Home / Akidah / Pangertian, Kedudukan, Urgensi, dan Hubungan Antara Akidah dengan Ibadah dan Muamalah

Pangertian, Kedudukan, Urgensi, dan Hubungan Antara Akidah dengan Ibadah dan Muamalah

PENGANTAR

Sebagai disiplin ilmu, akidah adalah ilmu yang membahas tentang apa yang diyakini oleh seseorang. Membahas tentang apa yang ada dalam pikiran seseorang. Inilah hal pertama yang harus diperhatikan oleh semua orang. Sebab apa yang kita yakini dan apa yang ada dalam pikiran kita akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Bahkan akan mempengaruhi penderitaan dan kebahagiaan seseorang. 

Manusia menatap realitas kehidupan melalui jalan pikirannya. Pikiranlah yang mengolah segala realitas yang dihadapi manusia dalam kehidupannya.

Realitas yang dihadapi manusia bisa sama. Tapi sikap dan keputusan yang diambil bisa berbeda satu sama lain. Itu semua bergantung pada keyakinan dan isi pikiran masing-masing.

Karena itulah mengenai keyakinan dan isi pikiran ini menjadi bagian yang teramat penting dalam ajaran Islam. Menjadi seorang muslim pertama-tama harus benar keyakinannya, harus benar isi pikiranya sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah.

Pembahasan mengenai hal inilah yang disebut akidah. Belajar akidah adalah belajar melihat kembali keyakinan dan isi pikiran kita apakah sudah sesuai dengan yang diajarkan Allah atau belum.

Jika belum, maka kita harus perbaiki. Kita harus refresh otak kita, hati dan pikiran kita dengan keyakinan dan prinsip-prinisp dasar yang ditetapkan Allah.

PENGERTIAN

Pembahasan tentang pengertian/definisi, apa pun itu yang dibahas, selalu mencakup dua hal pokok: pengertian secara etimologi dan pengertian secara terminologi. Demikian juga pembahasan kita tentang akidah juga meliputi 2 (dua) hal tersebut. Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, pengertian akidah secara etimologi. Pengertian secara etimologi adalah pengertian secara bahasa. Pendeknya ingin tau kata “akidah” itu dari bahasa apa dan terjemahannya apa. Itulah yang dimaksud pengertian secara etimologi.

Secara etimologi, akidah berasal dari bahasa Arab: aqada – ya’qidu – aqidatan (aqidah) yang  artinya: simpul, ikatan, perjanjian, dan kokoh (al-Munawar, 1984: 1023). Dalam pengertian ini, akidah masih sangat umum. Segala apapun yang punya arti simpul, ikatan, dan perjanjian bisa disebut akidah.

Dengan kata lain. Kataakidah dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk semua terjemahan itu. Misal begini, ada orang Arab bilang: “Hadza aqidah”, itu artinya bisa “Ini simpul” atau “simpul ini” atau “Ini janji/janji ini”, tergantung pada situasi dan kondisi pembicaraannya. Jadi akidah di sini tidak menunjukkan makna akidah yang kita maksudkan, yang kita pahami dalam keseharian kita di Indonesia.

Namun demikian, empat arti kata (simpul, ikatan, perjanjian, kokoh) ini bukannya tidak ada hubungannya dengan arti/pengertian akidah yang kita maksudkan (pengertian akidah secara terminologi).

Dengan mengetahui arti akidah secara etimologi ini kita sudah mulai bisa membayangkan pengertian akidah secara terminologi. Misalnya begini, dengan mengetahui bahwa arti kata aqidah adalah simpul/ikatan, kita bisa menerka bahwa: “Oh, kalau begitu akidah berfungsi sebagai simpul yang mengikat atas ajaran Islam.”Dengan mengetahui arti aqidah adalah perjanjian, kita bisa memahami bahwa: “Oh, kalau begitu akidah merupakan janji. Dengan berakidah seseorang berarti membuat janji”, dan seterusnya.

Paham kan, ya? Ok, sekarang mari kita lanjut bahas yang kedua, yaitu pengertian akidah secara terminologi/secara istilah. Pengertian secara terminologi adalah pengertian khusus. Maksudnya khusus adalah kata akidah ini mesti dipahami sesuai dengan apa yang kita maksud dalam dispilin ilmu akidah.

Jadi dalam pengertian ini akidah punya pengertian spesifik. Tidak bisa lagi ditarik-tarik ke makna umum seperti pengertian etimologi di atas. Makanya disebut istilah. Istilah adalah suatu kata khusus yang dipahami dalam ruang lingkup tertentu.

Paham? Ok, kalau belum paham saya kasih contoh misalnya kata “lebai”. Dalam keseharian anak muda, coba apa maksudnya? Antara lain adalah “berlebihan, norak”. Kalau dipanjangkan kira-kira: “Lebai adalah ucapan, sikap, dan tindakan seseorang yang terlalu berlebih-lebihan melebihi ambang batas umum”.

Inilah pengertian lebai menurut istilah anak muda jaman sekarang. Inilah yang dimaksud pengertian khusus. Tapi kalau teman-teman tanyakan apa arti kata lebai kepada orangtua generasi 1945, pasti akan punya arti lain. Lebai menurut mereka adalah jabatan tertentu dalam struktur pemerintahan desa.

Jadi apa pengertian akidah secara terminologi? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu mudah. Buka saja google. Ya, kan? Tapi tahukan anda bahwa setelah dibuka ternyata jawabannya sangat banyak. Sangat beragam. Di situ bingung lagi,”Jadi yang mana yang benar?”

Karena itulah jawaban-jawababan yang banyak itu mesti kita analisis lagi maunya apa dan ke mana maksud yang sesungguhnya. Mumet, kan? Kabar baiknya teman-teman tidak usah mumet-mumet lagi. Saya sudah menganalisanya dan meringkasnya sesuai dengan maksud dan tujuan pemahaman kita.

Definisi akidah secara terminologi adalah: Keyakinan dasar yang terdiri dari nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita yang diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar dan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Atau boleh juga dibalik: Sekumpulan nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita hidup yang diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar serta mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Terserah mau pakai yang mana. Mau diganti bahasanya juga tidak masalah.Yang penting maksudnya sama. Yang penting teman-teman paham. Bukan hanya hafal kata-katanya.

Sekarang mari kita cermati dan pahami kata demi kata. Pertama ada “keyakinan dasar”. Jadi akidah bukan sembarang keyakinan. Misalnya begini, kalau kita yakin kalau teman kita nanti siang akan datang, apakah itu disebut keyakinan? Yah, betul. Itu keyakinan. Tapi itu bukan akidah. Sebab itu bukan keyakinan dasar. Artinya di balik itu sebenarnya masih ada yang paling dasar.

Misalnya kita bisa lacak lagi apa yang menyebabkan kita yakin. Misal begini, saya yakin karena saya tahu kalau teman saya itu muslim. Saya paham kalau seorang muslim itu menepati janji. Saya tahu muslim menepati janji karena itu yang diajarkan Allah. Nah, di situ sudah sampai pada keyakinan dasar, yaitu yakin kepada Allah. Itulah yang disebut akidah.

Oke kita lanjut, ya. Selanjutnya di situ ada kalima,nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita”. Inilah wujud umum dari keyakinan dasar itu.Inilah hal-hal dasar yang menggerakkan sikap dan perilaku seseorang. Kalau tidak percaya coba tes.

Kita ambil contoh misalnya orang yang berpakaian seronok, kalau kita teliti-teliti mengapa dia berpakaian seperti ini pasti berasal dari keyakinan dan nilai-nilai yang dia anut. Mungkin dia meyakini bahwa berpakaian seronok justru indah, menarik, dan tentu saja baik menurut dia. Dia punya prinsip bahwa berpakaian itu untuk menarik perhatian lawan jenis mungkin. Atau dengan gaya seperti itu mungkin dia bercita-cita jadi artis dunia.

Selanjutnya ada kata: “yang diyakini secara mendalam”. Jadi bukan sembarang yakin, ya? Tapi keyakinan yang mendalam. Kalau dalam ilmu psikologi, keyakinan yang masuk ke dalam alam bawah sadar. Keyakinan semacam inilah yang kemudian membawa dampak pada kalimat selanjutnya: “menjadi dasar perilaku atau menggerakkan perilaku”.

Ada orang yang kalau ditanya: “Apakah percaya pada Allah?”Jawabnya, “Saya percaya”. Tapi nyatanya dia tidak shalat. Maksiat jalan terus. Itu tandanya keyakinannya tidak mendalam sehingga tidak berpengaruh pada perilakunya. Nah, berarti di sini kita tahu, akidahnya tidak baik, tidak menepati syarat sebuah keyakinan yang mendalam.

Nah, definisi yang kita bahas di atas adalah definisi akidah secara umum. Belum bicara akidah Islam. Melihat definisi di atas maka kita paham bahwa semua orang pasti punya akidah. Sebab semua orang pasti punya keyakinan. Dalam diri seseorang pasti ada nilai-nilai, prinsip, dan cita-cita.

Sebab itulah yang menggerakkan sikap dan perilaku seseorang. Sekarang tinggal bagaimana wujud dari nilai, prinsip, dan cita-cita mereka. Tentunya ada yang baik dan ada yang buruk. Ada niai-nilai baik dan ada nilai-nilai buruk, ada prinsip-prinsip baik dan ada prinsip buruk, ada cita-cita baik, dan ada  cita-cita buruk.

Lho, jadi akidah ada yang baik dan ada yang buruk? Tepat! Ada akidah baik dan ada akidah buruk. Demikian dalam pengertian umumnya.Kalau dalam pengertian umum, akidah ini disebut ideologi.

Nah, sekarang baru kita akan lanjutkan bahas pengertian akidah Islam secara terminologi. Sekali lagi “akidah Islam”. Ada Islam-nya. Inilah pengertian terakhir yang kita maksud. Pengertian yang kita maksudkan dalam pembahasan kita. Untuk mendefinisikannya tentu mudah karena kita sudah paham definisi akidah secara terminology di atas. Jadi kita tinggal menambah Islam saja.

Untuk lebih jelasnya saya akan kutip lagi pengertian di atas, yaitu:  Keyakinan dasar yang terdiri dari nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita yang diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar dan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Coba perhatikan, pengertian ini masih umum. Makanya mencakup semua jenis akidah. Termasuk yang buruk/sesat.

Untuk mendefinisikan akidah Islam tentu mudah.Tinggal kita tambahkan kalimat: didasarkan atas al-Quran dan Sunah. Lengkapnya begini, akidah Islam adalah keyakinan dasar terdiri dari nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah, diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar dan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang muslim.

Perbedaannya terletak pada kata yang saya garis bawahi: didasarkan atas al-Quran dan Sunah. Nah, kalau sudah begini. Maka sekarang menjadi mengerucut. Sekarang tidak lagi mencakup semua akidah. Tapi akidah yang didasarkan pada al-Quran dan Sunah.

Sekarang tidak lagi mencakup akidah yang buruk. Sekarang tinggal akidah yang baik. Bahkan bukan sekedar baik yang masih bisa diperdebatkan pengertiannya. Tapi kebaikkan yang didasarkan pada al-Quran dan Sunah.

RUANG LINGKUP/ISI AKIDAH ISLAM

Pembahasan ruang lingkup ada sambungannya dengan pengertian di atas. Tapi di atas kan ada kalimat “nilai-nilai, prinsip, dan cita-cita”. Nah, kalau mau ditanya lagi, lantas apa isi dari nilai-nilai, prinsip, dan cita-cita ini? Nah, jawaban atas pertanyaan inilah yang disebut dengan “ruang lingkup akidah” atau mudahnya ruang lingkup adalah cakupan umum dari isi akidah.

Jawabannya tentu saja sekali lagi sudah banyak di google dan buku-buku yang sekali lagi mungkin malah membuat teman-teman bingung. Kabar baiknya lagi-lagi dari yang banyak dan beragam itu sudah saya ringkaskan. Ruang lingkup akidah Islam dapat dilihat dari dua sudut: ada yang memakai 6 (enam) rukun iman, ada yang pakai 4 (empat) kategori. Yang pertama tentu teman-teman sudah sangat familiar.

Para ulama telah menjelaskan secara gamblang bahwa cakupan isi akidah Islam adalah rukun iman (iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada utusan, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha qadhar).

Ada juga ulama yang mengelompokkan ke dalam empat  kategori, yaitu: (1) Ilahiyyat, yaitu pembahasan yang berkenaan dengan masalah ketuhanan utamanya pembahasan tentang Allah, (2) Nubuwwat, yaitu pembahasan yang berkenaan dengan utusan-utusan Allah, yaitu para nabi dan para rasul Allah, (3) Ruhaniyyat, yaitu pembahasan yang berkenaan dengan makhluk gaib, seperti Jin, Malaikat, dan Iblis, (4) Sam’iyyat, yaitu pembahasan yang bekenaan dengan alam ghaib, seperti alam kubur, akhirat, surga, neraka, dan qadha qadar. Nah,dari kedua sudut pandang ruang lingkup ini isi pembahasannya hampir sama. Jadi tidak usah dibingungkan.

URGENSI AKIDAH

Urgensi itu apa sih? Gampangnya begini, pembahasan urgensi akidah adalah pembahasan yang menjawab pertanyaan mengapa orang mesti mempunyai akidah atau keyakinan? Atau apa pentingnya kita mempunyai akidah atau lebih spesifiknya akidah Islam?

Di atas  telah dijelaskan bahwa akidah adalah unsur utama yang menggerakkan seluruh perilaku manusia. Karena itulah jika akidahnya tidak benar, maka tentu saja perilakunya juga tidak benar. Demikian juga sebaliknya.

Sebagai contoh, orang yang punya keyakinan bahwa dirinya akan sukses pasti akan tergerak untuk mencapai kesuksesan tersebut. Sebaliknya, orang yang yakin kalau dirinya tak akan pernah sukses, maka ia cenderung pasif dan malas.

Orang yang yakin kalau harta adalah sumber kebahagiaan, maka ia juga akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Demikian seterusnya. Intinya, keyakinan adalah penggerak semua aktifitas manusia. Sikap dan perbuatan manusia pada dasarnya adalah cerminan dari keyakinannya.

Selanjutnya, akidah menjadi penting karena dua hal.

Pertama, akidah adalah  bagian terpenting dalam ajaran Islam. Jika ajaran Islam ini diumpamakan jasad, maka akidah adalah ruhnya. Ia adalah jantung yang memompa darah kehidupan ke sekujur badan. Demikian halnya dengan akidah. Dialah yang menjadi ruh ajaran Islam.

Berdasarkan imanlah seseorang akan dinilai di hadapan Allah. Pada gilirannya, akidahlah yang akan mengontrol dan mengarahkan perilaku seorang Mukmin. Bahkan, shalat, haji, puasa, dan seluruh amal baik tak ada gunanya tanpa adanya akidah.

Demikian juga kualitas keberagamaan kita, kualitas ibadah kita juga diukur dengan seberapa besar keimanan kita kepada Allah. Mungkin kita shalat dan melakukan kebajikan lain, tapi apakah kita benar-benar mengingatnya?

Apakah Allah senantiasa hadir dalam kehidupan kita? Apakah kalau kita sedang shalat kita merasa benar-benar sedang menghadap Allah? Apakah saat kita mendapat keberuntungan kita sadar bahwa itu datangnya dari Allah?

Kedua, akidah mempunyai manfaat yang besar dalam kehidupan. Hidup ini sangat labil, penuh dengan ujian dan cobaan. Untuk menghadapi situasi semacam ini manusia memerlukan pegangan yang kokoh, memerlukan sandaran yang kuat, membutuhkan mental yang tahan banting.

Harus mempunyai prinsip dasar yang kuat. Harus punya visi yang jelas. Nah, semuanya itu ada dalam akidah itu. Jadi akidah gunanya tidak hanya di akhirat nanti. Tapi memang dasar hidup untuk membangun pribadi yang tangguh. Sebagai contoh kecil begini, misalnya ada orang yang gagal dalam hidupnya.

Bagi orang yang tidak punya akidah mungkin akan mengambil langkah praktis: bunuh diri. Tapi orang yang punya akidah/beriman kepada Allah, dia akan bilang: mungkin Allah belum menghendaki. Mungkin ini buruk bagi saya menurut Allah. Nah, dengan prinsip seperti itu maka ia punya tingkat imunitas yang lebih tinggi dalam menghadapi hidup.

HUBUNGAN AKIDAH, IBADAH, DAN MUAMALAH

Tadi di atas sudah dijelaskan bahwa akidah itu adalah janji. Janji kepada siapa? Dalam akidah Islam tentunya janji kepada Allah. Akidah adalah ikrar komitmen untuk mentaati Allah. Karena itulah orang yang berakidah harus mengikuti aturan Allah. Harus menyembah Allah.

Harus beribadah kepada Allah. Jadi ibadah adalah konsekuensi dan akidah. Selanjutnya, akidah juga harus berpengaruh pada perilaku seseorang. Harus perpengaruh pada kehidupan keseharian (muamalah) seseorang. Jadi muamalah merupakan implikasi dari akidah.

Dengan demikian, antara akidah, ibadah, dan muamalah adalah suatu kesatuan yang satu sama lain tak bisa dipisahkan. Orang yang mengaku akidahnya sangat baik, mengaku percaya pada rukun iman, tapi tidak shalat, berarti akidahnya belum benar.

Orang yang rajin shalat, tapi tidak percaya pada rukun iman, ibadahnya juga tidak benar. Orang yang mengaku beriman, dan dia rajin shalat, tapi hubungan antar sesama tidak baik, berarti akidah dan ibadahnya tidak benar. Demikian juga orang yang hubungan sosialnya baik, tapi dia tidak percaya Allah/rukun iman dan tidak shalat/ibadah berarti dia juga berada dalam kesesatan.

KESIMPULAN 

Setelah memahami penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikuit:

  1. Akidah secara umum ada yang baik dan ada yang buruk. Akidah dalam pengertian modern sama artinya denga ideologi.
  2. Akidah dalam pengertian umum adalah keyakinan dasar yang terdiri dari nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita yang diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar dan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.
  3. Akidah Islam adalah keyakinan dasar terdiri dari nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan cita-cita yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah, diyakini secara mendalam sehingga menjadi dasar dan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang muslim.
  4. Akidah Islam sangat penting bagi setiap orang. Manfaat akidah tidak hanya untuk kehidupan akhirat. Tapi sangat bermanfaat untuk kehidupan dunia.
  5. Antara akidah, ibadah, dan muamalah adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Akidah adalah prinsip dasar ibadah dan muamalah.Ibadah adalah konsekuensi dari akidah, dan mumalah adalah implikasi dari akidah dan ibadah.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Perjalanan ke Alam Akhirat (Sam’iyyat)

Pengantar Manusia adalah seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan. Kehidupan di dunia pada hakikatnya hanyalah …

Tinggalkan Balasan