Home / Kisah Inspiratif / Resep Menikmati Hidup

Resep Menikmati Hidup

Alkisah, ada seorang direktur yang sedang mengahadapi banyak masalah hidup. Keadaan di sekelilingnya sungguh membosankan dan membuatnya stress. Perusahaannya menghadapi banyak problematika. Sehari-hari ia harus memasang muka garang untuk mengawasi para karyawan yang susah diatur.

Sementara keadaan rumah tangganya juga diliputi banyak masalah. Hampir setiap hari ia cekcok dengan istrinya. Anak-anaknya juga bandel-bandel dan suka membikin jengkel. Setiap pulang dari kantor ia pasti langsung beradu mulut dengan mereka.

Sang direktur ini benar-benar penat dengan kahidupannya. Kekayaan sama sekali tak membuatnya bahagia. Perusahaan, karyawan, tetangga, keluarga, dan semua yang ada di dekelilingnya hanya menambah beban derita kehidupannya. Rasanya tak ada tempat untuk istirahat baginya. Hari-harinya diliputi oleh rasa lelah dan penat yang menyiksa. Hidup bagai dikurung di dalam neraka.

Berlama-lama menghadapi problematika yang tak berkesudahan membuatnya benar-benar frustasi. Ia putus asa dan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Ia ingin bunuh diri. Namun sebelum benar-benar melakukakannya, ia mendatangi seorang ustadz untuk mengadukan masalahnya.

Setiap ustadz yang didatanginya tentu saja menasihatinya agar tidak melakukan tindakan bodoh dan berdosa itu. Namun semakin dilarang, ia justru semakin kalap.

“Biar saja. Aku sudah bosan dengan hidup ini. Saya mmau bunuh diri!”

Demikianlah yang ia lakukan. Setiap orang yang mengetahui apa yang akan ia lakukan pasti akan melerang dan menasihatinya. Tapi ia sama sekali tak menggubris semua nasihat yang diberikan kepadanya.  Hingga ia bertemu dengan seorang ustadz yang sudah berusia lanjut.

“Nak, saya dengar kamu mau bunuh diri?” sapa sang ustadz.

“Iya. Saya benar-benar sudah bosan dengan hidup ini!”

“Itu kan perbuatan tercela yang dilarang Tuhan. Lagipula bunuh diri adalah tindakan bodoh yang menyelesaikan masalah.”

“Peduli amat dengan Tuhan! Biar saja saya akhiri semuanya dengan kematian!”

“Apa tidak sebaiknya mencari jalan lain untuk keluar dari masalah yang kamu hadapi?”

“Alaa… sudah, jangan banyak khutbah! Pokoknya saya mau bunuh diri!”

“Oh, jadi kamu sudah mantap untuk bunuh diri ya, kalau begitu aku mendukungmu.”

Mendengar pernyataan ustadz terakhir ini sang direktur frustasi terhenyak. Baru kali ini ada orang yang mendukung orang yang mau bunuh diri. Sungguh aneh!

“Iya, saya mendukungmu. Begini, saya punya racun yang sangat efektif untuk bunuh diri. Dengan meminum racun itu kamu akan merasakan rileks yang luar biasa kemudian nyawamu ppergi perlahan penuh kedamaian.”

Selesai berkata begitu, ia memberikan dua botol cairan kepada sang direktur. Sang direktur agak ragu, tapi akhirnya ia menerimanya.

“Ini yang botol kecil kamu minum nanti malam. Setelah kamu minum kamu akan merasakan sangat rileks. Pagi hari kamu minum satu botol yang besar, maka kamu akan merasakan tubuhmu lebih rileks lagi. Kamu masih punya waktu sehari sampai malam sekitar jam 10.30. kemudian kamu akan benar-benar mati pada jam 12 malam.”

“Tapi…”

“Tapi apa? Ingin mati, kan?”

“Iy, iya, Ustadz, saya akan lakukan anjuran ustadz.”

Sampai di rumah ia langsung meminum satu botol sebagaimana yang dianjurkan ustadz. Seperti yang dikatakan ustadz, setengah jam setelah ia meminum obat mematikan itu, badannya terasa rileks. Tahu dirinya akan meninggal, ia merencankan sesuatu. Ia tak mau menyia-nyiakan penghujung hidupnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis dan kesan indah bagi orang-orang di sekelilingnya.

Malam itu ia mengajak keluarganya makan malam. Istrinya sangat senang. Begitu juga anak-anaknya. Ini sungguh hal luar biasa yang jarang dilakukan oleh ayah mereka. Malam itu ia bercengkarama dan bersenda-gurau dengan keluarganya. Setelah semuanya dirasa cukup, mereka pulang. Sepanjang jalan anak dan istrinya terlihat sangat riang. Mereka seperti menemukan dunia baru yang selama ini hilang. Sampai di rumah, sebelum tidur, ia mencium istrinya sambil berbisik,”Sayang, aku mencintaimu.” Istrinya pun membalas,”Saya juga sangat mencintaimu sayangku.”

Pagi-pagi, saat bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin berhembus menyapanya. Bunga-bunga indah bermekaran di samping rumahnya. Ia meraih botol racun yang satunya llagi kemudian meminumnya. Ia merasakan pagi itu begitu cerah, berbeda dari hari-hari sebelumnya. Cekatan, ia membasuh muka, kemudian keluar sejenak menghirup udara segar.

“Suamiku sayang, kau sedang apa?” suara istrinya dari jendela.

“Hei, sayangku sudah bangun, ya? Sedang menikmati udara pagi.”

Tak lama kemudian ia masuk. Ia pergi ke dapur membuat dua cangkir teh manis. Satu buat dirinya dan yang satu lagi buat istrinya. Ia sadar, itu adalah hari terakhir ia hidup. Ia harus meninggalkan kenangan manis buat istrinya. Kemudian ia mengajak istrinya duduk-duduk di serambi samping sambil minum the.

“Suamiku, sebenar nya ada apa dengan dirimu? Tiba-tiba kau sangat aneh?”

“Aneh? Ah, biasa saja. Apa kau tak suka dengan sikapku?”

“Oh, tidak justru saya sangat senang dengan perubahan sikapmu. Coba dari kemarin-kemarin seperti ini,” ledek istrinya sembari mengecup suaminya. Tiba-tiba sang istri merengkuh tangannya.

“Mas, maafkan saya bila selama ini banyak mengecewakanmu. Saya sadar banyak kekuarangan. Apalagi akhir-akhir ini saya sering membuatmu kesal,” tutur istrinya penuh penyesalan.

“Iya sayang, tidak apa. Semua sudah kumaafkan. Justru saya yang akhir-akhir ini kurang memperhatikanmu. Maafkan suamimu, ya?” sang istri mengangguk penuh pengertian.

Menjelang siang ia berangkat ke kantor. Itu adalah hari terakhir ia mengunjungi kantornya. Sampai di sana ia menyapa ramah setiap karyawan yang dilewatinya. Wajahnya merona penuh senyum. Beberapa karyawan yang dianggapanya berprestasi dinpanggilnya dan diberi hadiah khusus. Tentu saja para karyawan terheran-heran dengan perubahan sikap bos-nya.

Pagi itu ia menumpulkan para karyawan. Ia member sedikit motivasi pada para karyawannya, kemudian ia meminta maaf atas segala kesalahan yang selama ini ia perbuat. Para karyawan benar-benar senang dengan perubahan sikap bos-nya. Hari iitu mereka kerja dengan semangat.

Sore hari ia pulang. Sampai di rumah anak-anaknya menyambutnya dengan riang. Istrinya datang menghampirinya, mengcup pipinya, dan menggandengnya ke dalam. Di meja sudah tersedia jus mangga kesukaannya.

“Yah, saya mohon maaf kalau selama ini sering membuat Ayah marah.” Anak pertamanya tiba-tiba bersimpuh merengkuh telapak tangannya. Adik-adiknya mengikuti. Mereka meminta maaf dan berjanji tak akan membuat Ayahnya marah-marah lagi.

“Iya anakku sayang, Ayah juga minta maaf ya, kalau selama ini kurang memperhatikanmu,” jawabnya terharu.

Kini dunianya benar-benar telah berubah total. Semuanya serba indah dan menyenangkan. Semangat hidupnya kini bangkit lagi. Ia tak mau cepat-cepat mati. Namun bagaimana pun ia telah mereguk dua botol racun mematikan. Ia akan segera meninggalkan semuanya pada jam 12.00. sungguh sangat disesalkan.

Malam itu ia keluar. Ia mencari menuju ke rumah ustadz yang tempo hari memberinya racun. Ia begitu panic. Jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan waktu kematian. Sampai di sana, ternyata ustadz tak ada di rumah. Menurut tetangganya malam itu ustadz dedang menginap di tempat saudaranya yang sedang hajatan. Ia semakin panic dan ketakutan.

Ia buru-buru menyusul ke sana. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. satu jam lagi. Yah, satu jam lagi. ie mengemudikan mobilnya secepat kilat. Tuhan, tolong hamba-Mu ya Tuhan. Tundalah kematian hamba. Jeritnya ketakutan. Pukul 11.30 ia sampai di tempat yang ia tuju. Ia langsung menemui ustadz dengan nafas terengah-engah.

“Ada apa saudarakau? Bukankah kamu orang yang kemarinmau bunuh diri?”

“Ustadz, tolong saya Ustadz, saya belum mau mati. Saya mencintai istri saya, anak-anak saya. Saya juga masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Saya benar-benar tak mau mati sekarang.”

“Hei, ada apa dirimu? Kemarin kamu begitu yakin ingin segera mati. Tiba-tiba sekarang ingin hidup.”

“Sungguh Ustadz, saya harap saya masih punya waktu untuk memperbaiki diri. Sekarang saya benar-benar tahu betapa berharganya hidup.”

“Kamu yakin akan hidup?”

“Sungguh Ustadz.”

“Kalau begitu jalanilah hidup ini dengan baik seperti yang engkau janjikan tadi. Kamu sekarang sudah tahu betapa berharganya hidup dan bagaimana cara menghargainya.”

“Tapi Ustadz, masalahnya saya sudah meminum 2 botol racun yang ustadz berikan. Dan ini… ini sudah jam 11.15 Ustadz. Ustadz, tolong saya Ustadz. Barangkali Ustadz punya penawarnya.”

“Saudaraku, tenanglah, yang kau minum itu adalah air biasa.”

Sang direktur ternganga. Kemudian memeluk ustadz.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan