Home / Tips Keluarga Sakinah / Cintamu pada Istrimu Jangan Melebihi Cintamu pada Tuhanmu

Cintamu pada Istrimu Jangan Melebihi Cintamu pada Tuhanmu

Apakah anda sering tidak bisa menahan emosi? Apakah anda tidak bisa mengendalikan amarah? Apakah anda sering marah-marah pada istri? Jika  iya, maka teruskan baca tulisan ini. Karena saya akan menunjukkan kepada anda salah satu penyebab utamanya.

Dan… yang terpenting apa yang saya katakan adalah bukan menurut saya. Tapi perspektif Islam. Perspektif ajaran Rasulullah SAW, sang pemimpin besar umat manusia. Inilah yang saya pahami dari merenungkan ajaran-ajaran Rasul tercinta.

Penyebab utamanya adalah:

ANDA MENCINTAI ISTRI ANDA LEBIH DARI CINTA ANDA PADA TUHAN ANDA, ALLAH SWT.

Inilah pesan Rasulullah yang sangat simpel tapi sungguh luar biasa:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Apa hubungannya antara marah-marah pada istri dengan cinta Allah SWT?

Mari saya jelaskan.

Salah satu sumbu utama kehidupan berumah tangga adalah adanya rasa cinta. Rasa cinta ini membuat ikatan keharmonisan satu sama lain. Ikatan keharmonisan itu membuat satu sama lain terikat dalam ketergantungan. Semakin terikat semakin tergantung.

Sampai sini pahami dulu. Coba baca sekali lagi.

Ok. Saya ulangi yang terakhir: semakin terikat semakin tergantung. Semakin besar cinta pada istri, semakin bergantung pula anda pada istri.

Cinta anda pada istri tentunya didasarkan atas sesuatu yang menarik perhatian anda. Atau dengan kata lain istri anda memenuhi harapan anda. Istri anda sesuai dengan apa yang anda inginkan.

Berarti, jika hal-hal yang menarik itu hilang, atau istri anda tak lagi memenuhi harapan anda, maka di situ cinta anda memudar. Padahal hal itu sangat mungkin bahkan pasti terjadi.

Di situ mulai timbul rasa kesal. Lalu anda marah. Dan.. anda tidak bisa mengendalikan emosi lantas kemudian membuat anda menjadi sering marah-marah pada istri.

Kenapa bisa begitu? Apa sebabnya?

Sebab secara psikologis anda kehilangan tempat bergantung. Kehilangan tempat mengikatkan diri yang membuat anda merasa tenteram.

Ini semua sebab apa?

Sebab anda terlalu bergantung pada istri anda. Sebab cinta anda kepada istri mendominasi jiwa anda. Sebuah cinta yang salah bagi seorang muslim dimana seharusnya cintanya kepada Allah SWT melebihi apapun, termasuk istri anda.

Di sinilah anda mesti memperbaiki cinta anda. Cinta yang on the track. Sebuah cinta yang diridhai Allah SWT. Cinta yang akan menjadi fondasi utama kokohnya keluarga anda.

CINTA YANG MELEBIHKAN CINTA KEPADA ALLAH MELEBIHI CINTA ANDA KEPADA ISTRI ANDA.

Lantas apa yang dimaksud cinta pada Allah lebih besar daripada cinta pada istri?

Baiklah, saya memberikan ciri sederhananya saja, ya. Sebuah ciri/pertanda yang mudah kita lakukan.

Tandanya adalah kita cinta kepada istri, dan cinta kita itu tidak melalaikan kita pada Allah SWT.

Ah, itu mah sudah klise. Selama ini saya tetap shalat.Tapi kenyatannya?

STOP! Betul. Kita memang shalat. Tapi apakah shalat kita penuh makna? Apakah kita shalat dengan penuh semangat  dan senantiasa senang beribadah? Apakah shalat kita penuh cinta, harapan, dan ketergantungan kepadaNya?

Apakah kita senantiasa teringat Allah dan rindu kepadanya, rindu menjumpaiNya dalam shalat kita?

Yang sering terjadi adalah kita memang shalat, tapi sebenarnya kita lalai pada Allah. Karena itulah shalat kita tak berbekas pada jiwa kita.

Kita shalat, tapi yang ada dalam pikiran kita adalah harta kita, anak kita, dan.. istri kita.

Itu artinya sebenarnya kita tidak punya rasa cinta pada Allah. Sejatinya anda lebih cinta pada istri anda.

Ah, nggak juga. Saya nggak cinta-cinta amat sama istri saya.

Astaghfirullah… itu artinya anda kehilangan kedua-duanya. Pantas saja  kalau rumah tangga panas penuh konflik. He, he….

Lalu bagaimana?

Perbaiki cinta anda pada Allah SWT.

Bagaimana cara memperbaikinya? Sederhanya adalah lakukan shalat lima waktu dengan penuh penjiwaan.

Sederhananya seperti  itu.Tapi jika itu tidak cukup bagi anda. Atau anda tidak bisa, berarti anda butuh bimbingan. Datanglah pada orang saleh yang mampu membimbing ibadah anda.

Lalu apa hubungannya cinta kepada Allah dengan menurunnya kadar emosi? Apa hubungannya pula dengan cinta kepada istri?

Begini, kalau cinta anda kepada Allah melebihi cinta anda kepada istri, pada saat istri anda mengecewakan anda, tidak sesuai dengan harapan anda, di situ anda tetap punya kendali.

Anda tidak kehilangan ikatan dan tempat bergantung. Karena anda punya Allah SWT, tuhan yang tak pernah mengecewakan anda.

Rasa kesal  dan kekecewaan anda pada istri bisa anda sembuhkan dalam shalat anda. Anda bisa bicarakan pada Allah SWT dan meminta pertolonganNya.

Di situlah marah reda, dan anda bisa mengendalikan emosi. Sebuah pengendalian diri yang akan menopang keharmonisan rumahtangga anda.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan