Home / Kisah Inspiratif / Makna Kebebasan dan Kemandirian

Makna Kebebasan dan Kemandirian

Alkisah, konon pada zaman dahulu kala, elang dan kalkun adalah dua ekor burung yang bersahabat. Keduanya seringkali terbang tinggi bersama menjelajahi panorama kehidupan.

Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari makan sekaligus menimba pengalaman. Petualangan yang menantang dan menakjubkan, namun terkadang juga melelahkan. Terutama saat musim tak membawa keberuntungan bagi mereka. Apalgi terkadang para pemburu juga sering membidik mereka. Jika tak waspada, nyawa mereka bisa melayang di ujung senapan.

Suatu hari, mereka melakukan perjalanan panjang untuk mencari tempat baru yang lebih menjanjikan bagi kehidupan mereka. Di tengah perjalanan mereka merasa lapar. Kalkun berkata pada elang;

“Elang, saya sangat lapar. Bagaimana kalau kita turun mencari makan dulu.”

“Setuju, Kun. Perut saya juga sudah keroncongan.”

Kedua burung itu lantas melayang turun ke bumi. Di tempat mereka berpijak, mereka melihat beberapa binatang lain sedang makan. Tak buang kesempatan, mereka memutuskan bergabung. Mereka mendekati seeokor sapi yang sedang menyantap jagung muda dengan lahapnya. Dengan hati-hati mereka meminta barang sedikit jagung itu.

“Oh, silahkan kawan. Silahkan makan jagung-jagung manis ini. Tidak usah sungkan.” Mendapat sambutan yang hangat ini, elang dan kalkun terperangah. Ia heran ada makhluk yang sangat baik hati seperti ini. Sepanjang yang mereka tahu, hidup itu sangat kejam. Mereka terbiasa bertarung dengan hewan lain hanya untuk mempertahankan makanan yang mereka punya. Ini malah ditawari untuk makan sepuasnya. Sungguh aneh!

“Sapi, kenapa kamu begitu dermawan? Bukankah kamu sudah susah payah mendapatkan jagung-jagung ini?” tanya elang keheranan.

“Iya, kenapa bisa kamu sebaik ini kepada kami,” kalkun menimpali.

“Bersusah payah? Oh, sama sekali tidak kawan,” jawab sapi diiringi oleh derai tawanya.

“Lantas dari mana makanan yang melimpah ini?” tanya elang lagi.

“Ini semua disiapkan oleh Tuan Petani. Dialah yang menanamnya. Kami tinggal makan sepuasnya.”

“Woww! Hebat sekali!” pekik kalkun ternganga.

“Bukan hanya memberiku makanan, Tuan Petani juga menyediakan tempat tinggal untak kami. Bahkan setiap minggu ia selalu membersihkan tempat tinggal kami.”

“Jadi… kau tinggal tidur dan makan saja?” sergap kalkun masih tak percaya.

“Betul. Jangann heran, Kun. Bukan hanya saya yang diberi kemurahan dari Tuan Petani. Coba kau lihat di sana!”

Kalkun dan elang menoleh tempat yang ditunjuk oleh sapi. Di sana ada segerombolan ayam yang sedang lahap menikmati makanannya. Tempat makannya saja begitu istimewa. Temppat tinggal ayam itu juga besar. Elang dan kalkun menghampiri ayam itu.

“Ayam, benar ini semua kamu dapat secara gratis?” tanya kalkun masih belum yakin.

“Betul, kalau kamu mau tinggal saja di sini bersamaku.”

“Wah, tentu saya senang sekali. Tapi bagaimana nanti kalau Tuan Petani marah?”

“Tidak. Dia malah senang kalau kamu mau tinggal di sini.”

“Elang, ini tawaran emas.” Kalkun menatap sahabtanya.

“Bayangkan, elang, kita bisa tinggal di sini, makan sepuasnya. Tempat tinggal kita juga mewah. Bukankah ini sebuah kebeuntungan yang sangat langka. Kita tak usah lagi berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau saling serang dengan hewan lain berebut makanan. Kita tinggal tidur nyanyak dan makan kenyang di sini.” Panjang lebar kalkun meyakinkan sahabatnya.

“Ah, saya masih belum bisa menerima semua kenyataan ini, Kun.”

“Hei, sadralah kawan, lihat sekeliling kita. Ini kenyataan. Nyata!”

“Bukan begitu, Kun. Saya masih tak bisa menerima kalau ada makhluk yang bersikpa begitubaik, terlampau baik bahkan, tanpa mengharap imbalan apa-apa. Lagipula apa untungnya diam dan malas-malasan di satu tempat. Apalagi dikekang dalam sebuah kandang semacam ini.”

“Kawan, ini bukan dikekang namanya. Ini singgasana kemakmuran kawanku, elang.”

“Jadi kamu mau tinggal di sini, Kun?”

“Yah, tepat sekali”

“Kamu juga, kan?”

“Tidak. Saya akan melanjutkan perjalanan. Saya akan terbang jauh mengarungi bahtera kehidupan.”

“Oke. Kalau begitu selamat jalan. Saya akan tinggal di istana mewah ini.”

Elang melesat tinggi meninggalkan kalkun. Sementara kalkun segera bergabung dengan ayam, makan dengan lahap, kemudian tidur pulas. Bertahun-tahun kalkun menjalani rutinitas ini. Ia kini tampak lebih bersih dan gemuk. Bulu-bulunya mengkilap, kulitnya bersih dan berisi.

Suatu hari Tuan Petani mengadakan hajatan. Putra pertamanya akan disunat. Untuk kelengkapan pesta, Tuan Petani berniiat akan menyembelih kalkun untuk dihidangkan kepada para tamunya. Mendengar berita itu kalkun panik. Kini ia sadar. Benar apa yang dikatakan sahabtanya, elang. Ternyata Tuan Petani punya maksud tersendiri di balik kemurahan hatinya.

Kalkun kini bertekad akan melarikan diri. Ia akan terbang tinggi menyusul sahabatnya. Tapi sayang, saat kalkun mengepakkan sayapnya, badannya terasa sangat berat. Ia mencoba untuk terbang. Tapi ia tak mampu lagi terbang tinggi. Ia hanya bisa terbang alakadarnya layaknya ayam. Tuan Petani menangkapnya dengan mudah dan menyembelih kalkun itu.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan