Home / Kisah Inspiratif / Gara-gara Tak Peduli

Gara-gara Tak Peduli

Alkisah, seorang petani di rumahnya memelihara kambing, sapi, dan ayam. Di samping hewan-hewan ini, di rumah itu sebenarnya juga ada hewan lain yang meskipun tak dipelihara oleh petani itu yaitu tikus dan ular.

Suatu hari petani itu baru pulang dari berbelanja. Seperti biasanya, tikus selalu mengintai dari langit-langit rumah apa yang dibeli oleh petani itu. Pastinya ia akan mencuri lagi makanan yang ia suka seperti biasanya.

Tapi alangkah terkejutnya saat ia melihat.  Sesutu  yang amat ia takutkan. Ternyata Pak Petani bukannya membeli makanan, tapi ia baru saja membeli perangkap tikus.  Tikus itu pun berlari alang-kepalang takutnya. Ia menemui kambing di belakang rumah.

“Hei, tukis, kenapa kamu tampak sangat ketakutan?” sapa kambing penasaran.

“Oh, kambing. Pak Petani…”

“Iya, Pak Petani kenapa?”

“Pak Petani baru saja membeli perangkap tikus.”

“Oh, itu rupanya. Tapi itu kurasa bukan maslahku, tikus. Perangkap itu hanya berbahaya bagimu.”

Tikus begitu berang melihat temannya tak peduli sama sekali dengan masalah yang ia hadapi. Lalu ia berlari menemui sapi.

“Sapi, sungguh mengerikan, sekarang di rumah ini ada perangkap, tikus,” tutur tikus panic.

“Lantas apa hubungannya denganku, ya? Saya hanya bisa turut sedih atas bahaya yang mengancammu, kawan.”

Tikus pun berlari kembali. Kali  ini ia menemui ayam.

“Ayam, tolonglah, sekarang saya sedang diancam bahaya.”

“Memangnya kenapa, tikus?”

“Pak Petani baru saja membeli perangkap tikus.”

“Ah, itu sih bukan urusanku.”

Tikus makin sedih. Ternyata sekian temannya yang sama-sama tinggal di rumah itu tak ada yang peduli dengannya. Kahirnya ia berlari ke belakang rumah. Ia menemui ular.

“Ular, bangun, bahaya mengancam.”

“Hei, kau ini mengganggu tidurku saja. Ada apa, sih?”

“Pak Petani baru saja membeli perangkap tikus.”

“Memang ada apa? Toh itu tak membahayakanku, bukan?”

Tikus tertunduk sedih. Tak satu pun dari temannya yang peduli dengan dirinya. Kini ia tahu, ia akan menghadapi bahaya yang mengancamnnya sendirian. Tikus pergi naik kea tap rumah dengan langkah gontai.

Setelah selang beberapa hari, suatu malam istri Pak Petani terbangun mendengar suara keras dari belakang. Malam itu perangkap tikus yang dibeli suaminya berhasil menangkap target. Ia buru-buru ke belakang melihatnya.  Ketika ia melihat ke sana, ternyata bukan tikus yang terkena perangkap, tapi seekor ular. Melihat istri Pak Petani datang, si ular bergeliat memuntahkan kemarahannya. Ia berhasil mematuk istri Pak Petani. Istri Pak Petani menjerit-jerit kesakitan.

Pak Petani terbangun dan langsung menuju ke belakang. Ia segera membunuh ular itu dan menyelamatkan istrinya. Malam itu Pak Petani membawa istrinya ke rumah sakit. Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya ia diperkenankan membawa istrinya pulang.

Namun demikian sakit istri Pak Petani belum benar-benar sembuh. Ia masih sering menggigil demam. Dalam sakitnya, istri Pak Petani minta kepada suaminya untuk dibuatkan sop ayam. Tanpa berpikir panjang, Pak Petani mengeluarkan ayamnya dari kandang dan menyembelihnya.

Makin hari sakit istri Pak Petani ini justru semakin parah. Salah seorang tetangganya menyarankan agar diobati dengan hati kambing mentah. Mendengar saran itu Pak Petani langsung menyembelih kambingnya dan mengambil hatinya. Dagingnya dimasak dibagikan kepada para tetangga.

Namun penyakit istrinya belum sembuh juga. Ia membawa kembali istrinya ke rumah sakit. Setelah menginap beberapa hari di rumah sakit, akhirnya sakit yang diderita istri Pak Petani berangsur-angsur sembuh. Dokter membolehkan Pak Petani membawa pualng istrinya.

Alangkah senangnya Pak Petani melihat istrinya sudah sembu sedia kala. Karena senangnya, sebagai ungkapan rasa bersyukur, Pak Petani mengadakan selamatan di rumahnya. ia menyembelih sapi-nya sebagai hidangan para tamunya. Pak Petani pergi ke belakang. Ia mengambil perangkap tikus yang hampir saja membawa maut istrinya itu. Lalu ia melemparnya jauh-jauh. Si tikus memperhatikan Pak Petani dari atap rumah.[]

 

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan