Home / Ibadah / Hikmah dan Tatacara Puasa

Hikmah dan Tatacara Puasa

Segala hal bermula dari diri sendiri. Inilah prinsip dasar kehidupan yang harus kita perhatikan. Dari diri sendirilah semua hal bermula. Karena itulah, hal mendasar yang harus dikuasai manusia adalah kemampuan untuk mengendalikan diri. Orang yang mampu mengendalikan dirinya ia mampu mengendalikan kehidupannya. Ia mempunyai jiwa yang sabar, tenang, dan bijak, sehingga mampu memperhitungkan setiap langkahnya secara tepat. Ia mampu mengendalikan emosi dan dorongan keinginannya dengan baik. Orang seperti ini akan menjadi magnet bagi orang lain. Tak disadari ia pun sebenarnya telah mampu mengendalikan orang lain.

Sebaliknya orang yang tak bisa mengendalikan diri akan mengalami berbagai kendala dalam hidupnya. Pikirannya sempit dan penuh masalah. Tutur kata dan perbuatannya merupakan luapan emosi yang tak terkendali. Dia dikendalikan oleh nafsu dan keinginannya. Dia ingin semua hal sesuai dengan keinginannya. Tapi yang terjadi justru sebenarnya sebaliknya. Dia terkungkung dan diperbudak oleh nafsunya sendiri. Diperbudak oleh berbagai macam realitas dan problematika yang menghujani diri.

Kemampuan mengendalikan diri amat penting dan merupakan kunci sukses dalam hidup. Oleh karenanya, Allah pasti tak mengabaikan hal penting ini. Manusia harus dilatih agar mampu mengendalikan diri, agar mampu menguasai diri. Allah melatihnya melalui puasa. Puasa secara bahasa berarti menahan diri (al imsak) dari sesuatu. Menahan nafsu, mengendalikan dan menahan diri. Inilah latihan utama yang kita dapatkan dari puasa.

Pada hakikatnya, semua jurus dalam dunia persilatan bermuara pada dua kemampuan dasar: bertahan dan menyerang. Nah, puasa mengajarkan kemampuan untuk bertahan. Kemampuan ini jika dapat kita kuasai dengan baik akan membuat kita senantiasa tenang dan waspada sehingga dapat membaca jurus lawan, yaitu segenap kehidupan dengan berbagai problematikanya sehingga kita dapat menyelesaikannya dengan baik. Di dalam puasa kita juga dilatih tentang kesabaran dan empati pada sesama.

Secara istilah, puasa didefiniskan dengan:

إمساك مخصوص من شخص مخصوص في وقت مخصوص بشرائط

Artinya: “Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” (Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 248).

Rukun Puasa

Rukun adalah hal-hal yang harus dijalankan selama berpuasa sehingga puasa tersebut sah. Rukun puasa yaitu:

1. Niat

Sebagaimana telah kita pelajari pada bab terdahulu pada saat membahas definisi ibadah, niat akan menentukan amal perbuatan kita apakah ia akan dinilai sebagai ibadah atau bukan. Sekedar menahan lapar dan dahaga sepanjang hari tanpa adanya niat maka tidak bernilai ibadah. Oleh karenanya puasa harus diawali dengan niat karena Allah. Niat puasa dilakukan sebelum fajar. Kecuali puasa sunah boleh diniatkan setelah fajar, bahkan meskipun sudah siang, asalkan kita belum makan minum dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

2. Menahan makan dan minum

Inilah aktivitas utama yang dijalankan pada saat puasa. Kita berlatih menahan tuntutan naluri kesenangan dunia (syahwat). Makan dan minum adalah tuntutan utama bagi naluri manusia. Dengan berlartih untuk menahannya kita berharap nantinya mempunyai kemampuan untuk menahan tuntutan-tuntutan syahwat lainnya.

3. Menghindari hal-hal yang membatalkan puasa

Beberapa hal yang membatalkan puasa adalah: (1) makan minum, (2) melakukan hubungan seksual, (3) haidh, (4) nifas, (5) mengeluarkan mani dengan sengaja, (6) muntah secara disengaja (menyengaja untuk muntah).

Ketiga hal di atas adalah hal-hal minimal yang harus dijalankan pada saat puasa. Jika hal-hal di atas telah dipenuhi maka secara hukum dan secara lahiriah puasa kita dianggap sah. Namun demikian, pada hakikatnya puasa adalah latihan untuk menahan segala tuntutan nafsu dan syahwat yang tidak terbatas hanya pada hal-hal di atas. Karenanya, jika kita ingin mendapatkan hakikat manfaat puasa, kita juga harus menahan semua itu. Hanya menahan makan dan minum saja belumlah cukup. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah:

 

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar” (HR. Ibnu Majah)

Kemudian hadis ini diperjelas dalam sabanya:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya:“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh kepada perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum” (HR. Al Bukhari).

Jadi jika kita hendak mendapatkan manfaat terbesar dari puasa kita harus menjaga seluruh anggota tubuh kita tuntutan nafsu syahwat dan semua hal buruk. Kaki dan tangan ini tak boleh melakukan hal-hal buruk. Mata ini harus dijaga dari melihat kemaksiatan. Mulut harus dijaga dari pembicaraan kotor, dan seterusnya. Puasa pada hakikatnya adalah perang melawan hawa nafsu. Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Artinya: Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya. (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Sekarang kita paham, ya. Puasa itu penting. Bukan semata-mata untuk menunjukkan ketaatan kita kepada Allah. Tapi memang semua manusia itu butuh untuk puasa jika ia ingin mencapai kebahagiaan hakiki dalam hidupnya. Karena itulah, Allah mewajibkan manusia untuk berpuasa, minimal satu bulan dalan setahun. Di samping itu dalam rangka mempercepat latihan menahan diri ini Allah juga memberikan beberapa tuntunan mengenai puasa-puasa tambahan lainnya. Jadi puasa ada yang diharuskan (wajib) dan ada yang bersifat tambahan keutamaan (sunah). Untuk lebih jelasnya sebagai berikut.

 

Puasa Wajib

Seorang muslim minimal harus puasa satu bulan dalam setahun, yaitu pada bulan Ramadhan. Inlah latihan utama yang harus kita jalani agar kita menguasai pertahanan diri yang baik dan menjadi magnet bagi orang lain. Latihan utama agar kita mempunyai sikap sabar, teliti, dan bijak dalam menghadapi segala hal. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2]: 183).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah [2]: 185).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya: “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan

Awal dan akhir Ramadhan ditentukan melalui bulan hijriah yang diperhitungkan melalui peredaran rembulan. Permulaan Ramadhan ditandai dengan munculnya bulan (hilal) yang merupakan perhitungan awal bulan (tanggal 1 Ramadhan). Bagaimana jika bulan tidak terlihat karena mendung dan sebagainya? Maka caranya adalah menggenapkan bulan Sya’ban 30 hari untuk kemudian besooknya menentukan tanggal 1 Ramadhan dan menggenapkan Ramadhan 30 hari untuk kemudian besoknya dipastikan sebagai tanggal 1 Syawal. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا

Artinya: “Berpuasalah kalian karena melihatnya, berbukalah kalian karena melihatnya dan sembelihlah kurban karena melihatnya pula. Jika -hilal- itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah menjadi tiga puluh hari, jika ada dua orang saksi, berpuasa dan berbukalah kalian.” [HR. An Nasai].

Namun di era modern ini, untuk memastikan kemunculan rembulan tidak lagi dengan mata telanjang. Saat ini dilakukan dengan bantuan teropong. Cara ini, baik yang melihat lansung maupun yang menggunakan teropong, disebut dengan metode rukyat (melihat langsung rembulan).

Bahkan memungkinkan untuk tidak perlu dilihat sama sekali meskipun dengan teropong. Kemunculan rembulan cukup diperhitungkan saja dengan ilmu hisab (astronomi) dan metodenya disebut metode hisab. Inilah ilmu yang dipakai untuk membuat kalander. Dengan ilmu ini, perhitungan bulan di setiap tahun, bahkan tahun yang akan datang bisa diketahui dan dibuat tanpa harus melakukan penglihatan terhadap rembulan.

Nah, inilah yang membuat perbedaan di kalangan umat Islam. Ada umat Islam yang masih menggunakan metode rukyat. Sementara yang lainnya, termasuk Muhammadiyah menggunakan hisab. Mengapa Muhammadiyah menggunakan hisab? Karena Muhammadiyah memilih pendekatan ilmiah, pendekatan yang sejalan dengan dunia modern. Dengan metode ini awal Ramadhan dan tanggal 1 Syawal dapat diketahui jauh-jauh hari, sehingga berbagai persiapan untuk menyambutnya dapat dilakukan jauh-jauh hari dengan baik. Dengan metode ini juga memungkinkan untuk mempersatukan umat Islam di seluruh belahan dunia.

Selanjutnya kita akan bahas tentang puasa sunah. Pembahasan ini saya pisah dalam satu pembahasan tersendiri dengan judul: Puasa Sunah dan Hikmah. Silahkan klik DI SINI. []

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Tatacara Aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi. Secara sosiologis, aqiqah mempunyai peran penting …

Tinggalkan Balasan