Home / Ibadah / Tatacara Tayamum

Tatacara Tayamum

Pada pembahasan sebelumnya kita telah memahami bahwa cara membersihkan/mensucikan hadats kecil adalah dengan cara berwudhu, dan cara membersihkan/mensucikan hadats besar adalah dengan cara mandi janabah. Namun dalam keadaan tertentu, Allah membolehkan mengganti keduanya dengan cara lain yang disebut tayamum.

Jadi, tayamum berfungsi untuk menggantikan wudhu dan mandi janabah. Karena itu tayamum mempunyai dua fungsi: dapat menghilangkan hadats kecil dan dapat pula menghilangkan hadats besar.

Namun demikian tidak sembarang waktu seseorang boleh mengganti wudhu dan mandi janabah dengan tayamum. Tayamum hanya dipebolehkan pada saat-saat tertentu, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 5:

 

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰي سَفَرٍ اَوْ جَاۗءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۗىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۗءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۗءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ  ۭ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5]: 6).

Berdasarkan ayat di atas, penyebab diperbolehkannya tayamum adalah:

  1. Ketika tidak ada air, atau ada air tapi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.
  2. Ketika sakit yang menghalangi orang tersebut menggunakan air.

Ketika kita mengalami kedua hal di atas, maka diperbolehkan mengganti wudhu ataupun mandi janabah dengan tayamum.

Berbeda dengan wudhu dan mandi janabah yang medianya menggunakan air. Tayamum medianya adalah debu/tanah yang suci. Berbeda pula dengan wudhu yang harus membasuh/mengusap beberapa anggota tubuh dan mandi janabah yang harus meratakan air ke seluruh tubuh.

Tayamum pada praktiknya tidak sama sepertu wudhu atau pun mandi janabah. Tayamum cukup mengusapkan debu ke muka dan telapak tangan masing-masing sekali.

Lebih detailnya dijelaskan dalam hadits berikut:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ إِنِّى أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ الْمَاءَ . فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِى سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ ، وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ ، فَذَكَرْتُ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ ، وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ

Artinya: Ada seseorang mendatangi ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata, “Aku junub dan tidak bisa menggunakan air.” ‘Ammar bin Yasir lalu berkata pada ‘Umar bin Khottob mengenai kejadian ia dahulu, “Aku dahulu berada dalam safar. Aku dan engkau sama-sama tidak boleh shalat. Adapun aku kala itu mengguling-gulingkan badanku ke tanah, lalu aku shalat. Aku pun menyebutkan tindakanku tadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Cukup bagimu melakukan seperti ini.” Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dengan menepuk kedua telapak tangannya ke tanah, lalu beliau tiup kedua telapak tersebut, kemudian beliau mengusap wajah dan kedua telapak tangannya. (HR. Bukhari no. 338 dan Muslim no. 368).

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ

Artinya: “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk kedua telapak tangannya ke tanah dengan sekali tepukan, kemudian beliau usap tangan kiri atas tangan kanan, lalu beliau usap punggung kedua telapak tangannya, dan mengusap wajahnya.”

Dalam hadits riwayat Muslim ini didahulukan mengusap punggung telapak tangan, lalu wajah. Ini menunjukkan bahwa urutan antara wajah dan kedua telapak tangan tidak dipersyaratkan mesti berurutan.

Berdasarkan hadits shahih di atas, tatacara tayamum yang dipraktikkan Rasululullah SAW adalah sebagai berikut:

  1. Niat bertayamum untuk menghilangkan hadats kecil/besar karena Allah dengan membaca basmallah.
  2. Menepukkan kedua telapak tangan ke debu.
  3. Meniup debu yang menempel di telapak tangan.
  4. Mengusap muka.
  5. Mengusap telapak tangan kanan (dengan telapak tangan kiri).
  6. Mengusap telapak tangan kiri (dengan telapak tangan kanan).

Atau urutannya setelah niat, menepuk debu, dan meniupnya, kemudian telapak tangan terlebih dahulu baru muka, sesuai dengan hadits Muslim di atas.

Sebagai tambahan pembahasan, kita perlu mengetahui perbedaan yang terjadi di masyarakat. Di kalangan masyarakat ada yang mempraktikkan tayamum berbeda dengan tatacara di atas. Mereka menepuk debu dua kali: sekali untuk mengusap wajah, sekali untuk mengusap kedua tangan sampai siku.

Praktik tayamum seperti ini didasarkan pada sebuah hadits:

عَنْ أَبيِ أُمَامَةَ وَابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ: ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةُ لِليَدَيْنِ إِلىَ المِرْفَقَيْنِ

Artinya: Dari Abi Umamah dan Ibni Umar radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW bersabda”Tayammum itu terdiri dari dua tepukan. Tepukan pada wajah dan tepukan pada kedua tangan hingga siku. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Namun demikian hadits ini banyak yang menyatakan sebagai hadits dhaif sehingga yang lebih berhati-hati adalah cukup menepuk sekali dan batas tangan hanyalah telapak tangan sampai pergelangan sebagaimana dijelaskan di atas.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Tatacara Aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi. Secara sosiologis, aqiqah mempunyai peran penting …

Tinggalkan Balasan