Home / Ibadah / Hubungan Antara Ibadah dan Akhlak

Hubungan Antara Ibadah dan Akhlak

Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mempengaruhi tuturkata, sikap, dan perilaku kita sehari-hari. Seorang muslim yang ibadahnya baik, tapi perilakunya tidak baik, pasti ada kesalahan dalam memahami dan mengamalkan agamanya. Mungkin shalat dan seluruh ibadahnya ia jalankan hanya sekedar ikut-ikutan, sekedar adaptasi, hanya dijalankan sebagai syarat untuk menggugurkan kewajiban.

Ia tidak memahami dan menghayati ibadah yang ia jalankan. Ia berdiri, takbir, rukuk, dan seterusnya. Tapi hatinya kosong dari Allah. Ia hanya menjalankan rutinitas belaka. Dia tidak marasa berdiri di hadapan Allah.

Jika kita kembalikan pada definisi ibadah sebelumnya maka menjadi jelas. Ini karena ia tidak meniatkan dan mengikhlaskan aktivitas ibadahnya karena Allah. Wujudnya aktivitas ibadah, tapi sejatinya bukan ibadah karena kurang syarat: tidak ada niat karena Allah.

Atau mungkin ia adalah orang yang fanatik buta dalam memahami agamanya. Dia pikir agama hanya urusan akhirat, agama hanya soal kematian, hanya soal mengumpulkan pahala. Hal ini membaut semangat ibadahnya kehilangan relevansinya pada kehidupan dunia.

Padahal agama itu adalah jalan hidup (way of life). Agama adalah pranata kehidupan. Ia harus nyata dan fungsional dalam kehidupan. Jika tidak maka agama akan dibenci dan ditinggalkan orang.

Keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan Islam bukan hanya terletak pada kekuatan argumentasi dalam meyakinkan masyarakat bahwa Islam adalah “satu-satunya yang benar”.

Tapi karena Rasulullah SAW berhasil menunjukkan Islam sebagai solusi kehidupan. Rasulullah SAW menjadi model, menjadi teladan kebaikan (uswatun hasanah), bukan hanya penceramah kebaikan.

Karena itulah Rasulullah SAW kemudian bersbda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

Innamaa bu’itstu li-utammima shoolihal akhlak

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Hadits ini shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan lafadz ini dalam Musnad-nya 2/381, Imam Al Haakim dalam Mustadrak-nya 2/613, dan Imam Al Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad no. 273).

Akhlak mulia kata Rasul adalah tujuan utama beliau diutus di dunia. Akhlak mulia adalah salah satu buah nyata dari serangkaian amalan ibadah yang kita jalankan. Tentu bukan pula berarti: kalau begitu yang penting akhlak baik walaupun tidak beribadah.

Tentu saja bukan begitu. Ibadah dan akhlak adalah satu kesatuan. Jika kita kembali pada definisi ibadah di atas (klik: Pengertian Ibadah) tentu sangat jelas. Islam tak memisah-misahkan urusan dunia dengan akhirat semacam itu.

Semuanya harus dihambakan di hadapan Allah dan buah penghambaan itu harus berbuah pada pergaulan sosial, pada kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, orang yang saleh bukanlah orang yang hanya baik ibadahnya saja, atau hanya baik pergaulan sosialnya saja. Tapi kedua-duanya harus baik. Imam Ibnu Hajar berkata, orang salih adalah:

الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده

Al Qoo-im bimaa yajibu ‘alaihi min huquuqillah wa huquuqi ‘ibaadihi

Artinya: “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah.” (Fathul Bari, 2: 314).

Ibadah adalah pelatihan untuk menguasai inti jiwa kita agar menjadi jiwa yang tunduk, pasrah, sederhana, dan rendah hati. Dengan ini seorang muslim akan hadir menjadi penyejuk, pengayom, dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Hal ini selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏كَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

Walladzii nafsu muhammadin biyadihi, inna matsalal mu’mini kamatsalinnahlati, akalat thoyyiban wa wadho’at thoyyiban, wa waqo’at falam taksir walam tufsid

Artinya: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir).

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Khoirunnaas anfa’uhum linnaas

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289).

Semua ini bukan hanya omongan saja. Tapi Rasulullah SAW telah menjadi model nyata. Orang-orang kafir bahkan menjadi saksi kebaikan akhlak Rasulullah SAW.

Para sahabat yang hidup di sekeliling Rasulullah SAW menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Rasulullah adalah manusia terbaik akhlaknya.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقاً

Kaana rosuululloohi shollallohu ‘alaihi wasallam ahsanunnaasi khuluqon

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Tatacara Aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi. Secara sosiologis, aqiqah mempunyai peran penting …

Tinggalkan Balasan