Home / Kisah Inspiratif / Menancapkan Paku Kemarahan

Menancapkan Paku Kemarahan

Alkisah, ada seorang anak yang sangat pemarah. Hampir setiap hari ia uring-uringan pada orangtuanya. Tak jarang ia memarahi teman-temannya, mencacinya, meski itu hanya karena hal yang sepele. Kata-katanya pedas dan menyakitkan orang lain.

Ayahnya sudah habis kata menasihati anaknya ini. Akhirnya ia menemukan ide. Suatu hari ia memberikan sekantong paku dan memaksa anak itu untuk memakukannya di pagar belakang rumah setiap kali dia marah.

Hari pertama ia menancapkan 32 paku. Malam harinya ia merasakan tangannya pegal-pegal. Hari berikutnya ia menancapkan 30 paku. Sekarang tangannya kelihatan memar. Pada hari berikutnya ia berusaha menahan amarah untuk mengurangi jumlah paku yang ia tancapkan.

Demikian seterusnya, hari demi hari ia berusaha menahan amarah untuk menghindari pekerjaan menancapkan paku yang melelahkan itu. Semakin hari jumlah paku yang ditancapkan semakin sedikit. Akhirnya pada suatu hari ia benar-benar tak lagi menancapkan paku.

Bukan karena ia benar-benar telah berhasil meninggalkan kebiasaan buruk marahnya, tapi ia sudah amat kelelahan untuk pekerjaan yang satu ini.

“Baiklah, sekarang Bapak balik, setiap kali kamu bisa menahan amarah, cabutlah paku yang kamu tancapkan itu,”

Anak itu memulai pekerjaannya. Setiap hari kini ia sibuk mencabuti paku yang ia cantapkan. Semakin sering ia berhasil menahan amarah, semakin banyak jumlah paku yang ia cabut.

Hingga akhirnya ia benar-benar berhasil meninggalkan kebiasaan marahnya. Anak itu mencabut paku yang terakhir.

Kini anak itu benar-benar telah berubah. Ia tampak berbeda dengan sebelumnya. Mukanya yang  biasanya tampak uring-uringan kini berubah cerah penuh senyum keramahan. Bapaknya menghampirinya, memeluknya. Sang ayah sangat gembira dan menuntun anaknya ke pagar.

‘’Kau telah berhasil dengan baik, anakku. Tetapi lihatlah lubang-lubang di pagar itu. Kamu memang telah berhasil mencabuti semua paku-paku itu, tapi di sana menyisakan lubang yang tak bisa kita pulihkan seperti sedia kala. Demikianlah saat kita mengumbar kemarahan. Kata-kata kasar yang kita lontarkan menimbulkan luka pada orang lain yang susah disembuhkan.”[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan