Home / Refleksi Mahasiswa / Belajar tentang Sabar dan Syukur dari Seorang Petugas Kebersihan 

Belajar tentang Sabar dan Syukur dari Seorang Petugas Kebersihan 

Oleh:

Agus Poniman Maulana, Aditya Nugroho, Mutiara Shelvi Anastasya, Saras Legiawati

(Program Studi Kesehatan Masyarakat Semseter 2-C)

 

Massan adalah anak paling tua di keluarganya dari 3 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak di pasar yang penghasilannya tidak seberapa. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.

Massan asli orang Betawi. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sejak kecil ia selalu diajarkan apa arti bersyukur dan bersabar oleh kedua orang tuanya. Ibunya meninggal ketika ia masih berumur 10 tahun. Selang 3 setelah kematian ibunya, ayahnya pun menyusul meninggal karena sakit paru-paru.

Setelah kejadian duka itu, ia ingat amanat dari ayahnya  sebelum meninggal agar ia menjaga adik-adiknya dan marawatnya. Peninggalan terakhir dari orang tuanya adalah rumah mungil dan becak yang biasa digunakan oleh ayahnya untuk mengais rezeki.

Sejak itu berjuang keras mengurus adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah, karena keadaan ekonomi yang sangat sulit. Ia sendiri memilih untuk tidak melanjutkan sekolah demi adik-adiknya.

Ia berjualan es mambo di pasar, ditemani oleh adiknya yang bernama Sani, yang baru berumur 5 tahun. Es yang dijualnya adalah milik bibinya, yang jika laku semuanya hasilnya akan di bagi dua. Ia tidak pernah mengeluh. Semuanya ia jalani dengan sabar dan penuh syukur.

Untuk menambah penghasilan, ia memilih kerja sampingan sebagai tukang becak di pasar Deprok,  sekaligus menjualkan es mambonya kepada para pelanggan. Penghasilan yang didapat ia gunakan dengan hemat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membiayai adik-adiknya.

Kunci utama dalam menghadapi hidup menurutnya adalah bekerja keras, bersyukur, dan senantiasa berdoa kepada Allah. Kalau yakin kepada Allah, maka Allah menurutnya pasti akan memberi pertolongan.

Di sekitar pasar Depok, ia dikenal sebagai orang yang baik, tidak sombong, dan tak mudah mengeluh, ulet dan rajin. Terkadang jika pasar sudah sepi, beliau membersihkan sampah yang berserakan di daerah sekitar pasar. Tanggungjawab untuk mengurus adik-adiknya menjadi motivasi tersendiri untuk giat bekerja dan pantang menyerah.

Setelah 2 tahun menjadi tukang becak dan penjual es mambo, akhirnya ia mendapat pekerjaan yang tetap walau hanya menjadi petugas kebersihan di pasar. Semua ini buah dari kerajinan dan kerja keras yang ia lakukan.

Ia diberi kepercayaan oleh Pak RT untuk menjadi petugas kebersihan, menjaga lingkungan di sekitar pasar agar tetap bersih. Ia sangat senang dan tak henti-hentinya terus bersyukur atas rahmat yang diberikan oleh Allah SWT di setiap detiknya.

Sampai akhirnya apa yang ia impikan tercapai, menyekolahkan adik-adiknya. Alhamdulillah, dari uang yang beliau sisihkan setiap bulannya, ia bisa membiayai adiknya sekolah hingga tamat SMA.

Setelah beberapa tahun fokus dengan menyekolahkan adik-adiknya, akhirnya ia menikah dengan wanita asal Betawi yang bernama Maruyah. Ia adalah anak dari salah satu tukang sayur yang biasa jualan di pasar. Ia dikaruniai 4 orang anak.

Drai kisah Pak Massan ini, kami belajar banyak tentang pentingnya bekerja keras, syukur, dan tawakal kepada Allah. “Tetaplah bersyukur walau nikmat yang didapat tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jangan mengeluh atas apa yang sudah Allah berikan.” Demikian pesan Pak Massan kepada kami.

Belajarlah menjadi manusia yang pandai bersyukur agar engkau tidak pernah merasa kurang atas apa yang telah Allah berikan. Ingat, hidup itu perjuangan. Maka berjuanglah dengan rasa sabar dan syukur. Allah mungkin tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan. Innallaha ma’ashabirin: sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. “[]

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan