalnya. Tubuh mungkin bisa tidur sejenak, tapi pikiran tetap bekerja.

Tapi pagi ini sungguh lain. Kerumunan kupu-kupu itu mengingatkanku pada masa kecil dulu. Dulu kami sering bermain di pinggir kali saat musim kemarau. Itu juga sekaligus musim kupu-kupu. Mereka bergerombol seperti kerumunan masa yang sedang bermusyawarah.

Kami kemudian berjinjit-jinjit menghampiri mereka, dan…. byarrr!! Mereka pun kabur demi mendengar gertakan kami. Kami tertawa terkekeh-kekeh sembari berpencar mengejar kawanan kupu-kupu itu.

Indah.. sekali masa kecil kami. Desa kami tampak asri penuh kehangatan. Kami bersahabat satu sama lain. Bukan hanya antar sesama manusia. Tapi juga bersahabat dengan alam.  Siklus alam adalah kalender kegiatan kami.

Tapi kali ini tampak telah berubah sedemikian dahsyatnya. Aku tak tau lagi entah pergi ke mana kupu-kupu itu. Saat aku pulang tak kudengar lagi “tekukur” ayam hutan di belakang rumah. Desaku tampak maju secara fisik, tapi harmoni alam tampak kian muram.

Duhai senangnya aku pagi ini. Kupu-kupu itu serasa menjemputku untuk pulang kampung. Bahkan kulihat pesan terdalamnya bukan hanya itu. Pagi ini kupu-kupu itu mengingatkanku agar menyatu dengan harmoni alam dan bisikan ketuhanan.

Sayang sekali. Hari semakin terik. Kupu-kupu itu pun beterbangan menjauh dan akhirnya lenyap dari pandanganku. Hati nuraniku berkata, bukan kupu-kupu sebenarnya raib dari pandanganku.

Tapi keteduhan batin yang tengah tercerabut dari relung jiwa. Kehidupan modern telah mengasingkan manusia dari harmoni kehidupan. Manusia kehilangan jati diri kemanusiaannya. Ia terus dipaksan dan digulung oleh rutinitas dan gelombang waktu.

Wahai kupu-kupuku… Semoga lain hari kalian mau datang lagi… Lain hari aku ingin kau menceritakan padaku tidak hanya masa lalu, tapi  masa depan kehidupan manusia modern.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Raja dan Kota Megahnya

Alkisah, hiduplah seorang raja yang kaya raya. Pada suatu hari ia memabnggil seluruh pakar bangunan, …

Tinggalkan Balasan