Home / Ibadah / Beberapa Perdebaan Pendapat dalam Masalah Wudhu

Beberapa Perdebaan Pendapat dalam Masalah Wudhu

Di kalangan masyarakat terjadi beberapa perbedaan yang jika tidak dipahami dengan baik dapat menimbulkan perselisihan. Karenanya penting bagi kita untuk memahami duduk persoalan yang diperselihikan antara lain sebagai berikut:

  1. Tentang Niat

Diantara masyarakat ada yang melafadzkan niat dalam bahasa Arab:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya : “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”.

Niat pada dasarnya tempatnya ada di dalam hati. Rasulullah SAW tidak pernah membaca lafadz niat (masyarakat sering menyebut doa wudhu) di atas. Para ulama sebenarnya juga sepakat bahwa wudhu tidak harus membaca lafadz niat di atas. Nah, di sini kemudian muncul perbedaan pendapat:

Pertama, ada yang menentang membaca lafadz di atas. Wudhu adalah ibadah mahdhah sehingga tidak boleh menambah-nambah apapun dari yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Kedua, membolehkan (bukan mengharuskan) membaca lafadz di atas dengan alasan untuk menambah kemantapan dan memastikan niat yang benar pada saat mengerjakan wudhu.

Perbedaan antara keduanya sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Pendapat pertama benar, tapi mestinya bisa memaklumi pendapat kedua. Membaca lafadz niat sebenarnya tidaklah menambah-nambahi badah mahdhah. Ia hanya mengucapkan niat yang ada dalam hati. Tentu saja hal ini tidak ada larangan.

Namun bagi pendapat kedua juga penting untuk diberi catatan. Jika mau mengucapkan niat tentu tidak harus juga bahasa Arab. Boleh juga mengucapkan niat dalam bahasa Indonesia, misalnya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”.

Jadi tidak harus merepotkan menghafal niat dalam bahasa Arab sehingga bagi yang tidak hafal menjadi tidak bisa berwudhu. Pada intinya simpel saja. Cukup diawalai basmallah dan niat karena Allah sudah cukup.

2. Tentang Mengusap Kepala

Perbedaan dalam mengusap muka adalah terletak pada penafsiran ayat al-Quran:

وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ

Artinya: “…. usaplah kepalamu.”

Mengusap kepala ini ada yang mengartikan “sebagian” ada yang mengartikan “seluruh” kepala. Dalam strukur bahasa Arab, huruf “ba” yang terdapat pada kalimat:  بِرُءُوسِكُمۡ memang memungkinkan dua arti itu.

Karena itu, kita harus melihat bagaimana Rasulullah SAW mempraktikkan mengusap kepala. Ternyata Rasulullah SAW juga pernah mempraktikkan kedua-duanya.

Pertama, Rasulullah SAW mengusap keseluruhan kepala.

Amr bin Yahya al-Maziniy, menceritakan tentang Abdullah bin Zaid yang memperagakan cara berwudlunya Rasulullah SAW sebagai berikut:

ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَ أَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلىَ قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّ هُمَا حَتىَّ رَجَعَ إِلىَ اْلمـَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ

Artinya: “Lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang mulai dari depan kepalanya kemudian menggerakkannya sampai ketengkuknya, lalu mengembalikannya ketempat semula.” [HR Abu Dawud: 118, an-Nasa’iy: I/ 70-71,71, Ibnu Majah: 434 dan at-Turmudziy: 32. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Cara mengusap kepala diteruskan sampai telinga atau dipisah?

Hal ini juga mengundang perbedaan pendapat.

Ada yang berpendapat bahwa cara membasuh kepala diteruskan sampai ke telinga, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ، قَالَ : تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ، وَيَدَيْهِ ثَلاَثًا ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ، وَقَالَ : الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

Artinya. “Dari Abu Umamah Ra. beliau berkata: Nabi Saw. berwudhu (dengan cara) membasuh wajah sebanyak tiga kali, tangan sebanyak tiga kali, dan mengusap kepala. Nabi Saw. berkata: kedua telinga adalah bagian dari kepala.”

Bagi yang mendasarkan hadits ini mengusap telinga menjadi wajib, karena bagian dari kepala. Selanjutnya, mengusap kepala dilakukan sekali, berdasarkan hadits:

وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً

Artinya: “Dan mengusap kepalanya sekali.”

(HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dwud: 111. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih).

Namun Rasulullah pernah juga membasuh 3 (tiga) kali:

رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ تَوَضَّأَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ الْمَضْمَضَةَ وَالِاسْتِنْشَاقَ وَقَالَ فِيهِ وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ هَكَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ دُونَ هَذَا كَفَاهُ وَلَمْ يَذْكُرْ أَمْرَ الصَّلَاةِ

Artinya: Aku melihat Utsman bin Affan  berwudhu. Kemudian dia menceritakan sebagaimana hadits sebelum ini, namun di dalamnya dia tidak menceritakan berkumur-kumur dan istinsyaq. Dan di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Humran mengatakan: Dia -Utsman- mengusap rambut kepalanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya tiga kali. Lalu Utsman mengatakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu demikian. Dan beliau bersabda, ‘Barang siapa yang berwudhu kurang dari ini maka hal itu pun mencukupi baginya.’ Dan dia tidak menyebutkan tentang perkara sholat (sebagaimana yang ada pada riwayat Muslim di atas, pent).” (HR. Abu Dawud, dinyatakan oleh al-Albani hasan sahih di dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [1/185] as-Syamilah).

Ada juga yang berpendapat bahwa mengusap kepala dan telinga dipisah. Mengomentasi hadits tentang telinga bagian dari kepala, al-Tirmidzi, menyatakan: “Saya tidak tahu, apakah kalimat ini (kedua telinga adalah bagian dari kepala) adalah pernyataan Nabi Saw. atau pendapat Abu Umamah.”

Karena keraguan ini pula dalam kitab al-Tamhid fi Adillati al-Taqrib karya Dr. Mustafa Dhieb al-Bigha, disebutkan bahwa membasuh sebagian kepala dan telinga tidak diperbolehkan dengan air yang sama.

Artinya, setelah membasuh sebagian kepala – atau seluruhnya sebagian praktik yang disunnahkan – tidak boleh langsung membasuh kedua telinga.

Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abdullah bin Zayd Ra. tentang cara berwudhu Nabi:

مَسَحَ أُذُنَيْهِ بِغَيْرِ الْمَاءِ الَّذِي مَسَحَ بِهِ رَأْسَهُ

Artinnya: “Beliau berwudhu, kemudian membasuh kedua telinga dengan air yang bukan (digunakan) untuk membasuh kepala.”

Karena itu pula Imam Nawawi menyimpulkan, “Mengusap telinga adalah bagian dari sunnah wudhu sebagaimana hadits yang telah lewat.” (Al-Majmu’, 1:228).

Jika kita mau membaca berbagai buku dan keterangan maka kita akan menemukan berbagai argumentasi yang satu sama lain menganggap yang paling kuat argumentasinya dan tidak ada titik temu. Kalau tidak percaya silahkan ditelusuri saja.

Kebuntuan ini kalau disertai dengan sikap fanatik di masing-masing pihak akan berujung pada pertengkaran dan perpecahan.

Karena saya memilih mengalihkan sudut pandang ke arah sufistik. Melalui sudut pandang ini kedua-duanya bisa ditempatkan secara setara bahwa keduanya mempunyai iktikad yang baik dan sungguh-sungguh untuk mentaati hukum Allah.

Saya yakin niat baik ini semuanya dinilai mulia di sisi Allah. Langkah paling bijak adalah menghargai keyakinan dan argumentasi masing-masing.

Jadi silahkan dipakai mana saja yang paling anda yakini. Secara pribadi saya memang sependapat dengan Imam Nawawi. Yang dimaksud kepala dalam surat al-Maidah ayat 6 tidak memasukkan telinga di dalamnya. Saya sepakat bahwa membasuh telinga adalah hukumnya sunah.

Kedua, Rasulullah SAW mengusap bagian depan kepala.

Rasulullah SAW bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ، فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ ، وَعَلَى الْعِمَامَةِ ، وَعَلَى الْخُفَّيْنِ

Artinya: “Nabi SAW berwudhu dengan mengusap bagian depan kepala dan ‘imamahnya (serbannya), beliau juga mengusap khuf (sepatunya).” (HR. Bukhari, no. 182 dan Muslim, no. 274).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memakai sorban, sehingga beliau hanya mengusap bagian depan kepalanya. Namun demikian sisanya beliau mencukupkan dengan mengusap soban.

Berdasarkan pembahasan di atas saya menympulkan bahwa tampaknya yang lebih tepat adalah mengusap seluruh bagian kepala dengan meneruskan sampai telinga atau pun memisahnya. Kemudian jika ada halangan tertentu, misalnya memakai sorban di kepala, atau para wanita yang mengenakan kerudung kepala boleh mengusap bagian depan kepala, kemudian sisanya mengusap penutup kepala tadi.

3. Doa setelah Wudhu

Sebagaimana telah dijelaskan pada judul: Cara Membersihkan Hadats Kecil, setelah wudhu Rasulullah SAW membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Namun umunya di masyarakat ada tambahan lagi doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri.” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini ada yang menyatakan sebagai hadits hasan. Tapi lebih banyak yang menyatakan hadis dhaif. Karena itu banyak pula yang memilih meninggalkan bacaan ini.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Infaq di Jalan Allah

Setelah bersyahadat dan melakukan shalat, apa lagi yang harus dilakukan oleh seorang muslim? Berinfak, atau …

Tinggalkan Balasan