Home / Refleksi Mahasiswa / Jangan Jadikan Keterbatasanmu sebagai Penghalang Kesuksesanmu

Jangan Jadikan Keterbatasanmu sebagai Penghalang Kesuksesanmu

Oleh: Wanda Wahida dan Riri Rohima (Mahasiswa FIKES UHAMKA Semester-2)

Pada hari senin tanggal 9 Juli 2018 kami mewawancarai seorang dosen yang bekerja di UHAMKA. Bapak tersebut bernama Purwadi, anak terakhir dari 8 bersaudara.

Beliau adalah anak dari seorang petani dan penjual beras. Ayahnya berprofesi sebagai petani di daerah Klaten dan ibunya berprofesi sebagai seorang pedagang/penjual beras.

Kedua orangtua beliau buta huruf. Selama sebulan penuh penghasilan mereka kurang lebih dua puluh ribu rupiah.

Dalam keluarga Pak purwadi mempunyai kebiasaan baik yaitu berpuasa sunnah pada hari senin dan kamis.

Hal tersebut selain menanamkan nilai keagamaan juga membantu  untuk menghemat pengeluaran agar semua anak dapat tercukupi kebutuhannya dengan penghasilan yang tergolong cukup rendah. Orangtua Pak Purwadi percaya bahwa semuanya sudah Allah atur, termasuk rejeki.

Dari 8 bersaudara tersebut, hanya Pak Purwadi yang melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi dan bekerja sebagai pegawai negeri. Saudara-saudara beliau tidak ada yang melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi dikarenakan keterbatasan ekonomi dan kurangnya kemauan untuk belajar.

Salah satu saudara beliau pernah mencoba untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, namun terhambat biaya. Semua saudara sangat mendukung dan merasa bangga dengan kepandaian dan kegigihan Pak Purwadi.

Beliau memberanikan diri untuk kuliah agar bisa menjadi orang berguna dan dapat dibanggakan kedua orang tuanya.

Di masa kecil, pekerjaan sehari-hari Pak Purwadi adalah mengurus bebek. Saat itu adalah masa dimana anak-anak senang bermain. Pak Purwadi kecil hampir tidak punya waktu untuk bermain seperti teman-teman sebayanya.

Beliau lebih senang mengisi waktu luang dengan belajar dan mengaji di sebuah mushala di desanya mulai dari ba’da ashar sampai maghrib.

Sejak kecil beliau sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Untuk mencapai cita-citanya, selain belajar beliau juga selalu berdoa di setiap shalatnya agar kelak cita-citanya tersebut dapat tercapai.

Berkat usaha kerasnya, sejak SD beliau selalu mendapatkan peringkat kelas, bahkan saat SMP beliau mendapatkan peringkat 2 dari satu sekolah. Kemudian melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di Solo. Alasan terbesar beliau memilih kota solo adalah dekat dari rumah dan menghemat biaya kosan.

Karena beliau sangat suka bersosialisasi maka beliau mengikuti hampir semua kegiatan orgaisasi di kampus kecuali organisasi MENWA, karena beliau memandang senior-seniornya yang ikut organisasi tersebut tidak lulus-lulus maka beliau tidak mau mengikuti organisasi tersebut.

Hal tersebut tidak menghambat waktu belajar beliau, beliau dapat membagi waktunya antara belajar, berorganisasi, dan beribadah.

Menurut beliau pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan hidup yang beliau alami adalah adalah jangan pernah berputus asa dalam berusaha mencapai cita-cita karena dalam setiap usaha yang kita lakukan selagi itu masih di jalan Allah.

Allah pasti akan memberikan jalan terbaik bagi hambaNya yang mau berusaha dan bersabar. Beliau lebih suka membantu/memberi daripada meminta. Beliau tidak bisa melihat orang susah, karena beliau akan ingat masa kecilnya.

Beliau memiliki dua orang anak. Sehubungan dengan hal ini beliau punya manajemen khusus dalam membelanjakan haratnya yaitu: satu pertiga untuk anak pertama, satu pertiga untuk anak ke dua dan satu pertiga lagi akan digunakan di jalan Allah.

Kebiasaan beliau di bulan suci ramadhan adalah mengkhatamkan al-Quran. Namun pada bulan suci Ramadhan pada tahun ini (tahun 2018) beliau tidak memiliki target untuk mengkhatamkan al-Quran, melainkan membacanya dengan memahami terjemahannya.

Beliau merasa itu akan lebih memberikan bekas di hati. Beliau sadar sebagai manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Untuk itu manusia harus kembali ke fitrah dengan cara minimal shalat taubat satu kali, kalau sempat dua kali, siang dan malam. Malamnya beliau rutin menjalankan shalat taubat, shalat tahajud, shalat hajat, shalat mutlaq dan shalat witir.

Sebelum tidur beliau rajin membaca surat al-Mulk agar terhindar dari siksa kubur dan siksa-siksa yang lainnya.Beliau dan keluarga memiliki visi tidak hanya berbahagia dan sejahtera di dunia tetapi nanti di akhirat juga harus masuk surga bersama-sama.

Beliau percaya, jika cita-citanya tidak tercapai dikarenakan masalah ekonomi, akan ada jalan lain menuju kesuksesan, karena segalanya yang ada di bumi dan di langit sudah diatur oleh Allah. Orangtua beliau juga sudah menanamkan nilai keagamaan sejak beliau kecil agar dapat menjadi suatu kebiasaan.

Jika kita percaya akan kebesaran Allah, maka dalam situasi sesulit apapun kita akan diberikan kemudahan dan janganlah kita sekali-sekali mengeluh, bisa saja Allah menjadikan musibah tersebut sebagai bahan untuk memotivasi orang tersebut agar menjadi manusia yang lebih kuat dan menyearahkan segala urusannya serta mengadu hanyalah kepada Allah SWT.

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan