Home / Akidah / Implementasi Tauhid dalam Keluarga

Implementasi Tauhid dalam Keluarga

PENDAHULUAN

Setelah kita mampu menerapkan tauhid dalam kehidupan pribadi, maka tugas selanjutnya adalah berdakwah, mengajakl orang lain untuk menjadikan tauhid sebagai pedoman kehidupannya. Mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran. Masing-masing kita adalah dai. Masing-masing kita adalah mubaligh, minimal untuk keluarga kita. Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah apa yang datang dariku walaupun satu ayat” (HR. Bukhari). Orang pertama yang harus kita dakwahi adalah keluarga. Allah SWT berfirman: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (QS. Asy-Syua’ra’: 214). Mulailah berdakwah bepada keluarga. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tauhid adalah dasar/asaz dari segala aktivitas seorang muslim. Dalam hal ini termasuk di dalamnya adalah kehidupan keluarga. Tauhid harus dijadikan landasan utama dalam membangun keluarga.

KELUARGA DAN PROBLEMATIKANYA

Membangun keluarga yang sakinah tidaklah mudah.  Tak sedikit diantara mereka yang gagal dalam membina keluarga. Salah satu penyebab mengapa keluarga gagal adalah salah dalam memulai dan tidak tau prinsip dan tujuan utama dalam berkeluarga.

Seringkali orang menikah hanya sekedar menuruti tuntutan hasrat biologis. Ia tidak memahami hak dan kewajiban suami istri serta kedudukan masing-masing. Ia memulai hidup berumah tangga dengan pijakan yang rapuh. Hal itulah yang menyebabkan keluarga tersebut mudah dilanda problematika.

Memang, tampaknya tak satupun keluarga yang tak pernah dilanda masalah. Namun masing-masing beda dalam mengambil jalan keluar masalah. Bahkan ada diantaranya yang tak sangup menyelesaikan masalah dan berakhir dengan perceraian.

Karena itulah dalam membangun keluarga harus mempunyai dasar yang kokoh. Dalam perspektif Islam, dasar utama kehidupan, termasuk kehidupan berkeluarga adalah akidah atu lebih spesifiknya adalah tauhid. Keluarga harus dimulai dengan niat karena Allah dan kemudian dijalani dengan mengikuti aturan-aturan Allah.

URGENSI TAUHID SEBAGAI FONDASI KELUARGA

Salah satu fungsi utama keluarga adalah untuk menjaga keberlangsungan generasi manusia. Tentu saja bukan sekedar generasi. Tapi generasi yang mampau mengarungi kehidupan dan memahami dengan benar tujuan hakiki kehidupan.

Karenanya orangtua berkewajiban mendidik putra-putri mereka. Agar apa? Agar si anak ini mampu mengarungi kehidupan dengan baik dan mengerti tujuan hakiki kehidupan.

Semenjak kecil orangtua biasanya secara natural telah memahami tugas untuk mendidik anak-anak mereka, terutama berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan duniawi.

Dengan dipandu oleh kedua orangtaunya, si anak ini belajar secara bertahap, mulai dari merangkak, berdiri, berjalan, dan seterusnya sampai pada bagaimana ia memenuhi kebutuhan dan ancaman-ancaman hidupnya.

Itu semua barulah kebutuhan duniawi. Itu semua belum sampai pada tujuan hakiki kehidupan. Orangtua berkewajiban mengenalkan tujuan hakiki kehidupan. Tujuan hakiki kehidupan adalah adanya kesadaran dalam diri manusia bahwa ia adalah seorang hamba dan wajib menyembah Tuhannya, Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Orangtua berkewajiban menyelamatkan anak cucu mereka bukan hanya dari ancaman kehidupan dunia, tapi juga ancaman kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrîm [66]: 6].

Karena itulah, hal utama yang harus diajarkan kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarga adalah mengenal Allah SWT. Pelajaran pertama yang harus diberikan kepada anggota keluarga adalah tauhid. Hal ini sebagaimana diteladankan oleh Lukman, hamba Allah yang sangat saleh yang kisahnya diabadikan dalam al-Quran:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Dalam ayat ini Lukman mengajarkan anak-anaknya agar bertauhid. Agar tidak menyekutukan Allah. Agar menjadikan Allah sebagai pusat perhatian (center interest) dan pedoman utama dalam hidup.

Kemudian dalam ayat lain juga dikisahkan:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

Dalam ayat ini Lukman mengajarkan beberapa kunci utama dalam menghadapi kehidupan, yaitu:

  1. Mendirikan shalat.
  2. Amar ma’ruf nahi munkar.
  3. Bersabar dalam menghadapi ujian hidup

Hal yang sama juga dillakukan oleh Nabi Ya’qub, sebagaimana dalam firmanNya:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Apakah kalian menyaksikan tatkala Nabi Ya’qub kedatangan tanda kematian, dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apakah yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan yang Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

 Saat Nabi Ya’qub menjelang kematian, ia menanyakan hal mendasar pada anak-anak. Anakku, setelah aku meninggal, siapa yang akan kelian sembah? Jawab anak-anaknya sungguh melegakkan dirinya: Ayah, kami semua dengan sepenuh hati akan menyembah Tuhan yang engkau sembah juga. Tuhan yang juga disembah oleh nenek moyang kami, para rasul yang sebelum Ayah.

Kisah Nabi Ibrahim AS juga memberikan teladan tentang pentingnya membangun keluarga yang bertauhid. Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).

Pada saat Nabi Ibrahim AS, meninggalkan anak dan istrinya di padang tandus di Mekah, ia berdoa kepada Allah. Sebuah doa yang menjadi kunci solusi bagi keluarga nanti, yaitu memohon kepada Allah SWT agar keluarganya dijadikan keluarga yang senantiasa komitmen dalam menjalankan shalat.

Terakhr saya ingin mengutip apa yang disampiakan Nabi Muhammad SAW. Pesan ini adalah penyempurna dari pesan-pesan para rasul sebelumnya. Nabi bersabda:

إِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُم أَنْ تُشْرِكُوا وَلَكِنيِّ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوهَا

Artinya: “Sesungguhnya aku tidak takut (khawatir) kalian akan menjadi musyrik (menyekutukan Allah sepeninggalku nanti), akan tetapi aku takut (khawatir) kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Jangan salah paham dengan sabda Nabi ini, ya. Maksud Nabi bukannya beliau tidak mengkhawatirkan kemusyikan umatnya sepeninggal beliau. Tapi Nabi lebih mengkhawatirkan umatnya cinta dunia. Jika nabi-nabi sebelumnya menyebutkan hal yang mereka khawatirkan, yaitu kemusyrikan. Nabi Muhammad SAW menyebutkan apa yang menjadi peyebab utama kemusyrikan itu. Dengan kata lain, cinta dunialah yang menjadi penyebab utama manusia lalai pada Allah. Cinta dunialah yang menjadi pintu pembuka sebuah keluarga keluar dari prinsip tauhid.

 CIRI-CIRI KELUARGA YANG BERTAUHID

Komitmen tauhid yang diamalkan oleh sebuah keluarga tidak hanya bermanfaat pada keluarga tersebut, tapi akan berpengaruh positif pula pada lingkungan sekitar. Karenanya, ciri keluarga yang bertauhid antara lain sebagai berikut:

Pertama, komitmen menjalankan ajaran Islam

Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan bersama anggota keluarga dalam mengamalkan ritual ibadah, misalnya shalat, puasa, infaq, dan ta’lim/membaca al-Quran.

Kedua, bergaul dengan baik dengan tetangga

Hal ini merupakan buah dari pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sosial. Pergaulan ini ditunjukkan dengan adanya saling kenal dan saling komunikasi (ta’aruf), saling tolong-menolong (ta’awun), dan saling ingat mengingatkan (amar ma’ruf nahi munkar).

Ketiga, turut serta dalam kegiatan masyarakat

Keluarga yang bertauhid mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial. Ia menjauhkan diri dari sikap individualis. Karenanya keluarga ini menunjukkan keaktifan dan berkontribusi terhadap kegiatan-kegiatan sosial yang ada. Bahkan seharusnya keluarga ini mampu menjadi inisiator dan menjadi leader dalam kegiatan ini.

 LANGKAH-LANGKAH DALAM MEMBANGUN KELUARGA YANG BERTAUHID

Ayah, sebagai kepala rumah tangga harus menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban untuk mengajarkan agama kepada seluruh anggota keluarga.

Karenanya, ia dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang lebih diantara anggota keluarga. Namun jika hal hal ini tidak terpenuhi, artinya ayah mempunyai pengetahuan yang kurang dalam hal agama juga tidak masalah.

Hal yang terpenting adalah ia mempunyai kesadaran akan pentingnya membangun kelaurga yang bertauhid, keluarga yang komitmen untuk menjalankan ajaran agama. Untuk itulah ia berkewajiban untuk menciptakan sistem dan suasana agar terbentuk suasana rumah tangga yang islami.

Jika istri lebih mumpuni pengetahuannya dalam hal agama, maka tidaklah mengapa, bahkan menjadi suatu keharusan agar mendampingi suami dalam mengajarkan ajaran agama pada keluarganya dengan tanpa merendahkan kedudukan suami sebagai kepala rumah tangga.

Masing-masing orang tentunya punya cara dan pengalaman yang berbeda dalam menanamkan nilai-nilai agama dalam keluarga. Salah satunya adalah dengan mengikuti tips dan langkah-langkah konkrit sebagai berikut:

Pertama, orangtua harus menjadi teladan utama. Seringkali orangtua menghendaki anak-anaknya menjadi anak yang saleh. Namun hal itu sebatas bicara. Banyak instruksi kepada si anak. Sedangkan dia sendiri tidak melakukannya. Seharusnya tidaklah demikian. Orangtua seharusnya lebih banyak memberikan contoh.

Kedua, adakan ta’lim (mengaji) bersama di rumah dengan seluruh anggota keluarga. Ini dimaksudkan untuk memperkaya pengetahuan agama bagi seluruh anggota keluarga. Jika anggota keluarga tidak ada yang mumpuni dalam hal agama, bisa mengundang guru ngaji datang ke rumah, atau mengikuti ta’lim di luar secara rutin bersama dengan anggota keluarga.

Ketiga, lakukan kegiatan-kegiatan agama secara rutin dan bersama-sama. Misalnya dengan melakukan jamaah shalat lima waktu, tadarus bersama, dan sebagainya. Hal ini akan menciptakan suasana religius dalam keluarga.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Implementasi Tauhid dalam Dunia Profesi

PENDAHULUAN Mencari penghidupan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Untuk mencukupi kebutuhan dunia maka manusia menjalani …

Tinggalkan Balasan