Home / Tips Keluarga Sakinah / Pernikahan dan Tugas Manusia di Muka Bumi

Pernikahan dan Tugas Manusia di Muka Bumi

Diantara makhluk-makhluk lain, manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling dimuliakan Allah (Q.s. Al-Israa [17]: 70). Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa penciptaan manusia adalah sebaik-baik bentuk penciptaan (Q.s. At-Tiin [95]: 4). Tak cukup sampai di situ. Tak tanggung-tanggung, Allah menyatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mendapat mandat sebagai wakilNya di muka bumi (khalifatullah fii al-ardh: Q.s. Al-Baqarah [2]: 30).

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُون(30)

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” Q.s. Al-Baqarah [2]: 30).

Betapa ini adalah derajat yang mulia tiada tara dan hampir tak bisa dipercaya. Ini bukan sembarang menjadi wakil. Tapi wakil dari Dzat yang serba Maha. Apa yang ada di balik semua ini sehingga Allah mempercayai makhluk yang bernama manusia sebagai wakilnya? Tentu saja semuanya telah diperhitungkan lebih dari matang. Tak satupun pekerjaan Allah yang tanpa beralasan dan tanpa visi:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Q.s. Ali Imran [3]: 191).

 Alasan mengapa Allah memilih manusia untuk mengemban amanah menjadi wakilNya adalah karena manusia itulah makhluk yang diciptakan Allah lengkap dengan berbagai fasilitas yang memungkinkannya untuk mengemban amanah ini.

Amanah ini telah disesuaikan dengan kemampuan manusia itu sendiri (Q.s. Al-Baqarah [2]: 256). Adanya kemampuan inilah yang membuat manusia pantas dituntut jika pada kenyataannya ia tidak dapat menjadi wakil Allah sebagaimana yang diharapkan oleh Allah itu sendiri.

Keistimewaan luar biasa yang diberikan kepada manusia adalah adanya akal. Inilah titik vital yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akalnya manusia dapat berkreasi dan berinovasi sedemikian rupa. Bahkan dengan akalnya manusia dapat mengetahui TuhanNya.

Hal terakhir inilah yang pernah dilakukan oleh para filosof  pada ribuan tahun yang silam. Dengan menelusuri dan mengembangkan daya akalnya ternyata mereka dapat menyimpulkan apa yang disebut sebagai penyebab utama segala sesuatu (as-sabab al-awwal/arkhe) hingga menemukan katagori “Yang Ada”, “Yang Tak Terbatas”, “Yang Absolut”, “Yang Transenden” dan istilah lain yang tak lain dan tak bukan adalah Tuhan itu sendiri.

Keadaan ini bukan berarti hadirnya wahyu menjadi tidak penting. Boleh saja manusia dengan akalnya dapat mengetahui Tuhan. Tapi ia tak tahu persis bagaimana cara menyembah dan mengabdi kepadaNya.

Di sinilah turunnya wahyu menjadi tetap penting. Bahkan jika seandainya Allah tidak mengutus para rasul berikut wahyu yang mereka bawa, secara tegas Allah menyatakan tak akan menuntut manusia dengan hukuman seandainya mereka bersalah:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا ….

Artinya:“… dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”.(Q.s. Al-Isaa [17]: 15).

Dengan turunnya wahyu, maka lengkap sudah petunjuk Allah bagi manusia disamping akal yang diberikannya agar mereka tahu bagaimana cara mengemban amanah sebagai wakilNya di muka bumi. Menjadi sangat logis jika Allah menuntut manusia yang lalai terhadap tugasnya karena Allah telah memberikan tuntunan dan alat yang memadai baginya.

Betapa mengagumkan akal yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan akalnya manusia mampu terbang mengitari angkasa raya meskipun tanpa sayap sebagaimana burung. Dengan akalnya manusia dapat menyelami dasar samudera dan mengapung di permukaannya meskipun tanpa bekal insang dan sirip sebagaimana ikan di lautan.

Dengan akalnya, ia mampu menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya dengan hitungan jam bahkan detik. Dengan akalnya ia sanggup membuat dunia ini seolah-oleh sempit sedemikian rupa. Kita dapat berkomunikasi antar benua tak ubahnya ngobrol dengan tetangga sebelah.

Kejadian di seberang sana dapat diketahui di sini pada waktu yang sama. Dunia yang sedemikian luas seolah-olah menjadi desa kecil (global village). Bahkan hanya dengan memencet tombol, bisa saja ia memusnahkan berjuta nyawa manusia lain. Ala kulli hal, dengan akalnya seolah-olah manusia dapat berbuat sesuka dan sekehendak dirinya. “Serupa Tuhan”.

Pada titik inilah manusia terkadang kalap dan lupa daratan. Ia menjadi pemuja manusia (anthropocentrism) dengan kehebatan akalnya. Ia lupa bahwa di balik kehebatan dan kepintarannya masih ada yang lebih pintar lagi (Q.s. Yusuf [12]: 76) hingga Allahlah Dzat Yang Maha Hebat di atas segala-galanya.

Ia lalai bahwa kehadirannya hanyalah sebagai wakil saja. Apa artinya? Pertama, seorang wakil sebenarnya tak mempunyai apa-apa. Apa yang ada pada dirinya dan apa yang ada di hadapannya adalah semata-mata milik orang lain (baca:Allah).

Ia hanya dipercaya untuk menjalankan perniagaan sebagaimana yang diamanahkan tuannya dengan berbagai aturan main yang telah ditentukan oleh sang tuan. Semuanya adalah milik Allah semata (Q.s. Al-Baqarah [2]: 284). Bahkan seluruh organ tubuhnya masing-masing mengemban amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah:

 وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

 

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.s. Al-Israa [17]: 36).

 Lantas, apa tugas manusia sebagai wakil Allah di muka bumi ini? Tugas manusia di  muka bumi adalah untuk beribadah kepadaNya (Q.s. Adz-Dzariyaat [51]: 56). Apa yang dimaksud dengan ibadah di sini memuat dua dimensi; dimensi ilahiyah yaitu iman.

Dan dimensi dunyawiyah yakni amal saleh (Q.s. Al-Baqarah [2]: 82, 288, Ali-Imran [3]: 57). Dimensi pertama adalah sebuah ikatan esoteris dimana manusia harus mengembalikan dan menyandarkan segala perbuatannya pada Allah. Semua perbuatan baiknya harus senantiasa dilandasi rasa ikhlas lillaahi ta’ala. Masuk dalam katagori ini adalah ketaatan dalam hal-hal ritual.

Sedangkan dimensi kedua mencakup lebih banyak pada wilayah-wilayah perbuatan praksis terkait dengan realitas sosiologis dan interaksi antar sesama. Dari kedua dimensi ini dapat disimpulkan bahwa manusia mempunyai tugas untuk memelihara dan mengelola bumi ini (yuslihuuna fii al-ardh).

Allah telah menciptakan bumi ini dengan komposisi dan hukum-hukum alam yang teratur sedemikian rupa. Setiap realitas tertata dengan rapih yang memungkinkan logika untuk menelusurinya. Berbuat baik di muka bumi (ishlah al-ardh) menjadi rekomendasi utama bagi manusia. Allah menentang setiap manusia yang berbuat rusak di muka bumi ini (Q.s. Al-‘A’raaf [7]: 56). Karena tujuan inilah Allah mengatur sedemikian rupa kehadiran manusia di muka bumi ini.

 Ikhtilath dan Filosofi Pernikahan

Dewasa ini, hubungan antar lawan jenis semakin terbuka. Satu sama lain dapat bergaul secara bebas, bertukar informasi, berdiskusi, dan berbagi perasaan. Harkat martabat wanita kini mendapat tempat yang setara dengan kaum laki-laki. Tak ada lagi istilah “wanita pingitan”.

Istilah wanita sebagai rencang wingking (teman belakang/ the second class) kini kehilangan relevansinya. Kini kaum wanita dapat mengekspresikan dirinya tanpa sekat ruang dan waktu. Baik ranah publik maupun domestik. Kesempatan untuk berkompetisi dengan kaum laki-laki semakin terbuka luas. Gerakan feminisme adalah salah satu organ yang memotori gerakan ini.

Demikianlah kiranya salah satu misi pembebasan Islam bagi kaum wanita dari awal mulanya. Di hadapan Allah semua manusia sama. Yang membedakan mereka adalah kualitas takwanya. Yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling berkualitas derajat ketakwaannya (Q.s. Al-Israa [17]: 70).

Adagium “suargo nunut neraka katut” tak berlaku di hadapan Allah. Semua orang bertanggungjawab penuh secara personal di hadapan Allah (Q.s. Al-Baqarah [2]: 286). Tak ada istilah numpang masuk sorga ataupun warisan dosa (Q.s. Al-An’am [6]: 164).

Namun semua ini bukannya tanpa resiko. Ada api ada asapnya. Begitu kata pepatah. Salah satu asap negatif dari terbukanya era kesetaraan ini adalah terbukanya pintu ikhtilath (percampuran bebas) antara laki-laki dan perempuan. Hari ini kita menyaksikan betapa pergaulan pemuda-pemudi kita begitu bebas.

Bahkan menjadi trend di kalangan kawula muda. Kebebasan berekspresi bagi wanita ditangkap secara salah sehingga mengundang madharat yang sangat mengkhawatirkan. Ayat hijab (Q.s. Al-Ahzaab [33]: 59) dan ayat ghudhul bashar (Q.s. An-Nuur [24]: 30-31) tak diperhatikan lagi.

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang (Q.s. Al-Ahzaab [33]: 59).

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (Q.s. An-Nuur [24]: 30).

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ   أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Q.s. An-Nuur [24]: 31).

 Kelihatannya memang sepele. Tapi ini adalah awal kehancuran moral yang pada tahap berikutnya akan menghancurkan sendi-sendi kemanusian sebagai khalifatullah fii al-ardh. Untuk itulah Islam mengatur hubungan lawan jenis sedemikian rupa. Seorang mukminah diwajibkan menjaga kehormatannya dengan berhijab. Demikian juga bagi seorang mukmin diharuskan menjaga pandangannya.

Pasalnya, penyelewengan yang kelihatannya sepele ini dapat menjadi pemicu untuk melakukan dosa besar zina. Islam ingin mengantisipasi segala permasalahan sampai ke akar-akarnya. Moral individu adalah salah satu yang menjadi concern Islam.

Karena jika orang sudah rusak sendi moralnya, maka sangat dimungkinkan ia akan melakukan tindak kriminal yang akan membahayakan masyarakat. Kalau dalam ushul fiqh kita mngenal istilah syaddu dzara’i, yaitu menutup pintu-pintu penyebab kemungkaran.

Sepintas lalu mungkin kelihatannya terlalu berlebihan dan kurang masuk akal. Seolah-olah Islam terlalu ribut dengan urusan yang berbau seks. Sebagaian orang melihat ayat ini dipengaruhi oleh konteks ke-Araban. Kondisi geografis Arab yang panas ditambah kesukaan orang-orang Arab menyantap daging membuat nafsu seks mereka mudah memuncah.

Dalam konteks ini dapat dimaklumi jika masalah seks berikut detail-detail penyebabnya menjadi urusan yang krusial untuk diberikan tata aturannya. Kondisinya menjadi lain ketika berada di luar Arab. Bukan berarti meninggalkan ayat tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah pesan moral dari ayat tersebut.

Dalam hal ini, antara ayat dan realitas hanyalah example dialog saja. Apalagi dalam dunia modern segala mara bahaya dapat diantisipasi begitu rupa.

Pembacaan seperti ini jelas keliru. Inilah kesesatan dari aliran determenisme sosiologis. Memandang ayat sebagai respon sosiologis (kondisi Arab) belaka tidak tepat setidaknya dilihat dari dua aspek.

Pertama, dengan metode mengambil pesan moral ayat saja, maka sebenarnya menjadi muspro saja Al-Qur’an diturunkan. Karena tanpa Al-Qur’an tentu kita dapat mengambil pesan moral dari sekian banyak kitab suci agama-agama yang terdahulu.

Kedua, pembacaan ini bertentangan dengan doktrin bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk seru sekalian alam. Dengan berpegang pada doktrin ini, maka asumsi kita tentang Tuhan adalah bahwasanya Dia akan memandang seluruh budaya yang pernah ada dan yang akan ada dimana ayat tersebut sudah mempertimbangkan kemaslahatan setiap jaman.

Sangat sempit jika Tuhan hanya melihat lokalitas Arab saja meskipun hanya sebagai contoh dialektika wahyu dengan realitas. Kehadiran ayat-ayat Al-Qur’an sudah memenuhi dua katagori: reformis ke belakang dan progresif ke depan. Kehadirannya sudah mencakup dua fungsi: sebagai social control dan sebagai social engineering.

Di luar perdebatan interpretasi ini, marilah kita coba mencari jawaban mengapa Allah begitu memperhatikan etika hubungan lawan jenis adalah terkait dengan kehadiran manusia di muka bumi ini.

Hubungan lawan jenis diatur sedemikian rupa melalui mekanisme yang disebut perkawinan. Salah satu tujuan fundamental dari adanya perkawinan adalah untuk melahirkan generasi penerus di muka bumi ini yang memerankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifatullah fii al-ardh).

Setiap nyawa yang lahir harus ada yang bertanggungjawab sedemikian rupa mengingat tugasnya sebagai khalifatullah fii al-ardh yang tidak sederhana. Setiap anak yang lahir adalah amanah (titipan) Allah bagi kedua orang tua tersebut. Kedua orang tua tersebut wajib membimbingnya menyangkut tugas kehadirannya yang nantinya akan menjadi generasi penerus sebagai wakil Allah di muka bumi.

Melalui perkawinan ini akan memunculkan alur nasab yang pada intinya adalah struktur organisasi yang harus bertanggungjawab dalam rangka menunaikan tugas sebagai khalifatullah fii al-ardh. Perkawinan bukan hanya kontrak individu yang bersifat duniawi antara dua insan lawan jenis.

Tapi penggabungan dua klan besar yang akan membentuk struktur pertanggungjawaban dalam skala yang lebih besar dengan harapan memungkinkan terpeliharanya amanah Allah. Ini bukan sekedar kontrak duniawi antara dua orang. Tapi kontrak di hadapan Allah dalam rangka memelihara tugas manusia di muka bumi sebagai khalifatullah.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan