Konsep Keluarga Sakinah

PENDAHULUAN

Berkeluarga itu tidak mudah. Banyak orang yang memasuki kehidupan keluarga hanya semata-mata kebutuhan dan naluri biologis. Tidak tau ilmunya. Tau hakikat dan tujuan pernikahan. Tak tau bagaimana cara membangun keluarga yang harmonis, keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Akibatnya keluarga sering dilanda konflik. Ujung-ujungnya cerai. Karenanya sebelum memasuki pernikahan kita mesti tau ilmunya agar kita dapat membangun keluarga yang harmonis sesuai dengan tuntutan ajaran Islam.

DEFINISI KELUARGA SAKINAH

Keluarga yang harmonis dalam Islam disebut dengan istilah keluarga sakinah. Inilah sasaran utama dibentuknya keluarga. Atau lengkapnya adalah keluarga sakinah, mawaddah, warahmah (SAMARA). Konsep ini berdasarkan atas firman Allah SWT:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum/30:21).

Menurut Erich Fromm, psikolog ternama asal Jerman, manusia mempunyai sifat dualisme. Manusia adalah pribadi yang mandiri, sendiri, tetapi manusia juga tidak bisa menerima kesendirian. Untuk mengobati kesendiriannya itu ia harus menyatu dengan yang lain.

Penjelasan Fromm ini sesuai dengan ayat di atas yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan berpasangan. Dengan berpasangan manusia akan terhindar dari rasa kesepiannya.

Keluarga adalah titik tengah antara dunia publik dan dunia privat yang dapat mewadahi sifat dualisme manusia tersebut. Di dalam keluarga ini manusia dapat mengekspresikan dirinya dalam batas-batas yang pas. Tidak terlalu privasi, juga tidak terlalu publik.

Sekarang mari kita lanjut pengertian dari ketiga istilah: sakinah, mawaddah, warahmah ini. Tujuan pembahasan ini adalah memahami secara sederhana dan dapat diterapkan dalam kehidupan. Karena itulah saya tidak akan membahas secara mendalam dengan istilah yang rumit-rumit.

Sakinah artinya tenang. Mawaddah artinya cinta. Rahmah artinya kasih sayang. Dengan demikian keluarga sakinah bisa diartikan sebagai keluarga yang tenang dan bahagi yang diliputi dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Mawaddah dan rahmah sebenarnya satu paket yang artinya mirip yaitu cinta kasih. Seperti kasih-sayang, sopan santun. Tapi kalau mau dibeda-bedakan, rahmah itu lebih dalam dari mawaddah.

Mawaddah cinta yang didasarkan atas naluri biologis, cinta yang punya pamrih. Kalau menurut Fromm disebut cinta erotik. Orang sekarang menyebut jatuh cinta (falling in love).

Rahmah itu cinta sejati. Dia mencintai dengan segenap penghayatan. Bukan hanya karena tertarik secara fisik, bukan hanya tuntutan biologis. Tapi ada rasa cinta yang melampaui semua itu. Dapat menerima satu paket antara kekuarangan dan kelebihannya. Cinta yang mampu bertahan dalam derita dan ujian. Fromm menyebutnya cinta yang stabil (standing in love).

Hal ini selaras dengan penjelasan pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab. Menurutnya untuk menuju kemantapan cinta ini menurut M. Quraish Shihab, sepasang suami istri akan melewati beberapa tahap (catatan: penjelasan masing-masing tahap adalah kesimpulan pemahaman saya sendiri):

  1. Tahap bulan madu.

Inilah tahap awal dimana sepasang suami istri baru saja menikah. Mereka sedang dilanda mabuk kepayang satu sama lain. Namun pada tahap ini cinta mereka sebenarnya masih banyak didominasi oleh syahwat, cinta erotik.

  1. Tahap gejolak.

Pada tahap ini satu sama lain mulai mulai marasa bosan. Ada rasa ketidakpuasan satu sama lain. Beberapa hal yang tidak disukai yang awalnya tidak diketahui di sini mulai muncul. Maka timbullah konflik.

  1. Tahap negosiasi.

Inilah tahap dimana masing-masing diuji bagaimana menyelesaikan persoalan yang ada. Inilah ujian pertama untuk rumah tangga mereka. Di sini pula niat awal menikah dan prinsip-prinsip agama menjadi sangat penting. Orang yang menikah hanya karena tuntutan hawa nafsu, hanya karena cinta yang erotik tadi cenderung tak bisa menghadapi masalah. Namun orang yang niat nikahnya karena Allah maka dia dapat mengantisipasi persoalan itu dengan baik.

  1. Tahap penyesuaian.

Pada tahap ini masing-masing saling introspeksi. Masing-masing kemudian melakukan pembenahan atas diri mereka masing-masing. Mereka telah keluar dari ujian pertama. Kini keduanya telah menemukan arah hidup yang stabil.

  1. Tahap peningkatan kasih sayang.

Di sinilah mulai timbul rasa kasih sayang yang baru. Cinta dan kasih sayang yang tidak lagi hanya didasarkan pada syahwat biologis. Tapi cinta yang stabil. Cinta yang dilandasi atas komitmen dan tanggungjawab untuk terus bersama mengarungi bahtera rumah tangga.

  1. Tahap kemantapan (inilah tahap cinta yang mantap/rahmah).

Inilah tahap dimana keduanya telah sampai pada cinta yang benar-benar mapan. Ini adalah tahap klimaks dari tahapan kelima di atas. Cinta yang bersandar pada komitmen di hadapan Allah. Cinta yang kemudian merajut komitmen hidup bersama untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Cinta yang mengarahkan keduanya tidak hanya pada visi hidup di dunia. Tapi juga akhirat.

Penjelasan di atas adalah penjelasan definisi keluarga sakinah dari aspek bahasa (etimologi). Selanjutnya yuk kita bahas definisi keluarga sakinah secara istilah (terminologi):

Kita dapat menjumai beberapa definisi sebagai berikut:

Keluarga sakinah adalah keluarga yang tenang dan tentram, rukun dan damai. Dalam keluarga itu terjalin hubungan mesra dan harmonis, diantara semua anggota keluarga dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. (Hasan Basri, Membina Keluarga Sakinah, cet. IV, (Jakarta: Pustaka Antara, 1996), h. 16.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi, serta mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak. (Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Nomor: D/7/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah Bab III Pasal 3).

Kalau kita perhatikan, definisi kedua ini lebih lengkap dan memadai. Tapi dari definis kedua ini, kalau terasa kepanjangan, esensinya sebenarnya dapat disingkat lagi:

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya.

Definisi ini sudah selaras dengan ajaran Islam dan dapat diturunkan menjadi indikator yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi untuk memudahkan, tanpa mengurangi esensi definis di atas, saya akan menyingkat kembali menjadi:

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual, material, dan sosial secara layak dan seimbang.

Definisi ini telah menggambarkan indikator yang mengarah pada terwujudnya keluarga sakinah yaitu meliputi beberapa aspek: (1) aspek hukum/legalitas pernikahan, (2) aspek spiritual, (3) aspek material, (4) aspek sosial.

Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut:

ASPEK-ASPEK KELUARGA SAKINAH

Saya ulangi lagi sedikit, ya. Keluarga sakinah adalah keluarga yang tenang, keluarga yang harmonis, keluarga bahagia atau apapun istilah yang Anda pakai. Sekarang pertanyaan pentingnya adalah apa syarat keluarga sakinah? Unsur-unsur/aspek apa saja yang harus dipenuhi agar keluarga sakinah terwujud?

Agar lebih clear, sekarang saya mau tanyakan sebaliknya: apa saja masalah-masalah yang sering terjadi dalam rumah tangga, coba?

Perselingkuhan karena pasangan merasa tak cinta lagi atau hal-hal lain yang menyangkut komitmen hidup bersama. Betul, ya? Kemiskinan, tidak bisa mencukupi kebutuhan papan, sandang, pangan. Betul? Berantem sama tetangga. Betul, ya?

Nah, oleh karena itu definisi di atas memuat 4 aspek dasar yang merupakan antisipasi dari masalah-masalah pokok tersebut sehingga definisi keluarga sakinah menjadi agak panjang, yaitu: Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual, material, dan sosial secara layak dan seimbang.

Sekali lagi diulang, 4 aspek tersebut adalah:

  1. Pernikahan yang sah.
  2. Dapat memenuhi kebutuhan spiritual.
  3. Dapat memenuhi kebutuhan material.
  4. Dapat memenuhi kebutuhan sosial.

Inilah keempat aspek yang harus dipenuhi. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu per satu.

Pertama, pernikahan yang sah.

Keluarga sakinah harus dibangun melalui pernikahan yang sah menurut hukum Islam. Jadi tidak ada istilah keluarga kumpul kebo disebut sakinah. Meskipun mungkin secara materi berkecukupan. Sah nya pernikahan sesuai dengan hukum Islam ini sebenarnya bukan semata-mata pemenuhan aspek hukum/legal yang bersifat formal.

Tapi merupakan langkah awal untuk memulai pernikahan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan Allah. Menikah bukan hanya mengambil tanggungjawab antara kedua pasangan dan keluarganya. Tapi berikrar di hadapan Allah SWT. Lurusnya niat inilah yang akan menjadi titik awal terbentuknya keluarga sakinah.

Kedua, dapat memenuhi kebutuhan spiritual.

Keluarga sakinah pertama-tama harus mempunyai komitmen yang kuat terhadap ajaran agama. Hal ini ditunjukkan dengan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama. Kalau mau disingkat keluarga ini menjalankan rukun Islam dengan baik.

Inilah fondasi utama keluarga sakinah. Melalui hal ini sebuah keluarga telah menyiapkan fondasi yang kokoh dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Masalah boleh berdatangan. Tapi dengan kekuatan spiritual keluarga ini mampu menangkalnya sehingga ketenangan dan keharmonisan keluarga tetap terjaga.

Ketiga, dapat memenuhi kebutuhan material.

Berkeluarga, bahkan hidup ini tentunya membutuhkan materi. Suami dibantu istri harus berusaha bersama-sama untuk terpenuhinya kebutuhan ini. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Mencari nafkah adalah kewajiban yang bernilai ibadah.

Keempat, dapat memenuhi kebutuhan sosial.

Keluarga adalah institusi masyarakat terkecil. Karena itulah keluarga muslim tidak boleh hidup individualis. Kita tidak bisa hidup sendiri.Keluarga muslim harus membangun pergaulan yang baik dengan tetangga sekitar dan masyarakat secara umum.

Berdasarkan aspek-aspek di atas, maka tingkatan keluarga sakinah dapat diperinci sebagai berikut:

Keluarga Sakinah Tingkat Pertama

  1. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
  2. Mampu memenuhi kebutuhan dasar ekonomi

Keluarga Sakinah Tingkat Kedua

  1. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
  2. Mampu memenuhi kebutuhan dasar ekonomi
  3. Aktif berinteraksi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Keluarga Sakinah Tingkat Tiga

  1. Mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
  2. Mampu memenuhi kebutuhan dasar ekonomi.
  3. Aktif berinteraksi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
  4. Menjadi penggerak/teladan sosial.

Demikian pembahasan singkat ini, mudah-mudahan dapat dipahami dengan baik.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Itu Apa?

Kompilasi Hukum Islam adalah rangkuman dari berbagai pendapat hukum yang diambil dari berbagai kitab yang …

4 comments

  1. Avatar
    fitrinurfadhillah14

    Assalamu’alaykum Warahamatullahi Wabarakatuh…
    Saya izin bertanya pak,
    Di atas dijelaskan bahwa pada tahap negosiasi adalah tahap dimana masing-masing diuji bagaimana menyelesaikan persoalan yang ada, Apakah dalam setiap persoalan /masalah dalam keluarga harus dikomunikasikan? Bagaimana jika lebih memilih untuk diam karena ditakutkan menyinggung dan menambah masalah dalam komunikasi?
    Terima kasih,
    Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
    (Fitri Nur Fadhillah – 4A)

  2. Avatar
    harfiahnuraisyah27

    Terima kasih pak untuk pembelajaran mengenai Konsep Keluarga Sakinah. Inilah yang membuktikan pentingnya memiliki pasangan yang se-agama, karena untuk membentuk keluarga yang tenang, tentram, dalam hal ini keluarga sakinah, membutuhkan fondasi utama yang sama yaitu rukun islam, dibarengi dengan pelaksanaannya yang baik.
    Harfiah Nur Aisyah – 4A

  3. Avatar
    Erina dan Wardah

    Assalamualaikum. saya izin bertanya pak, diatas dijelaskan 4 aspek keluarga sakinah salah satunya yaitu dpt memenuhi kebutuhan material, kalau ada yang berpikir, bahwa kebahagiaan rumah tangga terletak pada masalah uang atau ekonomi, kenapa banyak orang yang kaya, artis, pejabat yang bergelimang materi. Tapi masih banyak yang cerai, atau bahkan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari pasangan hidupnya sendiri?

    terimakasih.
    Erina Feliana – 4B

  4. Avatar

    assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.
    terimakasih atas materi atau pengetahuannya ini pak jadi saya mengerti keluarga sakinah dalam agama yang sesungguhnya. semoga materinya bermanfaat untuk kita semua yg membaca nya. aminn…

    Annisa Suci S-4B

Tinggalkan Balasan