Home / Kisah Inspiratif / Mengubah Cara Pandang

Mengubah Cara Pandang

Alkisah, ada seorang ibu rumah tangga yang sangat rajin dan memperhatikan kebersihan. Semua pekerjaan rumah tangga mulai dari mencuci piring, mencuci pakian, berbelanja, mengepel dan seterusnya selalu dikerjakan dengan baik. Pendek kata, rumahnya selalu tampak rapih dan bersih.

Namun ada satu masalah yang ia hadapi. Kerana cintanya pada kebersihan, ia menjadi alergi saat melihat karpet rumahnya tampak kotor meskipun itu hanya sedikit saja. Hal sepele ini bisa membuatnya uring-uringan seharian. Baginya ini bukan masalah kecil lagi, tapi menjadi masalah serius yang sangat mengganggu keadaan jiwanya.

Ia akan merasa sangat terganggu setiap kali melihat ada jejak kaki anak-anaknya mapun suaminya di atas karpet dan lantai yang sudah ia bersihkan sedemikian rupa. Padahal di samping ia hidup bersama suaminya, ia juga mempunyai 4 orang anak yang setiap harinya sangat mungkin membuat karpet itu kotor karena jejak kaki mereka.

Akhirnya ia disarankan untuk datang kepada Virginia Satir, seorang psikolog yang akan dimintai bantuan untuk mengatasi masalahnya. Di hadapan Virginia Satir, ia menceritakan panjang lebar masalah yang mengganggu jiwanya. Virginia mendengarkan dengan cermat dan penuh perhatian.

Kemudian Virginia berkata; “Oke, sekarang saya mohon Ibu menutup mata dan bayangkan apa yang saya katakan.” Ibu itu pun menutup kedua matanya dan bersiap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Virginia.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih, di sana ada karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu…, bagaimana perasaa ibu meliahat itu semua?” Sambil masih tetap menutup mata, ibu itu tersenyum bahagia, merekah. Air  mukanya begitu cerah dan penuh kegembiraan.

Kemudian Virginia Satir melanjutkan; “Nah, itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami ibu, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi.”

Seketika muka ibu itu berubah sendu, tak ada senyum di bibirnya, ia menarik napas berat, hidungnya kembang-kempis, dan matanya berkaca-kaca. Pikirannya diliputi oleh kecemasan. Ia membayangkan betapa sepinya ia berada di rumah sendirian. Ia juga sangat cemas membayangkan apa yang tengah terjadi dengan suami dan anak-anaknya.

Virginia melanjutkan lagi; “Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran di sana. Suami dan anak ibu sekarang ada di rumah, orang-orang yang ibu kasihi hadir bersama ibu, menghangatkan hidup ibu.” Ibu itu kini tersenyum kembali, ia merasakan kebahagian dan kedamaian dengan hadirnya orang-orang terkasih di sekelilingnya.

“Sekarang bukalah mata ibu,” lanjut Virginia. Ibu itu membuka matanya.

“Sekarang apa yang ibu rasakan? Apakah karpet kotor masih menjadi masalah
buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Terima kasih atas bantuan Anda,” tutur ibu itu dengan senyum mengembang. “Aku tahu sekarang maksud anda. Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif.” Virginia tersenyum menatap ibu itu.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor. Karena setiap melihat jejak sepatu di sana, ia tahu bahwa keluarga yang dikasihinya ada di rumah. Hidupnya hangat dan tak kesepian dengan kehadiran mereka.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan