Home / Kisah Inspiratif / Harga sebuah Keajaiban

Harga sebuah Keajaiban

Alkisah, sepasang  suami istri, Angga dan Santi, mempunyai 2 orang anak; Lisa, anak pertama, dan Vivi, adiknya. Lisa berumur 8 tahun, sedangkan adiknya, Vivi, baru berumur 5 tahun. Lisa sangat menyayangi adiknya.

Suatu hari Vivi sakit parah. Orangtuanya sudah membawanya berobat ke mana-mana, tapi sakit Vivi belum sembuh juga. Makin hari sakit Vivi makin bertambah parah. Untuk yang ke sekian kalinya, orangtuanya membawa ke rumah sakit. Vivi, anak mungil cantik itu terbaring lunglai tak berdaya. Ia tak lagi bisa mengenali orang sekelilingnya.

Lisa menangis memeluk adiknya. Sesekali ia mengangkat kepala mencoba mengajak adikanya bercanda. Tapi Vivi tetap membisu. Sedikit pun tak merespon kakaknya. Lisa makin sedih dan murung.

Setelah diperiksa, menurut dokter Vivi harus dioperasi. Angga dan Santi sangat kaget. Untuk operasi tentu membutuhkan biaya yang banyak.

Akhirnya mereka memohon keringanan kepada rumah sakit yang bersangkutan. Tapi permohonannya ditolak. Pihak rumah sakit tak mau memberikan keringanan biaya, apalagi menggratiskan.

Vivi semakin kritis. Lisa masih menangis memeluk adiknya. Angga dan Santi sungguh tak tega melihat anak mereka. Tapi apalah daya, mereka tak mampu membayar biaya operasi yang sangat mahal. Padahal kondisi Vivi sudah sangat kritis dan harus segera ditangani secara serius.

“Kita sudah berusaha maksimal, tapi kelihatannya hanya sampai di sinilah yang kita bisa. Sekarang hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan Vivi,” tutur Angga pada istrinya lirih. Mendengar kata-kata bapaknya, Lisa yang sedang memeluk adiknya langsung bangkit dan keluar. Ia berlari menuju rumahnya yang kebetulan tak jauh dari rumah sakit tersebut.

Setelah sampai di rumah, ia mengambil celengan ayam jagonya dan langsung memecahnya. Lisa menghitung uangnya dengan muka  berbinar-binar.

Lisa begitu bangga setelah menghitung semua uangnya. Setelah sekian lama menabung dari hasil menyisihkan uang jajannya, ia dapat mengumpulkan uang Rp 100.000,00. Setelah itu ia langsung menuju ke apotik yang terletak tak jauh dari rumah sakit dimana adiknya dirawat.

“Mencari siapa adik kecil?” tanya seorang apoteker ramah.

“Saya mau beli keajaiban,” jawab Lisa yakin.

“Keajaiban? Mana ada obat yang namanya keajaiban adikku, sayang…”

“Ada. Kata bapak hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan adikku.”

Apoteker itu tersenyum. Ia dapat memahami anak kecil ini. Ia tahu pasti adik anak ini sedang sakit sangat parah yang tak mungkin lagi disembuhkan kecuali keajaiban dari Tuhan. Apoteker itu berpikir mencari cara yang tepat untuk menjelaskan pada anak itu.

“Ada apa?” seorang yang  berpakain putih rapih lewat di depan mereka. Lisa langsung menyambut pertanyaan orang itu dan menerangkan padanya bahwa dia akan membeli keajaiban untuk mengobati adiknya. Orang itu tertegun mendengarkan cerita Lisa.

“Adik manis, berapa uang yang kamu punya untuk membeli keajaiban?”

“Ada. Seratus ribu!” jawab Lisa mantap.

“Baiklah, ayo datang ke adikmu. Kebetulan saya membawa obat keajaiban itu.”

Lisa menggamit orang itu dan membawanya ke ruang dimana adiknya dirawat. Orangtua Lisa sangat kaget melihat anaknya datang dengan seorang dokter.

“Silahkan Pak, dokter…”

“Bagaimana kondisi anak bapak?”

“Kami sudah pasrah, Dok. Biar saja kami serahkan pada yang Maha Kuasa. Kami tak punya biaya untuk operasi.” Belum sempat dokter itu berkomentar, Lisa menyela.

“Pak, Bapak ini akan menyembuhkan adik. Bapak ini punya obat keajaiban.”

“Betul Pak, saya membawa keajaiban itu.”

Tanpa berkomentar banyak, dokter itu memanggil perawat, menyuruh mereka membawa anak kecil nyang terbaring lemah itu ke ruang operasi.

“Dok, kami tak punya…”

“Sudahlah, saya akan tanggung semuanya. Anak bapak akan dioperasi gratis.”

Angga memeluk dokter baik hati itu.

“Terima kasih Pak…” tutur Angga terharu.  Kemudian Angga dan Santi memeluk Lisa haru.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Wortel, Telur, atau Kopi?

Alkisah, ada seorang anak yang senantiasa berkeluh kesah dalam menghadapi kehidupan. Hidup menurutnya Sangat melelahkan. …

Tinggalkan Balasan