Home / Ibadah / Konsep Kotor dan Bersih dalam Islam

Konsep Kotor dan Bersih dalam Islam

Apa yang anda rasakan jika tubuh anda kotor? Risih, gatal, bau, dan tentunya tidak nyaman. Bahkan tak jarang menjadi sarang penyakit. Karena itulah kita diajarkan untuk menjaga kebersihan agar diri kita sehat. Agar hidup kita nyaman.

Karena itulah Islam sangat memperhatikan kebersihan. Namun demikian, konsep kebersihan dalam Islam lebih mendalam lagi. Berkenaan dengan kebersihan, Islam mengenal 3 (tiga) istilah: nadzafah, thaharah, dan tazkiyyah.

 NADZAFAH adalah bersih dari kotoran fisik. Badan kita terkena lumpur misalnya. Atau lantai rumah kita penuh dengan debu. Bersih dari kotoran seperti inilah yang disebut dengan nadzafah.

Cara membersihkan kotoran jenis ini cukup diguyur air atau hal lain yang dapat menghilangkan kotoran tersebut.

THAHARAH adalah bersih dari najis dan hadas. Najis adalah juga kotoran fisik. Namun demikian kalau dihitung-hitung tingkat kekotoranya ia lebih kotor dari kotoran yang biasa.

Kotor dari kotoran biasa tidak menghalangi seseorang untuk beribadah. Tapi terkena kotoran najis menghalangi sahnya ibadah.

Kotoran yang disebut najis ini terbagi ke dalam 3 (tiga) jenis: berat (mughalazah), ringan (mukhaffafah), dan sedang (mutawasithah).

Najis mughallazah adalah air liur anjing. Cara membersihkan najis ini adalah dibasuh tujuh kali, basuhan pertama dicampur dengan debu.

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Thohuuri inaa-i ahadikum idzaa walaghol kalbu ayyaghsilahu sab’a marrootin uulahunna bitturoobin

Artinya: “Cara menyucikan bejana di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dicuci sebanyak tujuh kali dan awalnya dengan tanah.”(HR. Muslim).

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bagian anjing yang termasuk najis adalah jilatannya saja. Sedangkan bulu dan anggota tubuh lainnya tetap dianggap suci sebagaimana hukum asalnya. Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/616-620, Darul Wafa’, Cet. III, 1426 H).

Najis Mukhaffafah adalah kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain susu dan umurnya belum sampai 2 (dua) tahun. Cara untuk menyucikan najis ini adalah dengan diperciki air sampai merata.

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

Yughsalu min baulil jaariyyati wayurassyu min baulil ghulaami

Artinya: “Membersihkan kencing bayi perempuan adalah dengan dicuci, sedangkan bayi laki-laki cukup dengan diperciki.”(HR. Abu Daud dan An-Nasai).

Yang dimaksudkan di sini adalah bayi yang masih menyusui dan belum mengonsumsi makanan. Kencing bayi laki-laki dan perempuan sama-sama najis, namun cara menyucikannya saja yang berbeda. (Tawdhihul Ahkam, Syaikh Ali Basam, 1/176-177, Darul Atsar).

Najis Mutawassithah adalah najis selain air liur anjing dan kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain susu dan belum belum berusia 2 (dua) tahun. Contohnya seperti kencing manusia, tahi, binatang dan darah.

Sedangkan hadats adalah kotoran non fisik. Saya menyebutkan kotor spiritual level 1 (satu). Kotoran hadats kasat mata, tak bisa ditangkap panca indera. Bersih dari najis dan hadats biasa disebut suci. Saya menyebutnya suci level 1 (satu).

Kotoran yang bernama hadats ini juga dibagi 2 (dua) hadas kecil (asghar) dan hadas besar (akbar).

Hadats kecil disebabkan karena seseorang buang hajat, buang angin, atau menyentuh kemaluan. Cara membersihkannya adalah dengan berwudhu.

Hadats besar disebabkan karena seseorang bersetubuh atau keluar mani. Cara membersihkannya adalah dengan mandi besar.

TAZKIYYAH adalah bersih dari kotoran hati. Bersih dari kotoran jiwa. Kotoran jiwa itu sifatnya tentu saja non fisik/spiritual. Tapi lebih dalam lagi dari hadas. Saya menyebutnya kotor spiritual level 2 (dua).

Bersih dari kotoran hati juga sering disebut suci. Tapi sifatnya lebih abstrak/lebih mendalam lagi dibandingkan suci dari hadas. Saya menyebutnya suci level 2 (dua).

Kotoran hati disebabkan karena seseorang melakukan perbuatan tercela/maksiyat yang membuat dia menjadi bersalah/berdosa. Cara membersihkan kotoran ini adalah dengan cara bertubat dan meminta maaf.

Kotoran, baik yang fisik maupun non fisik akan mengganggu manusia. Membuat kehidupan tidak nyaman. Karena kotoran fisik, tubuh manusia bisa sakit. Demikian juga karena kotoran non fisik, jiwa manusia juga bisa sakit.

Bahkan keduanya bisa saling pengaruh mempengaruhi. Karena fisiknya kotor maka kemudian berpengaruh pada pikiran manusia, berpengaruh pada jiwa manusia. Bukan hanya fisik yang tidak nyaman. Tapi pikiran dan jiwa manusia menjadi terganggu.

Demikian juga karena mental dan jiwa seseorang kotor, jiwa diliputi oleh kesedihan dan resah yang mendalam. Akibatnya berpengaruh pada nafsu makan dan aktivitas fisik lain serta tubuhnya bisa menjadi sakit.

Oleh karenanya, kedua-duanya harus dijaga. Manusia harus bersih raga dan jiwanya. Harus sehat lahir dan batinnya. Begini baru hiduonya bisa seimbang. Karena itulah Islam sangat memperhatikan semuanya.

Allah SWT berfirman:

اِنَ اللهَ يُحِبُ التَوَابِيْنَ وَيُحِبُ اْلمُتَطَهِرِيْنَ

Innalloha yuhibbuttawwaabiina wa yuhibbul mutathohiriin

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.”    (QS. Al-Baqarah [2]: 222).

Rasulullah SAW pun bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

Athohuuru syathrul iimaan

Artinya: “Bersuci itu separoh keimanan.” (HR. Muslim)

Kapan manusia harus bersih dari kotoran-kotoran itu? Kapan saja. Setiap saat sebaiknya dia dalam kondisi bersih dan suci. Ini tentunya sangat bergantung pada kesadaran masing-masing orang.

Namun ada saat yang diharuskan agar manusia dalam kondisi bersih dari kotoran fisik dan non fisik, yaitu pada saat ia akan menghadap Allah. Pada saat ia akan beribadah, terutama shalat.

Rasulullah SAW bersabda:

لَايُقْبَلُ اللهِ الصَلَاةَ بِغَيْرِ طَهُوْرُ

Laa yaqbalulloohusholata bighoiri thohuurin

Artinya: “Allah tidak akan menerima shalat yang tidak dengan bersuci.” (HR. Muslim).

Saat akan melakukan ibadah shalat dan beberapa ibadah lain yang telah ditentukan, manusia harus dalam kondisi suci dari najis dan hadas.

Cara membersihkan najis sudah ada penjelasannya di atas. Cara membersihkan hadas, baik hadas kecil dan hadas besar. Ini juga sudah disinggung di atas. Cara membersihkan hadas kecil dengan berwudhu dan cara membersihkan hadas besar dengan mandi besar (mandi jinabat).

Namun cara wudhu dan cara mandi jinabat belum kita bahas secara detail. Nah, yang ini akan kita bahas pada tulisan yang berjudul: “Cara Membersihan Hadas”.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Tatacara Aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi. Secara sosiologis, aqiqah mempunyai peran penting …

Tinggalkan Balasan