Home / Pendidikan Agama / Konsep Manusia dan Manfaat Mempelajarinya

Konsep Manusia dan Manfaat Mempelajarinya

Pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang manusia. Makhluk semacam apakah manusia ini? Kadang-kadang aneh juga, ya. Dari dulu kita kan sudah menjadi manusia. Masa harus ditanya-tanya lagi manusia itu apa? Inilah yang jarang kita pikirkan.

Memang benar selama ini kita sudah menjadi manusia. Tapi kalau kita lihat manusia itu bermacam-macam juga kan? Secara fisik berbeda-beda, apalagi sifat, perangai, dan perbuatannya. Lantas mana yang dapat disebut sebagai manusia yang sesungguhnya? Apa kita sudah menjadi manusia yang sesungguhnya selama ini?

Para ilmuwan mendefinisikan manusia berbeda-beda. Pertama, manusia adalah makhluk yang rasional (animal rasional) atau dalam bahasa Arabnya hayawan an-nathiq. Kalau diterjemakan secara literal artinya justru: hewan yang rasional, hewan yang berpikir.

Jadi maksudnya manusia itu sebenarnya sama saja dengan hewan, sama-sama sebagai makhluk penghuni bumi. Yang membedakan antara manusia dan hewan adalah pada “berpikirnya” itu, pada adanya akal pikiran. Secara fisik mungkin dia ganteng/cantik, tapi kalau tidak punya akal pikiran/gila, apa jadinya? Pasti tak ada harganya ya? Dijual juga tidak bakalan laku. Masih bagusan kambing gila.

Secara fisik, manusia juga lemah, lebih lemah dari hewan malah. Kambing, begitu lahir dalam beberapa saat bisa langsung berdiri, bahkan jalan. Tapi manusia tergelatak dulu tak berdaya. Satu tahun dia baru bisa belajar berjalan. Kalau yang dinilai kekuatan fisik, tentu lebih bagusan juga hewan. Jadi sekali lagi saya tegaskan, akal pikirannyalah yang membuat manusia istimewa dan membuatnya dapat disebut manusia.

Dengan pikirannya manusia bisa mengendalikan diri, bisa membuat perencanaan, bisa menciptakan inovasi-inovasi, dan seterusnya. Intinya, manusia itu selalu menggunakan pikirannya jika ingin melakukan sesuatu. Semakin kita sering menggunakan akal pikiran kita, maka kita semakin pantas disebut sebagai manusia. Sebaliknya, kalau pikiran kita kosong, maka kita lebih mirip hewan.

Kosong itu bagaimana maksudnya? Kita tak pernah memikirkan sesuatu, tidak punya pertimbangan-pertimbangan tertentu kalau ingin melakukan sesuatu, tak punya perencanaan, dan seterusnya. Jadi apa yang kita lakukan, kuliah misalnya, hanya sekedar ikut-ikutan.

Karena umumnya orang lain pada kuliah maka kita juga kuliah, habis kuliah umumnya pada cari kerja, kita juga cari kerja. Jika hanya itu, hanya mengikuti alur tanpa punya pemikiran, tidak punya kreatifitas dan inovasi, tidak pernah mengkritisi keadaaan, bahkan tak tahu tujuan hidup mau ke mana, harus bagaimana cara mencapainya, maka itu sebenarnya berarti lebih mirip hewan.

Belum menjadi manusia yang sesungguhnya. Sekarang saya bertanya, apakah teman-teman sudah menjadi manusia, atau masih mirip-mirip hewan?

Kedua, manusia itu adalah makhluk sosial (zoon politicon). Karena ia makhluk sosial, maka manusia tidak bisa hidup sendiri. Dia selalu membutuhkan kehadiran orang lain.

Kerana itulah manusia yang egois, individualis, berarti belum menjadi manusia yang sesungguhnya. Karena itulah manusia harus bisa bergaul dengan orang lain.

Orang akan menilai kita pertama kali bukan karena kita pandai atau tidaknya, tapi apakah kita termasuk orang yang pandai bergaul atau tidak. Aapakah kita termasuk orang yang mudah diterima orang lain atau tidak.

Bagaimana caranya agar kita diterima orang lain. Caranya itu tadi, jangan egois. Orang egois adalah orang yang selalu berpikir tentang dirinya, tentang kepentingannya. Jadi mulai sekarang berpikirlah apa yang orang lain mau, apa yang orang lain inginkan.

Ini persis seperti orang memancing. Kalau kita ingin mendapatkan ikan, maka kita harus kasih umpan apa yang ikan sukai. Bukan apa yang kita sukai. Mungkin kita sukaayam goring, tapi ikan sukanya cacing, maka kita harus kasih umpan cacing.

Kalau kita berikan apa yang ikan mau, maka ikan memberikan apa yang kita mau. Kalau kita berikan apa yang orang lain mau, maka orang lain akan berikan apa yang kita mau. Jadi nilai kemanusiaan kita ditentukan oleh seberapa bermanfaat diri ini bagi orang lain, seperti sabda Nabi: sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak member manfaat pada orang lain. Apakah kita sudah seperti ini? Kalau belum berarti kita belum terlalu manusia.

Ketiga, manusia adalah makhluk yang penuh simbol (homo symbolicum). Manusia itu selalu mengidentifikasi/menandai dirinya dengan simbol-simbol, baik berupa aksesoris, tutur kata, dan lain-lain.

Apa yang manusia pakai adalah simbol tentang dirinya. Apa yang ia katakana adalah simbol untuk dirinya. Orang lain akan menilai kita dari simbol yang kita tampakkan. Sebaliknya, kita juga bisa menilai orang lain dengan simbol yang mereka tampakkan.

Simbol adalah media komunikasi sekaligus perwujudan diri kita. Kalau kita ingin menjadi orang intelek/ilmuwan, maka pergunakanlah simbol-simbol ilmuwan. Apa simbolnya? Sering bawa buku, baca buku, sering main ke perpus, ke toko buku, dan seterusnya.

Apa yang anda bayangkan seandainya anda pergi ke kampus tanpa bawa buku, memakai kaos bolong-bolong pula, rambut acak-acakan, malah di pundak pakai berkalung handuk segala. Apa iya mahasiswa macam ini akan jadi ilmuwan?

Nah, beberapa penjelasan di atas baru penjelasan singkat terkait definisi manusia. Sekarang kita beranjak pada konsep manusia yang lebih komprehensif. Untuk penjelasan ini saya ringkas menjadi dua bagian. Pertama, manusia menurut konsep orang-orang yang anti agama/tidak percaya Tuhan (atheis/materilaisme). Kedua, manusia menurut Allah, manusia menurut ajaran Islam. Dalam pembahasan ini saya akan menyederhanakan ke dalam empat tema kunci, yaitu: (1) asal-usul kejadian manusia, (2) struktur diri manusi, (3) fungsi dan tugas manusia, (4) tujuan manusia. Keempat tema ini dapat diwujudkan dalam bentuk pertanyaan: (1) dari mana asal manusia? (2) terdiri dari unsur apa saja manusia itu? (3) untuk apa ia hadir di muka bumi? (4) apa tujuan hidup manusia?

Pertama, manusia menurut orang atheis/materialism. Dari mana manusia berasal? Menurut orang-orang ini, manusia berasal dari materi (materialism). Artinya, manusia bukan diciptakan Tuhan, bukan Allah yang ciptakan manusia. Manusia berasal dari unsur yang ada di bumi. Teori yang paling terkenal mengenai hal ini adalah teori Charles Darwin.

Darwin mengatakan bahwa manusia berasal dari kera. Kera adalah nenek moyang manusia. Ceritanya kera ini awalnya memang jelek. Lama kelamaan si kera ini mengalami perubahan yang oleh Darwin disebut dengan hukum evolusi. Berubah dan terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman maka akhirnya jadilah ia kera-kera ganteng dan cantik yang disebut dengan manusia.

Selanjutnya, bagaimana struktur manusa? Manusia itu terdiri fisik dan psikologis. Tapi semuanya itu materi. Fisik manusia adalah tubuh dan seluruh organ tubuhnya. Sedangkan sisi psikologisnya adalah jiwa. Jiwa ini bukan ruh lho, ya. Tapi lebih tepatnya pikiran.

Manusia itu makhluk yang mikir. Seperti telah dijelaskan di atas, pikiran inilah yang membuat manusia berbeda dengan hewan. Tapi semua itu tergantung atau bersandar pada keberadaan materi fisiknya. Jadi kalau manusia mati, maka semuanya juga lenyap. Jadi menurut faham ini, tidak ruh atau nyawa yang dipandang abadi dan akan hidup terus sampai ke alam akhirat.

Untuk apa manusia hadir di muka bumi? Manusia hadir di muka bumi adalah untuk mencukupi kebutuhannya. Apa kebutuhan manusia menurut paham atheism-materialisme. Kebutuhan manusia adalah makan, minum, seks, pakaian, tempat tinggal, rasa aman, dan bersenang-senang. Inilah kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Caranya terserah, yang penting semua itu tercukupi. Bila perlu menghalalkan segara macam cara.

Kemudian apa tujuan manusia? Tujuannya adalah untuk bahagia, untuk hidup senang yang disebut dengan hedonisme. Kesenangan dunia adalah tujuan hidupnya. Foya-foya, pesta seks, narkoba, semua sah-sah saja asalkan itu membahagiakan hidupnya. Mempunyai materi/kekayaan yang berlimpah adalah tujuan utamanya, karena dengan kekayaan materi itulah ia bisa membeli segala macam kesenangan dunia.

Kedua, manusia menurut ajaran Islam. Dari manakah asal manusia dalam ajaran Islam? Manusia berasal dari Allah, diciptakan Allah. Manusia pertama, Nabi Adam diciptakan dari tanah. Selanjutnya Allah ciptakan dari saripati tanah dan air mani. Allah tidak ciptakan langsung, tapi melalui dua orang manusia/sepasang suami istri. Makanya Allah mengatur pernikahan.

Dengan adanya pernikahan, Allah hendak memastikan bahwa setiap manusia yang terlahir ke muka bumi harus ada yang bertanggungjawab. Kenapa tercipta dari saripati tanah dan air mani? Awalanya memang tanah, dari tanah inilah kemudian saripatinya diserap oleh tumbuhan, tumbuhan itu dimakan manusia/sepasang suami istri, maka menjadi air mani. Kemudian air mani ini berproses dalam rahim, setersunya menjadi manusia.

Bagaiamana struktur/komponen manusia. Menurut kitab suci al-Quran, manusia terdiri dari fisik/jasmani dan psikologis/ruhani/jiwa. Yang ruhani ini (jiwa) terbagi menjadi dua: akal dan hati. Dengan akalnya manusia berpikir rasional. Nah, hal-hal yang di luar yang rasional, hal-hal yang gaib, maka hati tugasnya. Manusia dapat mengenal Tuhan dengan akal dan hatinya.

Nah, jiwa/ruh itu tidak mati. Dia akan terus hidup menuju alam akhirat, alam yang menjadi tujuan akhir manusia. Jadi, tubuh manusia hanya dipinjamkan Tuhan sementara untuk ruh ini. Manusia harus melakukan aturan-aturan Allah agar nantinya ruhnya dapat melanjutkan perjalanan dengan baik, menuju kebahagiaan. Manusia yang tidak mentaati aturan Allah ruhnya nanti menderita.

Apa fungsi dan tugas manusia di muka bumi? Manusia hadir di muka bumi sebagai khalifatullah (wakil Allah). Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dia bertugas mengurus bumi seisinya sesuai dengan aturan yang Allah berikan.

Dia harus menjalankan semua aturan-aturan ini. Nah, ketaatan manusia dalam menjalankan aturan Allah inilah yang sering disebut dengan ibadah. Semuanya harus diniatkan dalam rangka ibadah. Namanya juga wakil Allah, maka manusia itu harus cerdas, harus pandai, harus inovatif, dan seterusnya.

Pendek kata, manusia harus belajar meneladani sifat-sifat Allah agar ia menjadi wakil yang benar-benar dapat menunaikan tugas dengan baik. Manusia-manusia yang dapat menjalankan tugas ini dengan baik nanti akan Allah berikan balasan, akan diberi gaji yang besar pada saat ia kembali ke tampat terakhirnya, di surga.

Apa tujuan hidup manusia? Tujuannya adalah untuk beribadah, seperti disebutkan di atas. Jawaban ini tidak salah. Tapi yang dimaksud tujuan hidup di sini sebenarnya adalah fungsi dan tugas dia dalam kehidupan. Kalau ditanya tujuan akhir manusa apa?

Tujuannya tentu saja kebahagiaan. Tapi kebahagiaan ini bukan kebahagiaan hedonis. Ini adalah kebahagiaan abadi. Kebahagiaan di tempat tujuan akhir perjalanan manusia. Kebahagiaan di alam terakhir yang menjadi kampung halaman abadai manusia yang disebut dengan surga. Semoga kita termasuk manusia yang semacam ini. Amin.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Tinggalkan Balasan