Home / Ibadah / Kenapa Manusia Harus Beribadah?

Kenapa Manusia Harus Beribadah?

Saudaraku, pembahasan kali ini sangat erat hubungannya dengan 2 (dua) pembahasan sebelumnya: Pengertian Ibadah dan Pembagian Ibadah. Bagi yang belum membaca silahkan klik judul tersebut. Setelah memahami 2 pembahasan tersebut, kini saatnya kita bertanya: “Kenapa manusia mesti beribadah?” “Apa manfaat ibadah?”

Hal ini sangat penting agar kita tau maksud, tau tujuan dan manfaat dari ibadah. Dengan demikian nantinya kita menjadi lebih berkomitmen dan bersemangat dalam beribadah.

Orang yang makan buah-buahan sekedar makan, sama orang yang makan buah-buahan karena dia tahu manfaatnya tentunya lain. Seorang mahasiswa yang kuliahnya sekedar iseng, ikut-ikutan sama orang lain, sama mahasiswa yang tahu tujuan dan manfaat kenapa dia kuliah tentunya lain.

Demikian juga dengan ibadah. Orang yang tahu alasan kenapa dia harus beribadah, tau tujuan dan manfaatnya, tentu juga lain dengan orang yang ibadahnya hanya ikut-ikutan saja. Inilah pentingnya kita memahami dengan baik kenapa kita harus beribadah.

Pertanyaan ini termasuk pertanyaan filosofis. Karena itulah sebenarnya bisa saja muncul banyak jawaban tergantung kekuatan nalar dan kedalaman pemahaman agama masing-masing orang.

Karena itu di sini saya juga akan menjawabnya dengan kemampuan nalar yang saya miliki. Berbekal pengetahuan tentang filsafat dan pemahaman saya atas ajaran Islam selama ini. Ajaran yang saya tekuni mulai dari saat saya mengaji di mushala, pesantren, hingga perguruan tinggi.

Berkenaan dengan pertanyaan “Mengapa manusia harus beribadah?” di atas, di sini saya akan memberikan 4 (empat) macam jawaban. Saya akan mulai dari yang paling sederhana.

Pertama, karena beribadah itu perintah Allah. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِىْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ   21۝ۙ

Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 21).

Saya ulangi lagi, kenapa kita beribadah? Jawabnya adalah karena itu perintah Allah. Inilah jawaban yang paling sederhana. Jawaban ini mudah diterima oleh orang awam.

Karena semua perintah Allah kan wajib ditaati, sedangkan Allah menyuruh kita beribadah. Maka jelas sekali bahwa kita juga harus taat atas perintah itu. Jika taat kita akan mendapat pahala, dan jika tidak taat kita akan disiksa di neraka.

Betul. Alasan ini bisa diterima pula. Orang awam ini cukup yakin saja bahwa apa-apa yang disuruh Allah pasti ada manfaatnya buat dirinya. Itu saja yang ia paham.

Memang betul. Ibadah itu sangat sederhana. Hanya butuh iman dan komitmen dalam menjalankan. Itu bisa dipahami dan dilakukan oleh siapa pun.

Apakah ada syarat shalat kita mesti paham arti bacaan-bacaan yang kita baca? Tidak, kan? Tapi sah, kan? Allah pun menerimanya. Allah melihat ke dalam ketulusan hati hambaNya. Itu saja sudah cukup.

Tapi bagi orang yang lebih terdidik, jawaban macam ini tentunya tidak memuaskan akal pikirannya. Ia butuh jawaban yang lebih logis daripada ketimbang sekedar “karena itu perintah Allah”.

Kedua, karena kita butuh komunikasi dengan Allah. Kita percaya ada Allah. Kita percaya bahwa Dia-lah yang mengatur alam semesta ini. Dia-lah “bos” kita semua. Apa saja jika Dia mau pasti mudah saja terjadi.

Nah, bisa dibayangkan betapa pentingnya kita dekat dengan Dia. Bicara dengan Dia. Minta bantuan dan bimbinganNya. Betapa enaknya jika kita dekat dengan “bos” alam semesta ini. Jika saja kita bisa bicara secara langsung denganNya sungguh membahagiakan.

Nah, kabar baiknya ternyata bisa. Kita bisa bicara denganNya. Bisa dekat denganNya. Bahkan Dia sendiri yang suruh agar kita senantiasa datang dan konsultasi denganNya. Coba buka QS. Thaha [20]: 14.

Bahkan Dia sendiri yang membocorkan rahasia tentang trik-trik bagaimana dekat denganNya sehingga Dia akan memberikan segala kemudahan hidup. Lihat misalnya QS. Al Isra [17]: 79.

Semua cara untuk dekat dengan Allah dan berkomunikasi dengannya adalah ibadah. Shalat, ibadah utama umat Islam, adalah media komunikasi dengan Allah secara langsung.

Bagi yang paham arti bacaan shalat, dia pasti paham betapa shalat itu sangat indah. Kita benar-benar sedang bercakap-cakap dengan Allah.

Nah, jawaban kedua ini sudah setingkat lebih tinggi. Kita melakukan ibadah tidak sekedar karena taat perintah. Tapi kita memahaminya sebagai sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan Allah.

Ketiga, karena kita butuh energi spiritual untuk mengisi jiwa kita. Apa urusannya ibadah dengan energi spriritual? Mari saya jelaskan.

Begini, manusia itu terdiri dari raga dan jiwa. Terdiri dari jasad dan ruh. (Lihat QS. As-Sajdah [32]: 7-10). Tapi mana yang asli coba? Jasad atau ruh? Ternyata ruh. Jasad hanyalah kerangka sementara untuk ruh. Ruh bersifat kekal. Ketika jasad mati, ruh akan terus berjalan menuju alam terakhir.

Oleh karenanya, karena manusia terdiri dari 2 unsur tadi, maka tentu saja kita juga harus memperhatikan 2 unsur tersebut. Jika raga/jasad mesti kita jaga kesehatannya, demikian juga ruh. Jika jasad kita kasih makan, demikian juga ruh.

Mengabaikan ruh berarti kita menyalahi rumus penciptaan diri kita. Kita mengabaikan salah satu unsur terpenting dalam diri kita. Mengapa terpenting? Karena yang kekal justru ruh tadi. Artinya raga bolehlah sakit. Tapi ruh harus senantiasa sehat. Itu prinsip yang benar.

Setiap yang kita lakukan dalam kehidupan ini harus sampai pada raga dan ruh. Yang sampai pada raga itu materinya. Yang sampai pada ruh itu energi spiritualnya.

Ambil contoh makan bakso. Apakah bakso ini bisa sampai pada ruh? Bisa. Caranya baca bismillah saat akan makan bakso. Niatkan ibadah. Dengan demikian kita dapat menangkap energi spiritualnya. Baksonya secara materi sampai pada raga kita, energi spiritual dari bakso nyampai pada ruh.

Nah, ketemu sekarang. Jadi dengan pemahaman seperti ini, ternyata ibadah adalah cara untuk mengubah materi menjadi energi spiritual. Ini penting kita lakukan agar jiwa kita sehat. Agar ruh kita sehat. Agar hidup kita seimbang dan akhirnya bahagia.

Keempat, karena ibadah adalah rumus alam semesta. Allah menciptakan seluruh alam raya ini satu paket dengan panduannya. Satu paket dengan rumus-rumus tentang bagaimana cara menjalani kehidupan dengan dengan baik sehingga mencapai tujuan hidup: bahagia.

Allah-lah yang membuat aturan-aturan bagi alam semesta ini. Sebagian aturan semesta alam ini ada memang yang bisa diketahui manusia. Manusia dapat menemukan teori-teori ilmiah yang ada dalam alam semesta ini.

Namun lebih banyak lagi yang manusia tidak ketahui. Buktinya hingga hari ini, di saat tekonologi sudah mencapai titik puncaknya, problem manusia tak kunjung selesai. Hidup ini terus menyajikan berbagai persoalan yang tak berujung.

Ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh seiring dengan munculnya masalah-masalah baru. Tujuan hidup untuk mencapai kebahagiaan yang telah ditegaskan oleh para filosof dan para pelatak dasar-dasar ilmu pengetahuan tak kunjung tercapai.

Kenapa bisa demikian? Karena kita menyalahi aturan Allah. Hidup kita tidak sesuai dengan rumus yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta Kehidupan. Kita tidak mentaati Allah secara total. Kita salah arah. Kita salah menentukan tujuan hidup.

Sudah kita ketahui bersama bahwa pada umumnya tujuan hidup adalah soal dunia. Kebahagiaan adalah kebahagiaan dunia. Di sinilah letak kesalahannya. Hidup ini kita abdikan untuk mengejar-ngejar materi.

Lalu apa untuk apa seharusnya hidup ini kita abdikan? Mari kita lihat apa kata Allah, Tuhan yang merumuskan kehidupan beserta isinya ini:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ  56؀

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).

Allah menyatakan dalam ayat di atas bahwa hidup ini adalah untuk beribadah. Ke sinilah seharusnya aktivitas hidup kita arahkan. Semua yang kita lakukan adalah dalam rangka menghamba kepadaNya. Seluruh aktivitas kita didorong oleh motivasi ini.

Inilah yang kita selalu ucapkan dalam shalat: “Sesungguhnya sholat dan ibadahku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).” (QS. al-An’am: 162-163).

Tujuan akhir yang akan dicapai sama: kabahagiaan. Tapi kebahagiaan akhirat. Inilah tujuan tertinggi kehidupan.

Apakah tidak boleh punya tujuan bahagia dunia? Boleh. Tapi itu bukan tujuan akhirnya. Itu hanya sarana untuk mencapai tujuan akhir. Kalau berhenti sampai di situ kita menyalahi rumus Allah. Yang ada kita sibuk dengan dunia. Tapi tidak bahagia.

Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah SAW:

Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya maka Allah akan menyatukan urusannya, dan menjadikan berkecukupan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 3313 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shohiihah, no. 950).

Nah, jawaban keempat ini kita memahami bahwa ternyata ibadah adalah paket aturan Allah yang harus dijalani agar mencapai hidup bahagia sejati. Dan.. ibadah ternyata adalah tujuan tertinggi kehidupan.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Tatacara Aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran bayi. Secara sosiologis, aqiqah mempunyai peran penting …

Tinggalkan Balasan