Home / Kisah Inspiratif / Berdebat dengan Tokoh Atheis

Berdebat dengan Tokoh Atheis

Alkisah, suatu hari seorang ilmuwan atheis datang ke sebuah majelis pengajian. Dengan congaknya ia naik ke atas mimbar menantang para ilmuwan Islam untuk berdebat dengannya. Saat semua orang terdiam menatap orang itu, seorang pemuda bangkit. Dia adalah Abu Hanifah pernah bercerita;

”Saya yang akan melayani tuan, silahkan sampaikan apa yang hendak anda perdebatkan di sini!”

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

”Apa tak ada yang lebih pintar dari anak muda bau kencur ini?”

”Sudahlah, tuan hadapi si bau kencur ini, setelah itu baru menghadapi para ilmuwan kami,” jawab Abu Hanifah merendah.

”Baiklah, terpaksa saya layani. Sekarang bersiap-siaplah menjawab pertanyaanku. Dengarkan dengan baik, saya ini tak percaya Tuhan. Nah, kamu sendiri mengaku punya Tuhan. Sekarang coba katakan kepadaku, tahun berapakah Tuhanmu dilahirkan?”

”Tuhan kami berfirman; Dia tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan.”

”Coba perhatikan, aneh sekali jawabanmu. Mungkin kau menganggap ilmuwan muda. Tapi bagaimana mungkin seorang ilmuwan menyampaikan jawaban yang tak masuk akal?”

”Masuk akal! Sebab dia ada sebelum adanya sesuatu.”

“Ah, tambah rumit lagi jawabanmu.”

”Tidak rumit. Bahkan sangat sederhana. Anda tentunya tahu perhitungan bukan?”

”Yah, tentu saja.”

”Coba katakan pada saya, angka berapa sebelum angka satu?”

”Tak ada angka. Nol!”

”Apa itu tak masuk akal dan mengherankan Anda?”

”Oh, tentu saja tidak. Sama sekali tak mengherankan dan masuk akal. Bahkan itu sudah diterima sebagai kebenaran ilmiah.”

”Nah, kalau sebelum angka satu tak ada angka yang mendahuluinya adalah hal yang sama sekali tak mengherankan, mengapa Anda heran kalau Allah Swt keberadaannya tak didahului sesuatu?”

”Baik, sekarang tunjukan padaku di mana Tuhanmu berada?”

”Apa semua hal Anda pikir harus dapat ditunjuk tempatnya secara tegas untuk menyatakan keberadaannya?”

”Oh, iya dong. Itulah kebenaran ilmiah.”

”Baiklah, sekarang Anda perhatikan, apakah Anda percaya bahwa dalam tubuh Anda ada nyawa?”

”Tentu saja. Ilmu kedokteran pun percaya itu.”

“Jika demikian, coba tunjukkan pada saya dimana tempat nyawa Anda? Di leher, di kaki, di perut, atau di mana?”

”Baiklah, sekarang pertanyaan berikutnya. Kau pasti tahu, segala sesuatu menghadap pada arah tertentu. Sekarang katakan padaku, ke arah manakah Tuhanmu menghadap?”

”Begini, jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?

”Tentu saja sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.”

”Kalau demikian halnya, mengapa Allah Swt diharuskan menghadap ke suatu arah?”

”Sekarang begini, apakah bisa diterima akal cerita yang kamu yakini bahwa orang yang di surga dan di neraka akan kekal selamanya? Apa ada sesuatu yang tiada akhir?”

”Baiklah, saya kembali lagi pada hitungan. Anda tahu, hitungan ada mulanya, dari angka satu. Tapi apakah ada akhirnya?”

”Baik, anak muda, sekarang pertanyaan terakhir. Kurasa kali ini kau tak akan sanggup untuk menjawabnya. Begini, kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?”

“Saya akan jawab pertanyaan Anda yang terakhir ini dengan satu syarat, Anda turun dari mimbar.”

”Baiklah.” Ilmuwan atheis itu turun dari mimbar, kemudian Abu Hanifah naik ke atas mimbar.

“Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan Anda. Saat ini Allah sedang menghinakan orang yang mengingkarinya. Dia menurunkannya dari mimbar dan menggantinya dengan seorang mukmin, orang yang mempercayainya.”

Ilmuwan atheis terbelalak, takjub dengan pemuda cerdas ini.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan