Home / Akidah / Implementasi Tauhid dalam Hidup Bermasyarakat

Implementasi Tauhid dalam Hidup Bermasyarakat

PENDAHULUAN

Menjadi baik, menjadi orang saleh secara pribadi itu tidaklah cukup. Tapi harus mendakwahkan kepada orang lain. Kita harus melakukan tugas dakwah kepada keluarga juga masyarakat. Kita mempunyai kewajiban untuk turut berkontribusi membangun sebuah masyarakat yang baik.

Masyarakat yang didasarkan atas perinsip-prinsip ajaran Islam. Keimanan harus menjadi prinsip dasar masyarakat kita. Atas dasar inilah Nabi Muhammad SAW telah berhasil membangun masyarakat Madinah menjadi masyarakat yang solid dan menjadi teladan peradaban.

 MASYARAKAT DAN PROBLEMATIKANYA

Problem utama dunia modern hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat adalah munculnya sikap individualisme.

Masyarakat modern terjebak ke dalam kesibukan sehari-hari yang membuat mereka jarang melakukan interaksi dengan para tetangga.

Masyarakat modern juga cenderung pragmatis. Semuanya dihitung berdasarkan untung rugi. Budaya kebersamaan, budaya gotong-royong yang dulunya sangat kental kini menjadi luntur.

Selanjutnya, teknologi transportasi dan komunikasi kini juga telah memudahkan orang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain serta berkomunikasi dengan orang lain tanpa batas ruang dan waktu.

Hal ini menyebabkan perubahan kondisi masyarakat yang tadinya satu tipe (homogen) menjadi masyarakat yang kompleks (heterogen). Keadaan inilah yang membuat tak gampang untuk menyatukan mereka ke dalams atu ikatan kemasyarakatan.

Dalam kondisi inilah, kita sebagai seorang muslim harus berperan. Kita harus menjadi teladan dalam menyatukan masyarakat. Seorang muslim tak boleh berdiam diri melihat masyarakat tercerai berai atau disatukan oleh orang lain atas dasar kepentingan ataupun  ideologi yang tak sejalan dengan ajaran Islam.

Sebelumnya, mari kita pahami dulu apa sesungguhnya masyarakat. Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab dengan kata “syaraka” yang artinya ikut serta (berpartisipasi).

Sedangkan dalam bahasa Inggris, masyarakat disebut dengan “society” yang pengertiannya adalah interaksi sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan.

Sejalan dengan arti kata di atas, Paul B. Horton mendefinisikan masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang relatif mandiri dengan hidup bersama dalam jangka waktu cukup lama, mendiami suatu wilayah tertentu dengan memiliki kebudayaan yang sama, dan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu.

Berdasarkan definisi ini dapat kita lihat beberapa elemen penting dari masyarakat, yaitu:

  1. Adanya sekumpulan manusia.
  2. Adanya kesamaan wilayah tempat tinggal yang sama.
  3. Ada kesamaan kebudayaan.

Dewasa ini nomor dua tentunya ada pergeseran. Berkembangnya teknologi, terutama media sosial telah membuat manusia dapat berkumpul tanpa adanya wilayah dalam arti fisik. Karena itu muncul yang disebut dengan masyarakat dunia maya (cyber society).

Menurut Ferdinant Tonnies, seorang sosiolog asal Jerman, hubungan sosial masyarakat  mempunyai dua ciri:

Pertama, Gemeinschaft (paguyuban).

Yaitu bentuk kehidupan bersama dimana hubungan antar anggotanya terikat didasarkan atas hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah.

Kedua, Gesselschaft (patembayan).

Yaitu bentuk kehidupan bersama dimana hubungan antar anggota-anggota didasarkan atas alasan kepentingan yang bersifat formal-rasional.

URGENSI TAUHID SEBAGAI FONDASI MASYARAKAT

Saya ingin mengulang sedikit pembahasan di atas bahwa masyarakat itu terdiri tiga elemen kunci. Mereka berkumpul dan disatukan tidak hanya oleh wilayah tempat tinggal yang sama.

Tapi yang terpenting justru karena adanya pikiran, sikap, dan tatacara hidup (kebudayaan) yang sama. Hal terakhir inilah yang mesti kita garisbawahi.

Apa jadinya jika ada orang berdiam dalam satu wilayah yang sama tapi cara pikir dan tata perilakunya berbeda-beda? Mereka hidup masing-masing tanpa peduli pada kepentingan bersama. Kumpulan orang seperti ini tentunya amat bahaya. Mudah menimbulkan anarki dan disintegrasi sosial.

Lalu Anda bayangkan, bagaimana jika mereka tersatukan dalam satu budaya yang sama, tapi ternyata itu adalah budaya yang buruk? Bukankah lebih berbahaya lagi?

Nah, di sinilah pentingnya kita turut bahkan wajib berkontribusi dalam membangun masyarakat. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mengarahkan masyarakat ke jalan yang benar.

Kita harus memberantas dan mengalahkan budaya-budaya negative yang melekat dalam masyarakat dan menggantinya dengan prinsip tauhid, membangun masyarakat ke dalam satu visi “masyarakat yang beriman”. Masyarakat yang menempatkan Allah SWT sebagai orientasi utama dalam hidup.

Allah SWT menjanjikan keberkahan kepada masyarakat yang menjadikan tauhid sebagai landasan kehidupan mereka:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri, beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka, berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka, disebabkan perbuatan-nya.” – (QS. al-A’raf [7]: 96).

Secara umum, kemajuan suatu masyarakat meliputi dua hal: kemjaun materi dan kemajuan non materi. Namun demikian yang menjadi dasar utamanya adalah kemajuan non materi yaitu yang berkenaan dengan sikap, perilaku, tata moral, termasuk yang terutama adalah keimanan/tauhid masyarakat yang bersangkutan. Kemajuan materi tanpa diimbangi dengan kemajuan keimanan dan moralitas akan membawa bencana.

CIRI-CIRI MASYARAKAT YANG BERTAUHID

Masyarakat yang bertauhid adalah masyarakat yang menjadikan keimanan kepada Allah SWT sebagai dasar utama kehidupan dan kebersamaan mereka. Mungkin warga muslim bukanlah yang mayoritas.

Tapi mereka harus menjadi yang terdepan dalam mengawal kehidupan sosial. Mereka harus menjadi teladan sosial. Keimanan mereka harus tercermin dalam kehdiupan sosial. Secara rinci, pilar hidup bermasyarakat ini mencakup empat hal:

Pertama, Tu’minuna billah (beriman kepada Allah SWT).

Masyarakat ini terikat dalam persaudaraan satu iman (ukhuwwah islamiyyah). Keimanan ini menjadi dasar hidup bersama. Menjadi perekat persaudaraan dan kepedulian sosial. Kelompok ini harus menjadi teladan kebaikan (khairu ummah) bagi orang lain, termasuk bagi non muslim yang tinggal bersama di wilayah tersebut. Keimanan harus menjadi pilar utama dalam mengarahkan visi hidup sekaligus mengayomi orang lain (rahmatan lil alamin).

Kedua, ta’aruf (saling kenal).

Antar anggota masyarakat saling kenal satu sama lain. Bukan sekedar kenal, tapi akrab/intens berkomunikasi sehingga tercermin interaksi yang positif antar warga. Slaing menghormati dan saling mengapresiasi. Tampak di dalamnya budaya toleransi dan saling memaafkan.

Ketiga, ta’awwun (saling tolong-menolong).

Satu sama lain saling tolong menolong. Gotong-royong adalah ciri khas masyarakat ini. Mereka terjalin atas dasar kesadaran, bukan kepentingan pragmatis.

Keempat, amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran).

Satu sama lain saling menasihati dan ingat mengingatkan. Mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan menegur/memperingatkan orang lain yang melakukan keburukan. Mengajak, bukan mengejek. Merangkul, bukan memukul.

LANGKAH-LANGKAH DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERBASIS TAUHID

Membangun masyarakat yang bertauhid tentu saja tidaklah instan. Butuh ketekunan dan proses panjang. Sebab yang akan kita bangun bukan melulu fisik. Tapi karakter dan budaya. Adapaun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Pertama,ada figur teladan

Para tokoh masyarakat harus menjadi figur teladan. Para tokoh ini harus kompak dan satu visi. Para tokoh inilah yang bertugas merumuskan visi dan tujuan masyarakat. Kemudian mereka mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi teladan bagi yang lain.

Kedua,sosialisasi dan penanaman nilai

Pada tahap ini para tokoh masyarakat memebrikan pemahaman atas arti pentingnya tauhid dalam kehidupan. Kemudian melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Ketiga,pembiasaan dan pembetukkan karakter

Tahap ini adalah kelanjutan dari tahap sebelumnya. Pada tahap ini masyarakat dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan secara intens. Dibuatkan agenda dan jadwal rutin agar semua agenda itu menjadi rutinitas masyarakat.

Keempat, Reward and Punishman

Beri pengahargaan bagi masyarakat yang berkontribusi aktif dan menjadi teladan dalam kegiatan masyarakat. Sebaliknya, beri sanksi bagi mereka yang melanggar. Namun harus diupayakn lebih banyak penghargaan dan meminimalkan sanksi. Kalau terpakasa ada sanki, berikan sanksi yang mendidik dan menimbulkan kesadaran. Bukan sanksi yang mempermalukan dan menimbulkan dendam.

Kelima, institusionalisasi kegiatan sosial

Untuk menjaga keberlangsungan tradisi yang telah dibangung maka perlu dibuat lembaga sosial yang mewadahi dan merepresentasikan kegiatan-kegiatan itu. Lembaga ini akan menjadi simbol dan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi yang dibangun.[]

 

 

 

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Implementasi Tauhid dalam Dunia Profesi

PENDAHULUAN Mencari penghidupan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Untuk mencukupi kebutuhan dunia maka manusia menjalani …

Tinggalkan Balasan