Home / Muamalah / Keluarga Muslim dan Fungsinya dalam Perkembangan Peradaban

Keluarga Muslim dan Fungsinya dalam Perkembangan Peradaban

PENDAHULUAN

Hidup berkeluarga dalam pandangan Islam adalah fitrah manusia. Islam bahkan memandang institusi keluarga bukan hanya manifestasi fitrah individual manusia. Tapi sebagai bagian yang fundamental dalam membangun peradaban manusia.

Karenanya, Islam mempunyai perhatian yang sangat serius terhadap masalah keluarga. Tatacara hidup berkeluarga diatur secara detail mulai dari cara menikah dan tatacara perceraian.

KEDUDUKAN DAN URGENSI PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Pernikahan dalam bahasa hukum sama dengan perkawinan. Menurut Kompilasi Hukum Islam Indonsia (KHI), perkawinan adalah akad yang sangat kuat atau untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Kemudian dalam Undang-Undang Perkawinan, yaitu UU No.1 Tahun 1974, perkawinan didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pada dua definisi ini saya ingin menggarisbawahi kalimat “merupakan ibadah” yang terdapat dalam definisi versi KHI dan kalimat “berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang terdapat dalam UU No. 1 Tahun 1974.

Antara keduanya ada kesamaan bahwa dasar dari pernikahan adalah agama. Dasar pernikahan adalah ketaatan yang merupakan ibadah kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Ini berbeda dengan pandangan materialisme pada pembahasan sebelumnya yang memandang dasar pernikahan sebagai hak asasi individu yang bersifat antroposentris.

Dalam UU No. 1 Tahun 1974 juga disebutkan bahwa pernikahan itu dilangsungkan antara seorang pria dan seorang wanita. Antara lawan jenis. Bukan sesama jenis.

Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat  3: “…lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.” Jelas sekali ayat itu menyebutkan bahwa pasangan terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Pernikahan dalam Islam menjadi perhatian yang sangat penting sehingga Allah mengaturnya secara detail dalam al-Qur’an. Sebab pernikahan adalah awal dari hadirnya manusia baru di muka bumi.

Pernikahan adalah sistem yang diciptakan Allah SWT untuk menjaga generasi manusia. Allah hendak memastikan bahwa setiap manusia baru lahir harus ada setidaknya 2 orang manusia (suami-istri) yang bertanggungjawab untuk merawat dan membimbingnya.

Karena itulah dalam Islam anak disebut sebagai amanah/titipan dari Allah SWT kepada kedua orangtua. Anak ini harus jelas jalur nasabnya sehingga jelas pula siapa yang bertanggungjawab atasnya. Jadi nasab sesungguhnya adalah struktur pertanggungjawaban untuk mengurus anak manusia.

Sebab itu Allah mengancam perzinaan dengan hukuman yang amat keras. Pezina dihukum cambuk seratus kali. Bahkan jika pelakunya sudah menikah (selingkuh) dihukum rajam hingga mati.

Perzinaan akan membuat jalur nasab tidak jelas, bahkan tidak jelas pula siapa yang bertanggungjawab atas  si anak. Perzinaan juga menjadi salah satu pemicu orang tidak mau menikah. Jadi, perzinaan merusak peradaban manusia.

Menikah dalam Islam bukan sunah biasa.Tapi merupakan sunah muakkad, sunah yang sangat dianjurkan. Al-Quran sangat menganjurkan pernikahan.

Allah SWT berfirman:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 32]

Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW  bersabda, “Hai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”. [HR. Jamaah]

Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah, bahwa sesungguhnya Nabi SAW melarang membujang, dan Qatadah membaca ayat, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”. (Ar-Ra’d : 38). [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah] PRINSIP DAN FUNGSI KELUARGA MUSLIM

Keluarga muslim disandarkan pada beberapa prinsip dasar sebagai berikut:

  1. Prinsip bebas memilih pasangan

Sebelum Islam datang, memilih pasangan adalah hak dari orangtua. Anak, terutama anak perempuan, hanya menerima begitu saja. Bahkan terkadang secara terpaksa harus menerima pilihan orangtuanya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seseorang janda tidak dinikahkan kecuali dengan perundingannya dan seorang gadis tidak dinikahkan kecuali dengan dimintakan izin”. (HR. Bukhari).

  1. Prinsip kasih sayang (mawaddah wa rahmah)

Menikah prinsipnya adalah kasih sayang (QS.ar-Ruum: 21). Saling rela antara kedua mempelai. Bukan pamrih pragmatis, misalnya ingin mendapat harta pasangan dan sejenisnya. Bukan pula hanya kesengansyahwat belaka.

  1. Prinsip saling melengkapi dan melindungi

Bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karena itulah satu sama lain harus bahu membahu saling melengkapi. Suami ibarat pakaian bagi istri dan istri bagaikan pakaian bagi suami (QS. Al-Baqarah: 187). Apa fungsi pakaian? Menjadi perhiasan diri, menjadi penjaga martabat dan penutup aib.

  1. Prinsip bergaul secara baik

Suami istri harus bergaul secara baik (QS. An-Nisa: 19). Saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Tidak boleh ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Adapun fungsi keluarga adalah:

  1. Fungsi biologis

Fungsi biologis adalah fungsi yang berkenaan dengan hasrat biologis (seksual) manusia. Hubungan seksual dalam Islam diatur sedemikan rupa sehingga menjadi jelas fungsi dan tujuannya. Bukan semata-mata kesenangan birahi (just to fun).

  1. Fungsi edukatif

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak manusia. Ayah dan ibu berkewajiban mendidik anak-anak mereka. Pendidikan pertama adalah mengenal Tuhan, tatacara hidup bermasyarakat, dan kecakapan hidup.

  1. Fungsi perlindungan

Keluarga adalah pelindung bagai para anggotanya. Suami sebagai kepala keluarga bertugas melindungi istri dan anaknya. Satu sama lain harus saling menjaga.

  1. Fungsi ekonomi

Keluarga memiliki aktifitas mencari nafkah, pembinaan usaha, perencanaan anggaran, pengelolaan dan cara memanfaatkan sumber-sumber penghasilan dengan baik, mendistribusikan secara adil dan profesional, serta dapat mempertangggung jawabkan kekayaan dan harta bendanya secara sosial maupun moral.

  1. Fungsi psikologis

Keluarga adalah tempat untuk mendapatkan ketenangan jiwa.Tempat melepaskan kepenatan dari aktivitas seharai-hari. Tempat untuk men-carger semangat.Tempat berlabuh dari problematika hidup. Tempat yang menghadirkan kesejukan jiwa. Karenanya ada istilah Arab: baiti jannati (rumahku surgaku).

KELUARGA SEBAGAI PONDASI PERADABAN

Jika ingin merusak manusia, maka rusaklah institusi keluarga. Pendapat ini tampaknya benar. Pendapat ini juga bisa digunakan untuk mengukur keadaan masyarakat kita.

Jika dalam masyarakat kita terjadi kekacauan, maka salah satu penyebabnya sesungguhnya adalah kacaunya keluarga. Keluarga tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Keluarga adalah pondasi bagi masyarakat, bahkan pondasi peradaban. Institusi keluarga merupakan unit terkecil dalam membina manusia. Melalui keluarga, pembinaan atas manusia menjadi lebih ringan karena terdistribusikan ke banyak orang.

Karenanya pembinaan keluarga dalam Islam menjadi hal yang sangat penting. Karenanya pula, menikah, sebagai pintu awal membina rumah tangga harus dipersiapkan dengan baik. Ilmu berkeluarga harus dikuasai dengan baik oleh setiap calon pasangan. Tidak boleh menikah hanya sekedar alasan cinta birahi.

KESIMPULAN

Memperhatikan pemaparan di  atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagaiberikut:

  1. Pernikahan dalam Islam adalah pemenuhan atas perintah Allah yang segala tatacaranya harus mengikuti aturanAllah.
  2. Islam memandang sangat penting pada pernikahan. Sebab pernikahan merupakan pintu kelahiran manusia. Pernikahan adalah mekanisme dari Allah untuk menjaga kelangsungan dan kebaikan peradaban manusia.
  3. Nasab pada hakikatnya adalah struktur pertanggungjawaban dalam rangka pembinaan manusia. Kepada jalur nasab inilah Allah menyerahkan/menitipkan anak manusia agar dibimbing ke jalan yang lurus.
  4. Prinsip pernikahan dalam Islam meliputi: prinsip bebas memilih pasangan, prinsip kasih sayang (mawaddah wa rahmah), prinsip saling melengkapi dan melindungi, prinsip bergaul secara baik.
  5. Keluarga memerankan fungsi biologis, fungsi edukatif, fungsi perlindungan, dan fungsi ekonomi. fungsi-fungsi ini harus dijalankan dengan baik agar terwujud keluarga sakinah yang memerankan fungsi besar dalam membangun peradaban.[]

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Itu Apa?

Kompilasi Hukum Islam adalah rangkuman dari berbagai pendapat hukum yang diambil dari berbagai kitab yang …

Tinggalkan Balasan