Home / Presentasi / Jangan Ambil Harta Bathil

Jangan Ambil Harta Bathil

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Q.S. al-Baqarah [2]: 188).

Harta tak mengenal saudara. Begitulah semboyan orang-orang tamak. Karena harta, tak jarang persaudaraan menjadi renggang, silaturahmi terputuskan.

Demi mendapatkan harta, orang tega melakukan apa saja, mencuri, menipu, mencopet, menjambret, membunuh, memanipulasi data, me-mark up anggaran, memalsukan laporan, melakukan korupsi, memberikan suap, memanipulasi perkara, menjadi saksi palsu, menjaul kemiskinan, mengatasnamakan rakyat, dan seterusnya.

Semua ini adalah cara-cara bathil yang dilarang keras oleh Allah SWT. Janganlah sekali-kali memakan harta orang lain dengan cara bathil! Jangan menipu, jangan mencuri, jangan korupsi, dan cara lain yang merugikan orang lain. Tahukah anada bahwa ini semua hanya kan membuat sengsara sepanjang hidup.

Kekayaan yang didapat dengan cara-cara bathil, dengan cara merampas hak orang lain hanya akan membaut hidup kita gersang. Ini ibarat orang haus yang meminum air laut. Bukannya menyembuhkan kehausannya, tap malah ia semakin haus dan semakin tersiksa.

Dapatkanlah harta dengan cara yang halal. Inilah rumus hidup selanjutnya. Dapatkanlah harta dengan kerja keras sendiri, dengan kejujuran dan kejernihan jiwa. Syukurilah apa yang kita dapat, niscaya harta tersebut akan membawa berkah.

Mungkin sedikit, tapi membawa banyak kebaikan. Hidup tenteram tak diliputi rasa khawatir dan ketakutan. Untuk apa banyak harta jika hati kita dilanda ketakutan dan kehawatiran. Untuk apa berlimpah kekayaaan jika semua itu hanya membawa malapeta.

Saya mempunyai seorang saudara, tepatnya Paman. Namanya Dulah Ikhsan. Saya memanggilnya Paman Dul. Terus terang saya banyak berkaca kepadanya. Paman Dul ini, dibandingkan dengan saudar-saudaranya yang lain boleh dibilang “yang paling miskin”.

Padahal saudaranya yang lain juga tak bisa dibilang kaya. Tapi saya sungguh salut dengannya. Menurut saya, justru dialah orang yang paling kaya. Bahkan jika dibandingkan dengan orang-orang kaya yang ada di kota.

Hidupnya sangat sederhana dan apa adanya. Tapi wajahnya selalu berbinar senyum. Seakan-akan tak pernah ada beban dalam hidupnya. Setiap sore ia rajin ke masjid bersama keluarganya. Begitu juga saat salat subuh. Siang hari mereka bekerja apa saja. Kadang ke ladang sendiri. Kadang juga bekerja di ladang orang. Ia kelihatan menikmati semuanya dengan tulus dan ikhlas hati. Paman Dul benar-benar terlihat menikmati waktu dan kehidupannya.

Dalam hati saya bergumam, sungguh, Paman Dul adalah orang yang kaya raya. Berbeda sekali dengan orang-orang di kota yang rumuahnya tinggi-tinggi. Setiap hari mereka terjebak dalam hingar-bingar kota yang menyesakkan. Pagi hari sudah ngantri di jalan raya berangkat kerja.

Pulangnya sudah larut malam. Benar bahwa harta mereka terus menggunung, tapi kehidupan mereka sungguh sengsara. Mereka tak pernah punya waktu untuk menikmati hidup.

Mereka telah diatur oleh sistem kejam yang memperbudak diri mereka. Benarlah apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW. Katanya, kaya itu bukan kaya harta, tapi kaya hati. Inilah hakikat kekayaaan yang sesungguhnya. Sepintas mungkin kata-kata ini terdengar klise, tapi renungkan dan perhatikanlah, niscaya kita akan menemukan kebenaran dan kedalaman nasihat di dalamnya.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Jangan Lalaikan Akhiratmu

Diantara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan …

Tinggalkan Balasan