Home / Ibadah / Hal-hal yang Membatalkan Wudhu dan Tayamum

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu dan Tayamum

Sebagaimana telah kita bahas dan pahami sebelumnya bahwa setelah melakukan wudhu atau tayamum kita telah bersih atau lebih tepatnya “suci” dari hadats kecil. Demikian juga setelah kita mandi janabah, kita telah suci dari hadats besar.

Kita tetap dalam kondisi suci selama kita tidak melakukan beberapa hal yang membatalkan wudhu, tayamum, atau mandi janabah kita.

Jika kita melakukannya, maka wudhu, tayamum dan mandi janabah kita batal yang berarti kita kembali pada kondisi kotor dimana dalam tubuh kita mengandung hadats kecil/besar.

Berikut ini beberapa hal yang membatalkan wudhu dan tayamum:

Pertama, keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur). Ini bisa berupa kentut, buang air kecil, buang air besar, dan lain-lain.

Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al Maidah ayat 6:

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Artinya: “Atau salah satu dari kalian telah datang dari kamar mandi”.

Kedua, hilang akal. Bisa disebabkan karena tidur, gila, mabuk, dan lain-lain.

Rasulullah SAW bersabda:

فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Barangsiapa yang tidur maka berwudhulah.” (HR. Abu Dawud).

Ketiga, menyentuh kelamin atau lubang dubur manusia.

Rasulullah bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (HR. Abu Daud no. 181, An Nasa-i no. 447, dan At Tirmidzi no. 82).

Keempat, melakukan hubungan seksual.

Allah SWT berfirman:

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰي سَفَرٍ اَوْ جَاۗءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۗىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۗءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۗءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ  ۭ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5]: 6).

Jika sesorang melakukan hal yang keempat ini, dia tidak hanya menjadi berhadats kecil, tapi juga berhadats besar. Atau dengan kata lain, orang tersebut menjadi berhadats kecil yang secara otomatis ia juga berhadats kecil.

Sebagai tambahan ada beberapa perbedaan pendapat yang penting untuk kita pahami, terutama dalam hal sentuhan lawan jenis.

Ada yang berpendapat menyentuh atau sentuhan lawan jenis membatalkan wudhu. Sedangkan di atas kita tidak memasukkannya dalam perkaran yang membatlkan wudhu.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena di sini terjadi perbedaan pendapat pada kata yang terdapat dalam surat al Maidah ayat 6 yaitu kata: اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۗءَ

Ada yang mengartikan dengan kata tersebut dengan “menyentuh perempuan” ada juga yang mengartikan kata tersebut dengan “bersetubuh”. Kata tersebut memang memungkinkan 2 arti itu.

Lalu kenapa pada kesimpulan di atas kita mengambil arti bersetubuh? Karena tafsiran inilah yang diberikan oleh sahabat Nabi yang paling ahli dalam menafsirkan al-Quran, yaitu sahabat Ibnu Abbas.

Hal ini juga cocok dengan arah pembicaraan surat al Maidah ayat 6 yang di dalamnya sedang membicarakan hadats kecil dan hadats besar.

Coba perhatikan ayat berikut:

يٰٓاَيُّھَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ ۭ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا  ۭ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.

Ayat ini sedang bicara tentang bagiamana mensucikan hadats kecil (wudhu) dan bagaimana mensucikan hadats besar (mandi).

Kemudian disambung dengan ayat berikut:

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰي سَفَرٍ اَوْ جَاۗءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۗىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۗءَ

Artinya: “… dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan/menyetubuhi perempuan,...” (QS. Al Ma-idah: 6).

Nah, menjadi serasi dengan ayat sebelumnya jika “laa mastumunnisa” diartikan sebagai “jimak/bersetubuh” sehingga mewakili pembicaraan ayat sebelumnya yang memuat hadats kecil dan besar. Jika diartikan “menyentuh perempuan”, hadats besar menjadi tidak terwakili.

Hal ini menjadi cocok dengan bunyi ayat selanjutnya yang menjelaskan bahwa tayamum itu diperbolehkan sebagai pengganti wudhu yang merupakan tatacara untuk menghilangkan hadats kecil dan mandi yang merupakan tatacara untuk menghilangkan hadats besar.

Berikut ayat lanjutannya:

فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ

Artinya: “… maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”.

Demikian, mudah-mudahan dapat dipahami dengan baik.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Infaq di Jalan Allah

Setelah bersyahadat dan melakukan shalat, apa lagi yang harus dilakukan oleh seorang muslim? Berinfak, atau …

Tinggalkan Balasan