Home / Akidah / Pesan Moral Rukun Iman

Pesan Moral Rukun Iman

PENDAHULUAN

Mengawali pembahasan ini, penting untuk saya kutip kembali definisi akidah,yaitu: keyakinan/keimanan dasar yang terdiri dari nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita yang diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar dan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Definisi ini memberikan kesimpulan bahwa sikap dan perilaku seseorang ditentukan oleh keyakinan dasar/akidah/paradigma/wordview/mindset yang ia miliki. Bahkan kesuksesan, menurut para guru dan motivator kesuksesan, dipangaruhi oleh akidah seseorang.

Jika demikian, betapa habatnya akidah ini, dan betapa pentingnya kita memahami akidah dan membangunnya. Sebab akidah itulah yang akan menentukan nasib kita ke depan. Karena itulah akidah/keimanan menjadi hal yang pertama dalam ajaran Islam.

Memang benar bahwa akidah Islam isinya adalah keyakinan pada hal-hal ghaib.Tapi semua itu jika dipikir-pikir maksudnya bukanlah untuk hal ghaib itu sendiri. Semua isi akidah Islam sesungguhnya punya pengaruh langsung dan ditujukan untuk kehidupan nyata manusia.

Manfaat beriman kepada Allah, malaikat, dan seterusnya tidak hanya untuk akhirat. Tapi yang terbesar justru untuk kehidupan di alam dunia ini. Dengan demikian, kerugian bagi orang yang tidak beriman juga bukan hanya akhirat semata.Tapi sesungguhnya dia juga mengalami kerugian di dunia.

PESAN MORAL BERIMAN KEPADA ALLAH

Beriman kepada Allah merupakan pangkal utama/dasar dari akidah Islam. Ini bukan hanya karena menuruti apa yang disebutkan dalam ayat-ayat suci al-Quran.

Tapi tanpa al-Quran sekalipun, jika kita pikir secara mendalam, keyakinan-keyakinan manusia sepanjang sejarah jika ditarik ujung pangkalnya akan ketemu pada dua pilihan keyakinan dasar: percaya Tuhan (theis) atau tidak percaya Tuhan (atheis).

Dari kedua sumbu inilah kemudian di atasnya muncul berbagai prinsip dan cita-cita hidup yang kemudian terwujud dan bentuk sikap dan perilaku. Tapi kalau mau dikerucutkan lagi menjadi satu untuk memilih mana yang benar, maka pilihan itu adalah bertuhan(theis).

Menurut para ahli pikir (filsuf), meski tanpa ayat suci, bagai orang yang mau berpikir serius dan mendalam ia akan sampai pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada.

Kalau tidak percaya ayok kita coba niru-niru para filsuf itu.

Coba teman-teman perhatikan dan pikirkan alam raya ini. Begitu teratur dan uniknya. Pagi hari matahari terbit menyinari bumi, di malam hari digantikan rembulan. A

neka hayati begitu beragam. Flora dan fauna. Masing-masing berjalan begitu teratur. Keteraturan alam ini sungguh menakjubkan para ilmuwan sehingga mereka teliti dan menghasilkan rumus dan teori-teori semesta alam.

Bagaimana mungkin alam yang demikian teratur ini tidak ada yang mengaturnya. Bagaimana mungkin alam yang indah dan menakjubkan ini jadi dengan sendirinya lalu mengatur dirinya sedemikian rupa. Pasti ada yang mengatur. Pasti ada Tuhan.

Sampai di situ mentok. Manusia dapat memastikan ada Tuhan. Tapi tidak tahu siapa namanya. Siapa tuhan yang sesungguhnya.

Dicari melalui penelitian tidak ketemu. Bukti-bukti sejarah tidak ada. Memang sudah mentok. Di situlah keterbatasan manusia.

Untuk itulah kita cari pada sumber lain yang disebut kitab suci. Nah, di sana ketemu. Persis seperti yang dipikirkan manusia. Ternyata benar, Tuhan kata kitab suci memang ada, dan alam ini memang tidak jadi dengan sendirinya.Tapi diciptakan dan diatur Tuhan.

Tidak berhenti sampai di situ. Kitab suci bahkan menjawab siapa nama Tuhan yang hebat itu. Sungguh dahsyat kitab suci ini.

NamaTuhan itu ternyata Allah SWT. Jadi kalau Islam mengajarkan Allah sebagai yang pertama, itu sudah pas, sesuai dengan pemikiran rasional. Sudah sesuai bahkan dengan hukum alam ini.

Sampai sini sudah jelas, ya? Apanya yang jelas, coba? Allah adalah prinsip utama/prinsip dasar keyakinan. Tidak meyakininya berarti kita tidak mempunyai fondasi keyakinan alias keyakinan dan prinsip hidup kita lemah.

Ok, sekarang sudah jelas ya, kenapa kita harus percaya Allah?

Kalau tadi kita berpikir agak serius untuk memastikan bahwa percaya kepada Allah adalah sebuah kebenaran mutlak, sekarang mari kita uji sekali lagi biar makin yakin.

Kali ini kita berandai-andai saja. Kita andaikan bahwa keberadaan Allah itu masih fifty-fifty. Mungkin ada benaran, atau mungkin memang tidak ada.

Nah, sementara itu ada yang percaya bahwa Allah ada, dan ada yang tidak percaya? Mana diantara kedua orang ini yang cerdas, coba?

Yang cerdas adalah yang memilih percaya bahwa Tuhan itu ada. Lho, apa alasannya?

Begini, kalau misal kedua orang ini telah mati, dan ternyata Allah tidak ada, apakah yang percaya bahwa Allah rugi? Tidak! Sama sekali tidak. Sebab percaya pada Allah ini telah memberikan banyak manfaat dalam kehidupannya.

Tapi kalau ternyata Allah memang benar-benar ada, bagaimana nasib orang yang tak percaya tadi? Rugi, kan? Ternyata neraka benar-benar ada. Celakanya, dia kali ini tak lagi bisa merubah keyakinannya.

Jadi secara spekulasi, yang lebih menguntungkan, yang benar, dan bagi yang cerdas tentunya lebih memilih percaya Allah.

Apalagi,spekulasi ini sesungguhnya sudah terbantahkan jika kita memperhatikan penjelasan logis sebelumnya. Selain itu juga banyak bukti lagi yang bisa diajukan untuk membuktikan adanya Allah.

Dengan percaya kepada Allah  kita telah membangun fondasi hidup yang benar. Fondasi hidup yang kokoh. Kondisi kejiwaan kita telah siap untuk menerima bangunan prinsip dan cita-cita hidup di atasnya.

Kita telah siap membangun sejarah kehidupan di atasnya. Kita telah menyiapkan dasar utama menuju kesuksesan.

PESAN MORAL BERIMAN KEPADA MALAIKAT ALLAH

Berimana kepada malaikat Allah bukan hanya sekedar kita tau dan hafal bahwa ada makhluk gaib yang bernama malaikat. Makhluk yang paling taat. Makhluk yang tercipta dari cahaya yang masing-masing mempunyai tugas tertentu. Jibril menyampaikan wahyu, Raqib dan Atid mencatat amal manusia.

Bukan sekedar itu. Tapi memaknai semuanya menjadi keimanan yang hidup dalam diri kita. Yang berpengaruh dan berfungsi dalam mengarahkan kehidupan kita.

Ok, mari kita renungkan bersama…

Malaikat dengan berbagai fungsi dan tugasnya itu ternyata sangat erat dengan kehidupan kita. Jadi mari kita selalu ingat dan sadari bahwa kita hidup dikelilingi oleh para malaikat itu. Mereka memantau apa yang kita lakukan, melaporkan, tentang apa kita perbuat, tentang apa yang kita inginkan, tentang apa yang kita sembunyikan.

Mereka juga siap membantu kita, menjaga agar kita tetap berada dalam kebenaran, bahkan mengusulkan kepada Allah tentang apa yang baik untuk diri kita.

Malaikat itu suka jika kita berbuat baik. Mereka akan mendukung kita, menyampaikan hal itu kepada Allah SWT. Karena itulah berbuat baiklah setiap hari agar malaikat bersahabat dengan kita.

PESAN MORAL BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

Semua orang pasti ingin hidupnya bahagia. Semua orang ingin mengarungi hidup ini dengan sukses dengan menyingkirkan segala aral melintang yang ada.

Inilah yang mendorong para ilmuwan terus melakukan penelitian sepanjang sejarah. Mereka dengan serius mengamati alam semesta dan untuk menemukan rumus alam yang dapat menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.

Berbagai macam ilmu, berbagai macam teori berhasil mereka rumuskan. Namun ternyata itu semua belum bisa menjamin kebahagiaan manusia. Perkembangan tekonologi yang begitu canggih membawa serta pula ancaman-ancamannya.

Jadi, ada rumus hidup yang belum dan tak pernah terpecahkan sepanjang sejarah..

Karena itulah Allah menurunkan kitab suci. Dia menjelaskan dan memberikan arahan untuk ditemukannya teori-teori ilmu pengetahuan sekaligus menjelaskan teori-teori yang tak diketemukan.

Allah menjelaskan sejarah perjalanan manusia dari lahir bukan hanya hingga mati. Tapi hingga perjalanan setelah kematian sampai pada rumah singgah terakhir. Rentang panjang perjalanan inilah yang tak terbaca seluruhnya oleh para ilmuwan.

Melihat hal ini seharusnya cita-cita manusia tidak hanya sebatas sukses dunia. Tapi sampai pada sukses akhirat. Karena akhiratlah kampung halaman sejatinya.

Jadi, dalam rangka mencapai kebahagiaan hidupnya, manusia mempunyai 2 (dua) pedoman: ilmu pengetahuan dan kitab suci. Mengabaikan salah satunya manusia akan gagal mencapai kebahagiaan.

Dari penjelasan ini apa yang teman-teman pahami? Kitab suci adalah petunjuk kehidupan. Tepat sekali! Kitab suci sesungguhnya adalah petunjuk umum dalam mengarungi kehidupan.

Karena itulah sekarang kita sadar. Membaca kita suci dan mencoba memahaminya bukan lagi konsekuensi keimanan saja. Bukan lagi sekedar mengumpulkan fahala.

Tapi memang sebuah keharusan. Sebuah kebutuhan agar kita mengerti petunjuk hidup itu. Agar kita dapat mengarungi kehidupan dengan sukses.

PESAN MORAL BERIMAN KEPADA UTUSAN-UTUSAN ALLAH

Sebagaimana pedoman hidup ada 2 (dua), sebagaimana dijelaskan di atas, maka figur panutan juga ada 2 (dua): ilmuwan dan para nabi. Bahkan Nabi Muhamma SAW menegaskan bahwa para ilmuwan adalah pewaris para nabi (al-ulama  waratsatul anbiya).

Ilmuwan yang benar pasti akan besar keimanannya kepada Allah. Sebab dialah yang mampu mecehakan rumus-rumus alam yang Allah tebarkan di seantero jagat raya.

Sedangkan para nabi bukan menjelaskan prinsip-prinsip besar ke mana arah sejarah besar manusia dan ke mana teori-teori ilmu pengetahuan itu diarahkan.

Para rasul adalah teladan kita. Nabi Muhammad SAW bukan hanya pengamat dan penemu teori. Tapi pelaku sejarah. Dia telah membuktikan kepada seluruh umat manusia akan kesuksesannya dalam membina kehidupan umat manusia.

Jadi keimanan kita kepada para rasul menuntut kita untuk mempelajari sejarah kehidupan mereka, kemudian meneladaninya.

PESAN MORAL BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Hari akhir mengajarkan kita tentang adanya alam setelah alam dunia yang kita alami sekarang ini. Setalah usia dunia berakhir, kita akan meneruskan perjalanan menuju tempat persinggahan terakhir.

Secara detail Allah membeberkan tahap demi tahap perjalanan yang akan kita lalui dengan berbagai resikonya. Tidak berhenti sampai di situ. Allah juga membocorkan trik-trik jitu agar kita dapat melalui perjalanan itu dengan sempurna.

Pada saat manusia mati, maka semua rumus kehidupan berganti. Manusia tak lagi makan nasi, minum air dan seterusnya. Penopang hidupnya adalah amal baik di dunia. Amal baik ini akan menjelma menjadi berbagai perlengkapan hidup di alam akhirat.

Kematian adalah terminal pemberangkatan manusia menuju Alam Akhirat. Jika diibaratkan mau naik pesawat, kematian adalah bandara. Di bandara inilah orang yang bersangkutan berkemas-kemas untuk naik pesawat.

Kematian adalah porses chek in di bandara. Masing-masing penumpang telah membeli tiket penerbangan sesuai dengan amalnya masing-masing.

Nah, pada saat chek in ini, petugas akan memeriksa semua bawaan yang dibawa penumpang. Mereka hanya diperkenankan membawa amal-amalnya di dunia. Semua benda yang bersifat materi harus ditinggal, termasuk jasad/fisik orang yang bersangkutan.

Kawan, kematian sungguh merupakan peristiwa yang sangat mendebarkan dan mengerikan bagi setiap orang. Betapa tidak? Ini adalah pengalaman pertama bagi setiap orang.  Dan… perjalanan ini akan dijalani seorang diri. Ini adalah kepergian meninggalkan alam dunia untuk selamanya, meninggalkan sanak saudara dan seluruh kenangannya di dunia.

Berlanjut perjalanan selanjutnya ke alam kubur. Di sana kita bertemu dengan dua orang malaikat: Munkar dan Nakir. Mereka menanyakan siapa tuhan kita, nabi kita, dan seterusnya. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan kunci yang akan menentukan nasib manusia selanjutnya.

Selanjutnya berjalan lagi ke sebuah tempatyang disebut Padang Mahsyar. Di situ kembali manusia diperiksa satu-satu. Kali ini lebih detail, seperti di bandara internasional yang dilengkapi prosedur keamaan yang sangat ketat. Semua perbuatan di dunia ditanyakan.

Lalu amal manusia ditimbang. Di situlah diputuskan nasib terakhir manusia. Di surga, atau di neraka.

Nah, beriman pada hari akhir pada dasarnya kita menyadari akan perjalanan kita yang sangat jauh. Ingat bahwa kita hidup di dunia hanya sementara dan pada saatnya akan kembali ke tempat asal.

Untuk kembali kita harus punya cukup bekal. Beriman kepada hari akhir menyadarkan kita bahwa kita harus menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang kita menuju akhirat.

PESAN MORAL BERIMAN KEPADA QADHA QADAR

Mengimani qadha dan qadhar bukan dimaksudkan untuk menebak-nebak ketentuan Allah. Atau membuat kita pasif karena merasa bahwa semuanya sudah ditentukan Allah. Jika demikian maka tidak ada manfaatnya buat kehidupan kita.

Percaya pada qadha qadhar intinya adalah percaya bahwa Allah berkuasa untuk menentukan segala apapun sesuai kehendakNya.

Namun demikian jika diperhatikan sebenarnya Allah juga tidak bertindak semena-mena mentang-mentang Dia Tuhan. Sungguh tidak demikian.

Usaha Allah sesungguhnya telah memberikan keleluasaan yang luwes pada manusia.Usaha manusia bener-benar dipertimbangkan Allah.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d: [13] : 11.

Allah telah memberikan ketentuan-ketentuan di alam semesta ini yang disebut dengan sunatullah. Ketentuan sunatullah itu misalnya hukum sebab akibat: barang siapa yang berusaha keras maka ia akan mendapatkan apa yang ia raih.

Allah benar-benar mempertimbangkan semua ini. Allah berfirman:

Manusia akan mendapatkan imbalan setimpal dengan apa yang ia usahakan (QS. Al-Baqarah [2]: 286).

Jadi sesungguhnya manusia mempunyai keleluasaan.Tapi meski demikian kita dilarang meyakini seratus prosen akan keberhasilan atau pun kejadian yang sudah kita upayakan atau sesuatu yang kita prediksi. Sebab jika Allah berkehendak lain bisa saja terjadi sebaliknya.

Inilah yang disebut tawakkal, yaitu berserah diri pada Allah setelah kita berusaha maksimal. Inilah inti keimanan pada qadha qadhar.

Dengan sikap seperti ini, maka seorang mukmin akan mendapatkan keseimbangan mental. Tidak sombong dan tidak putus asa.

Jika ia berhasil, maka tidak sombong. Karena itu juga berkat perkenan Allah. Sebaliknya jika sedang terpuruk juga tidak putus asa Karena dia yakin bahwa Allah bisa juga membalikkan keadaan kita dalam sekejap. Allah punya rencana terbaik.

KESIMPULAN

Memperhatikan penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut:

  1. Semua orang harus mempunyai keyakinan dasar yang kuat sebagai landasan hidup. Tanpa keyakinan dasar, hidup manusia akan terombang-ambing. Keyakinan paling dasar adalah yakin tentang adanya Allah.
  2. Kita semua harus menyadari bahwa kehidupan kita dikelilingi oleh para malaikat yang memonitor seluruh perbuatan, membantu, bahkan mendukung kita dihadapan Allah. Karena itulah kita harus berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Berbuat baiklah. Karena dengan semikian para malaikat akan menjadi sahabat yang membantu turut melindungi kita atas seizin Allah.
  3. Kitab suci adalah panduan menuju hidup bahagia. Karenanya, di samping berpedoman pada ilmu pengetahuan (science), kita harus senantiasa memahami dan mengamalkan rumus-rumus dan petunjuk hidup yang tertulis dalam kitab suci.
  4. Para rasul adalah manusia-manusia teladan. Karena itulah kita harus mengenal mereka, terutama rasul terakhir, Nabi Muhammad SAW. Kita harus meneladaninya. Kita harus menjadikannya sebagai idola dan teladan hidup.
  5. Keyakinan kita pada hari akhir menuntut kita untuk menyiapkan diri, mengumpulkan bekal untuk menuju akhirat. Hidup di dunia harus dijadikan sarana untuk tujuan puncak, kebahagiaan akhirat.
  6. Sebagai seorang mukmin kita harus menjadi manusia yang giat bekerja dan melakukan ikhtiar. Setelah itu kita harus bertawakal, menyerahkan hasil akhir pada Allah. Kewajiban kita hanyalah berikhtiar maksimal. Hasil akhir, apapun itu, sikapilah dengan positif. Allah mempunyai rencana terbaik untuk hambaNya yang beriman.

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Implementasi Tauhid dalam Dunia Profesi

PENDAHULUAN Mencari penghidupan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Untuk mencukupi kebutuhan dunia maka manusia menjalani …

Tinggalkan Balasan