Home / Muamalah / Dunia Modern dan Dampaknya terhadap Institusi Keluarga

Dunia Modern dan Dampaknya terhadap Institusi Keluarga

 PENDAHULUAN

Era modern telah membawa berbagai pengaruh dalam kehidupan manusia. Termasuk di dalamnya pengaruh dalam kehidupan keluarga. Bentuk dan peran keluarga kini telah berubah seiring dengan berubahnya budaya masyarakat.

Harus diakui bahwa era modern telah membawa beberapa manfaat bagi kehidupan. Namun demikian, di balik itu juga membawa serta hal-hal negatif yang mengancam manusia.

Karenanya, penting kiranya kita pahami hal-hal negatif ini agar kita senantiasa waspada dan menjaga diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Apakah tidak ada sisi positifnya? Tentu saja ada.

Tapi pada pembahasan kali ini kita akan fokus pada problematika, pada sisi negatifnya. Diharapkan ini dapat menjadi warning agar kita hati-hati. Agar kita tidak terjebak dan dapat mengantisipasi hal tersebut.

PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT MODERN

Sebelum saya menjelaskan lebih jauh tentang pandangan masyarakat modern terhadap pernikahan, terlebih dahulu saya ini memaparkan beberapa kasus sebagai berikut. Coba teman-teman baca dengan cermat dan berikan penilaian.

Pertama, Asosiasi Perencanaan Keluarga Jepang (JFPA) menemukan fakta bahwa akhir-akhir ini anak muda Jepang semakin enggan menikah. Survei 2011 menunjukkan bahwa 61% pria dan 49% wanita berusia 18-34 tahun tidak menikah. Lalu survei tahun 2013 untuk wanita yang berusia 16-24 tahun, sebanyak  45% tidak berminat menikah.

Menikah, apalagi punya anak dianggap  merepotkan. Menikah membuat orang menjadi terikat dan kehilangan kebebasan. Apalagi bagi kaum wanita. Mereka lebih mementingkan karir dan hidup menyendiri.

Meski bukan berarti mereka tidak melakukan kontak dengan lawan jenis (hubungan seksual). Bagi mereka lebih mudah berhubungan seksual di luar ikatan pernikahan.

Kedua, di beberapa negara Barat, kumpul kebo (cohabitation) menjadi sesuatu yang lumrah. Sebagian ada yang berlanjut ke pernikahan.Tapi sebagian yang lain ada yang sekedar kumpul kebo saja.

Pada akhir tahun 60-an, di Amerika Serikat tercatat hanya 6% pasangan yang tinggal serumah sebelum menikah. Kemudian pada tahun 90-an naik menjadi 70% dari wanita Barat telah tinggal bersama sebelum menikah untuk pertama kalinya.

Hal ini menyebabkan menurunnya angka pernikahan. Sementara itu di sisi lain angka kelahiran di luar nikah naik. [Adrian Thatcher, LivingTogether And Christian Ethics, (New York,Cambridge University Press, 2003), 4].

Di Swedia lebih dari 85% pasang telah melakukan kumpul kebo sebelum mereka menikah, di Prancis 75%, Jerman Barat sebanyak 50%, dan Jerman Timur sebanyak 40%. [ TizianaNazio, Cohabitation, FamilyandSociety, (New York: Routledge, 2008), 162].

Ketiga, beberapa negara berikut telah melegalkan nikah sejenis. Negara-negara tersebut adalah Jerman, Amerika Serikat, Brazil Prancis, Selandia Baru, Denmark, Spanyol, Kanada, Belanda [Serambinews.com,TribunWow.com].

Nah, setelah membaca hal di atas, apa yang teman-teman pikirkan? Institusi pernikahan sedang dalam ancaman, telah terjadi pergeseran cara pandang terhadap institusi pernikahan. Tepat sekali. Memang itulah yang tengah dan sedang terjadi.

Hal-hal di atas bukan tidak mungkin akan terjadi di Indonesia jika tidak diantisipasi secara dini. Sebagai buktinya adalah munculnya komunitas lesbi dan gay yang mulai dengan terang-terangan menuntut hak mereka untuk diakui.

Kasus di atas yang notabene terjadi di negara-negara modern sesungguhnya merepresentasikan pandangan dunia modern terhadap pernikahan. Berdasarkan beberapa kasus di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal terkait dengan pandangan dunia modern terhadap pernikahan.

Pertama, menikah adalah mutlak hak asasi, bukan seruan agama. Karena itulah bagi mereka menikah hanyalah soal pilihan individu. Bahkan dalam beberapa hal, menikah dianggap merepotkan karena dituntut adanya komitmen serta hak dan kewajiban tertentu.

Kedua, hubungan seksual juga merupakan hak asasi. Penyaluran seksual adalah semata-mata tuntutan hasrat biologis yang tujuannya sekedar pemuasan hawa nafsu (just to fun). Karena itu juga tidak selalu membutuhkan pernikahan. Orang bisa berhubungan badan dengan lawan jenis atas dasar suka sama suka.

Ketiga, hidup bersama tanpa pernikahan (cohabitation/kumpul kebo) dianggap sebagai hal yang baik sebagai pendahuluan pernikahan (trial marriage). Bahkan dianggap sebagai bentuk hidup bersama yang paling demokratis dan sesuai dengan hak asasi.

Keempat, bentuk-bentuk ideal keluarga/hidup bersama tidaklah harus terdiri dari suami istri dan anak. Tapi bisa saja ayah ibu tanpa anak, hanya ibu dan anak, atau ayah dan anak, bahkan sesama jenis. Karena itulah di beberapa negara di atas melegalkan nikah sesama jenis. Sebab dengan melarangnya berarti melanggar hak asasi manusia.

PROBLEMATIKA KELUARGA DALAM MASYARAKAT MODERN

Pengaruh modernisasi merambah ke seluruh penjuru dunia. Globalisasi dan makin berkembangnya teknologi informasi membuat pertukaran informasi demikian cepat. Ibn Khaldun, sosiologi besar muslim, mengatakan bahwa peradaban yang lemah cenderung meniru/mengikuti peradaban yang kuat.

Inilah yang terjadi saat ini. Dunia modern dengan berbagai corak paham dan budayanya kemudian menyebar dan cenderung ditiru oleh negara-negara lain. Negara modern yang superior dianggap sebagai contoh terbaik yang harus diikuti atau setidaknya membawa pengaruh besar terhadap negara-negara berkembang/tertinggal.

Demikian juga dalam masalah keluarga. Modernisasi dengan berbagai cara pandang dan budayanya juga telah mempengaruhi cara pandang dan perilaku keluarga di negara kita, bahkan di seluruh dunia. Berbagai problem keluarga yang muncul akibat modernisasi ini adalah sebagai berikut.

Pertama, melemahnya peran keluarga. Peran keluarga kini telah banyak diambil alih oleh pranata dunia modern. Peran pendidikan telah diambil oleh institusi pendidikan. Peran hiburan telah diambil oleh media-media hiburan modern, oleh bioskop, game, dan lain-lain.

Kedua, hubungan komunikasi antar anggota keluarga juga melemah. Orang modern terjebak dalam kesibukan kerja dan tuntutan karir sehingga intensitas berkumpul dengan keluarga semakin kurang.

Hal ini diperparah dengan hadirnya berbagai macam gadget canggih yang membuat satu sama lain jarang berkomunikasi karena sibuk dengan gadget masing-masing.

Ketiga, perselingkuhan semakin mudah dilakukan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh hadirnya berbagai alat kontrasepsi modern yang membuat seseorang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa harus ketakutan terjadinya kehamilan. Hal ini diperparah dengan makin merebaknya pergaulan bebas diantara lawan jenis.

Keempat, problem wanita karir. Seringkali terjadi antara suami dan istri sama-sama bekerja. Hal ini bukannya dilarang. Karena sama-sama kerja, maka urusan rumah tangga/domestik seringkali terabaikan.

Kondisi suami dan istri yang sama-sama sudah kelelahan dengan pekerjaan juga seringkali menjadi pemicu masalah.  Karenanya, perlu untuk dipahami dengan baik apa sesungguhnya hak dan kewajiban masing-masing sehingga prioritas masing-masing menjadi jelas.

AKAR PROBLEMATIKA  KELUARGA MODERN

Berbagai problem di atas adalah problem yang khas. Problem yang muncul karena adanya arus dunia modern. Karena itulah penting kiranya untuk memahami apa sesungguhnya dunia modern dan kenapa kemudian membawa berbagai dampak negatif.

Definisi dunia modern jika melihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan dengan cara hidup yang sesuai dengan tuntutan jaman. Jika berpatokan pada definisi ini sepertinya memang tidak ada masalah.

Tapi jika kita melihat lebih jauh kepada akar sejarah dan berbagai ideologi yang ada di dalamnya maka kita akan segera tau akar masalahnya. Bukan berarti kita hendak menolak modernisasi.Tapi agar kita waspada terutama terhadap berbagai hal negatif yang ada di dalamnya.

Jika melihat akar sejarahnya, dunia modern muncul dari semangat penentangan terhadap agama. Dunia modern bermula dari pertentangan antara ilmuwan Barat dan agama Kristen. Di  masa itu, dunia Barat didominasi oleh Kristen Katolik yang secara doktrin berlawanan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Pemikiran dan temuan para ilmuwan banyak diantaranya dianggap bertentangan dengan doktrin gereja. Bagi mereka yang menentang gereja, maka diberikan hukuman yang sengat kejam yang dikenal dengan inkuisisi.

Para ilmuwan terus berjuang sehingga kemudian memenangkan peradaban. Lahirlah jaman modern yang salah satu ciri utamanya saat itu adalah benci terhadap agama. Karena hal inilah maka kita menjadi paham jika banyak cara pikir dari perilaku yang konon modern bertentangan dengan agama.

Dengan melepaskan diri dari agama, maka dunia modern kemudian membuat prinsip lain sebagai pedoman hidup. Prinsip-prinsip inilah kemudian yang berdampak pada cara perilaku dan budaya modern, termasuk pada masalah keluarga.

Beberapa prinsip dasar yang menjadi karakter dunia modern adalah:

Pertama, materialisme. Matarialisme adalah paham yang meyakini bahwa seluruh kehdiupan ini hanya terdiri dari materi. Materialisme menolak sesuatu yang gaib, termasuk Tuhan. Dari prinsip pertama inilah kemudian lahir prinsip-prinsip turunannya, prinsip kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kedua, antroposentrisme. Antroposentrisme adalah paham yang meyakini bahwa manusia adalah pusat dan penentu segala hal dalam kehidupan ini.

Setelah menolak yang gaib (materialisme), menolak Tuhan yang pada pemahaman agama adalah penentu segala hal. Maka perlulah ada penggantinya. Siapa penggantinya? Manusia itu sendiri. Itulah paham antroposentrisme.

Ketiga, rasionalisme. Setalah menunjuk manusia sebagai pengganti Tuhan (antroposentrisme), maka kini diperdalam lagi. Manusia itu inti utamanya adalah pada akalnya. Karena itulah kemudian muncul paham rasionalisme. Rasionalisme adalah paham yang meyakini bahwa akal manusia adalah penentu kebenaran.

Keempat, liberalisme. Liberalisme adalah keyakinan bahwa pada prinsipnya manusia itu bebas. Sebab memang dialah “Tuhan” kehidupan tadi. Kebebasan inilah yang nantinya menjadi salah satu dasar prinsip hak asasi manusia.

Kelima, hedonisme. Nah, sekarang tinggal menentukan tujuan hidup. Karena paham ini tidak percaya pada hal-hal gaib, maka tujuan hidup adalah dunia.Tujuan hidup adalah kesenangan dunia atau yang disebut dengan hedonisme.

Nah, kini lengkap sudah prinsip-prinsip yang dibangun. Mulai dari prinsip dasar hingga tujuan akhirnya. Dari kelima hal pokok inilah kemudian lahir beberapa turunanya.

Lahir anak cucunya. Anak cucunya ini antara lain adalah permisivisme, individualisme, konsumerisme, dan lain-lain.

Mari kita sekarang kembali pada problematika keluarga. Secara kasat mata mungkin kita tidak melihat hubungannya dengan kelima prinsip ini.Tapi jika sesungguhnya kelima hal ini adalah muara dasarnya. Prinsip-prinsip dasar yang kemudian memunculkan berbagai problem yang berkaitan dengan dunia modern.

KESIMPULAN

Memperhatikan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut:

  1. Dunia modern telah merubah daya hidup manusia, termasuk dalam masalah keluarga. Kehadiran dunia modern membawa serta persoalan yang mengancam kehidupan keluarga.
  2. Dunia modern memandang pernikahan sebagai transaksi individual antara dua orang yang didasarkan atas hak asasi manusia, bukan anjuran agama. Karenanya, hidup berpasangan adalah pilihan belaka. Bahkan tidak harus pula berpasangan dengan lawan jenis.
  3. Materialisme, antroposentrisme, rasionalisme, liberalisme, dan hedonsime adalah lima prinsip dasar dunia modern yang dalam banyak hal membawa pengaruh negatif terhadap kehidupan keluarga.

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Itu Apa?

Kompilasi Hukum Islam adalah rangkuman dari berbagai pendapat hukum yang diambil dari berbagai kitab yang …

Tinggalkan Balasan