Home / Refleksi Mahasiswa / Keteguhan Iman sebagai Kekuatan dalam Menghadapi Ujian

Keteguhan Iman sebagai Kekuatan dalam Menghadapi Ujian

Oleh:

Diska Irena Putri dan Tiara Dwi Angraini

(Program Studi Kesehatan Masyarakat Semester 2-C)

 

Namanya Ibu Taswen. Ia hidup berdua dengan suami. Pekerjaan sehari hari jualan jajanan anak anak seperti es campur, mie, nugget dan sebagainya. Itu dilakukan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari ia dengan suami berjualan nasi uduk malam di pinggir jalan sekitaran Hj. Aom, sekitar pukul 01.00 – 02.00 malam.

Ia dan suami tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sangat sederhana, yang setiap bulannya harus membayar Rp. 400.000,- untuk biaya kontrakan. Suaminya adalah juga seorang satpam.

Mereka memiliki satu orang anak laki laki yang berusia 24 tahun. Anak ini bekerja di restoran sebagai koki. Penghasilan anaknya sebulan sekitar Rp. 4.000.000,-. Namun sungguh malang. Baru bekerja 3bulan di restoran tersebut anak ini terkena penyakit maag kronis dan diabetes melitus (DM).

Ibu Taswen dan suaminya sudah mencoba berbagai cara untuk kesembuhan anaknya. Tetapi Allah berkehendak lain. Sekitar 2 tahun lalu, tepat pada saat anaknya berusia 24 tahun, ia harus kehilangan anaknya untuk selamanya. Kini ia hanya hidup berdua dengan suami. Ia sangat terpukul karna kehilangan satu satunya anak yang ia cintainya.

Untuk mengobati kesedihan, ia kemudian mengasuh anak dari salah seorang tetangganya. Kini anak tersebut telah dirawatnya sekitar 10 tahun. Anak tersebut sudah dirawat sejak bayi sampai sekarang. Ia sudah menganggap anak tersebut seperti anak sendiri.

Ibu Taswen sangat memperhatikan pendidikan anaknya (anak angkatnya). Ia selalu membingya mengaji. Menurutnya pendidikan yang pertama dan utama untuk anak adalah agama.

Ibu Taswen adalah sosok yang taat beragama. Meskipun beliau sibuk berjualan, ia tidak pernah meninggalkan shalat. Bahkan ketika ia sedang menjalankan ibadah atau shalat ketika ada yang membeli beliau tetap tidak meninggalkan shalatnya.  Ia juga sosok yang ramah dengan tetangga. Ia dan suaminya bergaul dengan baik dengan tetangga.

Pada saat kami untuk kedua kalinya mendatangi rumahnya, ia sedang tertidur lelap dengan hanya beralaskan karpet tipis. Kami pun sangat tersentuh melihatnya. Sedangkan suaminya sedang memasak nasi uduk untuk berjualan nanti malam.

Suaminya yang katanya sengaja menyuruh Ibu Taswen untuk tidur karena ia kasihan kalau harus jualan semalaman sedangkan siangnya mesti memasak dan mempersiapkan dagangan. Padahal jika dilihat, suaminya sudah terlihat sangat tua dan lelah tetapi beliau tetap bersemangat menjalaninya.

Hari itu kami belajar banyak tentang arti keteguhan iman dan ketabahan dalam menjalani hidup dari Ibu Tawen dan keluarganya. Keteguhannya dalam beribadah tampak menjadi kekuatan utama bagi keluarga ini dalam menjalani ujian hidup. Semoga kami dapat meneladani mereka.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan