Home / Presentasi / Kesetaraan Jender dan Perspektif Islam [Draft Rintisan ke Arah Jender Islami]

Kesetaraan Jender dan Perspektif Islam [Draft Rintisan ke Arah Jender Islami]

PENDAHULUAN

Islam, sejak awal keberadaannya, telah hadir sebagai agama pembebasan. Termasuk di dalamnya membebaskan kaum perempuan dari tirani sejarah. Barangkali perlu ditengok kembali bagaimana keadaan perempuan pada saat sebelum Islam hadir.

Bangsa Arab, yang pada waktu itu menjalani hidupnya dengan cara berpindah-pindah (nomaden), lebih mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan. Apalagi kondisi pada waktu itu, sentimen suku (chauvinism) jelas masih kental yang membuat satu suku dengan yang lainnya sering berperang.

Dalam lingkungan seperti ini, laki-laki adalah simbol keperkasaan yang sangat dibanggakan. Setiap suku jelas lebih membutuhkan kehadiran anak laki-laki untuk pertahanan mereka. Perempuan dianggap sebagai makhluk nomor dua, yang statusnya rendah dan kehadirannya kurang dibutuhkan.

Bahkan, kehadiran anak perempuan dalam anggota keluarga menjadi momok yang sangat memalukan. Mereka merasa sangat malu jika mempunyai anak perempuan. Sungguh tragis, membunuh bayi perempuan dengan cara menguburnya hidup-hidup, pada waktu itu adalah tindakan yang lumrah. Al Quran jelas mengutuk perbuatan keji ini dan merekamnya dalam salah satu firmanNya:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia mneyembunyikan dirinya  dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan mengandung kehinaan, ataukah akan menguburnya  ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuliah, alangkah buruknyaapa yang mereka tetapkan itu.” (QS An Nahl [14] : 58-59)

 Ibnu Katsir mengomentari ayat ini: Allah SWT menceritakan kepada kita tentang dosa-dosa yang mengerikan dari bangsa Arab pagan. Ketika berita kelahiran anak perempuan tersebar, wajah mereka menjadi sangat sedih dan pucat, dan mereka terpukul olah rasa duka cita yang mendalam dan menghindari pergaulan dengan orang-orang karena saking malunya. Mereka akan merawatanya, namun dengan terus menindas dan tidak memberinya kasih sayang, atau kalau tidak, mereka akan menguburnya  hidup-hidup.[1]

Demikian juga dalam masalah pernikahan. Perempuan selalu menjadi pihak yang dirugikan. Tradisi yang berlaku di Arab adalah seorang laki-laki boleh menikahi perempuan kapan saja ia suka, dan menceraikannya ketika merasa bosan tanpa harus memberi kompensasi apa-apa.

Demikian juga dalam hal poligami. Laki-laki Arab boleh berpoligami dengan tanpa batasan dan tanpa syarat apa-apa. Perempuan juga tidak mendapat hak waris. Bahkan ia termasuk katagori harta yang bisa diwariskan. [2] Pada jaman pra Islam, manusia dinilai menurut kemampuan fungsional di medan perang dan produktifitas materialistik mereka.[3]

Islam hadir mereformasi semua tindak diskriminasi ini. Islam datang untuk meluruskan pandangan-pandangan yang merendahkan kaum perempuan. Islam datang menyelamatkan kaum perempuan dari penindasan dan penghinaan. Islam memberikan hak-hak penuh bagi kaum perempuan. Islam degan tegas melarang pembunuhan bayi perempuan dan menyuruh untuk memberikan kasih sayang terhadap mereka. Lak-laki dan perempuan adalah sama-sama bani Adam yang mengemban tugas sebagai khalifatullah di muka bumi.[4]

Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah saling berpasang-pasangan, di mana antara satu dan lainnya setara dan sama-sama saling membutuhkan.[5] Allah menegaskan bahwa yang paling mulia di sisinya bukanlah mereka yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, bukan pula mereka yang lebih fungsional dalam ranah publik dan lebih produktif dalam menghasilkan materi, bukan pula mereka yang menguasai ranah politik, tapi meraka punya kualitas takwa terbaik di hadapan Tuhan. Tak peduli laki-laki maupun perempuan, berpangkat maupun rakyat jelata, bekerja di sektor publik maupun domestik. Semuanya sama di hadapan Tuhan.[6]

Namun demikian, Islam tidak mengajarkan satu jenis hak, satu jenis kewajiban, dan satu jenis sanksi bagi laki-laki dan perempuan. Masing-masing diberi hak dan kewajiban sesuai dengan kodrat dan tujuan penciptaannya. Kesetaraan bukanlah kesamaan.

Perbedaan bukanlah untuk dibeda-bedakan. Hak dan kewajiban yang dibebankan Allah kepada masing-masing tidak hanya semata-mata perintah normatif-dogmatis yang ditentukan Allah SWT secara semena-mena. Namun telah disesuaikan dengan kodrat penciptaan dan tugas masing-masing dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.[7]

DEFINISI GENDER

Istilah gender pertama kali dikembangkan oleh Oakley (1972). Menurutnya, gender adalah: behavior differences between women and men that are socially constructed-created by men and women themselves therefore they are matter of culture (perbedaan-perbedaan sifat antara perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial yang dibuat baik oleh laki-laki maupun perempuan untuk menyesuaikan diri dengan ukuran budaya yang ada).[8]

Gender, dalam kamus bahasa Inggris berarti seks atau jenis kelamin. Sedangkan menurut istilah, gender adalah pembedaan antara perempuan dan laki-laki dalam peran, fungsi, hak, dan perilaku yang dibentuk dalam masyarakat dan budaya setempat.[9] Definisi lain menyebutkan:

”gender is term for socially imposed division between the sexes wheares sex refers to the biological, anatomical, differences betweem male and female. Gender refers to the emotional and psikological attributes which a given culture expects to coincidde with physical maleness or femaleness” (Tutle, 1987). (gender  adalah  sebuah istilah yang menunjukkan pembagian peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang mengacu pada pemberian ciri emosional dan psikologis yang diharapkan oleh budaya tertentu yang disesuaikan dengan fisik laki-laki dan perempuan).[10]

Hilary M Lips dalam bukunya, seks and gender, mendifinikan gender sebagai: cultural expecfations for women and men (harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan). Menurut Fakih, gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural, misalnya perempuan itu lemah lembut, emosional, dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa. Semua itu mengalami perubahan baik dari waktu ke waktu maupun tempat yang berbeda-beda (1999, h. 8-9). [11]

Dalam diskursus ini, ada dua perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan mutlak dan perbedaan relatif. Ada juga yang menyebutnya sebagai perbedaan yang bersifat kudrat dan konstruk (by design). Yang pertama (baca: perbedaan mutlak) adalah perbedaan bawaan lahir (baca: kudrat) yang diterima apa adanya (takend for granted). Ciri dari perbedaan ini bersifat biologis, tidak dapat diubah dan dipertukarkan.

Ia adalah suatu perbedaan yang merupakan pemberian asal dari Tuhan. Misalnya, secara kudrati, laki-laki mempunyai penis, testis, zakar yang berfungsi antara lain untuk menghasilkan sperma, ejekulasi, dan inseminasi. Sedangkan perempuan mempunyai vagina, rahim, indung telur, kelenjer air susu yang berfungsi untuk hamil, melahirkan, dan menyusui.

Sedang perbedaan kedua (baca: perbedaan relatif) adalah perbedaan yang berasal dari konstruk masyarakat (social construction). Ciri dari perbedaan ini dapat dipertukarkan antara perempuan dan laki-laki dan dapat diubah-ubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

Misalnya, perempuan bersifat feminin, perasa, lemah lembut, bertugas di ruang domestik, dan sebagainya. Sedangkan laki-laki bersifat kuat, tegas, memimpin, bertugas di ruang publik, dan seterusnya. Faktor-faktor yang membentuk perbedaan ini adalah kultur dan struktur sosial yang berupa sistem keyakinan dan cara pandang (ideologi) kehidupan seseorang yang telah menyejarah selama berabad-abad.[12]

Sebagian besar para feminis berpendapat bahwa peran-peran sosial, atau yang disebut dengan gender, pada dasarnya berasal dari sosialisasi dan kulturasi masyarakat (nurture). Sifat-sifat maskulin atau pun feminin serta peran-peran sosial lainnya bersifat nurture. Ia berasal dari pembiasaan dan kebiasaan yang berada dalam masyarakat melalui proses sosialisasi budaya.

Perbedaan seks dan organ biologis tidak mempengaruhi pada sifat dan peran-peran itu. Dengan kata lain, perbedaan seks/biologis tidak berimplikasi pada perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Pandangan semacam inilah yang disebut dengan aliran orientasi kultur (culturally oriented contestants).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gender adalah karakteristik sosial sebagai laki-laki dan perempuan seperti yang diharapkan oleh masyarakat budaya melalui sosialisasi yang diciptakan oleh keluarga dan/atau masyarakat, yang dipengaruhi oleh budaya, interpretasi agama, struktur sosial dan politik.

Karakteristik sosial ini menciptakan pembedaan antara laki-laki dan perempuan yang disebut pembedaan gender. Pembedaan gender ini menciptakaan peran, status yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender ini dipelajari dan dapat dipertukarkan dan dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu dan dari suatu masyarakat ke masyarakat yang lain.[13]

Sampai di sini, apakah Anda merasa ada masalah dengan definisi di atas? Sekilas memang tidak. Kenapa? Karena realitasnya memang demikian. Namun jika kita cermati lebih detail lagi maka ada satu hal prinsip yang janggal. Bahwa antara laki-laki dan perempuan punya karakteristik dan peran sosial yang berbeda-beda itu adalah sebuah realitas yang tak dapat dipungkiri.

Namun apakah benar bahwa perbedaan itu hanya disebabkan oleh budaya/kultur? Kalau memang itu hasil dari budaya kenapa begitu massif dan tampak sebagai kultur universal? Padahal manusia mendiami tempat yang berbeda-beda, iklim yang berbeda-beda, bahkan kultur yang beragam.

Tapi kultur bahwa perempuan mempunyai karakter feminine dengan berbagai turunanannya, termasuk lebih banyak menempati ranah domestik dan laki-laki punya karaker maskulin dengan berbagai macam turunannya, termasuk keberadaan mereka yang banyak mendiami sektor publik begitu massif?

Kenapa mereka tiba-tiba punya kesepakatan universal atas hal ini padahal mereka berasal dari latarbelakang kondisi dan kultur yang berbeda-beda dan pada mulanya tidak terjalin satu sama lain? Bukankah ini tidak masuk akal kalau hanya karena disebabkan oleh pembudayaan nilai ataupun kebiasaan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas baru satu hal. Satu hal lain yang juga sangat mendasar adalah, meskipun memang benar bahwa jender bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan, namun apa urgensi dan konsekuensinya? Terakhir bagaimana jawaban dan perspektif Islam atas hal ini?

Di sinilah kemudian terjadi perbedaan dan memunculkan aliran lain dalam memandang perbedaan jender, selain aliran kultural di atas, yaitu aliran yang disebut dengan aliran esensial biologis (biologically oriented contestants). Aliran ini berpendapat bahwa perbedaan seks/struktur biologis berpengaruh pada sifat maskulin dan feminin lak-laki dan perempuan.

Dengan kata lain, sifat maskulin dan feminin ini adalah bawaan, seperti halnya perbedaan seks juga bawaan sejak lahir (nature/kudrat). Perbedaan seks juga berimplikasi pada peran-peran sosial laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang berbeda dengan spesifikasi fungsi dan tugas yang berbeda-beda pula.  [14]

Michael Gurian, dalam bukunya, What Could He Be Thinking? How a Man’s Mind Really Works mengatakan: sebelum para ilmuwan berhasil memfoto saraf otak manusia, kita hanya berkata; apa yang disebut sifat dasar manusia itu omong kosong.

Manusia adalah selembar kertas kosong, kemudian budaya kita menulisinya, membentuk diri kita. Kita juga berkata; sifat dasar lelaki atau sifat dasar perempuan itu tidak ada. Semua orang mempunyai otak yang sama, yang dibentuk jadi maskulin dan feminin oleh budaya. Jika ingin mengubah manusia, kita hanya perlu mengubah apa yang disosialisasikan oleh budaya kita.

Akan tetapi, setelah kita melihat PET scan dan MRI scan, keyakinan tersebut tidak lagi sahih. Meskipun budaya (culture) mempengaruhi pakaian-pakaian psikologis masing-masing, tapi tetap saja, laki-laki dan perempuan mempunyai karakter yang berbeda.

Budaya itu penting, tapi faktor biologi sekarang lebih penting.”[15] Kemudian ia melanjutkan: menerima kenyataan bahwa lelaki dan perempuan sangat berbeda merupakan sebuah keniscayaan dan akan menopang keutuhan rumah tangga kami. Kami berdua adalah manusia, dan inilah saatnya kami belajar menerima sifat dasar manusia.”[16]

Apa yang terkandung dalam pernyataan ini adalah bahwasanya anggapan bahwa perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan tak ada dampaknya terhadap peran sosial, ternyata tidak benar. Michael Gurian, dalam penelitiannya, telah membuktikan bahwa perbedaan peran ini dipicu oleh gejala hormonal yang sudah ada sejak dalam kandungan. Penelitiannya tentang cara kerja otak telah membuktikan bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai kecenderungan-kecenderungan psikologis yang berbeda.

Dengan kata lain, pemaksaan atas satu model kecenderungan (kesetaraan pada wilayah publik) justru merupakan pemaksaan kepada pihak perempuan dan sama artinya dengan menyalahi hukum alam. Memberi irisan roti yang sama kepada dua orang yang punya ukuran perut dan selera yang berbeda malah menjadi tidak adil.

Inilah salah satu jawaan mengapa selama berabad-abad wilayah publik dan dunia kerja didominasi oleh laki-laki dan wilayah domestik/rumah tangga didominasi oleh perempuan. Rupanya fakta ini bukan sekadar hasil konstruksi sosial yang patriarkhat. Namun, menurut Margaret Mead, ini adalah bawaan gen, bahkan fakta ilmiah (khabar mutawatir. Pen.), yang ia sebut sebagai kultur universal.[17]

Perbedaan kadar dan jumlah hormon, serta perbedaan cara kerjanya, telah mengarahkan laki-laki dan perempuan pada peran sosial yang berbeda. Maskulinitas lelaki menuntut keharusan berprestasi (performance imperative) dan mendorong sikap-sikap agresif di ruang publik. Sedang hormon-hormon estrogen, progesteron, dan oxytocin pada perempuan mengembangakan apa yang disebut dengan keharusan berdekatan (intimacy imperative).[18]

Pada tahun 1981 majalah New sweek melaporkan hasil penelitian yang mendalam, yang dilakukan di Amerika, mengenai perbedaan bentuk fisik dan mental dua lawan jenis ini. Inti dari laporan ini adalah bahwasanya perbedaan peran bukan berasal dari respon masyarakat patriarkhat, melainkan berasal dari fungsi-fungsi biologis yang mempersiapkan kedua lawan jenis ini untuk memasuki lingkungan yang berbeda.[19]

Ahli ilmu Jiwa, Martin Symonds, mengatakan: dunia yang tidak membedakan jenis kelamin, merupakan lingkungan tanpa friksi (gesekan), dimana tak seorang pun bisa menjadi dewasa.[20] Inilah fakta ilmiah yang dalam perspektif Barat disebut dengan hukum alam.

Nah, sekarang saatnya kita menjawab pertanyaan, bagaimanakah menurut perspektif Islam? Di awal telah di singgung bahwa perbedaan penciptaan mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda terkait dengan peran dan fungsi laki-laki di muka bumi. Sangat aneh jika karakteristik yang unik dan berbeda ini dimaksudka untuk hal yang sama. Bahkan jika kita perhatikan seluruh ciptaan Allah di muka bumi ini masing-masing memunyai fungsi, maksud dan tujuan masing-masing dalam struktur kehidupan.

Allah adalah Tuhan yang bersifat Al-Badi’ (Maha Pembaharu). Allah adalah inovator tiada batas. Sepanjang sejarah, Allah tak pernah menciptakan satu manusia pun yang sama. Demikian juga dalam penciptaan makhluk manusia. Sungguh tidak kreatif (baca: menyalahi filosofi Al-Badi’) jika kedua makhluk ini mempunyai tugas dan fungsi yang sama.

Laki-laki dan perempuan jelas diciptakan dalam keadaan yang berbeda. Perbedaan ini tentu mempunyai tujuan, maksud dan tugas yang berbeda-beda. Sungguh merupakan sebuah keanehan, jika perbedaan ini hanya sekedar fisik belaka yang tidak mempunyai peran dan fungsi lain dalam dimensi sosial.

Allah tidak akan memberikan tugas dan mewajibkan hal tertentu kepada manusia, kecuali Dia sendiri telah melengkapi manusia tersebut dengan segala alat dan segala kemungkinan yang membuat orang yang bersangkutan bisa melaksanakannya. Tubuh laki-laki dan perempuan dengan keunikannya masing-masing baik fisik, biologis, dan psikologisnya adalah sebuah perangkat istimewa yang dirancang Allah untuk melaksanakan tugas-tugas masing-masing dalam kehidupa sosial (baca: peran sosial/gender).[21]

Jika tugas menyusui, misalnya, dibebankan kepada kaum perempuan, maka itu disebabkan ia diberi puting susu sejak ia diciptakan. Tidak berhenti sampai di situ. Apa yang selama ini menjadi image di masyarakat bahwa perempuan identik dengan sifatnya yang lemah lembut bukanlah konstruk antah-berantah yang bisa didekonstruksi seenaknya.

Tapi sebuah sifat yang sangat selaras dengan tugas utamanya untuk merawat anak. Kemudian jika ia diberi tugas ini, maka otomatis waktunya juga akan banyak tersita di rumah (urusan domestik). Tugas ini membuatnya diberi keringanan misalnya ia tidak dibebani tugas utama sebagai pencari nafkah. Maka laki-lakilah yang diberi tugas ini yang sekali lagi ia pun telah diberi alat dan fasilitas oleh Allah yang memungkinkan untuk melaksanakan tugas masing-masing.

Demikian juga tugas kepemimpinan yang membutuhkan mobilitas tinggi, tenaga dan pikiran yang maksimal dibebankan kepada laki-laki. Ini disebabkan karena laki-laki diberi kekuatan dan watak yang memadai untuk tugas tersebut.[22] Dengan kata lain, segala sesuatu diciptakan Allah dengan dibebani tugasnya sendiri-sendiri. Sebelum para pakar merumuskan sistem pembagian kerja (job discription) sebagai salah satu ciri dunia modern, Allah telah merumuskan sistem ini sejak pertama kali Dia menciptakan makhluk. Inilah yang penulis sebut sebagai mainstream ilahiyyah (God jobdescription).[23]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan peran sosial/gender adalah diciptakan Allah sejak mulanya (qudrati) atau dalam bahasa Barat bersifat alami (nurture). Faktor biologis adalah unsure utama ciptaan Allah yang mengarahkan akan hal itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pandangan aliran aliran esensial biologis (biologically oriented contestants) lebih sejalan dengan Islam. Inilah hukum Allah atas semesta alam (sunatullah) yang oleh Barat disebut dengan hukum alam.

Allah telah merencanakan perbedaan ini untuk membuat hubungan timbal balik yang harmonis antara laki-laki dan perempuan. Perbedaaan ini – meminjam bahasa Murtadha Muthahhari – adalah perbedaaan simetris yang satu sama lain saling mencari dan membutuhkan.[24] Erich Fromm menyebut hubungan ini sebagai “penyelamatan diri dari situasi kesendirian yang mencekam” (frightening experience of aloneness), yang sudah menjadi karakter psikologis manusia itu sendiri.[25]

Fakta ini membuktikan bahwa teori aliran orientasi kultur (culturally oriented contestants) yang dipakai sebagai parameter basic dan worldview kesetaraan gender tepat. Erich Fromm mengingatkan keadaan ini dengan mengatakan: “Mesti diingat, bahwa kesetaraan yang berkembang dalam dunia dewasa ini, tak dapat dipungkiri, merupakan bagian dari trend ke arah eliminasi terhadap setiap bentuk perbedaan.”[26]

TUGAS DAN PERAN UTAMA LAKI-LAKI

Al-Quran menyebutkan banyak hal tentang peran ataupun tugas spesifik laki-laki baik yang berkenaan dengan ibadah maupun muamalah. Namun dalam tulisan pendek ini saya akan mengambil 2 hal saja pada sektor muamalah, yaitu masalah mencari nafkah dan kepemimpinan. Dua sektor inilah yang menjadi pembicaraan utama gender.

Disebutkan bahwa parameter utama kesetaraan jender adalah peran dan kontribusi laki-laki dan perempuan dalam hal ekonomi dan politik/posisi pengambil kebijakan strategis. Dalam konteks ini, mencari nafkah merepresentasikan sektor ekonomi dan kepemimpinan merepresentasikan sektor politik. Dan kedua sektor inilah yang menjadi sektor bidikan utama atau sebut saja primadona yang merepresentasikan sektor publik.

Al-Quran menyebutkan bahwa kedua hal ini adalah ranah utama tugas laki-laki. Allah SWT berfirman: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan kaum laki-laki dari kaum perempuan, dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisaa [4]: 34). Ayat ini merekemondcasikan 2 hal. Pertama bahwa laki-laki itu pemimpin/pelindung perempuan dan kedua bahwa laki-laki bertindak sebagai pencari nafkah.

Ayat ini termasuk ayat yang penunjukkan maknanya jelas, dapat dipahami maksudnya secara mudah (qathi dalalah). Kaidah ushul fikih menyatkan bahwa: pemahaman makna ayat pada dasarnya didasarkan atas maksud utama bunyi teks, bukan didasarkan atas kekhususan sebab (turunnya ayat) – al-ibrah bi’umumillafdzi laa bikhususi sabab. Atas dasar kaidah ini maka pemahaman bahwa kepemimpinan adalah tugas utama laki-laki adalah sudah tepat.[27]

Jika penjelasan hanya sampai di sini, pasti akan muncul tuduhan bahwa pemahaman di atas hanyalah pemahaman normative yang disamping tidak cocok dengan alam modern yang serba ilmiah juga merupakan ekspresi pemihakan terhadap salah satu sudut pandang epistemologi. Bahwa pemahaman itu adalah wujud dari pemihakan salah satu sudut pandang epistemologi itu betul adanya.

Tapi bukankah jika ada penafsiran lain atas ayat itu juga merupakan ekspresi pada sudut pandang yang lain pula? Jadi mengenai pemihakan pada salah satu sudut pandang ini suatu keniscayaan dan sah-sah saja. Sekarang mari kita berhitung fakta empirik.

Kepemimpinan laki-laki ini ada hubungannya dengan struktur biologis laki-laki dimana ia didominasi oleh karakter maskulin. Maskulinitas lelaki menuntut laki-laki mempunyai karakter cenderung untuk menonjolkan diri dan memimpin (performance imperative) dan mendorong sikap-sikap agresif di ruang publik. Ekspresi fundamental dari ruang public adalah akitifas kepemimpinan (sektor politik) dan mencari nafkah (sektor ekonomi).[28]

Jerrold Lee Shapiro dalam karyanya The Goodfather menyimpulkan bahwa tugas utama laki-laki adalah mencari nafkah.[29] Sebuah diskusi besar yang di Washington D.C. pada tahun 1997 yang diikuti oleh banyak peserta dari berbagai negara dan latar belakang kebudayaan dan agama menyimpulkan sebuah rekomendasi bahwa para pria penting untuk dididik untuk menjadi orang yang mempunyai karakter tanggungjawab dan sebagai pelindung bagi istri dan anaknya.

Karakter inilah yang dalam al-Quran disebut sebagai al-qawwam. Jika kita melihat realitas di masyarakat sangatlah mudah untuk menemukan karakter ini. Misalnya pemimpin negara dan para menterinya di hampir semua negara selalu saja didominasi laki-laki sejak zaman ada manusia hingga sekarang. Kalau kita pergi ke jalan raya maka kita akan dapati kebanyakan laki-laki membonceng perempuan.

Laki-lakilah yang memegang stir di depan, dan masih banyak lagi contoh. Fakta ini bahkan berlaku universal sehingga para feminis menuduh bahwa dunia ini berada dalam hegemoni budaya patriarkhi. Fara aktifis feminis telah berusaha mengubahnya dengan berbagai cara tapi kenyataannya gagal. Jadi pertanyaannya sebenarnya realitanya yang salah atau mindset nya yang harus diubah?

Tugas dan Peran Utama Perempuan

Sebagaimana laki-laki, berkenaan dengan tugas dan peran utama perempuan al-Quran juga banyak membahasnya. Namun demikian ada 2 hal yang menonjol dan erat hubungannya dengan persoalan jender ini yaitu karakter utama perempuan dan tugas utama perempuan.

Mengenai karakter utama perempuan Allah SWT berfirman: “maka wanita yang saleh, ialah wanita yang taat…” (QS. An-Nisa: 34).  Taat adalah karakter yang menenjukkan untuk dipimpin. Karakter feminine. Sekali lagi bahwa hormon-hormon estrogen, progesteron, dan oxytocin pada perempuan mengembangakan apa yang disebut dengan keharusan berdekatan (intimacy imperative), yaitu karakter yang bersifat feminin.[30]

Selanjutnya Allah SWT menegaskan bahwa peran utama perempuan adalah pada sektor domestic. Allah SWT berfirman: dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah (QS. Al-Ahzab : 33).

Sekali lagi bahwa bunyi ayat ini sudah jelas dengan bersandar pada kaidah usul fikih al-Ibrah bi’umumi lafdzi laa bikhususi sabab. Sekali lagi struktur biologislah yang menjadi pemicu utama dan mengkondisikan peran utama perempuan dalam sektor ini. Sama seperti fakta bahwa laki-laki tersebar massif ke sektor public dengan banyaknya bukti kongkrit empiric dan penerimaan universalnya.

Tukar Peran dan Pembakuan Tugas

Perbedaan tugas di atas menandakan bahwa Allah SWT telah menciptakan makhluk ini berikut pembagian tugasnya (jodescription). Alam ini adalah sistem organisasi atau kesatuan oragnisme yang terdiri dari pembagian peran kerja yang terjalin secara interdependensi menuju tujuan yang sama; mengabdi kepada Allah dengan menjadi khalifatullah fii al-ardh.

Sebelum para ilmuwan Barat merumuskan pembagian tugas sebagai cirri masyarakat modern, ternyata Allah sudah meletakkan dasar itu sejak Dia menciptakan manusia. Karena itulah para ilmuwan disebut sebagai penemu, bukan pencipta. Mereka menemukan teori dan hukum yang sebenarnya telah ada sebelumnya, sebuah teori dan hukum yang telah diciptakan Allah.

Pertanyaannya adalah, apakah tugas dan perempan spesifik laki-laki dan perempuan di atas boleh dipertukarkan? Menjawab pertanyaan ini saya akan memberikan analogi sebagai berikut: dalam sebuah organisasi, apakah misalnya wakil ketua boleh mengerjakan tugas-tugas ketua? Tentu saja boleh, kan? Demikian juga untuk fungsi-fungsi yang lain. Jika seseorang dapat menjalankan tugasnya kemudian dapat membantu tugas yang lain tentu malah sangat baik. Namun kendati demikian tantu saja harus disadari bahwa sifatnya hanya membantu tadi. Apa jadinya jika dalam sebuah organisasi menerapkan prinsip semuanya boleh mengerjakan apapun sesuai dengan hak-haknya sebagai manusia yang bebas dan berdaulat?

PRINSIP KETERPASANGAN (AZWAJ)

Keterpasangan (azwaj) adalah rumus utama dan teori besar Allah untuk alam semesta ini. Allah SWT berfirman: wa khalaqnaakum azwaaja (dan Kami jadkan kalian semua (para makhluk) berpasang-pasangan. Inilah worldview dasar yang harus dijadikan pijakan dalam memandang realitas.

Demikian juga dalam memandang peran dan tugas laki-laki dan perempuan. Mereka adalah pasangan dimana satu sama lain harus menjadi satu meskipun memerankan fungsi dan tugas yang berbeda.  Suami istri adalah gambaran mikro dari sistem oragnisasi. Kebermaknaan dan kontribusi mereka harus dinilai dalam bingkai keberpasangan ini, bukan melalui kacamat kesetaraan yang didasarkan pada hak-hak asasi yang bersifat individualistik.

Sebuah capaian prestasi harus dinilai sebagai kerjasama tim, bukan representasi individu. Di sinilah ungkapan “Di balik suami yang sukses ada istri yang hebat’ berlaku. Ketiadaan kontribusi perempuan dalam sektor public misalnya bukan berarti ia tidak berkontribusi sama sekali. Dia telah menjalankan fungsi lain yang tidak secara langsung telah memberikan kontribusi besar terhadap sektor itu.

Dalam konteks inilah apresiasi Islam terhadap ranah public dapat dilihat sebagai prinsip yang tepat, bukan “domestifikasi” sebagai dituduhkan feminis cultural yang konotasinya negative.  Jika dipadankan dengan teori Barat, paradigm Islam tentang hal ini dekat dengan paradigm struktural fungsional. Ini juga senada dengan kosmologi China yang menerapkan konsep Yin-Yang.

Dalam konsep ini, subjek-objek, yang diperintah dan yang diperintah, bukanlah representasi dari hegemoni subordinat dimana satu pihak dianggap sebagai yang menguasai dan menindas sementara yang lain adalah pihak yang ditindas. Tapi sebuah keterpasangan yang satu sama lain saling mendapatkan manfaat (simbiosis mutalisme).

Karakter maskulin yang agresif adalah subyek. Dalam struktur kata bahasa Indonesia, subjek ini tentunya membutuhkan objek sebagai jawaban pelengkapnya. Apa jadinya jika subjek dipasangkan dengan subjek lagi. Kalimat macam apa itu? Kalimat yang tanpa makna, kan? Apa pula artinya objek jika kemudian juga tidak ada subjek?

Jadi subjek objek adalah keterpasangan yang membuat makna kehidupan menjadi mempunyai makna. Karakter laki-laki yang maskulin membutuhkan pasangan/objek yang tepat yaitu karakter perempuan yang bersifat feminine dan intimacy imperative. Demikianlah prinsip dasarnya. Bersambung pada berapa tulisan selanjutnya yang berjudul: Ukuran Capaian Kesetaraan Jender dalam Islam, Mengurai Keunikan Jender Indonesia dan Penyimpangannya, Titik Temu Antara Jender Kultural, Aliran Biologis, dan Islam, Rumusan Konseptual Jender Islami.[]

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] Al Imam Al Hafidz Imaduddin Abu Al Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Adzîm, (Beirut: Daar Al Baaz, Abbas Ahmad Al Baz, Daar Al Ma’rifah, 1965), jilid II. Sebagaimana dikutip oleh Fatimah Umar Nasif dalam, Menggugat Sejarah  Perempuan; Mewujudkan Idealisme Gender Sesuai Tuntutan Islam. Penerjemah: Burhan Wirasubrata dan Kundan D. Duryakien, (Jakarta: CV Cendekia Sentra Muslim, 2001), cet. I, h. 54.

[2] Ibid., h. 57.

[3] Ibid., h. 60.

[4] Lihat QS Al Isrâ [17]: 70).

[5] Lihat QS An Najm [53]: 45).

[6] Lihat QS Al Hujurât [49]: 13).

[7] Murtadha Muthahhari, Hak-Hak Perempuan dalam Islam. Penerjemah : M. Hashem, (Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000), cet. VI,  h. 71.

[8] Rahima, Membangun Relasi yang Setara dan Berkeadilan untuk Laki-laki dan Perempuan; Bahan bacaan untuk acara tadarus I Madrasah Rahima Bagi Aktifis Mahasiswa, (RAHIMA: Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan, Wisma Hijau, Cimanggis Depok, 25-28 Juni 2006).

[9] Modul 3 Kesetaraan dan Keadilan Gender, Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam Politik (Pusat P2 Politik) Indonesian center women ini politics (ICWIP), (Pondok Indah: Jakarta), h.  2.

[10] Rahima, Membangun Relasi yang Setara,  h. 6.

[11] Rahima, Membangun Relasi yang Setara,  h. 7.

[12] Zaitunah Subhan, Kodrat Perempuan; Takdir atau Mitos? (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara,  2004), cet ke-1. h. 13.

[13] Panduan Pelatihan Pengarusutamaan Gender Kementerian Keuangan Tahun 2010.

[14] Megawangi, Membiarkan Berbeda?, h. 93.

[15] Michael Gurian, Apa Sih Yang Abang Pikirkan? Membedah Cara Kerja Otak Laki-Laki, penerjemah: Agung Prihantoro, (Jakarta, Serambi, 2005), h. 36.

[16] Ibid., h. 37.

[17] Khan, Antara Islam dan Barat, h. 89.

[18] Gurian, Apa Sih Yang Abang Pikirkan?, h. 77.

[19] Khan, Antara Islam dan Barat, h. 88.

[20] Ibid., h. 94.

[21] Lihat, QS Al Baqarah [2]: 286.

[22] Perbedaan watak dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan akan dijelaskan lebih lanjut pada poin pembahasan tentang Seks dan Pengaruhnya Terhadap Peran Sosial. Penjelasan ini sangat penting. Pasalnya, para feminis menganggap semua ini hanya asumsi dogmatis, bahwa perbedaan watak serta karakter antara laki-laki dan perempuan menurut mereka hanyalah semata-mata konstruk sosial (by design).

[23] Secara lebih detail, penulis mendefinisikan istilah ini sebagai: tugas dasar setiap makhluk yang diberikan oleh Allah (fithrah) yang telah diselaraskan dengan hukum-hukum alam, baik yang bersifat psikis, kimiawi, biologis, maupun sosiologis.

[24] Muthahhari, Hak-Hak Wanita, h. 106.

[25] Erich Fromm, The Art Of Love (Gaya Seni Dalam Bercinta), (Yogyakarta: Pradibta Publishing, 2004), h. 23.

[26] Ibid., h. 27.

[27] Berbeda dengan pemahaman jender yang mengkatagorikan ayat ini sebagai ayat bias jender. Atas dasar ini maka dibuatlah penafsiran bahwa ayat ini harus dipahami dalam konteks sosiologis Arab saat itu yang patriarkhi. Mengenai hal ini saya mengajukan sanggahan, memang benar bahwa struktur kultr Arab itu Patriarkhi, tapi bukankah ini terjadi di semua tempat. Bukankah para feminis cultural juga mengakui bahwa patriarkhi terjadi di mana-mana sebagai kultur yang universal? Jika demikian, apakah ini “bias patriarkhi” apakah justru menggambarkan bahwa al-Quran itu serasi dengan hukum alam?

[28] Gurian, Apa Sih Yang Abang Pikirkan?, h. 77.

[29] Jerrold Lee Shapiro, The Goodfather , hlm. 39.

[30] Gurian, Apa Sih Yang Abang Pikirkan?, h. 77.

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Jangan Lalaikan Akhiratmu

Diantara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan …

Tinggalkan Balasan