Home / Presentasi / Barat, Islam dan Kesetaraan Jender

Barat, Islam dan Kesetaraan Jender

PENDAHULUAN

Partisipasi perempuan dalam pembangunan negeri ini bukanlah hal baru. Keterlibatan mereka dapat dirunut sejak awal berdirinya Republik Indonesia. Sejak awal mula, perempuan telah terlibat dalam proses pembangunan negeri ini.

Bahkan, banyak di antara mereka yang terlibat dalam perang kemerdekaan, saat-saat awal perintisan berdirinya negara Indonesia. Chut Nyak Dien, Cut Meutia. RA Kartini adalah contoh kecil di antara mereka.

Menurut Abd Moqsith Ghazali, peran serta perempuan dalam membangun bangsa ini dapat dikelompokkan ke dalam empat periode.[1] Periode pertama, partisisipasi perempuan secara individul. Periode ini berlangsung sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Pada periode ini, mereka bergerak sendiri-sendiri. Secara individu, beberapa tokoh perempuan muncul ke permukaan sebagai agen perjuangan. Nama-nama yang muncul dalam periode ini antara lain, R.A. Kartini, Rohana Kuddus (Minangkabau), dan Rahmah el-Yunusiyah. Mereka berperan aktif terutama dalam hal pendidikan. Bahkan ada yang merintis mendirikan pesantren khusus putri (ma’had li al-banât).

Periode kedua, partisipasi perempuan melalui institusi. Periode ini berlangsung antara akhir 1920-an hingga akhir 1950-an. Pada periode muncul beberapa organisasi perempuan antara lain, Aisyiyah Muhammadiyah, Muslimat NU, Persaudaraan Isteri, Wanita Sejati, Persatuan Ibu, dan Puteri Indonesia.

Salah satu hasil fenomenal dalam periode ini adalah lahirnya undang-undang keluarga, yaitu UU No. 22 tahun 1946. Dalam undang-undang tersebut salah satunya disebutkan bahwa perkawinan, perceraian, dan rujuk harus dicatatkan.

Periode ketiga, partisipasi perempuan dalam pembangunan nasional. Periode ini berlangsung sejak 1960-an hingga 1980-an. Buah dari rintisan-rintisan terdahulu, perempuan sudah semakin terdidik dan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi pada ranah yang lebih luas, termasuk dalam pemerintahan.

Muncul beberapa nama antara lain, Zakiah Drajat, Nyai Fatimah, Nyai Mahmudah Mawardi, Nyai Khoriyah Hasyim. Salah satu capaian monumental dalamperiode ini adalah lahirnya Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Hukum Perkawinan.

Para aktifis perempuan ini terbukti telah menorehkan darma bakti untuk negeri ini, khususnya untuk memajukan kaum perempuan. Mereka jelas masuk ke dalam katagori “para pejuang perempuan”. Namun, apakah mereka semua menerima begitu saja jika disebut sebagai seorang feminis? Dan apakah mereka mau menerima konsep kesetaraan jender? Jawabnya adalah “tidak!”.

Banyak di antara mereka yang sangat resisten terhadap ide feminsime dan konsep kesetaraan jender meskipun mereka secara nyata memperjuangkan – terutama – hak-hak perempuan. Di sisi lain, ada kelompok yang merasa lebih berhak dan mengkalim diri sebagai pejuang kesetaraan jender dan menganggap kelompok laik sebagai pihak yang anti kesetaraan jender.

Dalam area ini, meskipun mereka sama-sama memperjuangkan hak-hak perempuan, namun sebenarnya mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok dengan ciri khas, mainstream perjuangan, bahkan basis ideologi yang meskipun ada beberapa kesamaan, tapi di sana-sini juga banyak terdapat perbedaan. Kelompok-kelompok ini adalah: Feminis Sekular, Feminis Islam Liberal, dan Feminis Islam Fundamental.

Feminis Sekular adalah para feminis Barat atau mereka yang mengadopsi secara-mentah-mentah konsep feminis Barat.[2] Feminis Islam Liberal adalah kelompok feminis muslim yang mengadopsi paradigma Feminis Sekular dalam menafsir teks-teks agama (baca: al-Qu’ran dan al-Hadits). Feminis ini mencoba memodernisasi ajaran Islam yang berkaitan dengan kesetaraan jender agar ajaran tersebut sesui dengan nafas modernitas.

Namun dalam amatan penulis, yang terjadi sebenarnya bukanlah mendudukkan ajaran Islam agar sesuai dengan perkembangan zaman, tapi penetrasi paradigma feminis Barat terhadap ajaran Islam. Yang terjadi adalah membaca Islam dengan kacamata Barat, bukannya sintesa diskursif antara keduanya. Dengan demikian, mereka tak lain adalah wajah lain feminis sekular yang berbaju Islam.

Sedangkan Feminis Islam Fundamentalis adalah para aktifis muslim yang berpegang teguh pada ajaran Islam, sesuai dengan paradigma turats Islam klasik, serta memperjuangkan kesetaraan jender dengan argumen dan capaian yang digariskan oleh teks suci.[3] Kelompok inilah seharusnya yang dikembangkan dalam Islam.

Mereka punya kepedulian, kecintaan, dan keperpihakan yang tinggi terhadap Islam. Mereka mendasarkan diri pada mainstream ideologi dan khasanah keilmuan Islam dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Bahkan mereka berusaha membaca “jender ala Barat” dengan kacamata Islam.

Sayangnya, kelompok terakhir ini kebanyakan bersifat dan bersikap dogmatis-doktriner. Mereka menjunjung dalil teks sebagai satu-satunya acuan kebenaran. Inilah yang menyebabkan kelompok ini tidak bisa diterima oleh kelompok modernis yang cenderung menggunakan rasionalitas dalam memandang segala sesuatu, termasuk firman Tuhan.

Karenanya, kelompok terakhir ini perlu diberi muatan rasionalitas sehingga dapat diterima oleh kelompok modernis. Di samping itu, dengan pendekatan yang rasional – tanpa menafikan dalil-dalil teks – memungkinkan adanya dialog yang produktif dengan kelompok liberal.

Penamaan “Feminis Islam Fundemental” mungkin tidak tepat. Penulis memilih istilah ini hanya untuk menegaskan pada kelompok Feminis sekular dan Feminis Islam Liberal bahwa kelompok yang mereka sebut sebagai “Islam Fundamental” – yang menurut mereka anti jender – pada dasarnya juga memperjuangkan hak-hak perempuan dan berpartisipasi dalam ranah publik.

Karenanya, mereka juga sangat pantas disebut “feminis” jika terminologi ini dianggap sebagai hak paten bagi siapapun yang memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi kaum perempuan (gender equality).

BARAT PARADIGMA KESETARAAN JENDER

Dalam diskursus sosiologi, setidaknya ada dua katagori besar dalam memandang masyarakat. Pertama, pendekatan yang memandang masyarakat sebagai entitas yang egaliter tanpa struktur. Pelapisan-pelapisan struktur dalam perspektif ini menunjukkan adanya penyelewengan dari tipe masyarakat ideal yang harus diluruskan. Di dalam masyarakat seperti ini sama sekali tak ada pembagian tugas khusus. Sama rata sama rasa. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Semua orang mempunyai tugas, hak dan kewajiban yang sama satu sama lain. Termasuk di dalamnya antara laki-laki dan perempuan. Teori kelas Marx[4] adalah salah satu mata baca yang mendukung pendekatan ini. Pengelompokkan kelas atas dasar kepemilikan maupun atas dasar supra struktur sosio-religi adalah sebuah ketimpangan yang harus dieliminir.[5]

Kedua, pendekatan yang melihat masyarakat sebagai komponen terstruktur dengan kompleksitas pembagian kerja (jobs description) yang relatif tegas, di mana satu sama lain merupakan rangkaian integral dalam keteraturan sebuah sistem.

Pendekatan ini lebih menekankan pada pengakuan atas adanya keragaman (pluralitas) yang satu sama lain punya fungsi dan peran yang efektif dalam sebuah sistem kehidupan. William F. Ogburn, Talcott Parson, Auguste Comte, dan  Emile Durkheim adalah dinatara tokoh-tokoh yang menerapkan pendekatan yang lazim disebut dengan teori struktual-fungsional ini.[6] Kedua teori ini nantinya sangat berhubungan dan memengaruhi teori kesetaraan jender (gender equality).

Lantas, apa yang dimaksud dengan kesetaraan jender? Istilah gender pertama kali dikembangkan oleh Oakley (1972). Menurutnya, jender adalah: behavior differences between women and men that are socially constructed-created by men and women themselves therefore they are matter of culture (perbedaan-perbedaan sifat antara perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial yang dibuat baik oleh laki-laki maupun perempuan untuk menyesuaikan diri dengan ukuran budaya yang ada).[7]

Jender, dalam kamus bahasa Inggris berarti seks atau jenis kelamin. Sedangkan menurut istilah, jender adalah pembedaan antara perempuan dan laki-laki dalam peran, fungsi, hak, dan perilaku yang dibentuk dalam masyarakat dan budaya setempat.[8]

Definisi ini terlihat agak berbeda dengan definisi berikut ini: ”Gender is term for socially imposed division between the sexes wheares sex refers to the biological, anatomical, differences betweem male and female. Gender refers to the emotional and psikological attributes which a given culture expects to coincidde with physical maleness or femaleness” (Tutle, 1987).

Gender  adalah  sebuah istilah yang menunjukkan pembagian peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang mengacu pada pemberian ciri emosional dan psikologis yang diharapkan oleh budaya tertentu yang disesuaikan dengan fisik laki-laki dan perempuan).[9]

Kedua definisi sama-sama menyebut bahwa jender adalah perbedaan sifat dan peran soial antara laki-laki dan perempuan. Namun keduanya berbeda penekanan dalam hal penyebab perbedaan tersebut. Definisi pertama menyebutkan faktor budaya sebagai penyebabnya. Sedangkan definisi kedua lebih menekankan faktor fisik (baca: konstruk biologis dan genetik) yang menjadi penyebab utamanya.

Sampai di sini tak ada yang perlu dipermasalahkan jika perbedaan sekedar perbedaan yang tak berdampak apa-apa. Namun dalam perjalanannya, perbedaan ini menimbulkan ketidakadilan terutama bagi perempuan. Perempuan diturunkan harga dirinya menjadi makhluk nomor dua (second class) di bawah laki-laki.

Dari sinilah kemudian muncul apa yang disebut dengan konsep kesetaraan jender. Jadi, jika melihat alasan ini, hal utama  yang menjadi tujuan mulia kesetaraan jender adalah “keadilan” yang ukurannya lebih kompleks, ketimbang sekedar penyamaan peran yang katagoriunya sangat simplitis.

Di Barat sendiri, konsep ini mengundang perdebatan. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kesetaraan jender adalah kesamaan hak dan kewajiban, fungsi dan peran secara mutlak antara laki-laki dan perempuan, sehingga mereka bisa bertukar peran tanpa batasan apapun, baik di ruang privat maupun di ruang publik.

Pendapat ini mengasumsikan bahwa setiap manusia memunyai aspirasi, bakat keinginan, dan kebutuhan yang sama, baik laki-laki maupun perempuan. Kesetaraan ini disebut dengan kesetaraan lot, atau kesetaraan kuantitatif (50/50).[10] Perbedaan-perbedaan biologis (sex) tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap peran-peran sosial antara laki-laki dan perempuan.

Dengan demikian, laki-laki dan perempuan harus diperlakukan “sama rata sama rasa” tanpa melihat perbedaan biologis dan jenis kelamin ini. Konsep kesetaraan semacam inilah yang dipakai oleh UNDP (United National Development Program).

Menurut laporannya, data statistik di seluruh dunia menunjukkan bahwa angka partisipasi perempuan dalam pasar kerja dan politik selalu lebih kecil dari laki-laki.[11] Maka, ukuran kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang dididam-idamkan dan dicita-citakan UNDP adalah tersebarnya kaum perempuan ke dalam wilayah publik – utamanya dunia kerja dan politik – secara merata, seimbang dengan kaum laki-laki  dari segi jumlah.

Konsep ini segera ditentang oleh Elizabet Wolgast dalam bukunya, Equality and the Right of Woman (1980).[12] Ia menentang konsep kesetaraan jender kuantitatif yang mengabaikan sisi perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan serta dampaknya terhadap peran sosial.

Menurutnya, laki-laki dan perempuan adalah dua jenis kelamin yang berbeda, yang keduanya mempunyai kekutan, kelemahan, keagungan, hasrat, dan tendensi yang berbeda. Kesetaraan lot, menurutnya, justru banyak merugikan pihak perempuan.

Pada kenyataannya, justru banyak para perempuan yang tidak mau diperlakukan sama dengan laki-laki. Dia lebih memandang kesetaraan sebagai kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan.

Senada dengan Elizabet Wolgast, Dauglas Rae menuliskan, “Equality is the simplest and most abstract of notions, yet the practices of the world are irremediabely concrete and complex. How, imaginably, could the former govern the later?” (Kesetaraan adalah pernyataan yang paling simpel dan abstrak, tetapi dalam praktiknya sulit dan kompleks untuk menjadi kenyataan, dapatkah teori mengatur praktik?)[13]

Rae menawarkan konsep yang menurutnya lebih realistis. Baginya, kesetaraan tak mungkin, bahkan tidak adil, jika mengacu pada kesamaan lot. Ada banyak manusia, baik laki-laki dan perempuan yang satu sama lain belum tentu memunyai hasrat, kemampuan, dan potensi yang sama, yang jika diperlakukan dengan sama, malah menimbulkan ketidakadilan gender.

Yang lebih realistis menurutnya adalah kesetaraan dalam kesempatan (equality of opportunity). Itu lebih adil dan lebih realistis dengan menekankan pada kebebasan, kecenderungan, dan potensi masing-masing orang.[14]

Rae menyadari bahwa konsep equality of opportunity belum cukup. Karena “kesetaraan dalam kesempatan” ini juga menjadi tidak adil. Persoalannya, bukan siapa yang punya kesempatan. Tapi siapa yang punya kemampuan dan alat untuk mengakses sesuatu.

Untuk itu, Rae menambahkan, konsep “kesetaraan dalam kesempatan” itu harus juga didukung dan difasilitasi dengan program untuk meningkatkan kemampuan dan kepemilikan alat untuk mengakses hal tersebut yang ia sebut dengan konsep kesetaraan mens-regarding-equality.

Berbagai perbedaan ini, baik dalam hal definisi jender maupun kesetaraan jender dapat disederhanakan menjadi dua katagori. Pertama, mereka sepakat bahwa antara  laki-laki  dan  perempuan  mempunyai  perbedaan  biologis (seks). Kedua, mereka bersilang pendapat apakah perbedaan seks ini punya implikasi terhadap peran sosial atau tidak.

Dengan kata lain, apakah perbedaan-perbedaan sifat dan peran antara laki-laki dan permpuan yang selama ini terlihat di masyarakat ada kaitannya dengan perbedaan biologis/factor fisik/genetis? Atau semata-mata disebabkan oleh konstruksi sosial?

Sebagian besar para feminis berpendapat bahwa peran-peran sosial, atau yang disebut dengan gender, pada dasarnya berasal dari sosialisasi dan kulturasi masyarakat (nurture). Perbedaan seks dan organ biologis tidak mempengaruhi pada sifat dan peran-peran itu.

Dengan kata lain, perbedaan seks/biologis tidak berimplikasi pada perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Pandangan semacam inilah yang disebut dengan aliran orientasi kultur (culturally oriented contestants).

Di luar itu, ada yang berpendapat sebaliknya, bahwa perbedaan seks berpengaruh pada sifat maskulin dan feminin lak-laki dan perempuan. Dengan kata lain, sifat maskulin dan feminin ini adalah bawaan, seperti halnya perbedaan seks juga bawaan sejak lahir (nature/kudrat).

Dus, perbedaan seks berimplikasi pada peran-peran sosial laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya masing-masing adalah dua makhluk yang berbeda dengan spesifikasi fungsi dan tugas yang berbeda-beda pula.  Pandangan ini disebut sebagai aliran esensial biologis (biologically oriented contestants).[15]

Dua aliran besar ini melakukan aksi sesuai dengan cara pandangnya masing-masing. Bahkan, tak jarang satu sama lain berseberangan saling berlawanan. Masing-masing memperkuat pandangannya dengan berbagai argumentasi dan data yang mereka temukan. Kendati demikian, apa yang selama ini disebut sebagai gerakan feminisme adalah yang bertumpu pada aliran yang pertama.

ALIRAN-ALIRAN FEMINISME

Di dunia Barat berkembang beberapa aliran feminisme. Di antaranya yang paling umum dikenal adalah Feminisme Liberal, Feminisme Sosialis, dan Feminisme Radikal. Feminisme Liberal berkembang di Barat (Amerika Serikat) pada abad ke-18. Aliran ini berakar pada filosofi natural right dari John Locke yang menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk hidup, mendapat kebebasan, dan mencari kebahagiaan.

Perspektif human right inilah yang menjadi mindset aliran ini.[16] Feminisme Liberal berpandangan bahwa perempuan memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Menurut aliran ini, setiap manusia memunyai kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional.

Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan laki-laki.

Para feminis aliran ini berusaha untuk menyadarkan perempuan bahwa pekerjaan yang dilakukan perempuan di sektor domestik adalah hal yang tidak produktif dan menempatkan perempuan pada posisi subordinat.

Mereka mengkampanyekan budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis, sebagai piranti yang sangat mendukung kebebasan perempuan dari subordinasi dan ketertindasan. Mereka menggiring para perempuan untuk keluar rumah dan berkarier dengan bebas, agar tidak tergantung lagi pada laki-laki.[17]

Feminisme Sosialis memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Laki-laki, yang dalam struktur keluarga tradisional memegang peran pencari nafkah, membuatnya mempunyai otoritas lebih di atas perempuan lantaran ia menguasai dan mengontrol sumber-sumber produksi.

Sebagai konsekuensinya, ia memegang peran kunci sebagai kepala rumah tangga. Sedangkan perempuan berada pada posisi tersubordinasi di bawah leki-laki. Bahkan, ia termasuk ke dalam kekayaaan pribadi (private property) sang suami.[18]

Laki-laki, dalam perspektif Marxis, adalah para borjuis yang menindas kaum proletar (perempuan). Bahkan, penindasan ini sampai pada tahap membuat perempuan teralienasi dari kesadarannya. Ia menganggap tugas domestik sebagai sesuatu yang wajar, bahkan niscaya, diamana tugas itu sudah selaras dengan kodrat keperempuanannya. Isteri hanya dihibur dengan dijadikan – meminjam istilah Engel –  the heard servant (kepala pembantu).

Feminisme Radikal muncul sejak pertengahan tahun 1970-an. Aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarkhat.

Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, Feminisme Radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. Untuk itu, aliran ini menawarkan ideologi “perjuangan separatisme perempuan”.[19]

Berbeda dengan Feminisme Liberal yang menekankan aspek HAM dan perjuangan melalui mekaniskme undang-undang secara demokratis, dan Feminisme Marxis yang menjadikan struktur patriarkhat sebagai sasaran kemarahannya serta melawannya dengan paradigma sosial konflik (konflik kelas).

Feminisme Radikal beranjak lebih jauh lagi dari apa yang dilakukan Feminisme Marxis. Benar, bahwa keduanya sama-sama mendorong dihapuskannya institusi keluarga. Namun masing-masing berbeda dalam hal titik berangkatnya. Feminisme Radikal berpendapat bahwa subordinasi perempuan justru berasal dari perbedaan biologis masing-masing.

Perbedaan biologis yang ada pada diri perempuan dianggap semacam kutukan buruk yang harus segera diakhiri dan dicarikan jalan keluarnya. Berkeluarga sama artinya dengan memasuki penjara tirani biologis (the tyrani of the biological family). Aliran ini memperlihatkan sikap anti terhadap kaum laki-laki, sehingga membuat mereka menggagas kelompok tersendiri yang disebut dengan “sisterhood”.[20]

Di sini terlihat ada kesamaan antara Feminisme Liberal dan Feminisme Marxis dalam beberapa hal. Pertama, sama-sama memandang wilayah domestik sebagai subordinasi bagi perempuan.[21] Kedua, sama-sama memandang dunia maskulin sebagai parameter kesetaraan.[22] Ketiga, sama-sama mensupport perempuan untuk keluar dari wilayah domestik.

Bedanya, feminisme melihat semua itu sebagai tuntutan HAM yang bersifat rasional dalam lanskap demokratisasi, sedangkan Feminisme Marxis melihat semua itu sebagai ekspresi perlawanan emosional untuk keluar dari ketertindasan.

Jika Feminisme Liberal memandang faktor undang-undang sebagai sarana yang tepat untuk mengatasi kebekuan diskriminasi, maka Feminisme Marxis menuding struktur patriarkhat sebagi biangkerok yang harus diubah. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini terkadang tipis dan satu sama lain saling berjalin berkelindan.

KONSEP KESETARAAN JENDER DALAM ISLAM

Bagaimana halnya kesetaraan jender dalam Islam? Islam, sejak awal keberadaannya, telah hadir sebagai agama pembebasan. Termasuk di dalamnya membebaskan kaum perempuan dari tirani sejarah. Barangkali perlu ditengok kembali bagaimana keadaan perempuan pada saat sebelum Islam hadir.

Bangsa Arab, yang pada waktu itu menjalani hidupnya dengan cara berpindah-pindah (nomaden), lebih mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan. Apalagi kondisi pada waktu itu, sentimen suku (chauvinism) jelas masih kental yang membuat satu suku dengan yang lainnya sering berperang.

Dalam lingkungan seperti ini, laki-laki adalah simbol keperkasaan yang sangat dibanggakan. Setiap suku jelas lebih membutuhkan kehadiran anak laki-laki untuk pertahanan mereka. Perempuan dianggap sebagai makhluk nomor dua, yang statusnya rendah dan kehadirannya kurang dibutuhkan.

Bahkan, kehadiran anak perempuan dalam anggota keluarga menjadi momok yang sangat memalukan. Mereka merasa sangat malu jika mempunyai anak perempuan. Sungguh tragis, membunuh bayi perempuan dengan cara menguburnya hidup-hidup, pada waktu itu adalah tindakan yang lumrah. Al-Qur’an jelas mengutuk perbuatan keji ini dan merekamnya dalam salah satu firman-Nya:

 “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia mneyembunyikan dirinya  dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan mengandung kehinaan, ataukah akan menguburnya  ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuliah, alangkah buruknyaapa yang mereka tetapkan itu.” (QS An Nahl [14] : 58-59).

 Ibnu Katsir mengomentari ayat ini: Allah menceritakan kepada kita tentang dosa-dosa yang mengerikan dari bangsa Arab pagan. Ketika berita kelahiran anak perempuan tersebar, wajah mereka menjadi sangat sedih dan pucat, dan mereka terpukul olah rasa duka cita yang mendalam dan menghindari pergaulan dengan orang-orang karena saking malunya.

Mereka akan merawatanya, namun dengan terus menindas dan tidak memberinya kasih sayang, atau kalau tidak, mereka akan menguburnya  hidup-hidup.[23]

Demikian juga dalam masalah pernikahan. Perempuan selalu menjadi pihak yang dirugikan. Tradisi yang berlaku di Arab adalah seorang laki-laki boleh menikahi perempuan kapan saja ia suka, dan menceraikannya ketika merasa bosan tanpa harus memberi kompensasi apa-apa.

Demikian juga dalam hal poligami. Laki-laki Arab boleh berpoligami dengan tanpa batasan dan tanpa syarat apa-apa. Perempuan juga tidak mendapat hak waris. Bahkan ia termasuk katagori harta yang bisa diwariskan.[24] Pada zaman pra Islam, manusia dinilai menurut kemampuan fungsional di medan perang dan produktifitas materialistik mereka.[25]

Islam hadir mereformasi semua tindak diskriminasi ini. Islam datang untuk meluruskan pandangan-pandangan yang merendahkan kaum perempuan. Islam datang menyelamatkan kaum perempuan dari penindasan dan penghinaan. Islam memberikan hak-hak penuh bagi kaum perempuan.

Islam degan tegas melarang pembunuhan bayi perempuan dan menyuruh untuk memberikan kasih sayang terhadap mereka. Lak-laki dan perempuan adalah sama-sama bani Adam yang mengemban tugas sebagai khalifatullah di muka bumi.[26]

Jika dilihat ke dalam al-Qur’an, maka di sana banyak ditemuai ayat yang mendukung kesetaraan jender. Seperti QS. al-Hujurat [49]: 13, an-Nisa [4]: 1, al-Ahzab [33]: 36,  an-Nur [24]: 63, at-Taubah [9]: 71 dan masih banyak lagi. Ayat-ayat ini mengandung khitab dan petunjuk yang setara antara laki-laki dan perempuan.

Namun banyak juga ayat yang menjelasakan perbedaan fungsi dan tugas antara keduanya. Ayat-ayat tersebut antara lain, QS. an-Nisa [4]: 3, 129, 34, 25, 34-35, al-Baqarah [2]: 228, 223, Al-Ahzab [33]: 32-33. Ayat-ayat ini membahas tentang perkawinan dan kehidupan suami isteri.

Kemudian ayat-ayat yang membahas masalah talak, rujuk, dan iddah. Ayat-ayat tersebut adalah: QS. al-Baqarah [2]: 228, 229, 230, 231, 232, 234, 235, 236, 237, 240, 241, al-Ahzab [33]: 49, dan at-Thalaq [65]:1-5.  Kemudian ayat tentang waris (QS. an-Nisa [4]: 11-12, 176, ayat masalah pakaian (QS. al-Ahzab [33]: 59, ayat tentang persaksian (QS. al-Baqarah [2]: 282, ayat tentang kehidupan sosial (an-Nur [24]: 30-3, Ali Imran [3]: 14), dan masih banyak lagi.[27]

Dalam pandangan Feminis Islam Sekular, ayat-ayat inilah yang harus ditafsir ulang dengan paradigma baru yang berwawasan jender. Lantas apa yang dimaksud dengan paradigma baru ini? Paradigma baru ini tak lain dan tak bukan adalah paradigma yang dibawa oleh para feminis Barat, terutama feminisme liberal.[28] Inilah yang penulis sebut sebagai penetrasi paradigma Barat/Feminis Sekular terhadap ajaran-ajaran Islam.

Sementara Feminisme Islam Fundamental menerima ayat tersebut  sebagai ayat qath’i sembari mencari hikmah dan rasio-legisnya disertai. Pemahaman semacam inilah yang berkembang di pesantren yang nota bene sebagai lembaga yang “otoritatif” dalam hal pemahaman Islam.

Pesantren secara tegas memberlakukan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Lebih tepatnya, laki-laki bertugas di ranah publik (dunia kerja), perempuan bertugas di ranah domestik (baca: rumah tangga). Laki-laki bertugas mencari nafkah, perempuan bertugas mengasuh anak. Laki-laki bertindak sebagai kepala rumah tangga, perempuan bertindak sebagai ibu rumah tangga. Laki-laki memimpin, perempuan dipimpin. Laki-laki mengatur, perempuan mentaati.

Pesantren juga menerima pemahaman bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai karakter biologis yang berbeda. Misalnya laki-laki cenderung kasar, perempuan lemah-lembut. Laki-laki banyak menggunakan akal, perempuan banyak menggunakan perasaan.

Laki-laki terus-terang dan vulgar, perempuan malu-malu. Laki-laki bertindak sebagai subyek pencari perempuan, perempuan bertindak sebagai obyek yang dicari. Laki-laki menyayangi, perempuan disayangi dan seterusnya. Pendek kata, pesantren memberlakukan pembedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan.

Semua ajaran ini diambil sumbernya dari kitab-kitab salaf (kutub al-salaf) atau yang dalam dunia pesantren sering disebut dengan ”kitab kuning”. Bahkan dirujuk langsung dari sumber asal, al-Qur’an dan Sunah.  Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah saling berpasang-pasangan, di mana antara satu dan lainnya setara dan sama-sama saling membutuhkan.[29]

Allah menegaskan bahwa yang paling mulia di sisinya bukanlah mereka yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, bukan pula mereka yang lebih fungsional dalam ranah publik dan lebih produktif dalam menghasilkan materi, bukan pula mereka yang menguasai ranah politik, tapi meraka punya kualitas takwa terbaik di hadapan Tuhan. Tak peduli laki-laki maupun perempuan, berpangkat maupun rakyat jelata, bekerja di sektor publik maupun domestik. Semuanya sama di hadapan Tuhan.[30]

Namun demikian, Islam tidak mengajarkan satu jenis hak, satu jenis kewajiban, dan satu jenis sanksi bagi laki-laki dan perempuan. Masing-masing diberi hak dan kewajiban sesuai dengan kodrat dan tujuan penciptaannya. Kesetaraan bukanlah kesamaan.

Perbedaan bukanlah untuk dibeda-bedakan. Hak dan kewajiban yang dibebankan Allah kepada masing-masing tidak hanya semata-mata perintah normatif-dogmatis yang ditentukan Allah Swt. secara semena-mena. Namun telah disesuaikan dengan kodrat penciptaan dan tugas masing-masing dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.[31]

Laki-laki dan perempuan jelas diciptakan dalam keadaan yang berbeda. Perbedaan ini tentu mempunyai tujuan, maksud dan tugas yang berbeda-beda. Sungguh merupakan sebuah keanehan, jika perbedaan ini hanya sekedar fisik belaka yang tidak mempunyai peran dan fungsi lain dalam dimensi sosial.

Allah tidak akan memberikan tugas dan mewajibkan hal tertentu kepada manusia, kecuali Dia sendiri telah melengkapi manusia tersebut dengan segala alat dan segala kemungkinan yang membuat orang yang bersangkutan bisa melaksanakannya.[32]

Jika tugas menyusui, misalnya, dibebankan kepada kaum perempuan, maka itu disebabkan ia diberi puting susu sejak ia diciptakan. Tidak berhenti sampai di situ. Apa yang selama ini menjadi image di masyarakat bahwa perempuan identik dengan sifatnya yang lemah lembut bukanlah konstruk antah-berantah yang bisa didekonstruksi seenaknya.

Tapi sebuah sifat yang sangat selaras dengan tugas utamanya untuk merawat anak. Kemudian jika ia diberi tugas ini, maka otomatis waktunya juga akan banyak tersita di rumah (urusan domestik). Tugas ini membuatnya diberi keringanan misalnya ia tidak dibebani tugas utama sebagai pencari nafkah. Maka laki-lakilah yang diberi tugas ini yang sekali lagi ia pun telah diberi alat dan fasilitas oleh Allah yang memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya.

Demikian juga tugas kepemimpinan yang membutuhkan mobilitas tinggi, tenaga dan pikiran yang maksimal dibebankan kepada laki-laki. Ini disebabkan karena laki-laki diberi kekuatan dan watak yang memadai untuk tugas tersebut.[33]

Dengan kata lain, segala sesuatu diciptakan Allah dengan dibebani tugasnya sendiri-sendiri. Sebelum para pakar merumuskan sistem pembagian kerja (job discription) sebagai salah satu ciri dunia modern, Allah telah merumuskan sistem ini sejak pertama kali Dia menciptakan makhluk. Inilah yang penulis sebut sebagai mainstream ilahiyyah.[34]

Apakah tugas ini bersifat baku dan tidak bisa dipertukarkan satu sama lain? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis justru akan bertanya,”Apa jadinya jika setiap menteri dalam sebuah negara yang masing-masing telah diberi tugas tersendiri kemudian justru memikirkan dan mengerjakan tugas menteri yang lain?”

Itu namanya overlapping yang dapat membuat hancur negara tersebut. Dengan kata lain, apa yang menjadi titik tekan (stressing) di sini adalah bahwasanya setiap makhluk, termasuk di dalamnya laki-laki dan perempuan hendaknya menunaikan tugas utamanya terlebih dahulu. Kendati demikian, uniknya, satu sama lain juga tak bisa berdiri sendiri.

Tak ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendirian. Masing-masing diciptakan dengan kesempurnaan sekaligus kekurangannya masing-masing. Allah telah memberlakukan kesalingtergantungan (interdependensi) kepada semua makluk-Nya.

Kesadaran bahwa satu sama lain saling membutuhkan ini menggiring manusia untuk bergerak saling tolong-menolong (ta’awwun ‘ala al-birri wa al- taqwa). Inilah prinsip utama dalam interaksi sosial. Interaksi yang bersifat eksploitatif dan diskriminasi tentu saja menyalahi prinsip saling membutuhkan yang meniscayakan kesetaraan dan berarti juga menyalahi fitrah penciptaan yang telah digariskan Allah.

Pada saat-saat tertentu, tentu saja laki-laki maupun perempuan boleh saja bertukar tugas ataupun membantu tugas yang lain. Namun, ini tidak berarti laki-laki dan perempuan diasumsikan tanpa perbedaan-perbedaan tugas, dan maksud tersendiri dalam penciptaannya sebagaimana yang diasumsikan oleh kelompok feminis yang mendambakan kesamaan lot (feminis utopis).

Semua tugas yang dibebakan kepada makhluk-Nya adalah mulia. Islam tidak pernah memandang sektor domestik sebagai yang lebih mulia ketimbang ranah publik. Semuanya adalah pekerjaan mulia. Keterpasangan dan saling lengkap-melengkapi bukan hanya konsep yang sangat tepat dan realistis. Namun juga sebuah filosofi yang agung dan sangat manusiawi.

KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan, secara rinci paradigma baru ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Aliran biologically oriented contestants dengan corak masyarakat strukutural fungsionalnya lebih relevan dijadikan parameter kesetaraan jender pesantren, ketimbang culturally oriented contestants. Sebab, perbedaan peran yang selama ini terjadi bukannya disebabkan oleh struktur patriarkhat (setidaknya bukan itu faktor determinannya), namun disebabkan oleh –terutama – komposisi biologis yang bersifat kodrati, selaras dengan “filosofi penciptaan” dalam Islam.
  2. Laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan dengan komposisi yang sangat berbeda (bahkan berlawanan) untuk maksud dan peran yang berbeda. Kendati demikian, satu-sama lain harus bekerja sama dan saling lengkap-melengkapi dalam mencapai tujuan. Laki-laki dan perempuan adalah dua bagian yang sama penting antara rem dan gas pada sebuah kendaraan. Berbeda, tapi harus padu dan bekerjasama demi lancarnya laju kendaraaan tersebut. Tanpa memenuhi syarat ini, kendaraan tidak akan pernah sampai tujuan.
  3. Kesetaraan tidak diukur dengan pencapain kuota 50/50 antara laki-laki dan perempuan dalam sektor publik, namun diukur dengan keharmonisan dinamika sosial yang ukurannya lebih kompleks ketimbang hanya sekedar kuantitas.
  4. Tugas utama laki-laki sesuai dengan ayat al-Qur’an dan kecenderungan biologis adalah sebagai pemimpin dan mengurus sektor publik, sedangkan perempuan mengurus sektor domestik.
  5. Baik peran publik maupun peran domestik adalah tugas yang sama-sama mulia.
  6. Harus dipahami bahwa perbedaan peran tidak menggambarkan salah satunya lebih mulia dibandingkan yang lainnya. Namun ini hanya sekedar alokasi distribusi kerja untuk menciptakan kondisi sosial yang dinamis. Dengan demikian, masing-masing harus tetap berada dalam koridor saling menghormati dan saling menghargai.[]

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] Abd Moqsith Ghazali, “Dari Kartini Sampai Feminis Islam: Menyambut Hari Kartini 21 April 2007”, (www.islamlib.com).

[2] Konsep feminis Barat yang dimaksud adalah aliran “Feminis Kultural” dengan basis paradigma culturally oriented contestants dengan berbagai varian alirannya. Aliran inilah yang menominasi publik dan diadopsi di Indonesia. Sebab ada aliran aliran lain, yaitu aliran biologically oriented contestants yang tidak banyak berkembang.

[3] Penulis menghindari istilah “tekstualis’ untuk menyebut kelompok ini. Sebab, istilah ini sudah stereotipe. Seolah-olah yang berpegang pada bunyi teks adalah kelompok yang tidak rasional. Padahal mereka juga memperkuat argumen dengan dalil-dalil rasional, baik secara filosofis maupun dalil sosiologis.

[4] Karl Marx, (1818-1883) Sosiolog asal Jerman.

[5] Bahkan perbedaan ini (baca: perbedaan kelas) menurut Marx adalah alur natural yang dengan sendirinya akan membawa konflik yang berujung pada masyarakat sosialisme ilmiah (baca: masyarakat egaliter tanpa kelas). Untuk meloloskan ide ini, Marx membaut teori basis struktur dan super struktur. Titik pangkal dari semua masalah menurutnya adalah persoalan ekonomi yang ia sebut sebagai basis bawah (infrastruktur). Kepemilikan pribadi adalah kepemilikan mengenai faktor ini. Adapun perbedaan lain yang tersimpul misalnya dalam kelompok moral maupun agama hanyalah imbas dari basis bawah ini. Menggunkan teori ini adalah menggunakan cara pendang sosial konflik dalam melihat realitas yang berbeda yang bertujuan pada tercapainya kesetaraan yang sesungguhnya. Penulis sendiri lebih suka menyebut cita-cita ini sebagai kesetaraan utopis.

[6] Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda?: Sudut Pandang Baru Relasi Gender, (Bandung: Mizan, 1999), cet. 1, h. 56.

[7] Rahima, Membangun Relasi yang Setara dan Berkeadilan untuk Laki-laki dan Perempuan; Bahan bacaan untuk acara tadarus I Madrasah Rahima Bagi Aktifis Mahasiswa, (RAHIMA: Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan, Wisma Hijau, Cimanggis Depok, 25-28 Juni 2006).

[8] Modul 3 Kesetaraan dan Keadilan Gender, Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam Politik (Pusat P2 Politik) Indonesian center women ini politics (ICWIP), (Pondok Indah: Jakarta), h.  2.

[9] Rahima, Membangun Relasi yang Setara,  h. 6.

[10] Kesetaraan lot adalah kesetaraan yang berdasarkan asumsi bahwa setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai aspirasi, bakat keinginan, dan kebutuhan yang sama. Dengan demikian, ukuran tercapainya kesetaraan adalah apabila laki-laki dan perempuan tersebar ke dalam peran sosial dengan jumlah perbandingan yang sama. Lebih tepatnya sebenarnya penyebaran fungsi dalam dunia kerja. Artinya, kesetaraan dikatakan tercapai apabila penyebaran jumlah perempuan dalam dunia kerja dan wilayah publik lainnya sebanding dengan laki-laki dari segi jumlah (pen.).

[11] Megawangi, Membiarkan Berbeda?, h. 24.

[12] Ibid., h. 47.

[13] Ibid, h. 53.

[14] Ibid., h. 48.

[15] Megawangi, Membiarkan Berbeda?, h. 93.

[16] Megawangi, Membiarkan berbeda?, h. 119.

[17] www.wikipedia.org/wiki/feminisme, diakses pada tanggal 4 Agustus 2007.

[18] www.wikipedia.org/wiki/feminisme, diakses pada tanggal 4 Agustus 2007.

[19] http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme, diakses pada tanggal 4 Agustus 2007.

[20] Megawangi, Membiarkan berbeda?,  h. 179.

[21] Yang dimaksud dengan wilayah domestik adalah pekerjaan rumah tangga seperti mengurus anak, memasak, mencuci pakaian, merawat rumah dan lain-lain.

[22] Yang dimaksud dunia maskulin adalah pekerjaan publik seperti bekerja mencari nafkah, dunia politik, memimpin, dan lain-lain.

[23] Al Imam Al Hafidz Imaduddin Abu Al Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al Adzîm, (Beirut: Daar Al Baaz, Abbas Ahmad Al Baz, Daar Al Ma’rifah, 1965), jilid II. Sebagaimana dikutip oleh Fatimah Umar Nasif dalam, Menggugat Sejarah  Perempuan; Mewujudkan Idealisme Gender Sesuai Tuntutan Islam. Penerjemah: Burhan Wirasubrata dan Kundan D. Duryakien, (Jakarta: CV Cendekia Sentra Muslim, 2001), cet. I, h. 54.

[24] Ibid., h. 57.

[25] Ibid., h. 60.

[26] Lihat QS Al Isrâ [17]: 70).

[27] KH Irfan Zidni DKK, Inventarisasi Ayat-ayat Alqran tentang Gender, kerjasama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, 2001. Ayat-ayat selanjutnya, termasuk ayat yang dikatagorikan pro jender, dapat dilihat dalam buku ini.

[28] Menyebut “Barat”, penulis bukannya fobia terhadap semua hal yang berbau Barat. Namun di situ memang ada kesamaan paradigma. Terlebih lagi untuk memperjelas model tafsir macam apa yang ditawarkan ini sehingga nantinya menjadi jelas bahwa inipun merupakan salah satu model tafsir yang nilainya sama: belum tentu lebih tepat, dan memberi peluang terhadap model lain yang akan penulis paparkan dalam bab selanjutnya.

[29] Lihat QS. an-Najm [53]: 45).

[30] Lihat QS. al-Hujurât [49]: 13).

[31] Murtadha Muthahhari, Hak-Hak Perempuan dalam Islam. Penerjemah: M. Hashem, (Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000), cet. VI,  h. 71.

[32] Lihat, QS. al-Baqarah [2]: 286.

[33] Perbedaan watak dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan akan dijelaskan lebih lanjut pada poin pembahasan tentang Seks dan Pengaruhnya Terhadap Peran Sosial. Penjelasan ini sangat penting. Pasalnya, para feminis menganggap semua ini hanya asumsi dogmatis, bahwa perbedaan watak serta karakter antara laki-laki dan perempuan menurut mereka hanyalah semata-mata konstruk sosial (by design).

[34] Secara lebih detail, penulis mendefinisikan istilah ini sebagai: tugas dasar setiap makhluk yang diberikan oleh Allah (fithrah) yang telah diselaraskan dengan hukum-hukum alam, baik yang bersifat psikis, kimiawi, biologis, maupun sosiologis.

Al-Buthi, M. Sa’id Ramadhan, Dr. Perempuan antara Kezaliman Sistem Barat dan Keadilan Islam. Solo: Era Intermedia, 2002.

Asy-Syaikh, Abdullah bin Wakil. Wanita dan Tipu Daya Musuh. Bandung: Pustaka Hidayah, 1996.

Bahan bacaan untuk acara tadarus I Madrasah Rahima Bagi Aktifis Mahasiswa.  Membangun Relasi yang Setara dan Berkeadilan untuk Lelaki dan Perempuan. RAHIMA: Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan, Wisma Hijau, Cimanggis Depok, 25-28 Juni 2006.

D’Amico, Francine and Peter R. Beckman. Women in World Politics: An Introduction. London: Bergin dan Garvey, Wesport, Connection, 1995.

Gurian, Michael. Apa Sih Yang Abang Pikirkan? Membedah Cara Kerja Otak Laki-Laki, penerjemah: Agung Prihantoro. Jakarta: Serambi,  2005.

Jaggar, Alison M. dan Paula S. Rothenberg. Feminist Frameworks, Alternative Theoretical Accounts of The Relations between Women and Men. New York: McGraw-Hill, Inc., 1978).

Khan, Wahiduddin. Antara Islan dan Barat: Perempuan di Tengah Pergumulan. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2001.

Lawang, Robert M.Z. Sociological Theory, Clasical Founders and Contemporary Perspectives, Doyle Paul Johnson, terj. dalam, Teori Sosiologi Klasik dan Modern.  Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,1994.

Megawangi, Ratna. Membiarkan Berbeda?: Sudut Pandang Baru Relasi Gender. Bandung: Mizan, 1999.

Muttahari, Murtadha. Hak-Hak Wanita Dalam Islam. Jakarta: Lentera, 2000.

Tim Depag. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. Jakarta: Departemen Agama, 2005.

Tong, Rosimarie Putnam. Feminist Thought. London: The Macmillan Press LTD, 1992.

www.alislamu.com

www.islamlib.com

www.syariah.org

www.wikipedia.org

 

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Jangan Lalaikan Akhiratmu

Diantara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan …

Tinggalkan Balasan