Home / Kemuhammadiyahan / Mengenal Muhammadiyah

Mengenal Muhammadiyah

Saya adalah orang yang awalnya tidak punya latar belakang Muhammadiyah. Dulu, sebelum saya masuk Muhammadiyah, saya pikir Muhammadiyah itu aliran sesat. Saya tidak mau makmum di belakang orang Muhammadiyah, karena (saya pikir) mereka tidak membaca bismillah dalam al-Fatihah.

Itu jelas tidak sah shalatnya. Suatu saat teman saya sakit. Saya, teman saya, dan mayoritas orang di sekitar tempat saya bukanlah Muhammadiyah. Tapi tetap saja saya membawa teman saya ke PKU Muhammadiyah untuk berobat. Karena di situ rumah sakit yang ada (yang dekat) hanya Muhammadiyah.

Waktu itu kebetulan bulan Ramadhan. Pada saat shalat tarawih saya juga tidak mau tarawih berjamaah sama orang Muhammadiyah. Saya pikir cara tarawih Muhammadiyah yang hanya sebelas rakaat itu sesat. Sebab biasanya saya selalu tarawih dua puluh tida rakaat. Alasan atau tuduhan saya bukannya tanpa dasar. Memang begitulah yang say abaca dari kitab-kitab klasik (sebatas) yang saya pelajari.

Tapi, meskupun saya masih sentimen sama Muhammadiyah, dalam hati kecil saya saat itu telah mengagumi beberapa hal dari Muhammadiyah. Misalnya, saat saya diundang menghadiri acara peringatan Hari Besar Islam di salah satu sekolah Muhammadiyah (saat itu saya ketua OSIS), saya sempat kagum sama penceramahnya.

Meskipun dalam benak saya dia kurang saleh dan tidak mencerminkan seorang ustadz lantaran tidak pakai sarung, peci, dan sorban, tapi saya kagum dengan beberapa hal: pertama, sanga penceramah ini disambut secara biasa saja para hadirin.

Kesan saya antara jamaah dan ustadz ini begitu akrab, berbeda dengan tradisi saya yang ketika ada ustadz datang semua orang berebut cium tangan. Kemudian saat ceramah, saya lihat ceramahnya juga lain, tidak banyak dalil, tapi actual dan terkesan cerdas. Apalagi dia masih muda dan kebetulan tampan. Nah, ustadz cerdas ini bernama Abduh Hisyam. Sekarang beliau menjadi ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Kekaguman kedua adalah saat saya diundang menghadiri peletakan batu pertama pembangunan PKU Muhammadiyah Sruweng. Saat itu saya datang mewakili pesantren. Awalnya saya kurang nyaman dengan acara ini karena saat pembukaan ternyata pakai nyayian: rasanya seperti di gereja saja.

Biasanya kalau ada acara macam itu saya bukannya nyanyi, tapi baca shalawat. Tapi di akhir acara saya sungguh kagum. Pada saat penggalangan dana, masing-masing ikut lelang dengan memberikan infak. Bukan kecil jumlahnya. Tapi rata-rata jutaan.

Bahkan ustadz penceramahnya juga ngasih jutaaan. Padahal saya waktu membangun pesantren pusingnya minta ampun. Keliling dari rumah ke rumah. Saya berpikir: orang Muhammadiyah itu kaya-kaya dan dermawan. Di mata saya orang Muhammadiyah adalah cerminan umat Islam yang elite dan modern.

Hingga akhirnya tanpa disangka-sangka, saya menjadi orang Muhammadiyah. Bahkan sekarang mengajar materi Kemuhammadiyahan, materi inti yang dulunya kubenci.

Nah, barangkali teman-teman mahasiswa sekalian ada yang punya latar belakang seperti saya. Atau saya kira di masyarakat kita masih ada juga yang masih salah sangka terhadap Muhammadiyah seperti saya tempo doeloe.

Di awal perkuliahan ini, saya akan membahas hal-hal yang menyangsikan ini. Teman-teman sebagai mahasiswa Muhammadiyah (di UHAMKA) harus paham betul apa Muhammadiyah itu.

Tahu bagaimana model berislam Muhammadiyah dan apa bedanya dengan yang lain. Mengapa Muhammadiyah lahir, dan banyak lagi pertanyaan yang seringkali menyesatkan masyarakat awam. Teman-teman harus paham dan selanjutnya menjelaskna kepada masyarakat luas.

ANGGAPAN SALAH TENTANG MUHAMMADIYAH

Masyarakat kita masih banyak yang belum paham dengan Muhammadiyah, bahkan cenderung salah paham. Kebanyakan tahu Muhammadiyah dari isu-isu populer yang muncul misalnya tentang lebaran beda, dan seterusnya. Berbagai anggapan salah itu antara lain:

Muhammadiyah aliran sesat
Barangkali masyarakat awam masih ada yang menganggap bahwa Muhammadiyah aliran sesat. Mengapa? Karena mereka memang tidak tahu bagaimana sebenarnya Muhammadiyah. Persis seperti saya dulu.

Orang Muhammadiyah tidak mau mendoakan ahli kubur
Dalam Muhammadiyah memang tidak dianjurkan/bahkan ada yang melarang upacara selamatan kematian (7 hari, 40 hari, 100 hari). Tapi bukan berarti Muhammadiyah melarang mendoakan ahli kubur.

Yang ditentang oleh Muhammadiyah adalah ritual selamatannya yang terkadang banyak madlaratnya daripada manfaatnya. Untuk selamatan kematian biayanya biasanya tidak sedikit.

Iya kalau orang berada, coba kalau orang miskin. Iya kalau yang meninggal satu orang, coba kalau seminggu meninggal 2 orang. Berapa biaya untuk selamatan. Ironisnya, terkadang pihak kelurga sibuk menyiapkan selamatannya, tapi malah tidak sempat ikut mendoakan.

Muhammadiyah tidak mau ziarah kubur
Benar, Muhammadiyah memang tidak pernah mengkoordinir orang untuk ziarah kubur. Tapi Muhammadiyah juga bukannya melarang. Yang terpenting sebenarnya bukan datang ke kuburannya, tapi mendoakannya. Yang Muhammadiyah tidak suka adalah, diakui atau pun tidak, banyak para peziarah kita yang dalam hatinya/niatnya mau minta sesuatu pada orang yang berada di alam kubur. Ini jelas musyrik.

Muhammadiyah tidak ada kiai/ulamanya
Kalau yang dimaksud kiai/ulama adalah orang yang selalu pakai sorban, peci, sarung, dan bawa-bawa tasbih, anggapan ini benar. Tapi apakah yang disebut kiai/ulama harus pakai aksesoris semacam itu? Banyak orang pandai agama di Muhammadiyah. Tapi dalam keseharian jarang menggunakan aksesoris-aksesoris macam itu.

LATAR BELAKANG LAHIRNYA MUHAMMADIYAH
Kenapa Muhammadiyah mesti didirikan? Apa sebabnya? Sebab utama didirikannya Muhammadiyah adalah  kemunduran umat Islam. Saat itu, umat Islam di Indonesia, bahkan di seluruh dunia sedang mengalami kemunduran yang luar biasa. Beberapa hal penting yang menyebabkan kemunduran umat Islam pada saat itu adalah:

Meninggalkan al-Quran dan Sunah.
Umat Islam merasa puas diri dengan apa yang telah ditemukan dan dihasilkan oleh umat tokoh Islam terdahulu. Akhirnya umat Islam terbelenggu dengan budaya “hanya mengikuti saja” apa yang telah ada. Tidak ada yang mau riset, tak ada yang mau mentelaah dan mengkaji sumber asli ajaran Islam lagi. Semua kajian dianggap sudah selesai dan tinggal mengikuti saja. Karena itulah Muhammadiyah menyerukan kembali untuk kembali pada al-Quran dan Sunah.

Ambisi politik
Ini terjadi pada saat awal-awal kemunduran. Karena berebut kekuasaan, akhirnya umat Islam terpecah belah ke dalam faksi politik. Bahkan agama seringkali dijadikan alat untuk mendapatkan kekuasaan.

Agama terlalu theosentris
Pengamalan agama saat itu cenderung hanya masalah ketuhanan, masalah hidup sesudah mati. Agama adalah bekal mati. Bicara agama adalah bicara kuburan, surga, neraka, fahala, dan seterusnya. Hal ini kemudian membuat agama kehilangan perannnya di dunia. Umat Islam ketinggalan zaman, miskin, dan bodoh.

Taklid buta dan fanatisme mazhab
Saat itu umat Islam telah terpecah belah ke dalam aliran-aliran mazhab. Kalau hanya sekedarnya berbeda mazhab rasanya tidak masalah. Ironisnya masing-masing merasa paling benar dan yang lain salah. Mereka sangat fanatic dengan mazhab masing-masing yang membuat satu sama lain cenderung ke arah konflik.

Ditutupnya ijtihad
Karena merasa puas dengan apa yang telah dihasilkan oleh ulama-ulama terdahulu, maka saat itu muncul fatwa “pintu ijtihad” ditutup. Apa itu ijtihad? Ijtihad adalah aktifitas pengkajian/riset yang dialukan umat Islam untuk memecahkan berbagai persoalan. Dengan ditutupnya pintu ijtihad, maka aktivitas riset dan khasanah pengembangan ilmu pengetahuan Islam mengalami stagnasi.

PENDIRI MUHAMMADIYAH
Pendiri Muhammadiyah adalah K.H. Ahmad Dahlan, putra K.H. Abu Bakar, imam masjid agung Yogyakarta. Kalau ditelusuri silsilah nasabnya, Kiai Dahlan masih keturunan wali songo, Maulana Ishak. Awal gerakan Kiai Dahlan adalah sewaktu ia baru ulang dari Mekah.

Di sana ia belajar agama, termasuk dari tokoh-tokoh pembaharu Islam. Ide pembaharuan Islam ini kemudian dibawa ke Indonesia. Sambil berdagang, ia terus berdakwah menyebarkan Islam hingga akhirnya ia mendirikan Muhammadiyah.

KARAKTERISTIK KEISLAMAN MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah memang punya karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan gerakan Islam yang lain. Beberapa karakteristik utama Muhammadiyah adalah:

PURITAN
Puritan artinya pemurnian. Muhammadiyah berusaha untuk memurnikan ajaran Islam sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Gerakan puritan ini dilakukan pada masalah ibadah dan akidah. Untuk kedua masalah ini Muhammadiyah sangat berhati-hati.

Dalam hal shalat misalnya, Muhammadiyah memilih hadis-hadis shahih untuk dijadikan dasar. Kemudian dalam hal akidah, Muhammadiyah sangat annti terhadap hal-hal yang membawa kemusyrikan, misalnya jimat, mitos, datang ke dukun, mitos, sesaji, dan sejenisnya.

MODERN
Muhammadiyah bersifat modern. Ini berlaku pada masalah-masalah keduniaan, cara dakwah, dan cara tafsir terhadap teks agama. Muhammadiyah mengedepankan hal-hal yang rasional dengan menggunakan media-media modern. Misalnya dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, Muhammadiyah menggunakan perhitungan ilmu astronomi.

AKSI SOSIAL
Muhammadiyah mengedepankan aksi sosial. Artinya, agama bagi Muhammadiyah harus berperan nyata dalam masyarakat, ditunjukkan dengan aksi sosial, bukan hanya ritual penyembahan.

Bukti nyata kemanfaatan agama bagi Muhammadiyah adalah ketika ia banyak memberikan kontribusi terhadap problem sosial, bukan sekedar zikir dan tangisan penyesalan dosa.

MAZHAB QURAN-SUNAH
Seringkali kita mendapat pertanyaan, apa mazhab Muhammadiyah? Muhammadiyah tidak memilih salah satu mazhab. Bagi Muhammadiyah, semua mazhab bisa dipakai asalkan itu sesuai dengan al-Quran dan sunah. Jadi ukurannya adalah mana yang paling sesuai dengan al-Quran dan Sunah dan realitas kekinian.

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan