Home / Muamalah / Etika Pergaulan dan Kedudukan Laki-laki dan Perempuan

Etika Pergaulan dan Kedudukan Laki-laki dan Perempuan

PENDAHULUAN

Islam memiliki aturan-aturan tersendiri menyangkut hubungan laki-laki dan perempuan. Hubungan ini dibedakan antara pra nikah dan setelah menikah. Sebelum menikah, pergaulan antara laki-laki telah diatur sedemikian rupa.

Laki-laki dan perempuan harus memahami peran dan fungsinya masing-masing sesuai yang diajarkan Allah SWT. Demikian juga pada saat mereka berniat untuk memilih pasangan. Mereka harus mengikuti aturan-aturan dan rambu-rambu yang telah ditetapkan Allah.

KEDUDUKAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Islam mempunyai pandangan yang khas tentang laki-laki dan perempuan. Dalam pandangan Islam, laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang berbeda yang pada dasarnya mempunya tugas dan fungsi yang berbeda.

Laki-laki punya sifat, karakteristik, dan tugas-tugas yang berbeda, demikian juga perempuan. Allah SWT berfirman: dan tidaklah laki-laki seperti perempuan (QS. Ali Imran: 36).

Allah telah menciptakan makhluk dengan segenap pembagian tugasnya (jobdescription). Apa tugas laki-laki dan apa tugas perempuan sudah ditegaskan oleh Allah SWT. Jadi tidak dibenarkan laki-laki yang keperempuan-perempuanan atau sebaliknya.

Laki-laki dan perempuan harus memahami siapa dirinya dan mempertegas karakter dan tugas ini. Laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya dilarang Islam.

Rasulullah SAW bersabda: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan dan perempuan yang bertingkah laku seperti laki-laki ( HR. Al Bukhari).

Waktu saya kursus jender dulu saya melihat ada paham yang salah kaprah. Emansipasi wanita dipahami sebagai meningkatkan harkat martabat perempuan dengan cara meniru-niru gaya laki-laki (male clone).

Wanita perkasa seolah-olah adalah mereka yang bisa melakukan serangakian atau pun sekedar kebiasaan-kebiasaan laki-laki. Ini tentu salah. Harusnya, masing-masing memahami dan mendalami karakteristiknya.

Sampai kapan pun, kalau ukuran kesetaraan diukur dengan ukuran kekuatan fisik misalnya tentu perempuan akan selalu kalah. Taruhlah laki-laki dan perempuan ini diadu untuk berkelahai. Masing-masing dibekali senjata yang sama.

Siapa kira-kira yang menang?

Kalau adu jotos, siapa kira-kira yang nyungsep duluan? Mungkin Anda bilang, tergantung. Bolah jadi laki-laki. Jangan boleh jadi, secara umum kira-kira siapa?

Pasti laki-laki yang akan menang. Mengapa? Karena secara fisik memang laki-laki dikaruniai kekuatan yang lebih dibanding perempuan. Itu faktanya.

Tapi apa wanita dalam kasus ini tidak bisa mengalahkan laki-laki. Bisa! Bagaimana caranya? Caranya jangan pakai kekuatan fisik. Jangan pakai caranya laki-laki.

Kalau wanita mau kalahkan laki-laki pakailah cara-cara perempuan. Bawa bunga, rayu laki-laki. Bagaimana kira-kira? Pasti laki-laki bertekuk lutut, kan? Mana tega dia memukul perempuan yang bersikap lembut dan merayunya.

Jadi apa yang ingin saya katakan adalah bahwa laki-laki perempuan itu memang beda dan punya keistimewaan tentu sekaligus kelemahan masing-masing. Ada beberapa hal yang tak bisa dikerjakan laki-laki, demikian juga sebaliknya.

Meski demikian, keduanya tidak boleh berdiri sendiri sendiri. Laki-laki dan perempuan adalah pasangan. Allah berfirman: “Wahai manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak….” (QS. An-Nisa [4]: 1).

Dalam ayat lain Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujurat: 13).

Apa artinya pasangan? Keduanya harus bersama, harus menjadi satu untuk menjalani kehidupan. Kalau kita perhatikan, rumus pasangan justru seringkali mengandaikan adanya perbedaan.

Listrik misalnya pasangannya pasti terdiri dari MIN dan PLUS. Kalau semuanya MIN atau semuanya PLUS pasti malah tidak nyala, kan? Pasangan itu yang satu bisa apa, yang lain bisa apa. Artinya satu sama lain saling melengkapi.

Kalau masing-masing mempunyai kualifikasi yang sama malah tidak cocok kan? Pasangan itu masing-masing saling tergantung (dependent) tidak saling mandiri (dependent). Jadi yang satu butuh yang lain. Saling membutuhkan.

Jadi kalau mau kita simpulkan dalam pembahasan ini ada tiga poin penting terkait dengan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam Islam.

Pertama, laki-laki dan perempuan pada dasarnya adalah sosok yang berbeda.  Masing-masing punya sifat, kecenderungan, karakteristik yang berbeda.

Kedua, laki-laki dan perempuan adalah pasangan. Satu sama laing saling membutuhkan dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Pasangan juga mengandaikan perbedaan dimana satu sama lain harus memahami kekuarangan dan kelebihannya. Perbedaan itu bukan kesenjangan, tapi sarana untuk menyiapkan kebersamaan sehingga satu sama saling bisa saling melengkapi.

Ketiga, laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain dan saling tolong-menolong dalam kebajikan.

ETIKA HUBUNGAN LAKI-LAKI PEREMPUAN PRA NIKAH

Karena laki-laki dan perempuan berbeda, maka Islam juga mengatur hubungan antara keduanya. Hubungan atau pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam harus mengikuti aturan-aturan tertentu.

Aturan ini bukan hanya sekedar semata-mata kemauan Allah sebagai Tuhan. Tapi aturan ini justru merupakan kepentingan manusia yang jika dilanggar akan merugikan dan mengacaukan kehidupan manusia sendiri.

Allah tidak melarang laki-laki dan perempuan saling kenal dan saling berkomunikasi. Namun caranya harus mengikuti aturan Allah. Berkenaan dengan pembahasan ini, ada dua hal pokok yang harus kita perhatikan.

Pertama, pergaulan harus mempertimbangkan karaktersitik masing-masing.

Laki-laki dan perempuan mempunyai karakteristik fisik maupun psikologis yang berbeda. Karena itulah dalam pergaulan juga harus memperhatikan hal ini.

Laki-laki tidak boleh berperilaku menyerupai permpuan, begitu juga sebaliknya.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari).

Sabdanya yang lain:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad).

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ، وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ» قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang bergaya wanita dan wanita yang bergaya laki-laki”. Dan beliau memerintahkan, “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kamu”. Ibnu Abbas berkata:  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengeluarkan Si Fulan, Umar telah mengeluarkan Si Fulan. [HR. Al-Bukhâri, Abu Dawud, Tirmidzi]

Kedua, larangan untuk berhubungan badan. Allah melarang keras hubungan badan di luar nikah (zina). Larangan Allah ini bersifat pencegahan dini (prefentif) sehingga hal-hal yang menuju ke arah perzianaan juga dilarang.

وَ لاَ تَقْرَبُوا الزّنى اِنَّه كَانَ فَاحِشَةً، وَ سَآءَ سَبِيْلاً. الاسراء:32

Artinya: Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk. [QS. Al-Israa’ : 32]

اَلزَّانِيَةُ وَ الزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَّ لاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ لْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مّنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. اَلزَّانِيْ لاَ يَنْكِحُ اِلاَّ زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةً وَّ الزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَآ اِلاَّ زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌ، وَحُرّمَ ذلِكَ عَلَى اْلمُؤْمِنِيْنَ. النور:2-

Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari kiamat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. [QS. An-Nuur : 2-3]

Ketiga, menjaga pandangan mata. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur : 30)

Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nur : 31).

Keempat, dilarang berduaan-duaan dengan lawan jenis (berkhalwat). Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dari Ibnu Abbas  berkata: “Saya mendengar Rasulullah salallahu’alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabda Nabi: “Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaithan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad)

SabdaNabi: “Tertusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(HR. Thabrani[1])

Kelima, menutup aurat. Allah SWT berfirman:

Artinya: “…Hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur: 31)

Artinya: “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Berikut batas aurat laki-laki dan perempuan.

 Abu Sa’id al-Khuduriy, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut.  Sedangkan aurat wanita adalah seluruh badannya, kecuali muka dan kedua telapak tangan.”

KESIMPULAN

Memperhatikan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut:

  1. Laki-laki dan perempuan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Karenanya, keduanya harus memperhatikan karakternya masing-masing. Sebab karakter ini ada hubungannya dengan tugas dan fungsinya di muka bumi.
  2. Laki-laki dilarang menyerupai perempuan, begitu juga sebaliknya.
  3. Laki-laki dan perempuan adalah pasangan. Satu sama lain hendaklah saling bahu-membahu dan saling melengkapi.
  4. Laki-laki dan perempuan hendaknya menjaga etika pergaulan. Dilarang antara keduanya melakukan pergaulan bebas dan perbuatan lain yang mengarah pada perzinaan.
  5. Laki-laki dan perempuan hendaknya menutup aurat dan menjaga pandangan. Hal ini akan mendatangkan ketenteraman dan harga diri bagi keduanya.

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Itu Apa?

Kompilasi Hukum Islam adalah rangkuman dari berbagai pendapat hukum yang diambil dari berbagai kitab yang …

Tinggalkan Balasan