Home / Ibadah / Pengertian Nishab

Pengertian Nishab

Seorang muslim dianjurkan untuk berbagi. Itulah prinsip dasarnya. Pada saat kita mendata rezeki, berapa pun jumlahnya, sebaiknya kita bersedakah, sebagaimana firman Allah:

وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya: “…. dan (seorang mutaqin itu) menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”  (QS. Al Baqarah [2]: 3).

Namun jika harta seseorang sudah mencapai jumlah tertentu, anjuran ini berubah menjadi wajib. Dia harus menyedakahkan hartanya dengan jumlah minimal yang telah ditentukan Allah.

Jumlah tertentu inilah yang disebut dengan nishab. Dan sedekah yang diwajibkan dengan jumlah minimal yang ditentukan itu disebut zakat.

Jadi zakat dipungut atas harta yang sudah berlebih dari kebutuhan pokok. Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Qs. Al Baqarah: 219).

Jika telah memiliki harta sejumlah ini kemudian tidak berzakat, maka diancam dengan siksa Allah:

وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. At Taubah [9]: 34).

Jumlah tertentu itu telah dimilik atau dihitung secara akumulatif dalam setahun, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani)

Jadi nishab adalah atas minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, dihitung dari harta yang melebihi kebutuhan pokok.  Jumlah minimal harta tersebut dihitung secara akumulatif, atau dimilik dalam setahun. Kecuali pertanian yang dihitung dan dikeluarkan zakatnya pada setiap kali panen. Jadi nishab dihitung dari harta bersih. (Muhammad Baqir, Fiqih Praktis, Bandung Cet IV, 2002, hal. 275).

Dengan demikian, tentu tak ada lagi pertanyaan:  prosentase zakat itu diambil dari harta bersih atau harta kotor? Tentu saja dari dari harta bersih. Karena zakat itu diwajibkan atas harta yang telah mencapai jumlah tertentu tadi yang disebut nishab. Jika zakat diprosentase atas harta kotor tentu akan memberatkan mereka yang sisa pendapatan bersihnya sangat minimal.

Namun demikian, jika ada yang merasa punya kelonggaran, atau dengan kesadaran sendiri ingin mengeluarkan zakat dari prosentase harta kotor tentu zakat diperbolehkan. Itu termasuk ihsan, berbuat baik yang melampaui apa yang seharusnya.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Tatacara Kurban

Pengorbanan adalah bukti cinta terdalam. Tak ada artinya cinta tanpa pengorbanan. Berkorban juga merupakan bukti …

Tinggalkan Balasan