Home / Ibadah / Cara Membersihkan Hadats Kecil

Cara Membersihkan Hadats Kecil

Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, Konsep Kotor dan Bersih dalam Islam, hadats adalah kotoran yang tak tampak. Kotoran yang non fisik. Kotoran yang bersifat spiritual.

Kita tahu persisi macam mana kotoran yang disebut hadats itu dan di mana ia terletak dalam tubuh kita. Ilmu kedokteran juga tidak bisa mendeteksinya.

Hanya Allah yang tahu macam apa dan di mana letak kotoran hadats itu. Karena itulah kita juga tidak tahu bagaimana cara membersihkannya jika saja Allah tak memberitahu kita.

Karena itu pula cara membersihkan hadats ini harus mengikuti persis seperti apa yang diajarkan Allah melalui RasulNya. Kita tidak bisa mengarang-ngarang atau pun merubah baik menambah atupun mengurangi apa yang diajarkan Rasul.

Cara membersihkan hadats ini termasuk ke dalam ibadah mahdhah. Masih ingat kan ya, apa itu ibadah mahdhah? Ibadah mahdah adalah ibadah yang berhubungan langsung dan ditentukan cara langsung oleh Allah. Azasnya taat dan supra rasional (IM= AT + SR) sebagaimana yang telah kita ulas dalam pembahasan sebelumnya yang berjudul: Pembagian Ibadah.

Pada pembahasan ini kita akan mempelajari bagaimana tatacara membersihakn hadats kecil sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Hadits. Untuk melengkapi pemahaman, saya juga akan sertakan beberapa perbedaan pendapat yang berkembang di masyarakat beserta duduk persoalannya dan bagaimana sikap kita atau lebih tepatnya pendapat saya dalam persoalan ini.

Dengan pemahaman yang komprehensif seperti ini diharapkan kita mempunyai pemahaman yang mendalam, beragama tak hanya sekedar ikut-ikutan dan mempunyai sikap yang luwes dan toleran dalam menghadapi berbagai perbedaan yang berkembang di masyarakat.

Tulisan ini agak panjang. Sengaja dibuat satu tulisan agar pembahasannya utuh. Silahkan baca dengan teliti.

Mari kita mulai.

Seperti telah kita bahas sebelumnya bahwa dalam kondisi suci kapan pun itu sangat dianjurkan dan bermanfaat bagi kita. Namun ada saat yang diwajibkan bagi kita untuk dalam kondisi suci dari hadats, yaitu saat kita akan bertemu dengan Allah, saat kita akan menghadapnya terutama ibadah shalat.

Nah, karena itulah perintah dan tatacara membersihkan hadats kecil kita akan mulai dari sini. Kita akan mulai dari perintah pokok dan tatacara yang diajarkan Allah dalam kitab suci al-Quran.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّھَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah [5]: 6)

Inilah tatacara membersihkan hadats kecil. Ayat di atas tidak menyebutkan apa nama dari tatacara membersihkan hadats kecil ini. Penjelasan ini didapat dari banyak hadits Nabi bahwa nama dari tatacara itu adalah wudhu.

Berdasarkan ayat di atas, tatacara wudhu adalah: (1) membasuh muka, (2) membasuh kedua tangan sampai siku, (3) mengusap kepala, (4) membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.

Pada pembahasan Pengertian Ibadah kita telah memahami arti pentingnya niat. Aktivitas di atas tidak menjadi ibadah dan tidak berfungsi dalam membersihkan/mensucikan hadats jika tidak ada niat ibadah, niat karena Allah.

Oleh karena itu, meskipun pada ayat di atas tidak secara tegas dicantumkan, tentu saja niat ini sudah secara otomatis harus ada.

Dengan demikian tatacara wudhu secara lengkap adalah: (1) niat, (2) membasuh muka, (3) membasuh kedua tangan sampai siku, (4) mengusap kepala, (5) membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.

Berapa kali cara membasuh atau mengusap anggota wudhu itu? Karena Allah SWT tidak memerintahkan untuk mencuci lebih dari sekali dalam ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6), maka cukup dibasuh/diusap 1 kali.

Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

تَوَضَّأَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّةً مَرَّةً

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sekali, sekali.” (HR. Bukhari, no. 157).

Inilah tatacara wudhu yang paling pokok, yang paling minimalis, yaitu dengan melakukan hal-hal yang bersifat wajib.

Namun jika kita melihat praktik wudhu Rasulullah SAW, ada beberapa tambahan selain apa yang dijelaskan Allah di atas. Tambahan ini adalah sunah hukumnya untuk dilakukan.

Sebagai umat Nabi, tentunya akan lebih baik jika kita melakukan secara lengkap apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Tatacara wudhu Rasulullah SAW secara umum disebutkan dalam hadits berikut:

حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ – رضى الله عنه – دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلاَةِ

Artinya: Humran pembantu Utsman menceritakan bahwa Utsman bin Affan pernah meminta air untuk wudhu kemudian dia ingin berwudhu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian berkumur-kumur diiringi memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh mukanya 3 kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai ke siku tiga kali, kemudian mencuci tangan yang kiri seperti itu juga, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki kanan sampai mata kaki tiga kali, kemudian kaki yang kiri seperti itu juga. Kemudian Utsman berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW pernah berwudhu seperti wudhuku ini. (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits di atas, tatacara wudhu yang sempurna adalah:

  1. Niat berwudhu karena Allah.
  2. Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
  3. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali.
  4. Membasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali.
  5. Membasuh tangan –kanan kemudian kiri- hingga siku tiga kali.
  6. Membasuh kepala sati kali.
  7. Membasuh kaki tiga kali.

Tadi di atas saya sebutkan praktik wudhu Nabi secara umum. Mengapa? Sebab secara lebih detail masih ada beberapa hadits yang melengkapi hadits di atas.

Nah, untuk itu, yuk kita sekalian lengkapi bagaimana tatacara wudhu Rasulullah SAW berdasarkan hadits-hadits Rasul. Sekalin di sini juga akan dilengkapi dengan berbagai perbedaan pendapat yang muncul di masyarakat, ya?

Jadi baca pelan, cermat, dan mendetail. Kalau perlu diulang-ulang. Agak banyak pembahasannya.

Sistem pembahasannya kita akan bahas per point, kemudian kita sertakan dasar hadits-nya, lalu kita bahas beberapa perbedaan pendapat, dan terakhir posisi dan sikap kita, atau tepatnya pendapat saya diantara perbedaan itu.

Pertama, niat dan baca basmallah.

Masih ingat definisi ibadah kan, ya?  Niat itu sangat penting. Aktivitas ini harus diniatkan karena Allah, atau lengkapnya: niat menghilangkan hadats kecil karena Allah dan mengawalinya dengan menyebut namaNya.

Rasulullah SAW bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ

Artinya: “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu. Dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ta’ala atasnya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud).

Saya garis bawahi, ya. Jadi cukup niat dalam hati dan membaca basmallah. Itu yang dilakukan Rasulullah SAW.

Ok. Jelas, ya.

Sekarang mari kita lanjutkan dengan perbedaan pendapat yang muncul di masyarakat.

Di atas telah saya jelaskan bahwa pada prinsipnya niat ada dalam hati dan membaca basmallah. Itu yang dilakukan Rasulullah SAW pada permulaan wudhu.

Namun diantara masyarakat ada yang membiasakan melafadzkan niat dalam bahasa Arab:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya : “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”.

Nah, di sinilah kemudian muncul perbedaan pendapat.

Ada yang menentang membaca lafadz di atas. Wudhu adalah ibadah mahdhah sehingga tidak boleh menambah-nambah apapun dari yang dicontohkan Rasulullah SAW.

 Ada juga yang membolehkan (bukan mengharuskan) membaca lafadz di atas dengan alasan untuk menambah kemantapan dan memastikan niat yang benar pada saat mengerjakan wudhu.

Perbedaan antara keduanya sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Pendapat pertama benar, tapi mestinya bisa memaklumi pendapat kedua.

Mengapa?

Membaca lafadz niat sebenarnya tidaklah menambah-nambahi ibadah mahdhah. Ia hanya mengucapkan niat yang ada dalam hati. Tentu saja hal ini tidak ada larangan.

Namun bagi pendapat kedua juga penting untuk diberi catatan. Jika mau mengucapkan niat tentu tidak harus juga bahasa Arab. Boleh juga mengucapkan niat dalam bahasa Indonesia, misalnya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”.

Pada kondisi tertentu tidak harus pula merepotkan menghafal niat dalam bahasa Arab sehingga bagi yang tidak hafal menjadi tidak bisa berwudhu. Pada intinya simpel saja. Cukup diawalai basmallah dan niat karena Allah sudah cukup.

Kedua, membasuh kedua telapak tangan dengan menyela-nyela jari.

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Ada sedikit penjelasan di hadits lain bahwa yang lebih sempurna adalah menyela-nyela jari tangan, sebagaimana sabda Nabi:

وَعَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًاأَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

Artinya: Laqith Ibnu Shabirah Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sempurnakanlah dalam berwudlu usaplah sela-sela jari dan isaplah air ke dalam hidung dalam-dalam kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR. Imam Empat dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah).

Berkenaan dengan membasuh telapak tangan tidak ada perbedaan pendapat.

Ketiga, berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak 3 kali.

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Jika melihat teks hadits, antara berkumur dan menghirup air ke hidung menggunakan kata sambung “wa (dan)” bukan “tsumma (kemudian)”.

Nah, dalam struktur bahasa Arab ini menunjukkan bahwa antara berkumur dan menghirup air ke hidung itu tidak dipisahkan. Jadi satu basuhan bersamaan.

Hal ini juga sesuai dengan hadits Nabi:

فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ

Artinya: “Kemudian ia berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung melalui satu telapak tangan (HR. Muslim, no. 235).

Masalahnya ada hadits lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memisah antara kumur-kumur dan menghirup air ke hidung. Inilah yang menimbulkan perbedaan pendapat.

Berikut haditsnya:

Hadits Thalhah bin Musharrif dari ayahnya, dari kakeknya, beliau berkata:

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ وَالْمَاءُ يَسِيْلُ مِنْ وَجْهِهِ وَلِحْيَتِهِ عَلَى صَدْرِهِ فَرَأَيْتُهُ يَفْصِلُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالْإِسْتِنْشَاقِ

Artinya: “Saya masuk menemui Nabi SAW dan beliau sedang berwudhu.  Air mengucur dari wajah dan jenggot beliau di atas dadanya. Saya melihat beliau memisahkan antara kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung.” (HR. Abu Daud dalam Sunan -nya no. 139, Al-Baihaqy dalam Sunan -nya 1/51, dan Ath-Thabarany jilid 19 no. 409-410).

Semuanya dari jalan Al-Laits bin Abi Sulaim dari Thalhah bin Musharrif, dari ayahnya, dari kakeknya. Lalu dalam salah satu riwayat Ath-Thabarany dengan lafazh,

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَتَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا يَأْخُذُ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مَاءً جَدِيْدًا

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam berwudhu lalu berkumur-kumur tiga kali dan menghirup air tiga kali. Beliau mengambil air baru (baca: tersendiri) untuk setiap anggota ….” (Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hatim dalam Al-‘Ilal 1/53 karya anaknya).

Menurut Imam Shon’aniy, meskipun banyak ulama hadits yang menilai hadits ini lemah, namun hadits Kakek Thalhah telah ditegaskan oleh hadits Utsman dan Ali Rodhiyallahu anhuma, katanya :

وَقَدْ دَلَّ لَهُ أَيْضًا حَدِيثُ ” عَلِيٍّ ” عَلَيْهِ السَّلَامُ ، ” وَعُثْمَانَ ” : أَنَّهُمَا أَفْرَدَا الْمَضْمَضَةَ وَالِاسْتِنْشَاقَ ، ثُمَّ قَالَا : هَكَذَا رَأَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ؛ أَخْرَجَهُ أَبُو عَلِيِّ بْنُ السَّكَنِ فِي صِحَاحِهِ ، وَذَهَبَ إلَى هَذَا جَمَاعَةٌ .

Artinya: ”Telah ditunjukkan juga oleh hadits Ali dan Utsman Rodhiyallahu anhuma bahwa mereka berdua menyendirikan berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung, lalu berkata : ‘demikikan kami melihat Rasulullah r berwudhu, dikeluarkan oleh Abu Ali Ibnus Sakan dalam Shahihnya dan ini adalah pendapat sekelompok ulama”.

Jadi menurut Imam Shon’any hadis tentang memisah kumur-kumur dengan menghirup air ke hidung bisa diterima.

Hadis inilah yang menjadi dasar bahwa berkumur dan menghirup air ke hidup dipisah.

Jadi mana yang benar?

Menurut para ahli hadits, sebagimana disinggung di atas, kedua hadits di atas adalah hadits lemah (dha’if). Di sana terdapat rawi yang bernama Al-Laits bin Abi Sulaimdan ia telah dilemahkan oleh Ibnu Mahdy, Yahya Al-Qaththan, Ibnu ‘Uyyainah, Ibnu Ma’in, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ya’qub Al-Fasawy, An-Nasa`i dan lain-lainnya, bahkan Imam An-Nawawy, dalam Tahdzib Al-Asma` Wa Al-Lughat.

Bahkan Imam Shon’any juga mengakui semua ini.

Ayah Thalhah bin Musharrif adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). Lihat dalam: Tahdzibut Tahdzib , Al-Badrul Munir 3/277-286, At-Talkhish Al-Habir 1/133-134, dan Nashbur Rayah 1/17.

Nah, sekarang kita telah sampai pada kesimpulan bahwa pendapat terkuat adalah antara kumur-kumur (madhmadha) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) dijadikan satu. Hal ini didasarkan pada logika teks hadits shahih dari Humron di atas dan beberapa hadis shahih lain yang mendukung.

Keempat, membasuh muka dan menyela-nyela jenggot sebanyak 3 kali.

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Ada sedikit tambahan “ dengan menyela-nyela jenggot” tentu saja bagi yang berjenggot. Nabi bersabda:

وَعَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ فِي الْوُضُوءِ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة

Artinya: Dari Utsman Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyela-nyelai jenggotnya dalam berwudlu. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah).

Berkenaan dengan hal ini tidak ada perbedaan pendapat.

Kelima, membasuh kedua tangan hingga siku, kanan dulu kemudian kiri sebanyak 3 kali.

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Di sini ada sedikit perbedaan. Ada yang berpendapat harus dimulai dari ujung jari hingga siku, tidak boleh sebaliknya.

Namun banyak ulama yang berpendapat tidak harus demikian. Yang terpenting adalah seluruh bagian yang harus dibasuh semuanya dibasuh.

Perintah ayat intinya hanya menunjukkan batas yang mempertegas semua area yang harus dibasuh. Tentu tidak mungkin jika disebut: batasnya ujung jari (lantas dari mana mulanya?).

Menurut saya akan lebih baik jika kita mengikuti pendapat pertama: dimulai dari ujung jari hingga siku. Supaya persis seperti kemauan ayat secara struktur bahasa. Tapi itu bukan suatu keharusan.

Keenam, mengusap kepala.

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Namun ada 3 pertanyaan tambahan yang sekaligus menjadi tolak pangkal perbedaan pendapat.

Pertanyaan itu adalah:

  1. Apakah seluruh kepala atau cukup sebagian saja?
  2. Apakah kuping termasuk kepala atau tidak?
  3. Berapa bilangan dalam mengusap kepala?

Mari kita mulai dari yang pertama.

Apakah seluruh kepala atau cukup sebagian saja?

Perbedaan pendapat tentang hal ini bermula dari penafsiran ayat tentang wudhu, yaitu QS. Al-Maidah [5]: 6, pada kalimat:

وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ

Artinya: “…. usaplah kepalamu.”

Mengusap kepala ini ada yang mengartikan “sebagian” ada yang mengartikan “seluruh” kepala.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena dalam strukur bahasa Arab, huruf “ba” yang terdapat pada kalimat:  بِرُءُوسِكُمۡ memang memungkinkan dua arti itu.

Nah, untuk menentukan mana yang tepat maka kita harus melihat bagaimana Rasulullah SAW mempraktikkan mengusap kepala.

Namun ternyata Rasulullah SAW juga pernah mempraktikkan kedua-duanya.

Rasulullah SAW pernah mengusap keseluruhan kepala. Hal ini terdapat dalam hadits berikut:

Amr bin Yahya al-Maziniy, menceritakan tentang Abdullah bin Zaid yang memperagakan cara berwudlunya Rasulullah SAW sebagai berikut:

ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَ أَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلىَ قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّ هُمَا حَتىَّ رَجَعَ إِلىَ اْلمـَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ

Artinya: “Lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang mulai dari depan kepalanya kemudian menggerakkannya sampai ketengkuknya, lalu mengembalikannya ketempat semula.” [HR Abu Dawud: 118, an-Nasa’iy: I/ 70-71,71, Ibnu Majah: 434 dan at-Turmudziy: 32. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengusap seluruh kepala dengan diawali dari depan sampai ke belakang, kemudian kembali ke depan lagi.

Namun Rasulullah SAW juga pernah mengusap sebagian kepala, tepatnya bagian depan (ubun-ubun). Hal ini terdapat dalam hadits berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ، فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ ، وَعَلَى الْعِمَامَةِ ، وَعَلَى الْخُفَّيْنِ

Artinya: “Nabi SAW berwudhu dengan mengusap bagian depan kepala dan ‘imamahnya (serbannya), beliau juga mengusap khuf (sepatunya).” (HR. Bukhari, no. 182 dan Muslim, no. 274).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memakai sorban, sehingga beliau hanya mengusap bagian depan kepalanya. Namun demikian sisanya beliau mencukupkan dengan mengusap soban.

Berdasarkan pembahasan di atas karena kedua hadits shahih tampaknya yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala. Kemudian jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.

Yuk kita lanjut ke pertanyaan kedua?

Apakah kuping termasuk kepala atau tidak?

Ada yang berpendapat bahwa cara membasuh kepala diteruskan sampai ke telinga, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ، قَالَ : تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ، وَيَدَيْهِ ثَلاَثًا ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ، وَقَالَ : الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

 Artinya: “Dari Abu Umamah Ra. beliau berkata: Nabi Saw. berwudhu (dengan cara) membasuh wajah sebanyak tiga kali, tangan sebanyak tiga kali, dan mengusap kepala. Nabi Saw. berkata: kedua telinga adalah bagian dari kepala.”

Bagi yang mendasarkan hadits ini mengusap kuping menjadi wajib, karena bagian dari kepala.

Ada juga yang berpendapat bahwa mengusap kepala dan kuping dipisah. Artinya mengusap kuping tidaklah wajib karena bukan bagian kepala. Hal ini didasarkan atas hadits berikut:

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abdullah bin Zayd Ra. tentang cara berwudhu Nabi:

مَسَحَ أُذُنَيْهِ بِغَيْرِ الْمَاءِ الَّذِي مَسَحَ بِهِ رَأْسَهُ

Artinnya: “Beliau berwudhu, kemudian membasuh kedua telinga dengan air yang bukan (digunakan) untuk membasuh kepala.”

Imam Nawawi menyimpulkan, “Mengusap telinga adalah bagian dari sunnah wudhu sebagaimana hadits yang telah lewat.” (Al-Majmu’, 1:228).

Imam Tirmidzi juga meragukan kalimat yang terdapat pada hadits bahwa “kuping bagian dari kepala” itu dari Nabi atau bukan. Katanya: “Saya tidak tahu, apakah kalimat ini (kedua telinga adalah bagian dari kepala) adalah pernyataan Nabi Saw. atau pendapat Abu Umamah.”

Imam Asy-Syaukani juga menyanggah bahwa hadits tersebut tidak bisa dibawa ke maksud semacam itu. Tetap yang lebih meyakinkan adalah hukum mengusap telinga adalah sunnah (bukan wajib).

Karena keraguan ini pula dalam kitab al-Tamhid fi Adillati al-Taqrib karya Dr. Mustafa Dhieb al-Bigha, disebutkan bahwa membasuh sebagian kepala dan telinga tidak diperbolehkan dengan air yang sama.

Artinya, setelah membasuh sebagian kepala – atau seluruhnya sebagian praktik yang disunnahkan – tidak boleh langsung membasuh kedua telinga.

Hal ini diperkuat dengan hadits yang terdapat dalam kitab Bulughul Maram pada hadits no. 42 tentang tata cara wudhu disebutkan hadits berikut:

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ { رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْخُذُ لِأُذُنَيْهِ مَاءً غَيْرَ الْمَاءِ الَّذِي أَخَذَهُ لِرَأْسِهِ } .أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ ، وَهُوَ عِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ بِلَفْظِ : { وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدَيْهِ } ، وَهُوَ الْمَحْفُوظُ

Artinya: Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil air untuk kedua telingannya dengan air yang berbeda dengan yang diusap pada kepalanya. (HR. Baihaqi).

Banyak ahli hadits yang menyatakan hadits di atas perawinya tsiqah, berarti hadis ini shahih atau setidaknya hasan.

Ok, sampai di ini saya tidak mau berpanjang-panjang lagi. Intinya begini, setelah saya membaca banyak pendapat, kedua pihak mempunyai banyak argumen yang kuat untuk mendukung pendapat masing-masing.

Mana yang paling tepat?

Mentok.

Kedua argumentasi cukup kuat. Jadi kesimpulannya boleh kedua-duanya.

Mari kita lanjutkan pertanyaan terakhir.

Mengusap kepala cukup sekali atau tiga kali?

Pertama saya ingin mengatakan bahwa mengusap sekali itu jelas sudah cukup. Tapi pada anggota yang lain Rasul membasuh tiga kali. Mana yang lebih utama sesuai Rasul?

Jika melihat hadis utama, yaitu Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas memang untuk “mengusap kepala” tidak disebutkan bilangannya. Sedangkan untuk yang lain disebutkan tiga kali.

Di sini terkesan bahwa Rasul hanya mengusap sekali. Ternyata ini bukan hanya kesan penafsiran, tapi memang didukung oleh hadits:

وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً

Artinya: “Dan mengusap kepalanya sekali.”

(HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dwud: 111. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih).

Namun Rasulullah pernah juga membasuh 3 (tiga) kali:

رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ الْمَضْمَضَةَ وَالِاسْتِنْشَاقَ وَقَالَ فِيهِ وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ هَكَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ دُونَ هَذَا كَفَاهُ وَلَمْ يَذْكُرْ أَمْرَ الصَّلَاةِ

Artinya: Aku melihat Utsman bin Affan  berwudhu. Kemudian dia menceritakan sebagaimana hadits sebelum ini, namun di dalamnya dia tidak menceritakan berkumur-kumur dan istinsyaq. Dan di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Humran mengatakan: Dia -Utsman- mengusap rambut kepalanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya tiga kali. Lalu Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu demikian. Dan beliau bersabda, ‘Barang siapa yang berwudhu kurang dari ini maka hal itu pun mencukupi baginya.’ Dan dia tidak menyebutkan tentang perkara sholat (sebagaimana yang ada pada riwayat Muslim di atas, pent).” (HR. Abu Dawud, dinyatakan oleh al-Albani hasan sahih di dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [1/185] as-Syamilah).

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa mengusap kepala tiga kali termasuk Sunnah (ajaran Nabi) adalah pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnul Mundzir dari Anas, Atha’ dan yang lainnya.

Abu Dawud pun meriwayatkan keterangan itu -mengusap kepala tiga kali- melalui dua jalur yang salah satunya dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan ulama yang lain.

Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Utsman mengusap kepalanya sebanyak tiga kali, sedangkan tambahan keterangan dari perawi yang terpercaya/tsiqah adalah informasi yang harus diterima (ziyadatu tsiqah maqbulah, istilah dalam ilmu hadits, pen), demikian papar al-Hafizh (silakan periksa Fath al-Bari [1/313], lihat juga keterangan Syaikh Dr. Abdul ‘Azhim Badawi hafizhahullah dalam kitabnya al-Wajiz, hal. 35)

Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-’Azhim Abadi rahimahullah mengatakan, “Kesimpulan hasil penelitian dalam masalah ini menunjukkan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan sekali usapan adalah lebih banyak dan lebih sahih, dan ia lebih terjaga keabsahannya daripada hadits yang menyebutkan tiga kali usapan.

Meskipun hadits-hadits tiga kali usapan tersebut juga berderajat sahih melalui sebagian jalannya, akan tetapi ia tidak bisa mengimbangi kekuatan hadits-hadits tersebut. Maka yang semestinya dipilih adalah mengusap sekali saja, walaupun mengusap tiga kali juga tidak mengapa.” (‘Aun al-Ma’bud [1/132] as-Syamilah)

Berdasarkan pembahasan di atas saya menyimpulkan:

  1. Tampaknya yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala dengan meneruskan sampai telinga atau pun memisahnya.
  2. Jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.
  3. Bilangan dalam mengusap kepala yang paling kuat argumentasinya adalah 1 kali. Meskipun demikian sangat bisa dimaklumi jika ada yang melakukan 3 kali mengingat argumentasinya juga kuat.

Kelima, membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, kaki kanan terlebih dahulu kemudian kaki kiri.

Penjelasan ini ada dalam hadits Humron yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Hanya tambahan cara membasuh yang baik adalah dengan menyela-nyela jari kaki.

Keenam, bacaan setelah wudhu.

Bacaan setelah wudhu tidak ada dalam hadits Umron. Tapi ada pada hadits lain. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Artinya: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” (HR. Muslim no. 234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470).

Berdasarkan hadits di atas, bacaan/doa setelah wudhu adalah:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Namun umunya di masyarakat ada tambahan lagi doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini ada yang menyatakan sebagai hadits hasan. Tapi lebih banyak yang menyatakan hadis dhaif. Karena itu banyak pula yang memilih meninggalkan bacaan ini.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Infaq di Jalan Allah

Setelah bersyahadat dan melakukan shalat, apa lagi yang harus dilakukan oleh seorang muslim? Berinfak, atau …

Tinggalkan Balasan