Home / Kisah Inspiratif / Kisah Cangkir Cantik

Kisah Cangkir Cantik

Alkisah, suatu hari seorang kolektor souvenir berjalan-jalan di sebuah mall. Ia berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain mencari souvenir tercantik di tempat itu untuk melengkapi koleksinya. Setelah berputar-putar seharian, akhirnya ia menemukan cangkir unik.

“Wow, cantik sekali cangkir ini!” seru sang kolektor takjub. Seorang pengunjung menghampirinya.
“Luar biasa, Nona. Saya belum pernah melihat cangkir seindah ini,” puji pengunjung itu. Sang kolektor memperhatikan harga yang tertempel pada cangkir itu. Mahal! Sangat mahal! Tapi sang kolektor tidak peduli dengan harga itu. Berapa pun harganya, ia akan membelinya. Sang kolektor mengangkat cangkir itu. Tiba-tiba cangkir itu bersuara:

“Hai, Nona…, terima kasih atas pujian dan penghargaanmu. Maukah kau mendengarkan kisahku mengapa aku sekarang secantik ini?”

“Dengan senang hati, ceritakanlah. Pasti cerita yang menakjubkan. Mungkin dulunya kau cangkir kerajaan?”

“Bukan, Nona. Sama sekali bukan,” tukas cangkir itu.

“Dulu, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun pada suatu hari seorang pengrajin mengerukku dengan cangkulnya. Aku berteriak, tapi ia tak peduli. Sang pengrajin membawaku pulang. Sesampai di rumah, ia menjepitku di antara roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar roda itu. Stop! Stop! Aku berteriak kesakitan. Kepalaku begitu pening. Perutku terasa mual ingin muntah. Tapi orang itu berkata,”Belum selesai!”

Selanjutnya ia menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Aduhh! Hentikan! teriakku lagi. Tapi orang ini tak menghiraukan teriakkanku. Ia terus saja meninju dan memukuliku. Setelah itu ia memasukkan aku ke dalam perapian. Tolong! Panas! Panas! Stop! Stop!! Teriakku dengan keras. Tapi lagi-lagi orang ini menjawab dengan santainya,”Belum selesai!”

Untunglah, setelah itu ia mengangkatku dari perapian dan membiarkanku sampai dingin. Selesailah penderitaanku, pikirku lega. Tapia pa yang terjadi selanjutnya? Ternyata penderitaanku belum selesai. Sang pengrajin memberikanku kepada seorang temannya. Teman si pengrajin ini menimangku sejenak, kemudian ia mencoret-coret tubuhku dengan cat yang berwarna-warni. Bau cat itu begitu menjijikkan. Perutku mual seperti diaduk-aduk. Hamper-hampir aku pinsan karenanya.

Tolong hentikan! Pintaku memohon. Tapi orang ini tetap mencoretiku. Setelah itu aku dimasukkan lagi ke dalam kobaran api lagi. Ampun! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

“Sekarang sudah selesai,” kata orang itu puas. Aku begitu geram melihatnya. Setelah itu baru aku dibiarkan istirahat sejenak. Ah, lega sekali rasanya. Tapi aku masih was-was, jangan-jangan orang ini akan menyiksaku lagi. Kemudian akau diangkat. Tolong! Stop! Stop! Saya sudah tak tahan lagi. Kupikir ia akan menyiksaku lagi. Tapi ternyata tidak. Ia menaruhku di kotak kaca yang sangat indah yang dibalut dengan cermin di sekelilingku.

Saat aku duduk di sana, aku melihat bayangan dalam cermin yang sangat menakjubkan. Seumur-umur aku belum pernah melihat makhluk secantik ini. Saat aku meraba diriku, aku benar-benar terkejut ternyata makhluk cantik itu adalah diriku. Aku telah berubah menjadi cangkir cantik yang sangat menakjubkan.

Aku tersenyum memandang diriku. Sungguh, kenyataan yang sulit kupercayaa. Mulai saat itu aku sangat dimuliakan. Setiap orang yang lewat selalu memujiku. Kini penderitaanku yang dulu menjadi kenangan manis bagiku. Bahkan aku berterima kasih kepada tuan pengrajin dan temannya yang telah mengubahku dari tanh tak berharga menjadi cangkir mewah seperti ini.”[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan