Home / Akidah / Keragaman Keyakinan dan Sikap Muslim Berkemajuan

Keragaman Keyakinan dan Sikap Muslim Berkemajuan

PENDAHULUAN

Akidah adalah keyakinan mendalam. Keyakinan yang tak sedikit pun ada keraguan di  dalamnya. Keyakinan yang bisa membedakan dengan jelas mana yang benar dan mana yang sesat. Sebeb inilah di dalam keyakinan biasanya tumbuh fanatisme.

Fanatisme inilah yang harus dijaga agar tetapdalam batas-batas yang semestinya. Jangan sampai kemudian fanatisme ini memunculkan kedengkian, bahkan perseteruan dengan orang lain yang berbeda keyakinan.

PEMAHAMAN DAN PRAKTIK TAUHID EKSKLUSIF

Orang yang tauhidnya baik secara otomatis biasanya menampilkan sikap dan perilaku yang baik pula terhadap orang lain. Dia akan baik kepada semua orang. Bahkan dengan orang yang berbeda agama sekalipun. Kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain” (HR. Bukhari).

Namun terkadang ada yang tidak seperti itu. Secara agama ia begitu alim. Tapi tidak peduli dengan pergaulan sosial. Ia menjauhi orang yang tidak sepaham dengannya. Apalagi yang berbeda agama. Pergaulannya sangat eksklusif, terbatas dengan orang-orang yang sepaham dengannya.

Ia menanggap bergaul dengan orang lain menjadi ancaman bagi keimanannya. Ia merasa paling suci dan untuk menjaga kesuciannya mesti menjaga pergaulan sosial dengan orang yang beda paham dan keyakinan/agama.

Ada yang bersikap sebailknya. Ia merasa imannya masih lemah, belum bisa mendakwahi orang lain, sehingga memilih mengisolir diri agar tidak terpengaruh dengan keburukan orang lain. Yang terakhir ini kedengarannya rendah hati. Tapi sebenarnya sama saja. Ia menganggap orang lain banyak dosa sehingga ia takut bergaul orang tersebut.

Inilah yang disebut dengan pemahaman dan praktik tauhid eksklusif. Tauhid eksklusif adalah tauhid yang tidak mempunyai dapak pada perilaku sosial, bahkan menjadi penghalang pergaulan sosial.Tauhid yang hanya berhenti pada keyakinan normatif. Tauhid yang membuat orang tersebut mengisolir diri dari pergaulan sosial. Tauhid yang melahirkan sikap merendahkan, meremehkan, bahkan sikap arogan kepada orang lain.

AJARAN ISLAM TENTANG TOLERANSI

Memang benar bahwa akidah Islam mempunyai kebenaran mutlak. Bahkan sifat kebenarannya didukung oleh berbagai argumen ilmiah yang sangat clear. Keyakinan yang mengoreksi dan menyempurnakan keyakinan lain.

Dalam urusan akidah, kita harus tegas, tidak boleh kompromi dengan siapa pun. Menganggap bahwa semua akidah, semua agama benar adalah kesalahan fatal. Itu mencerminkan bahwa orang tersebut tak paham, bahkan ragu dengan akidah/agamanya.

Dikisahkan bahwa suatu hari Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan pada beliau untuk tukar menukar agama. Katanya:

يا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا ، كنا قد شاركناك فيه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al Qurthubi, 14: 425)

Tawaran ini ditolak dengan tegas oleh Nabi. Bahkan kemudian Allah menurunkan ayat:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Namun demikian, Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seru sekalian alam (rahmatan lil alamin). Sifat Islam ini mengharuskan para pemeluknya juga bersikap tasamuh (toleran) kepada orang lain, bahkan yang berbeda agama. Tauhid yang benar harus membuahkan perilaku yang baik dalam pergaulan sosial.

Nabi Muhammad SAW dengan tegas melarang menyakiti, apalagi membunuh orang kafir dzimmi (kafir yang tidak memusuhi/memerangi kaum muslimin. Sebagaimana dalam sabdanya:

Artinya: “Barang Siapa Menyakiti Kafir Dzimmi, Maka Aku (Rasulullah) Akan Menjadi Lawannya di Hari Kiamat” (HR. Muslim).

مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

Artinya: “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i).

Hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu agar setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka.

Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 14: 81.

Bahkan bagi yang mempunyai orangtua dan kerabat yang beda agama pun ia harus tetap berbuat baik, bermuamalah dengan baik. Tidak boleh menyakitinya hanya karena beda agama. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua.

DAKWAH DI TENGAH KERAGAMAN

Berdakwah adalah tugas setiap muslim. Kita wajib mengajak orang lain ke dalam kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengajak agar beriman kepada Allah. Allah berfirman:

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran : 110).

Dalam ayat lain juga berfirman:

Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104).

Nabi Muhammad SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Artinya: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana cara berdakwah. Apalagi di  era modern ini dimana orang sudah semakin terdidik. Dakwah kini tak cukup dengan berorasi dengan mengeluarkan dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran Islam.

Sekarang ini dakwah harus menunjukkan aksi dan bukti. Berikanlah teladan kepada masyarakat. Dampingi masyarakat dan berikan solusi. Hadirkan islam sebagai solusi hidup. Terjemahkan Islam dalam sistem kehidupan.

Cara ini akan menjadi sarana yang efektif dalam berdakwah. “Fastabiqul Khairat”(berloma dalam kebaikan).Itulah prinsi utama dakwah masa kini. Dengan menampilkan teladan terbaik, kita bukan saja mengamalkan hakikat Islam, tapi maka orang akan simpatik terhadap Islam. Tegas, tapi tetap bersikap cerdas, jangan emosional dan gampang terpancing oleh profokasi.

Jangan suka mecela, apalagi menjelek-jelekkan Tuhan mereka. Ajaklah mereka ke dalam Islam dengan baik. Bahkan jika terpaksa mesti berdebat pun, maka tetap harus dengan cara yang baik. Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS. Al ‘Ankabut: 46).

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut:

  1. Akidah harus diyakini secara kuat, lepas dari segalamacam keraguan. Dalam urusan akidah, kita tidak ada toleransi. Mengakui bahwa akidah/agama lain benar adalah sebuah kesalahan.
  2. Akidah yang benar harus melahirkan perilaku yang baik dalam kehidupan sosial. Seorang muslim harus aktif, menjadi teladan dan memberikan manfaat terbanyak dalam kehidupan sosial.
  3. Berdakwah adalah tugas semua muslim. Inti dakwah adalah mengajak berbuat baik, mengegah keburukan, dan mengajak beriman kepada Allah.
  4. Berdakwah harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Jangan mencela dan mendiskreditkan orang lain. Islam harus tampil sebagai agama yang mempunyai manfaat praksis dalam kehidupan. Berlomba dalam kebaikan adalah inti strategi dakwah masa kini.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Perjalanan ke Alam Akhirat (Sam’iyyat)

Pengantar Manusia adalah seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan. Kehidupan di dunia pada hakikatnya hanyalah …

Tinggalkan Balasan