Home / Presentasi / Aturan-aturan Menuju Kebahagian Hidup

Aturan-aturan Menuju Kebahagian Hidup

Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.

Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Q.S. alBaqarah [2]: 83). 

Inilah beberapa aturan Allah SWT yang harus dilakukan oleh siapa pun yang ingin mengapai kebahagiaan dan kedamaian hidup. Inilah yang disebut dengan ajaran keselamatan (ajaran Islam). Ajaran Islam tidak serumit dan sebanyak yang kita bayangkan. Jika kita melihat karya-karya para ulama yang berkenaan dengan ajaran Islam tampaknya memang begitu banyak.

Beratus, bahkan berjuta buku yang menjelasakan perintah agama. Terbayang dalam benak kita begitu rumit dan susahnya menjalankan ajaran agama. Di luar itu, terkadan perintah agama dianggap sebagai sesuatu yang dipakasakan Allah SWT dan diperuntukkan bagi-Nya. Lebih salah lagi menganggap bahwa ajaran agama itu adalah perihal kehidupan di alam akhirat.

Anggapan ini akan segera sirna jika kita melihat ke dalam al-Qur’an. Ajaran Islam yang disyari’atkan Allah SWT sederhana dan sama sekali jauh dari rumit. Lebih dari itu, semua ajaran itu adalah ajaran yang praktis dan diselenggarakan untuk kehidupan manusia di alam dunia ini.

Pendeknya, ajaran Islam adalah aturan hidup yang jika dipraktikkan akan membawa dampak keharmonisan kehidupan di dunia ini.

Bagaimana dengan pahala di akhirat? Pahala di akhirat itu adalah bonus tambahan. Sungguh Allah SWT Dzat yang Maha Pemurah. Bagaimana tidak? Dia sudah bikinkan tips-tips hidup bagi hambanya agar hidupnya di dunia teratur, harmonis dan bahagai.

Sudah itu ia masih memberi imbalan bagi siapaun yang sukses menjalankan aturan kebahagiaan itu. Jadi, orang yang mentaati perintah Allah SWT itu bahagia di dunia dan akhirat. Lantas apa aturan-aturan yang ditetapkan Allah SWT itu?

Pertama, janganlah menjadi budak dari apa pun. Hiduplah merdeka. Karena itulah syarat utama kebahagiaan. Namun Allah Maha Mengetahui betapa sulitnya menjadi manusia yang merdeka. Watak manusia selalu bergantung.

Ia selalu menyandarkan sesuatu atas objek lain untuk mendapatkan ketenteraman hidup. Dengan kata lain, manusia harus punya tambatan jiwa agar hidupnya tenang.

Karena itulah Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, mengabdi kepada-Nya. Allah SWT menyerahkan “dirinya” untuk dijadikan tambatan jiwa hamba-hamba-Nya. Seolah Allah SWT berkata:”Bersandarlah kepadaku dari segala macam kehkawatiran dan marabahaya. Mohonlah pertolongan kepadaku.

Karena hanya bersandar kepadaku engkau menjadi merdeka. Sebab, Aku adalah Dzat yang Maha Kaya, Maha Berkecukupan yang tak punya motif kepada-Mu. Hanya bersandar kepada-Ku dirimu aman dari perbudakan. Jadi, perintah pertama adalah berserahdiri dan sandarkan segala hal hanya kepada Allah SWT.

Kedua, agar kita berbhakti kepada kedua orangtua. Betapa pentingnya berbuat baik kepada orangtua ini sampai-sampai Allah SWT menempatkan perintah ini setelah perintah berbhakti kepada-Nya. Kepada merekalah Allah SWT menitipkan diri kita.

Setiap manusia lahir sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT. Dia bertanggungjawab dengan setiap nyawa yang Dia ciptakan. Karenanya ia membuat aturan pernikahan. Kepada sepasang suami istri inilah Allah SWT menitipan semua nyawa yang lahir ke dunia. Sangat logis jika Allah SWT memerintahkan seorang anak berbhakti kepada orangtuanya.

Ketiga, agar kita berbuat baik kepada kerabat-kerabat kita, kepada anak-anak yatim, dan kepada fakir miskin serta berkata ramah dan sopan kepada sesama manusia.

Jangan melukai orang lain dengan kata-kata kita, jangan mencaci dan menjelek-jelekkannya, jangan menggunjingnya, jangan mengadu-domba, dan jangan mengkhianatinya. Ingat, semua manusia tanpa pandang bulu. Tidak membedakan suku, ras, dan agama. Kepada semuanya kita harus berakhlak dengan baik.

Keempat, mendirikan shalat. Kewajiban menjalankan shalat lima waktu sejatinya dapat dimaknai sebagai kepedulian Allah SWT pada hamba-Nya. Allah-lah yang sejatinya “sibuk” melayani hamba-Nya lima kali dalam sehari.

Salat dan kewajiban-kewajiban lainnya adalah keharusan yang dimaksudkan untuk mendidik manusia. Melalui salat itulah seorang hamba dipersilahkan menjumpai Tuhannya, mengadukan berbagai permasalahan, dan memohon pertolongan-Nya.

Semua itu tentu saja merupakan kepentingan seorang hamba. Bukannya kepentingan Tuhan. Untuk kepentingan itu, Allah SWT mengalokasikan waktu begitu banyak. Lima kali dalam  sehari Dia siapkan waktu khusus untuk menjumpai hamba-hamba-Nya. Seolah-olah Allah SWT berkata:

”Hambaku, janganlah engkau merasa khawatir. Meski cukup banyak urusanku, kamu bisa menemui-Ku lima kali dalam sehari. Bahkan yang ini Aku wajibkan padamu. Bukan berarti Aku otoriter. Ini semua demi masa depanmu.

Aku tak bisa membiarkanmu dengan cara memanjakanmu. Engkau harus terbiasa disiplin menghadapku demi kesuksesan masa depanmu. Pahami ini sebagai kepedulian-Ku padamu. Mengerti bukan? Syukur engkau bisa datang awal waktu. Jadi nanti kita  bisa ngobrol lebih intens.

Caranya sudah diatur sedemikan rupa. Engkau ikuti saja apa yang dicontohkan oleh Nabi-Ku, Muhammad. Engkau harus mengikuti petunjuknya dengan baik. Dia adalah manusia kepercayaan-Ku dan yang paling dekat dengan-Ku.

Malah kalau Aku ingin meringkas pesanKu, cukup Aku berpesan padamu, ikutilah Muhammad. Ini menjadi jalan lurus menuju kesuksesan masa depanmu. Ingat, bagi yang tidak mengakui Muhammad dan tidak mengikuti risalah-Ku yang dibawanya ia akan tersesat. Bukan apa-apa. Karena padanya Aku sempurnakan petunjuk-Ku dalam edisi revisi cetakan terakhir.

Petunjuk yang dulu sudah direvisi, beberapa kekurangannya telah disempurnakan pada petunjuk yang kuberikan pada Muhammad. Petunjuk itulah edisi terakhir. Ada kesamaan memang dengan petunjukKu yang terdahulu.

Tapi ada beberapa pembenahan penting yang tidak terdapat pada petunjuk terdahulu. Apalagi jika mengingat petunjuk yang dulu telah banyak dibajak dan dimanipilasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.”

Bahkan untuk kepentingan-kepentingan yang lebih khusus lagi, Dia mengalokasikan waktu tambahan. Mereka yang memunyai kepentingan sangat khusus dipersilahkan menghadap-Nya di tengah malam sepi (Q.S. al-Isra [17]: 89).

Betapa Allah SWT sangat sayang dan sangat peduli terhadap kepentingan hamba-Nya. Manusialah yang sejatinya membutuhkan semua ibadah dan kewajiban-kewajiban itu. Dan Tuhanlah sejatinya yang justru dengan senang hati senantiasa siap “direpoti” hamba-hamba-Nya. Dengan pemahaman semacam ini, sungguh aneh jika kewajiban salat masih dirasakan sebagai paksaan yang memberatkan.

Kelima, agar kita memberikan zakat. Kalau sudah bicara harta, manusia cenderung sangat tamak dan kikir. Semakin kaya bukannnya semakin dermawan. Tapi justru semakin rajin menghitung-hitung hartanya dan tak pernah merasa kecukupan. Mereka tak peduli dengan nasib orang lain yang kekuarangan. Kesenjangan pun merajalela. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Karena itulah Allah SWT sering-sering menganjrkan hamba-Nya untuk berderma, berinfak, bershadaqah. Dalam surat al-Baqarah ayat 2, perintah berinfak ini dijadikan salah satu ciri utama orang yang bertakwa kepada-Nya. Apakah infak itu untuk Allah SWT sehingga orang yang berinfak masuk katagori orang yang bertakwa kepada-Nya? Tentu saja sama sekali tidak! Di sinilah sekali lagi tampak betapa pedulinya Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

Namun demikian, betapa sedikit orang yang sadar dengan anjuran berinfak ini. Ketamakan seringkali mengalahkan sikap kedermawanannya. Tahu akan hal ini, makanya Allah SWT memerintahkan untuk berzakat.

Zakat adalah infak/shadaqah yang diharuskan. Wajib hukumnya bagi siapaun yang kelimpahan harta sampai batas tertentu untuk memangkasnya dan diberikan kepada orang lain yang kekuarangan. Jadi, zakat adalah sepelit-pelit pemberian.

Inilah beberapa perintah pokok agama dan aturan kehidupan yang harus dijalankan agar kita meraih kebahagiaan. Kalau kita perhatikan, perintah itu cukup simpel dan sangat mungkin untuk dijalankan. Dan kalau kita perhatikan, semua kemanfaatan itu sepenuhnya untuk manusia. Ajaran-ajaran ini adalah ajaran universal yang bisa diterima akal sehat.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Jangan Lalaikan Akhiratmu

Diantara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan …

Tinggalkan Balasan