Home / Kisah Inspiratif / Tiga Pertanyaan Memojokkan

Tiga Pertanyaan Memojokkan

Alkisah, ada seorang pemuda yang kritis lagi sombong. Ia sering bertemu dengan para ulama, tapi bukannya ia menimba ilmu kepadanya. Ia justru lebih banyak mendebat dan meremehkan setiap ulama yang ia jumpai.

Ia bukannya menerima nasihat dan bimbingan para ulama tersebut, namun justru membantah dan mempermalukannya. Suatu hari ia menjumpai seorang ustadz muda yang sedang berceramah di depan ratusan jamaahnya.

Ia sengaja datang hendak mempermalukan sang ustadz di depan para jamaahnya. Ia tak suka ada ustadz muda berbakat yang diikuti banyak jamaah.

“Assalamu’alaikum, Ustadz!” sapa pemuda itu tegas. Ustadz menoleh dan menghentikan ceramahnya. Para jamaah terperanjat melihat ulah pemuda tak sopan ini.

Beberapa diantara mereka naik pitam hendak memukul pemuda itu, tapi ustadz muda nan bijaksana ini mencegahnya. “Biarkan dia bergabung bersama kita,” tutur ustadz lembut.

“Ada apa pemuda?” sapa ustadz ramah.

“Saya boleh ikut mengaji, Tadz?”

“Tentu saja boleh.”

“Tapi sebelum saya mengaji, saya ingin bertanya dulu apa Anda benar-benar layak menjadi ustdadz apa tidak,” kata pemuda itu dengan sombongnya.

“Hei, pemuda, somong sekali kau!” seorang jamaah bangkit hendak melabrak pemuda itu. Namun lagi-lagi ustadz melarangnya.

“Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan, kawanku.”

Pemuda itu maju membusungkan dada dengan congkaknya. Orang-orang geram menatapnya. Tapi sang ustadz begitu tenang menghadapi ulah pemuda yang kurang ajar ini.

“Begini ustadz ganteng, saya punya tiga pertanyaan. Pertama, kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepadaku! Kedua, menurut ustadz ganteng, apakah yang dinamakan takdir? Ketiga, kalau setan diciptakan dari api, kenapa ia oleh Tuhan dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api?

Neraka tentunya tidak menyakitkan buat si setan. Sebab antara syitan dan api  memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Para jamaah terperanjat dengan pertanyaan pemuda itu. pertanyaan yang diajukan pemuda itu adalah pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tak mudah dijawab. Bahkan ada pertanyaan yang sangat kentara sengaja untuk memojokkan ustadz.

“Pemuda, kemarilah saudaraku,” panggil ustadz lembut sembari tersenyum. Pemuda itu mendekat sambil tersenyum sinis. Tiba-tiba sang ustadz menampar pemuda itu keras.

“PLAKK!!”

“Hei, kenapa marah-marah bos!” sergap pemuda itu sembari menahan sakit. Berbeda dengan para jamaah. Mereka tersenyum, bahkan diantara mereka tertawa puas,  setuju dengan apa yang dilakukan oleh sang ustadz. Mereka pikir ustadz habis kesabaran dan menampar pemuda itu sebagai balasan atas kekurangajarannya.

“Saudaraku, saya tidak marah. Itulah jawaban atas tiga pertanyaan yang kamu ajukan tadi,” jawab ustadz.

“Bagaimana rasanya tamparan saya? Sakit bukan?” Tanya ustadz santai.

“Sakit!”

“Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”

“Percaya, lah!”

“Kalau percaya, coba tunjukkan pada saya wujud sakit itu!”

Pemuda itu terdiam, terpojok dengan pertanyaan ustadz. Sementara ia masih mengelus-elus pipinya yang membiru.

“Itulah jawaban saya atas pertanyaan pertama yang kamu ajukan. Kita semua yakin dan bisa merasakan keberadaan Tuhan, meski kita tak mampu melihat wujud-Nya.

“Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?” Tanya ustadz melanjutkan.

“Tidak.”

“Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?”

“Tidak juga.”

“Itulah yang dinamakan Takdir.”

Pemuda itu sekali lagi terpojok dengan jawaban ustadz. Ia sekarang sadar, ustadz di depannya memang ustadz yang tidak hanya muda, tapi juga cerdas. Pertanyaan yang ia sajikan adalah pertanyaan filosofis dan sengaja untuk memojokkan. Tapi ustadz juga bisa menjawab dengan jawaban yang sejalan dengan pertanyaan itu.

Ustadz menatap pemuda itu tenang dan kembali bertanya;

“Pemuda, perhatikan tanganku ini. Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar Anda?”

“Kulit.”

“Terbuat dari apa pipi anda?”

“Kulit juga.”

“Bagaimana rasanya tamparan saya?”

“Sakit.”

“Nah, itulah jawaban untuk pertanyaan terakhir. Walaupun setan dan neraka sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat menyakitkan untuk setan. Masuk akal?” Pemuda itu mengangguk, kemudian mencium tangan ustadz.

“Ustadz, maafkan saya. Saya sekarang akan benar-benar ikut mengaji kepada Anda.”

Ustadz memeluk pemuda itu.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan